
Tak mampu ditaklukkan.
"Tidak, Hana. Jangan pernah membuatku semakin menggilaimu, lantas kau dengan mudahnya menginginkan perpisahan lagi denganku. Aku tak ingin jatuh terlalu dalam lagi, dalam palung kesakitan. Kau harus tahu, jatuh karena terlalu memupuk harapan tinggi-tinggi, jauh lebih menyakitkan dari yang kau bayangkan!"
Tirta tersenyum geli seorang diri, saat ia mengingat kalimat terakhir kali yang ia keluarkan ketika berbincang dengan Hana. Sebuah asa kini menjulang tinggi kembali, tegak dan sanggup menantang segala rintangan. Cinta yang ia niatkan untuk dilepaskan, kini datang dengan sendirinya menghampiri Tirta.
Hana sudah menyatakan perasaannya lebih dulu tadi, bahwa ia tak bisa jauh dan kehilangan Tirta.
"Cintaku tumbuh entah sejak kapan, Tirta. Tetapi yang jelas, aku sungguh tak bisa bila harus berpisah darimu lebih lama lagi. Jadi lebih baik, alangkah baiknya kita kembali menikah dan membesarkan Felix sama-sama."
"Tidakkah kau ingin memiliki satu anak perempuan, Tirta? Aku bahkan sanggup memberimu banyak anak."
"Aku sungguh mencintaimu, Tirta. Aku memang bersalah di masa lalu. Bari tahu aku, bagaimana caranya agar aku bisa menebus segala kesalahanku."
"Hukum aku, sebagai penebusan dosa yang telah aku lakukan saat itu. Sungguh, aku akan buktikan berapa seriusnya aku saat ini. Bahkan ketika kau cemburu dengan lelaki yang bernama Jefry, ada sudut hatiku yang berbunga-bunga."
Dengan damai, Tirta memejamkan matanya, mengenang masa indah dengan menikmati wajah lucu Hana yang serius tadi. Tirta sangat mendamba, hari ini akan datang, dimana ia mendapat hadiah besar berupa ungkapan cinta Hana padanya. Akhirnya, Hana terbang sendiri ke hadapannya, bertekuk lutut, berhambur, dan melemparkan dirinya sendiri, pada pelukan Tirta.
"Tuan, selamat. Anda bukan hanya sembuh perlahan dari penyakit anda, melainkan anda juga mendapat hadiah besar berupa kembalinya Nyonya untuk anda," Johan berkata dengan nada penuh ejekan.
Bak remaja yang baru jatuh cinta, Tirta tersenyum-senyum sendiri dengan sorot mata menyenangkan.
"Kau mau jadi gelandangan, ya?" tanya Tirta dengan nada tajam.
Bila biasanya Johan akan ketakutan dan ciut nyalinya saat Tirta menatapnya tajam, kini Johan melihat kejenakaan Tirta.
"Aku tidak bilang begitu, Tuan. Oh ya, jika boleh aku bertanya, apa yang akan Tuan lakukan selanjutnya, setalah mengetahui bahwa Nyonya rupanya mengungkapkan bahwa beliau mencintai anda?" tanya Johan dengan menatap serius Tirta.
__ADS_1
Tirta tersenyum kecil, menyukai pertanyaan Johan yang pribadi dengannya.
"Aku akan dengan senang hati menerimanya, Han. Hanya saja, tidak untuk saat ini. Dia perlu melalui proses, agar menghargai apa arti kehilangan dan arti membutuhkan dalam satu waktu," jawab Tirta.
"Maksud Tuan?" tanya Johan kemudian.
"Mungkin aku perlu mengujinya lebih dulu, Han. Aku perlu menilai seberapa kuatnya dia," jawab Tirta penuh arti.
Baru saja Johan hendak mengatakan sesuatu, pintu diketuk dari luar, dan nampak Amira tengah berdiri disana berdampingan dengan Jefry.
Dan tak ada yang mampu menandingi tatapan dingin Tirta, bahkan Jefry sekalipun. Dari sini Amira menyadari, bahwa Jefry tak ada apa-apanya dibanding dengan Tirta. Auranya begitu kuat dan mendominasi seisi ruangan.
Meski sepasang ibu dan anak itu melangkah mendekat, namun tak ada yang berani mengajak bicara Tirta. Mereka bungkam, bingung harus memulai obrolan dari mana.
