Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 65


__ADS_3

Puncak kisah.


Pernikahan Tirta dan Hana berlangsung khidmad pagi ini, dengan segudang bahagia yang selama ini dinantikan oleh semua keluarga Hana. Tirta yang sejak kemarin tertekan oleh sikap Hana yang kelewat batas, diam-diam tersenyum mengingat betapa gigihnya Hana dalam mengejar dirinya.


Dulu, Tirta pernah berdosa dan melakukan kesalahan fatal hingga berujung pada penyesalan, dan dirinya mengejar Hana hingga membabi buta. Nyatanya, kini tanpa harus Tirta mengejar, Hana datang sendiri dengan membawa cinta yang sejak dulu Tirta damba.


Tak ada gaun mewah dengan permata Swarovski mahal, tak ada pelaminan megah dengan dekorasi bunga hidup seperti pernikahan sebelumnya, yang ada hanyalah dekorasi sederhana dan sedikit sentuhan bunga mawar bercampur seruni.


Di sudut ruangan, Amira dan Jefry memandang Hana dan Tirta yang kembali menyandang gelar pengantin baru. Pandangan Amira begitu haru, meski di sudut hatinya terluka parah akibat penolakan Tirta terhadap dirinya. Meski tak diakui ibu oleh Tirta, namun sebisa mungkin Amira tetap tegar.


Lain lagi dengan Jefry yang memandang Hana, kembali kehilangan Hana untuk selamanya. Jefry pikir, ia masih bisa mengejar Hana dan merebutnya dari Tirta. Tetapi sayangnya, Jef salah besar. Tak mungkin Jef mencuri kakak ipar sendiri yang memiliki efek sanggup menghancurkan Tirta.


"Mama mau menghampiri Tirta dulu, Jef. Kau mau ikut?" tanya Amira pelan. Sedikitpun pandangannya tak beralih pada Tirta dan Hana.


Jefry menoleh ke samping, mendapati ibunya yang matanya sudah berkaca-kaca.


"Jef lelah dan ingin pulang saja, Ma. Mama tahu sendiri menghampiri Tirta akan menyakiti hati perasaan Mama sendiri. Lebih baik kita pulang saja, dan mungkin datang lagi kemari lain waktu," ajak Jefry, entah untuk yang ke berapa kalinya.


"Tidak. Mama tak ingin pulang. Jika mama terus menghindarinya dan menunda untuk membangun hubungan baik, Hubungan kamu akan selamanya buruk. Tak apa, Mama akan terima apapun yang ia katakan, Mama janji, Mama akan mengokohkan dinding pertahanan hati Mama. Mama tak akan menangis lagi meski ia memakai Mama sekalipun," jawab Amira yang tak mungkin mundur lagi dari tekadnya ini.


"Baiklah. Jef akan tunggu mama di sini. Jika sekiranya mama lelah dan Tirta menyakiti hati Mama tanpa henti, segera kembali. Jef tak akan kemana-mana dan kita pulang segera," tegas Jefry yang segera diangguki kepala oleh Amira.


Amira berjalan, menghampiri Tirta yang seketika berubah dingin saat dirinya mendekati Tirta. Bisa dipastikan, Amira akan kembali menerima lontaran kata kasar dari Tirta.


"Tirta, Hana, selamat untuk kalian, juga Felix yang kembali bisa berkumpul dengan Mama dan Papanya," ujar Ira pertama kali.

__ADS_1


Amira sendiri baru bisa bertatap muka dengan putra sulungnya, setelah pagi tadi keinginannya untuk bertemu dengan Tirta, mendapatkan penolakan tegas dari Tirta. Amira tak marah, hanya saja merasa tak memiliki kesempatan untuk bicara dari hati ke hati bersama Tirta.


"Terima kasih. Tetapi aku ras tak perlu kau mengucapkannya. Aku tak butuh simpati darimu," jawab Tirta datar. Beruntung, keluarga Hana sudah banyak yang kembali. Hanya ada Marcel, yang datang seorang diri.


"Terserah kau mau bicara apa, Tirta. Seumur hidup kau membenciku pun, aku tak peduli. Aku datang hanya sekedar ingin memberikan ini untukmu, dan juga Hana. Maaf jika ini ... tak berharga tinggi di matamu, tetapi percayalah, aku tulus ingin menyematkannya untuk kalian," ungkap Amira kemudian.


Tirta tak menyahut, memilih untuk menghampiri Felix yang tengah bermain bersama Marcel, dan tak sudi menatap ibu kandungnya itu. Hanya Hana yang dapat melihat kilat tulus pada netra matanya.


Sebuah kotak dihadiahkan Amira untuk Hana dan Tirta. Entah isinya apa, Hana tak berani menerka-nerka.


