
Bertemu Jane
Bangun pagi kali ini terasa berbeda dari pagi biasanya bagi Tirta Rahardja. Lelaki itu tersenyum-senyum sendiri, bahkan ketika matanya baru saja terbuka. Biasanya, Tirta akan bangun lebih pagi. Tetapi hari ini, untuk pertama kali dirinya bangun kesiangan.
Kepala suami Gihana itu miring, menatap putranya yang masih hanyut dalam lelapnya. Bahkan dengkurannya terbilang keras untuk bocah seusia Felix. Ini menimbulkan sebuah euforia yang luar biasa dalam hati Tirta. Setelah gelap yang sekian lama menggelung dalam hati Tirta, Felix terlahir, seolah membawa sinar terang yang menyejukkan.
Ditatapnya lekat wajah Felix kecil. Garis wajahnya demikian sama persis dengan Tirta. Bahkan kulit hingga potongan rambutnya, serupa dengan milik Tirta. Apa yang berbeda dari Felix dan Tirta? Hanya dagu Felix saja yang menyerupai dagu Hana, dagu belah. Baik mata, hidung, alis, pipi hingga tulang rahang, semua sama dengan Tirta.
Sayup-sayup penciuman Tirta menangkap aroma harum teh melati. Saat melihat ke arah pintu, Tirta mendapati siluet Hana yang tengah membawa nampan. Dengan konyolnya, Tirta mengusap matanya beberapa kali, memastikan bahwa apa yang tengah dilihatnya ini, bukanlah mimpi.
"Pagi, Hana. Kau, membawakan minum untuk siapa?" Tirta bertanya dengan suara datar. Tidak biasanya, Hana membawa cangkir teh ke dalam kamar.
"Pagi. Aku membawakan ini untukmu. Minumlah. Kulihat kesehatanmu menurun." Hana menjawab pelan. Wanita itu lantas menuju ke arah nakas, meletakkan teh yang ia buat agar Tirta meminumnya.
"Minumlah, selagi hangat." Ujar Hana kemudian.
"Terima kasih." Jawab Tirta. Lelaki itu lantas mengambil cangkir dengan pelan, menyesapnya dengan asap yang masih mengepul dari dalam cangkir.
"Tirta, itu masih panas." Hana mengerutkan kedua alisnya, merasa keheranan akan tingkah Tirta.
Tirta sendiri terkekeh. "Aku merasa nyaman. Sudah terbiasa meminum minuman panas." Dusta Tirta. Hanya karena ia ingin menuruti perintah Hana agar meminum teh segera, Tirta bahkan tidak memiliki waktu untuk mendinginkan teh itu.
Jatuh cinta terkadang mampu membuat seseorang yang tegas dan berwibawa, mendadak tolol dalam sekejap.
"Aku akan membangunkan Felix." Hana berkata seraya hendak menghampiri putranya itu. Sayangnya, Tirta mencegahnya.
"Jangan. Biarkan Felix tidur dan bangun sesuka hatinya. Nanti rewel jika ia kurang tidur. Biarkan saja, hari ini aku mengambil cuti dan ingin menghabiskan waktu bersama kalian." Ujar Tirta.
"Pekerjaanmu? Bukankah hari ini bukan akhir pekan?" Hana bertanya keheranan.
__ADS_1
"Aku akan mendelegasikan pekerjaanku pada Johan dan anak buahku yang lain, jadi bagaimana jika seandainya kita berlibur sekarang? Ke Bali, ke luar negeri, atau kemanapun yang kau ingin." Ujar Tirta. Lelaki itu lantas meletakkan tehnya kembali ke atas nakas.
Hana diam, tak menjawab. Begitu juga dengan Tirta. Keduanya terjebak dalam kebisuan cukup lama, saling berpikir dan hanyut dengan pikiran mereka masing-masing.
Selama ini, Tirta adalah orang terkenal kejam dan dingin. Hana sendiri tidak tahu, mengapa ia seolah kehilangan rasa terhadap Tirta. Tirta kini berlaku baik, tentu Hana merasa dilema.
Gejolak tak nyaman, rasa tak suka, juga tertekan tiba-tiba. Hana hanya belum bisa memaafkan Tirta sepenuhnya. Semua itu karena dirinya tidak tahu penderitaan yang dijalani Tirta selama ini. Tak hanya itu, kebaikan Hana rupanya hanyalah kepalsuan belaka, tidak lebih.
"Bagaimana?" Tirta bertanya pelan. Ia berharap Hana menentukan kemana ia pergi. Selain untuk membangun kedekatan kembali bersama istrinya itu, Tirta ingin sekali rasanya bisa menebus luka Hana di masa lalu karena sikap kasar dirinya.
