Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 37


__ADS_3

Bahagia yang tumbuh.


"Bagaimana kondisinya, dokter?" Johan bertanya pada dokter Ida, pasca penyuntikan steroid pada Tirta. Lelaki itu sangat khawatir dengan kondisi Tirta, sang majikan.


Rumah sakit mulai sepi, ketika hari telah mulai gelap. Beberapa pengunjung mulai bertolak pulang karena memang jam besuk dibatasi. Johan tak tahu ia sampai kapan akan ada di rumah sakit ini. Tetapi yang jelas, Johan tipe laki-laki penakut terhadap dunia hantu.


"Kondisinya mulai stabil. Mungkin tidak akan lama lagi, tuan Tirta akan sadar. Aku sudah memperingatkan bahwa ia tak boleh stress. Kurangi beban kerjanya, agar ia tetap bisa menjaga moodnya, Johan." Dokter Ida menyarankan.


Johan menghembuskan nafasnya kasar.


"Bagaimana mungkin tuan bisa menjaga moodnya sendiri, sementara istrinya selalu membuat masalah? Menghilang dua tahun, dan datang dengan meminta perpisahan setiap hari. Andai tidak ada Tuan Muda yang sudah Nyonya lahirkan, tuan pasti sudah mengabulkannya."


Sebayang keterkejutan tampak terlihat jelas pada wajah dokter Ida. Seingatnya, Nyonya Gihana Rahardja itu pergi selama dua tahun terakhir. Mendengar kabar bahwa Hana sudah pulang, tentunya membuat dokter Ida merasa ketinggalan.


"Sejak kapan Nyonya Rahardja pulang?" tanya dokter Ida pada Johan.


"Hampir seminggu ini." Jawab Johan datar.


"Baiklah, usahakan yang terbaik agar rumah tangga mereka terselamatkan seperti yang tuan Rahardja inginkan, Han. Bila tidak, aku tidak tahu lagi apa yang akan terjadi ke depannya." Ungkap dokter Ida.


"Baiklah dokter." Jawab Johan, seraya menatap dokter Ida yang berlalu begitu saja. Johan lantas masuk ke dalam ruang rawat dokter Ida.


Lama Johan termenung, memikirkan kilasan kisah hidup majikannya yang terbilang sengsara sejak usia muda. Bukan sengsara dalam segi finansial, melainkan sengsara karena merasa kesepian dan selalu disakiti orang terkasih di sekitarnya.


Hingga kemudian suara erangan lirih Tirta, berhasil membuyarkan lamunan Johan. Lelaki itu menatap lega majikannya.


"Dimana aku, Han?" Tirta bertanya, dengan memijit kepalanya yang terasa berat. Entah mengapa, Tirta siuman lebih cepat daripada yang dokter perkirakan.


"Mengapa ada jarum infus di tanganku?" Tanya Tirta kemudian.


"Anda pingsan sore tadi, tuan. Anda juga baru saja selesai menjalani penyuntikan steroid untuk mengurangi sakit di kepala anda. Jangan banyak bergerak, mungkin malam ini anda akan menginap disini." Johan menjawab pelan.

__ADS_1


"Apa-apaan ini, Han? Aku mau pulang. Felix pasti menungguku di rumah." Ujar Tirta kemudian. Lelaki itu lantas membuka paksa jarum infus yang terpasang di tangannya. Ia tak peduli, bahkan darahnya menetes pelan.


"Dimana sepatuku, bawa aku pulang."


Tirta menatap sayu pada Johan. Membayangkan ia akan bermalam di rumah sakit tanpa menatap putra tersayangnya, membuat Tirta ingin marah.


"Tapi kondisi anda belum stabil, tuan." Johan memaksa Tirta agar tetap tinggal, "setidaknya hingga kondisi tubuh anda membaik." Imbuh Johan.


"Bawa aku ke mobil. Katakan pada dokter Ida, aku baik-baik saja dan aku pulang atas keinginanku sendiri." Sahut Tirta yang kemudian ia menemukan sepatunya. Tanpa pikir panjang, Tirta memakai sepatunya dan segera berlalu begitu saja dari sana.


Johan panik, namun juga tak bisa mematahkan keinginan majikannya itu. Ia tahu betul, bagaimana Tirta jika sudah berkehendak.


Sepanjang perjalanan pulang, Tirta dan Johan sama-sama diam. Tirta juga sering memejamkan mata akibat nyeri di kepalanya masih terasa. Hingga nyerinya menghilang secara perlahan, Tirta bisa bernafas lega.


