Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 47


__ADS_3

Tanyakan Pada hatimu.


Untuk apa sebuah kehidupan diciptakan, jika pada akhirnya harus diberi kesakitan tak berujung tanpa obat yang menyembuhkan? Hidup terkadang lucu, bermain-main dengan sesuatu yang sensitif bila menyangkut tentang hati.


Amira duduk terpaku di dalam ruangan kantornya, ketika ia mendengar kabar bahwa Tirta tak sadarkan diri. Wanita itu merasa khawatir, saat mengetahui jika anaknya itu sakit parah ketika berniat untuk berpisah dengan istrinya, Gihana.


'Mungkinlah Gihana tidak ingin melanjutkan rumah tangga dengan Tirta, karena Jefry? Ya Tuhan, kumohon jangan membuat rumit semuanya."


Batin Amira dalam hati.


Amira bukan tidak tahu, melainkan tahu semua gerak-gerik Jefry, termasuk saat acara reuni beberapa waktu lalu. Termasuk juga Jef sempat berdansa dengan kakak iparnya itu. Hanya William dan Amira yang tahu, bahwa Jefry dan Tirta bersaudara satu ibu.


"Will, bagaimana jika aku tiba-tiba datang pada Tirta, dan menjenguknya? Apa reaksinya kira-kira, ketika sakit tengah didatangi oleh wanita asing sepertiku? Aku ingin melihatnya, tetapi aku seperti tidak mampu untuk menerima tatapannya nanti," Amira berseru pelan, ketika


William tahu apa yang dirasakan oleh Amira. Sebagai ibu, naluri seorang ibu selalu mendorongnya untuk menemui Tirta, sayangnya, keadaan membuatnya tidak berdaya untuk datang saat ini.


"Ada situasi sulit yang tidak boleh anda lewati lebih dulu, nyonya. Andai tuan muda tidak sedang sakit, mungkin anda bisa mengunjunginya dan menemuinya sebagai calon rekan bisnis. Tuan muda sedang patah hati, bukan hal yang bagus bila anda tiba-tiba datang dan mengatakan, bahwa anda adalah ibu kandungnya," William menerangkan.


"Tetapi aku ingin mengunjunginya, Will, melihat kondisinya dan aku ingin memastikan, ia tak sendiri," Amira mulai termainkan emosinya tanpa ia sadari. Wanita itu seolah lupa, bagaimana cara mengendalikan diri dengan cara anggun, tanpa mengedepankan emosinya.


"Baiklah, saya akan mengatur semuanya. Hanya saja, anda perlu ingat satu hal, anda hanya boleh melihatnya dari jauh," ujar William kemudian.

__ADS_1


Tak ada pilihan lain untuk Amira, selain mengangguk dan menyetujui apa yang William katakan. Wanita itu benar-benar hancur dan tidak berdaya, ketika membayangkan, Tirta sendirian dan tak ada satupun orang terdekatnya yang menungguinya.


**


Hana duduk seorang diri di balkon kamarnya sore ini, di kediaman Adi Prama. Wanita itu menatap senja di ufuk barat, yang menampakkan cahaya merah keemasan yang berkilau.


Sejak kepulangannya seminggu lalu dari pulau Dewata, wanita itu tidak bertemu sama sekali dengan suaminya. Saat itu juga, Hana diantar langsung oleh empat orang pengawal Tirta. Ia tak habis pikir, mengapa Tirta memilih menjauhinya dan mengatakan bahwa malam sebelum ia pulang, Tirta mengisyaratkan bahwa itu adalah pertemuan terakhir keduanya.


"Hana, kau melamun lagi?" Daniel datang, dengan wajah letih. Lelaki itu demikian keras dalam berusaha untuk bisa menemui Tirta. Sayangnya, ia tak mendapatkan jejak, dimana Tirta saat ini.


Sejak Johan dan Haikal datang kemari beberapa hari lalu tanpa Tirta, Daniel mendadak syok seketika. Bagaimana tidak? Dua orang kepercayaan Tirta itu menyampaikan bahwa, mereka mewakili Tirta untuk memasrahkan Hana kembali padanya.


Tak hanya itu, Daniel demikian sangat syok, ketika mereka mengatakan, bahwa perceraian adalah sebuah keinginan Hana, dan juga tidak mungkin bagi Daniel untuk memaksa Tirta untuk bertahan. Terlebih, Tirta akan mengambil alih pengasuhan Felix. Kini, Felix telah dibawa oleh Lila dan Johan. Daniel tak bisa berbuat banyak, karena kesalahan, ada pada putrinya.


"Papa?" Hana berbalik, menatap papanya yang terlihat kelelahan.


