Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 41


__ADS_3

Menjelang berlibur


Sepasang mata indah penuh pesona itu, berlalu begitu saja dari sosok Jef. Lelaki tinggi dengan perawakan maskulin itu, menatap Hana dan berniat menyapa, namun hanya senyum Hana yang ia dapat tanpa sepatah katapun dari mulut Gihana.


"Jangan pernah berpikir untuk mengganggunya, Jef. Aku tak mau kau berakhir berhadapan dengan suaminya." Jane bersuara, membuat Jefry tersadar dari lamunan. Kehadiran seorang Hana, cukup membuat Jefry hanyut dalam euforia kebahagiaan yang semu.


"Kenapa kau tidak membantuku, Jane? Apakah kau butuh sesuatu yang tidak kau dapatkan dariku?" Jefry mendudukkan tubuhnya, pada kursi yang sejak tadi di duduki oleh Gihana.


"Kau terlalu percaya diri, Jefry. Kurasa kau perlu bangun dari tidurmu. Hana sudah tak menginginkan dirimu lagi." Jane menjawab, dengan melambaikan tangannya. wanita itu tahu betul, Jefry memang sering bersikap di luar nalar bila sudah menginginkan sesuatu. Jefry adalah lelaki dengan karakter nekat.


"Ngomong-ngomong, apa yang dia katakan padamu? Apakah dia tak meninggalkan pesan untukku?" Jef bertanya datar.


"Tidak. Oh ada, Gihana hanya berpesan, bahwa kau tak perlu mengejarnya lagi. Masa lalu bersamamu, sudah Hana kubur dalam-dalam. Dia tak lagi memiliki perasaan spesial terhadapmu. Jadi kuharap, kau segera sadar dan hentikan obsesimu itu." Jane berkata dengan ketusnya.


Jef terdiam cukup lama, memperhatikan Jane yang tengah menatapnya datar.


"Ada apa, Jane? Kuperhatikan kau agak lain dari biasanya. Apakah ada hal yang membuatmu tak suka padaku?" Jef melempar tanya lagi.


"Katakan ada apa, Jef? Apa tujuan pentingmu datang kemari?" Jane menatap Jef sejenak, sebelum kemudian menyeruput kopinya sendiri.


"Aku ingin meminta sekali ini saja, Jane. Jangan menolak. Bantu aku agar aku bisa berbicara dengan Hana. Tidak aneh-aneh, hanya sekedar bicara empat mata. Bukankah itu tidak sulit?" Jef menatap penuh harap pada Jane.


"Ya, kedengarannya itu memang tidak sulit, Jef. Hanya saja, Hana tetap tidak mau meski tadi aku telah membujuk dirinya. Tolonglah kau mengerti. Aku tak ingin hubungan pertemanan ku dengannya merenggang karena dirimu." Jane menjawab mantap. "Aku menolak tegas permintaanmu. Jika kau menginginkan Hana, alangkah baiknya kau berusaha sendiri."

__ADS_1


Tambah Jane.


"Ya, baiklah. Itu tak masalah. Aku akan mencari cara lain untuk bisa bicara dengannya." Jef mulai menyerah.


**


Hari sudah mulai siang, ketika Hana baru saja tiba di kediaman Tirta, suaminya. Wanita itu segera disambut oleh Felix, putranya yang setengah harian ini bermain dengan Papanya.


"Hai, sayang. Bagaimana harimu bersama Papa?" Hana menyapa Felix, dan membawa anak itu ke dalam gendongannya. Tak lupa, Hana mengecup pipi putranya bertubi-tubi, merasa rindu meski hanya sebentar Hana meninggalkan putranya itu.


"Dia senang. Sangat senang bersamaku." Tirta bersuara. Lelaki itu lantas menyambut Hana dengan senyuman, sesuatu yang tak pernah ia lakukan ketika berada di dalam rumah. "Papamu datang berkunjung, dia berniat membawa Felix ke kediamannya, katanya Mama rindu Felix sampai demam. Aku sampaikan jika sore nanti aku dan kau akan pergi berlibur." Ujar Tirta.


Hana sedikit terkejut di tempatnya, mendengar bahwa Tirta benar-benar mengajaknya berlibur. Hana pikir, Tirta hanya tengah bermain-main saja tadi.