Ya, setidaknya Tirta sudah berusaha berubah lebih baik, demi Felix dan Hana.
"Terserah saja. Tetapi aku tak ingin berlibur ke tempat yang terlalu jauh." Ungkapnya kemudian.
"Baiklah, nanti aku suruh Johan menyiapkan tiket dan lain hal yang dibutuhkan." Ujar Tirta.
"Oh ya, pagi ini pukul sembilan aku akan ke rumah teman lamaku. Semalam aku sudah mengadakan janji temu dengannya." Hana berkata.
"Jane, teman sekolahku dulu. Felix akan aku bawa." Jawab Hana.
"Pergilah, tetapi biarkan Felix tinggal di rumah saja. Kau akan repot nanti jika Felix ikut serta. Biarkan dia bersamaku di rumah, kesempatanku libur, bisa membersamai anak ini seharian penuh." Ujar Tirta.
"Ya sudah kalau begitu." Hana tak memiliki pilihan lain selain mengiyakan.
**
Perjalanan Hana kali ini terasa lama untuk tiba di rumah Jane. Sopir sekaligus pengawal yang tidak Hana tahu siapa namanya, menyetir pelan karena macet. Suasana ibukota yang tak pernah sepi, membuat macet seringkali menjadi rutinitas.
Semalam Jane mengirimkan Hana pesan, bahwa Jane ingin bertemu. Namun Hana menolak ketika Jane mengatakan bahwa Jane ingin datang berkunjung, serta ingin berkenalan dengan Felix, putranya.
__ADS_1
Hingga mobil yang Hana kendarai tiba di rumah Jane, Hana segera turun dan pengawal menunggu di dalam mobil. Wanita itu lantas berjalan anggun memasuki rumah Jane. Dua sekuriti yang berjaga, menyambut Hana dan mempersilahkan Hana masuk tanpa menunggu.
"Hana? Masuklah. Aku sudah lama menunggumu." Jane menyapa Hana, dengan kecupan pipi kanan dan pipi kiri. Wanita itu lantas mengajak Hana duduk, sebelum meminta pembantu rumah tangga membuatkan minum untuk Hana.
"Maaf, Jane. Aku datang kemari tidak membawa serta Felix. Papanya tidak mengizinkan aku membawa anak itu." Hana berkata lembut.
"Padahal aku mengharapkan dia ikut. Memangnya, mengapa semalam kau menolak diriku bertandang ke rumahmu? Apakah suamimu tidak menerima tamu?" Tanya Jane kemudian.
"Bukan. Dia tidak keberatan aku menerima tamu. Hanya saja, aku tidak nyaman bila membawamu ke rumah." Tutur Hana.
'Aku tidak ingin kau tahu nanti tentang rumah tanggaku, Jane. Suamiku kadang baik, terkadang juga menampakkan sisi buruknya.'
Batin Hana.
"Oh ya, Jane, ada apa kau memintaku datang kemari? Kau berkata bahwa ada sesuatu yang penting yang ingin kau sampaikan padaku." Tanya Hana.
Jane nampak menghela nafas panjang, mencoba menstabilkan perasaannya yang mendadak tak nyaman. Jane enggan mengatakannya dan juga enggan ikut campur, namun Jane tak bisa bila harus menyembunyikan terlalu lama.
"Ini penting, Gihana." Jane diam sejenak, sebelum kemudian melanjutkan kalimatnya.
"Ini tentang Jefry."
Hana mengerutkan kening, merasa tidak memiliki urusan apapun dengan Jefry, selain dansa bersama saat malam reuni.
"Ada apa, Jane? Kenapa dengan Jefry? Aku tak merasa memiliki urusan dengan Jef, selain malam reuni saat itu." Hana bertanya pada Jane, sedikit curiga karena menangkap gelagat tak nyaman dari jane.
"Jefry, Jef menyukaimu sejak dulu, Hana. Dia menyesal karena tak pamit padamu, ketika berangkat melanjutkan studi ke London." Jane menjelaskan.
"Tapi aku tidak peduli, Jane. Antara aku dan dia sudah selesai sejak ia meninggalkan aku. Aku pun tak merasa memiliki urusan lagi dengannya. Apalagi, aku sudah memiliki suami dan anak." Hana menjawab logis.
__ADS_1
"Masalahnya, Jef berkata ia tidak peduli, Hana." Jane tak berdaya. "Aku takut Jef melakukan hal yang nekat."
**