"Han, jika nanti Hana bertanya sesuatu, katakan saja bahwa aku hanya kelelahan." Tirta berkata tiba-tiba.


"Baik, tuan." Jawab Johan.


"Tidak, Han. Aku tidak mau dia kepikiran nanti. Lagipula, aku takut ia bertahan denganku, hanya karena dia kasihan padaku. Tak masalah bila aku harus menyembunyikan penyakitku darinya. Seharian tadi aku berpikir, mungkin inilah yang harus aku lalui. Asalkan Felix bisa tersenyum, Hana juga menemukan kebahagiaannya, maka duniaku akan tetap baik-baik saja, Han." Jawab Tirta pelan.


Tirta Rahardja membuang pandangannya ke luar jendela, menatap lampu-lampu penerang jalan yang berjajar. Mungkin, ia dan Felix akan menikmati malam ini berdua saja. Memberi waktu pada Hana, adalah pilihan yang tepat saat ini.


"Maksud tuan?" Tanya Johan.


"Aku akan memikirkan ulang permintaan Hana untuk berpisah denganku. Tetapi untuk membawa Felix, aku tak akan biarkan selagi aku masih bisa bernafas." Tirta menjawab pelan. Meski kepalanya sudah sedikit ringan, namun wajah pria itu masih tampak pucat.


"Apapun keputusan anda, Tuan, yang terpenting itu terbaik untuk anda, dan juga Tuan Muda." Timpal Johan.


Hingga kemudian mobil yang mereka kendarai, tiba di kediaman Tirta, Tirta melihat Haikal tengah menggendong Felix yang tengah menangis. Hana juga sedang membawakan botol susu Felix.


'Sepertinya Felix sedang merajuk.'

__ADS_1


Batin Tirta. Tirta lantas turun, berjalan tergesa ke arah Felix yang sudah memanggil-manggil papa.


"Sayang, kau kenapa menangis? Apa kau sakit, hm?" Tanya Tirta, yang kemudian membawa putranya ke dalam gendongannya.


Seketika Felix diam, memeluk Tirta penuh sayang dan menyandarkan kepalanya pada bahu Tirta. Baik Haikal maupun Hana tercengang seketika.


"Sejak sore tadi Tuan Muda menangis dan memanggil anda, Tuan. Saya juga tidak menyangka, tuan muda bisa diam dalam sekejap ketika anda datang." Haikal menunduk dalam, membiarkan Hana canggung seorang diri.


"Dari sini harusnya kau tahu, Kal, Darah lebih kental dari air." Tirta berkata sambil berlalu pergi, meninggalkan Haikal, Johan dan Hana yang diam seribu bahasa.


"Masuklah, Nyonya. Tuan butuh anda saat ini. saya mohon, jangan menimbulkan perdebatan dan jangan bicara yang tidak-tidak pada Tuan. Suasana hati Tuan sedang tidak baik-baik saja." Johan berkata pada Hana.


"Memangnya ada apa, Han?" Tanya Hana penasaran, "kulihat wajahnya memucat. Apakah Tirta sedang sakit?" Tanya Hana kemudian.


"Bukan sakit. Hanya masalah kantor biasa." Johan meyakinkan. Ia tak mungkin mengatakan pada Hana, jika Tirta tengah sakit.


"Baiklah. Aku akan menyiapkan kebutuhannya." Kata Gihana. Wanita itu lantas berlalu, membawa botol susu yang masih hangat.


"Kau sudah makan malam? Jika belum, aku akan siapkan." Hana berkata tiba-tiba, saat Tirta menimang Felix di lantai atas. Lelaki bahkan sudah melepas sepatu dan kaus kaki nya. Berjalan di lantai yang dingin tanpa alas.


"Belum." Tirta menjawab singkat.


"Baiklah, aku akan menyiapkan makan malam untukmu. Kau mau menu apa?" Tanya Hana.


"Kau hendak menyiapkan makan malamku?" Tanya Tirta. Ia tak menyangka Hana bersedia repot karena dirinya. Tentu Hana hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Apapun yang kau masak, aku akan memakannya."


"Baiklah, jika Felix sudah tenang, berikan pada pengasuh. Kau bisa membersihkan diri dan makan malam setelahnya. Aku ke dapur dulu." Hana berkata, lantas berlalu pergi menuju ke dapur.


Senyum simpul terbit di bibir Tirta, menyisakan banyak bahagia yang tiba-tiba tumbuh dalam hatinya.

__ADS_1


**


__ADS_2