"Tak apa, Hana. Berliburlah dan jalin hubungan baik dengan suamimu. Tak apa, Felix tak akan kekurangan apapun. Lagi pula, papa dan mama hanya sebentar bertemu dengan Felix waktu itu. Biarkan Felix tinggal seminggu atau dua Minggu di rumah Papa." Daniel mencoba untuk menenangkan Hana.


Bukan Daniel diam dan tidak mengawasi putrinya itu. Ia tak mau Hana berakhir kabur tanpa berita lagi. Cukuplah sekali ia kehilangan Hana dua tahun lalu. Daniel tak ingin ceroboh. dan membiarkan putrinya menderita seorang diri.


Belakangan, Daniel bisa bernafas lega karena melihat perubahan Tirta. Bukan hanya berdasarkan berita dari Kara, melainkan juga Daniel melihat langsung ketulusan dan sikap baik Tirta. Sebagai orang tua, siapa yang tidak ingin menyaksikan rumah tangga anaknya bisa berhasil?


Dalam sebuah rumah tangga, pertengkaran dan percekcokan adalah hal yang sudah terbiasa terjadi. Rasa tidak suka, hingga bahkan benci pada pasangan, terkadang selalu hadir sebagai ujian. Hanya saja, semua itu ada toleransinya. Selama pasangan bisa berubah lebih baik, tak mengapa.


"Tap, tapi ... Hana belum siap, Pa." Hana mencoba untuk mencari perlindungan, berharap Daniel menyelamatkannya. Setidaknya menunda perjalan. Sayangnya, harapan hanya tinggal harapan. Semua musnah karena sebuah sahutan dari Tirta, berhasil mematahkan harapan Hana.

__ADS_1


"Apanya yang belum siap? Semua barang-barang milikmu sudah aku persiapkan. Pelayan juga sudah menyiapkan semua kebutuhan dan keperluanku disana. Jangan khawatir, anggap saja kita sedang menjalani honeymoon yang tertunda." Tirta lantas menatap Daniel, mengharapkan dukungan mertuanya itu. "Iya kan, Pa?"


"Ya, kau benar. Berangkatlah. Felix akan baik-baik saja bersama Papa." Timpal Daniel.


Meski Hana menatap Daniel penuh permohonan agar tak melepasnya, namun semua sia-sia. Daniel seolah menyerahkan putrinya dengan sukarela, ke tangan penjahat yang paling kejam. Padahal, Tirta sudah benar-benar menyerahkan cinta, hati, dan juga jiwanya hanya untuk Hana seorang.


"Mari, Hana. Kita akan berangkat segera, atau kau mau siap-siap dan membersihkan diri dulu?" Tirta bertanya, berhasil membuat atensi istrinya beralih padanya.


"Aku akan membersihkan diri dulu." Hana menjawab, sambil berlalu pergi dari sana. Tak lupa, ia mengecup Felix.


Baik Daniel maupun Tirta, menatap Hana hingga ia tak terlihat lagi. Keduanya lantas duduk bersama di sofa ruang tengah.


"Aku akan membawa Felix dan pengasuhnya untuk ikut denganku, Tirta. Aku titipkan Gihana padamu, Jika tejadi sesuatu, segera kabari aku. Ingat, jangan pernah lagi mengulangi kesalahan yang sama seperti dua tahun yang lalu. Aku tak akan mengampuni dirimu lagi jika kau membuatnya menangis." Daniel memberikan petuah untuk menantunya. Menantu yang jarak usianya hanya beberapa tahun darinya.


"Tentu, Pa. Aku akan menjaga putrimu dengan baik. Aku harap dengan begini, kami bisa memperbaiki hubungan. Aku sudah sadar, Hana sangat berarti untukku." Tirta menjawab sambil tersenyum kecil.


"Buat dia tersenyum, mengambil hatinya tidaklah mudah. Hatinya mudah membeku jika sedikit saja ia merasa tersakiti. Dan satu lagi, pulanglah dengan kabar gembira nanti. Aku harap, kalian segera bisa memberikan adik untuk Felix, dan Oma nya tak akan kesepian di rumah." Daniel berkata sambil tersenyum kecil, membayangkan rumahnya yang semula sepi, mendadak ramai karena tawa dan tangis anak bayi.


"Semoga saja Hana segera bersedia." Tirta tersenyum kecil.


Ingatan Tirta kembali pada masa dimana Hana tak mau ia sentuh sedikitpun. Mengingatnya, Tirta semakin tertantang untuk bisa menaklukkan Hana nanti. Lihat saja, siapa yang akan tunduk pada siapa.


**

__ADS_1


__ADS_2