"Terima kasih, Nyonya. Maaf jika Tirta kurang menyenangkan. Lain waktu, aku akan mencoba untuk bicara lebih tenang padanya. Dulu, aku juga lemah menerima perlakuan dinginnya," ungkap Hana sedikit tak enak. Wanita yang kembali menyandang gelar Nyonya besar Rahardja itu menerima kotak yang diangsurkan Amira padanya.


Meski cerita Amira menerangkan padanya bahwa semua ini akibat dari ulah Amira sendiri di masa lalu, namun tetap saja Hana merasa segan.


"Silahkan. Terima kasih sudah hadir dan memberikan restunya. Lain waktu, sering-seringlah datang ke rumah kami setelah ini, nanti aku akan memberikan alamat rumah kami pada Jef," ungkap Hana kemudian.


"Baiklah, aku pulang dulu. Sampaikan pada Jefry, aku menyesali semuanya dan tak akan lelah meminta maafnya," ungkap Amira sebelum berlalu pergi, meninggalkan Hana yang menatap penuh iba padanya.


Tirta menatap nyalang kepergian Amira dan Jefry yang keluar bersamaan. Ada rasa sedih, kasihan, tapi juga benci yang hingga kini membuat Tirta sakit. Entahlah, mungkin seiring berjalannya waktu, semua kisah akan berakhir indah.


Hingga senja tiba, Tirta segera pamit pada keluarga Hana, untuk membawa Hana dan Felix untuk kembali pulang ke rumah besar yang dulu ditempati Hana dan Tirta.


**


Malam penuh puja dan panas di dalam kamar utama milik Tirta dan Hana, kembali datang. Tak ada pemaksaan, tak ada kasar, dan juga tak ada perlakuan dingin nan kejam yang tidak berikan pada Hana, melainkan sikap lembut penuh puja, penuh damba, dan saling menggilai satu sama lain.

__ADS_1


Tirta menyentuh istrinya dengan lembut, membuai wanita itu seolah singgah di surga, dan mengarungi kenikmatan berdua yang sudah Tirta rindukan sejak dua setengah tahun lalu. Kali ini mereka melakukan dengan penuh suka cita. Tak saling memaksa, dan saling memberi surga.


Nafas Tirta terengah-engah, mencoba untuk memulihkan detak jantungnya yang berdetak tak beraturan. Setelah pelepasan hang entah ke berapa kali, lelaki itu akhirnya tumbang, menyisakan jerit kecil Hana yang terus terngiang dalam ingatan.


"Apa aku terlalu keras? Apa terasa sakit?" tanya Tirta pada Hana kemudian. Lelaki itu memandang istrinya yang wajahnya memerah dengan bulir keringat yang menghiasi kepalanya.


"Sedikit. Tetapi akan membaik seiring waktu nanti. Aku lelah dan ya, aku mengantuk juga. Mari tidur, dini hari akan hilang dua jam lagi. kita hanya punya waktu sedikit untuk istirahat," ajak Hana kemudian.


"Tidak. Beri satu lagi surga, aku janji akan membiarkanmu untuk istirahat," sahut Tirta tanpa perasaan. Tanpa menunggu lagi, lelaki itu lantas kembali menyerang bibir istrinya dengan lumayan dan gigitan kecil, yang tak urung membuat Hana mendesah dalam hati.


Kembali menapaki surga yang selama ini terasa tabu, dulu Tirta sempat berpikir momen demikian tak akan pernah ada lagi dalam hidupnya.


Meski dahulu sempat menjadi suami yang tak diinginkan, namun kini bahagia akhirnya datang, membawa sinar cerah masa depan yang bahkan cerahnya sanggup menyerupai matahari. Air mata, hujatan, makian, hinaan, hingga masa lalu buruk sebagai cucu dari simpanan Adi Prama, telah Hana terima dan dijadikan dendam membara dalam hatinya. Siapa sangka, dendam dan keinginan untuk berpisah, nyatanya membuat Hana tersadar, bahwa ia balik mengejar Tirta. Bukan hanya demi Felix, melainkan juga demi hatinya yang hampa tanpa Tirta.


Inilah kehidupan, inilah akhirnya. Bahagia akan datang dengan kegigihan, dengan banyak perjuangan yang cukup membuat Hana tak lagi memiliki harga diri di mata Tirta.


End.


**


Ekstra part ditunggu besok-besok ya. Semoga semangat menjalani hari untuk pembaca setia kisah-kisah Istia.


Sore nanti lanjut kisah Maya dan Aditya, Merajut luka lampau.


Jangan lupa ikuti juga dan tinggalkan jejak disana. Terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2