"Papa ingin bicara, duduklah," ujar Daniel yang menunjuk kursi di depannya. Kini, mereka telah duduk empat mata di balkon kamar putrinya.


"Kau yang menginginkan perceraian dengan Tirta, Hana?"


Hana terdiam, menatap papanya dengan tatapan kosong dan mengangguk. Wanita itu seolah tertekan dengan situasi ini, tapi ia sendiri menginginkan perpisahan dengan Tirta.

__ADS_1


"Mengapa, Hana? Apakah Tirta masih saja tidak bersikap baik padamu? Katakan pada papa, apakah dia masih tirani seperti dulu?" Daniel sudah tidak tahan menyimpan tanya ini sejak seminggu lalu.


"Tirta sangat baik dan sayang padaku, Pa. Papa tahu sendiri jika dia mengajakku berlibur hanya untuk membangun hubungan baik lagi denganku. Hanya saja, aku tidak menyangka akan seperti ini jadinya. Tirta justru .... " Hana tak melanjutkan kalimatnya.


"Beberapa waktu lalu aku sangat membencinya. Bahkan membencinya setengah mati. Mungkin karena dendam, Hana tak begitu mengenal persis. Hanya saja, seminggu aku tidak melihatnya, aku merasa hatiku seperti cangkang kosong tanpa isi. Kosong dan menuntut untuk dihuni," jawab Hana lagi.


"Kau gegabah, kau bodoh, dan kau keterlaluan, Hana," ujar Daniel tanpa basa-basi. "Andai kau tahu bagaimana Tirta sangat menyayangimu, kau pasti akan mengubur dalam egomu untuk menjauh darinya. Dia sudah benar-benar berubah. Setelah papa mendengar langsung darimu, papa tak akan melanjutkan niat papa untuk bisa mengambil Felix kembali," seru Daniel.


Hana terkejut di tempatnya. Bagaimana mungkin ia tak bisa mendapatkan Felix, sementara ia adalah ibunya?


"Aku adalah ibunya, Pa? Bagaimana mungkin Hana tidak boleh merawat Felix? Tirta bahkan datang setelah Felix bisa berjalan sendiri," Hana menatap tajam Daniel.


"Tetapi disini, kaulah yang berulah, Hana. Papa tidak ingin mempermalukan keluarga kita, karena kau yang berbuat salah, dan kau juga yang mengambil Felix. Kau putriku satu-satunya, mana mungkin aku akan membelamu, sementara disini, kaulah yang bersalah? Aku menyayangimu, tetapi aku tak ingin membuat banyak orang menilaimu sebagai wanita egois!" Daniel berseru lebih tegas.


Seumur hidup, bahkan Hana tidak pernah menemukan papanya lebih membela orang lain yang bersalah.


"Pa, apa papa tidak sadar, disini Tirta lah yang bersalah. Lelaki itulah yang membuat Hana menderita, menyiksa Hana tanpa perasaan," Hana mulai berani mendebat Papa. Matanya sudah berkaca-kaca, juga suaranya yang mulai bergetar.


"Hanya lima bulan dia jahat padamu, dan kau tidak tahu bagaimana dua tahun ia melalui hari-harinya. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, Nak, bahwa aku tak sampai hati melihatnya menjalani hidup seperti di neraka. Tidak peduli sekalipun kau putriku, tetapi jika kau berani mengambil langkah buruk untuk keluarga kecilmu, aku tak akan membelamu meski kau menangis darah sekalipun," ujar Daniel. Hana hanya bungkam tak bisa berkata-kata.


"Mengapa Papa tidak bisa menjadi pembelaku, yang berdiri di sampingku setiap waktu? Alih-alih membelaku, Papa bahkan lebih sudi berdiri berseberangan denganku hanya untuk membela Tirta," ungkap Hana seraya memecahkan tangisnya. Hana tak berdaya, dengan rasa yang tak bisa ia tahan lagi.

__ADS_1


"Aku tidak membela orang lain, Hana. Aku hanya membela siapa yang benar. Aku tidak menyalahkan, hanya berusaha untuk membuka pola pikirmu. Kali ini dengar dan pikirkan ini baik-baik. Setelah kau menjauh dari Tirta, setelah kau berhasil bebas dari lelaki itu, aku ingin lihat, apakah kau sanggup menjalani hari tanpanya? Tanyakan pada hatimu, apakah kau tak merasakan hatimu kesepian? Papa berharap, kau tidak menyesali keputusan yang sudah terlanjur kau ambil ini," tegas Daniel sambil berlalu pergi, meninggalkan Hana yang tercekat sendirian.


**


__ADS_2