Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 48


__ADS_3

Sesak


Di sebuah ruangan cafe VVIP yang disewa oleh Jefry, Jef tengah melakukan janji temu dengan Jane, sahabat Hana yang bisa Jef percaya. Lelaki itu mantap hati untuk membuat Hana bertekuk lutut padanya. Tak perduli bagaimana pun caranya, Jef tetap akan meraih hati wanita masa lalunya itu.


Berbagai momen membahagiakan di masa lalu, terus berkelebat dalam otak Jef. Bahkan, bau tubuh Hana masih tercium kuat dalam indera penciuman Jefry. Sungguh, dua tahun yang begitu indah di masa itu, membuat Jefry sulit menemukan pengganti Gihana hingga saat ini.


Hingga Jefry memutuskan untuk menghubungi dan memaksa Jane agar membantunya, maka saat itulah, Jefry mulai menggunakan taktik.


Setelah melalui perdebatan alot dengan Jane, kini, Jane datang dengan membawa kabar baik untuk Jef. Wanita itu bersedia menerima tawaran Jef, untuk bisa memberikan apapun informasi apapun terkait dengan Hana.


Jefry adalah lelaki egois yang sanggup menghalalkan berbagai cara, menggunakan intrik kotor semua sebuah tujuan, tanpa peduli bagaimana lawannya. Dialah lelaki angkuh dengan berjuta pesona, layaknya mawar yang indah berduri, namun memiliki daya pikat luar biasa.


Setelan kemeja hijau celana abu-abu tua yang Jef kenakan, tampak melekat sempurna pada tubuhnya. Tak lupa, sebuah kalung emas yang melingkar pada lehernya, membuat lehernya tampak berkilau mengagumkan.


Disinilah persamaan Jefry dengan Tirta, keduanya penyuka perhiasan berkilau yang melingkar dpada lehernya.


"Hai, Jane. Kau sendiri?" tanya Jef berbasa-basi. "Kau cantik sekali saat ini," tambah lelaki itu lagi.


"Kau ingin aku membawa Hana ikut serta, hmm?" Jane melempar tanya, pada lelaki yang sangat menggilai Hana itu. "Jangan gila, Jef. Jika aku membawa Hana, bisa dipastikan rencanamu hancur berantakan."


"Ya, jika kau bisa, aku akan memberi imbalan apapun yang kau mau. Jadi ya, terserah kau saja," Jefry memberi tahu.


Jane mendekat, menatap Jefry dengan raut datar. Entah apa yang Jane rasakan saat ini, yang jelas, tatapannya penuh arti yang tak bisa Jef tebak.


Jefry tersenyum, memberikan isyarat pada Jane agar segera duduk di kursi seberang Jefry. "Duduklah, Jane. Aku tidak tahu apa kesukaanmu, jadi, kau bisa memesannya sendiri," ujar Jefry kemudian.

__ADS_1


"Aku sudah makan malam bersama sepupuku tadi, Jef. Jadi sebaiknya aku pesan minuman saja, pesankan yang sama dengan minumanmu," pinta Jane. Wanita itu memandang ke seluruh isi ruangan, jendela dengan tirai berwana putih transparan, serta lampu yang temaram, membuat suasana tampak romantis.


Oh tidak, Jane seperti sedang menghadiri acara kencan bersama orang terkasih.


"Ngomong-ngomong, tempat ini mirip dengan tempat pasangan yang tengah kencan, Jef, kurasa begitu," tambah Jane lagi. "Sebaiknya kau membawa Hana datang kemari. Jika kau membawaku, aku takut terbawa perasaan, nanti."


"Anggap saja seperti apa yang kau pikirkan. Oh ya, kau membawa kabar baik untukku? Bagaimana dengan tawaranku?" tanya Jefry. Lelaki itu lantas menatap serius pada Jane.


Ada harapan yang begitu besar yang dimiliki oleh lelaki itu. Sayangnya, Jefry takut jika yang terjadi, tak sesuai dengan harapannya.


"Hana sudah bercerai dengan suaminya. Sudah seminggu ini, calon janda itu sudah tinggal di rumah orang tuanya," Ungkap Jane datar. "Tak hanya itu, Tirta Rahardja juga mengambil alih pengasuhan Felix karena perceraian, adalah permintaan Hana."