Hati Amira, bergemuruh hebat dengan banyak kecemasan. Cemas akibat dihantui rasa bersalah, dan juga cemas bila Tirta kembali merasakan. sakit di kepalanya.
"Bagaimana kondisimu, Kak?" Jefry bertanya memberanikan diri. Selain itu, ia memiliki alasan untuk menanyai Tirta, sebagai pasiennya.
"Terima kasih Dokter telah membantuku untuk sembuh. Tetapi untuk kau panggil dengan panggilan kak, aku rasa itu tidak tepat. Kita ... oh bukan, kau dan aku, tak lebih dari dua orang asing yang hanya kebetulan bertemu.
"Tirta .... " Amira berkata sambil mendekat dua langkah lagi, untuk berada di tepi ranjang Tirta.
"Berhenti di tempatmu, nyonya Manovti. Jangan melewati batasanmu. Aku tak suka dikunjungi oleh sembarang orang," ungkap Tirta, dengan suara tenang.
Amira mematung, dengan Jefry yang berada di belakangnya dan mendekat ke samping Amira.
"Semarah apapun kau terhadap Mama, aku harap kau mampu menghargainya dan jangan pernah membuatnya menangis. Selama ini, Mama tak pernah menangis karena aku," kata Jefry pelan, dan terang-terangan.
__ADS_1
Satu-satunya orang tua yang masih tersisa adalah seorang Ibu. Sebisa mungkin Jef ingin membuat Amira tersenyum. Tak peduli meski dia saudara Jefry, jika berani dan nekat membuat Amira bersedih, Jefry tak akan segan untuk menegurnya.
"Dia tak pernah membuatmu menangis, karena kau diasuhnya dengan penuh cinta, anak kecil. Sedang aku? Aku tak lebih dari sekedar anak lelaki yang tersiakan. Jadi jangan berkata seolah-olah aku yang durhaka pada Ibumu! Semua ini akibat dia sendiri yang mengawali," seru Tirta kemudian. Lelaki itu meski kondisi tubuhnya belum pulih sepenuhnya, namun masih mampu mengendalikan situasi.
Jiwa dan mental lelaki matang itu sudah terbentuk kokoh.
"Ibuku juga ibumu, Kak. Jangan lupakan itu," ungkap Jefry masih dengan tenang.
"Baiklah jika begitu. Terserah padamu saja," ujar Tirta dengan cuek.
"Sudah, sudah. Jangan bertengkar. Mama hanya ingin yang terbaik untuk kalian. Tolong, berhenti berdebat dan beri Mama kesempatan untuk bicara," timpal Amira kemudian.
Suasana ruangan tampak hening. Johan juga masih setia duduk di tempatnya, dengan menggenggam sebuah koran harian, seolah situasi dalam ruangan terkontrol dengan baik.
"Pergilah! Aku sedang tak ingin terlibat apapun lagi denganmu, Nyonya Manovti. Anggap saja aku bukanlah putramu, dan kau bisa bebas melakukan apapun yang kau ingin," ujar Tirta kemudian.
Jefry menatap tajam Tirta.
"Tidakkah kau bisa menghargai orang yang lebih tua usianya darimu? Aku memang tak tahu apa masalah kalian beberapa tahun silam, hanya saja, kau juga perlu ingat, bahwa surga ada dibawah telapak kaki Ibumu!" seru Jefry yang mulai kehilangan kendali dirinya.
Di tempatnya, Tirta kian berang. Bisa-bisanya anak kecil seperti Jefry, berniat untuk mengendalikan Tirta.
"Kau ... berhentilah untuk bicara. Jangan sok pintar dan bersuara mencekoki aku dengan bermacam petuahmu. Jangan sok pintar, dan juga jangan sok merasa benar. Kau hanya tidak tahu, tragedi apa yang aku lalui pasca Ibuku kabur hanya demi mengejar laki-laki lain, dan membiarkan aku merana dalam gubuk derita. Jika kau menceramahi aku tentang surga yang ada dibawah telapak kaki Ibumu, maka, beri aku satu kapak untuk memotong kaki Ibumu, agar surga itu benar-benar tak bisa aku miliki!" Seru Tirta penuh murka.
Bahkan dalam kondisi sakit begini, Tirta sanggup membuat Amira tercengang tak percaya.
Tirta benar-benar tak bisa di taklukkan.
__ADS_1
**