Jefry terpana akan pengakuan Jane. Lelaki itu lantas menatap Jane yang tengah menyandarkan bahunya, pada sandaran kursi, dan melipat kedua lengannya di depan perutnya, dengan anggun.


"Kau tidak sedang bercanda?" tanya Jefry kemudian. "Apa Hana tak bahagia bersama suaminya?" tambah Jefry lagi.


"Baiklah, aku tak perlu repot-repot memisahkan keduanya, karena Dewi Fortuna sedang berpihak padaku. Terima kasih atas informasinya, Jane. Semoga saja setelah ini Hana bisa menerimaku," Jefry berkata dengan penuh percaya diri.


Putra Amira itu hanya tidak sadar, dengan raut wajah Jane yang berubah total, selayaknya emosi yang berfluktuasi. Entah mengapa, Jane merasakan sebuah aura tak nyaman yang dimiliki oleh Jefry. Aura yang Jefry bawa, sepertinya tidak jauh berbeda dengan aura Tirta Rahardja.


Dulu, Jane sempat bertemu secara pribadi dengan suami Hana itu, sesaat setelah Hana menghilang dan kabur tanpa jejak.


"Jef, bila boleh aku sarankan, sebaiknya kau berhati-hati setelah ini. Aku pikir, setelah Hana mengalami perceraian, ia akan lebih selektif dalam memilih pasangan. Apalagi, kau dulu adalah mantan kekasih Hana yang meninggalkan Hana tanpa penjelasan dan tanpa pamit," Jane mencoba memeringati.


Jef menaikkan sebelah alisnya, sebagai tanda tanya. "Mengapa begitu? Kejadiannya sudah sangat lama sekali, Jane. Kuharap kau memberikan supportmu," kata Jefry kemudian.

__ADS_1


"Aku akan mendukungmu, memberi bantuan untuk mendekatkan mu dengan Hana. Hanya saja, kau harus ingat satu hal, Jef, aku tak ingin kau menyakiti Hana, anda nanti kau bisa mendapatkan kembali hatinya. Ini bukan hanya sekedar persahabatan antara aku dan Hana, melainkan Hana sudah seperti saudariku," ungkap Hana kemudian.


Ada banyak kenangan di masa lalu ketika Jane, Hana dan Jefry saat masa di bangku sekolah menengah atas. Pernah Hana menyelamatkan Jane dari patahan ranting pohon yang baru jatuh. Ada sebuah ikatan batin dan ketulusan yang tidak bisa ditukar oleh apapun.


Hana adalah orang yang baik. Hanya saja, terkadang sebuah kesalahan bisa dimiliki oleh siapa saja. Sejatinya, tak ada manusia yang sempurna.


Sebenarnya, Jane tidak ingin menerima tawaran Jef untuk membantunya mendekatkan dengan Hana. Akan tetapi, Jane memutuskan menerimanya, dengan harapan Hana bisa bahagia setelah ini. Jane tak mau, kesengsaraan Hana ketika lima bulan awal pernikahan, terulang lagi.


Jane seperti yakin, jika Jefry mampu membahagiakan Hana.


"Jangan khawatir, Jane. Aku akan menjaga Hana semampu dan setulus hatiku," janji Jefry pada Jane.


**


Hana tengah berdiri di depan pintu gerbang rumah yang ia tempati bersama Tirta. Rumah yang tampak sepi dan seolah tidak berpenghuni. Entah mengapa, Hana hanya ingin menuruti kata hatinya, dan pasrah kemana kakinya melangkah membawanya.


Di rumah inilah, Hana merasa menderita saat itu, tidak lama, namun berhasil membuat Hana merasa tak betah. Lalu, di tempat ini pula lah, Hana menerima perlakuan baik Tirta, suaminya, dengan sikap Hana sedingin salju kutub Utara pada Tirta, sejak kepulangannya dari Aussie.


'Bagaimana? Kau sudah merasa bahagia, Hana? Sekarang Tirta sudah menjauh darimu, tetapi kau justru mencarinya.'


Batin Hana bermonolog, mengejek drinya sendiri yang kelewat bodoh.


Sekilas, Hana merasakan dadanya sesak.


'Mengapa dadaku sesak, ya?'

__ADS_1


**


__ADS_2