
Seperti nyaris mati.
Hidup terkadang suka bermain-main. Ada kalanya, hati yang rapuh harus merasakan patah berkali-kali, dan tak bisa disembuhkan secepat membalik telapak tangan.
Tirta termenung sepanjang perjalanan pulang kali ini. Selepas dari bandara, ia mengendarai mobil yang dikemudikan oleh salah satu pengawalnya, yang sudah menunggunya. Ia sengaja, melakukan penerbangan setelah Hana tiba lebih dulu di ibukota.
Hati Tirta kini telah beku, hancur dan remuk redam tanpa sisa. Lelaki itu benar-benar tidak bisa mendeskripsikan melalui kata-kata, sehancur apa hatinya saat ini. Bahkan, lebih hancur dari ketika Hana pergi meninggalkan dirinya dua tahun silam.
Belum genap satu bulan Hana kembali, lelaki itu dihadapkan sebuah kenyataan bahwa rumah tangganya telah gagal, bahkan sebelum Tirta memperbaiki kesalahan, dan juga menjalin hubungan baik dengan istrinya itu. Hidup Tirta, bahkan kini lebih gelap lagi, bila dibanding saat ia sebelum menikah dengan Hana.
Semalam, dirinya telah menghubungi Johan, bahwa hari ini Tirta akan memasrahkan istrinya itu pada orang tuanya. Jangan tanya lagi bagaimana suasana hati Hana saat ini.
"Kita sudah sampai, Tuan," ujar pengawal yang mengambil kemudi. Lelaki itu hanya berdehem, keluar mobil dengan menatap bangunan kokoh di depannya.
Sebuah rumah bernuansa Eropa klasik, tempat dimana dulu Tirta mengeksekusi Anita dengan tangannya sendiri. Lelaki itu menatap kedua tangannya kemudian, tangan yang dulu berlumuran darah Anita akibat gulungan amarah.
'Aku kembali, Anita. Mungkin, inilah tempatku yang seharusnya. Mengapa Tuhan menakdirkan hidupku, terjebak dalam dunia hitam penuh lumpur dosa?'
Batin Tirta kemudian.
Lelaki itu berjalan masuk, dan sudah ada Johan yang menyambutnya. Tak lupa, Johan juga menunduk dalam sebagai hormat.
"Han, panggilkan Haikal sekarang," titah Tirta sambil berlalu pergi dari sana. Lelaki itu masuk ke dalam ruang kerja pribadinya, untuk bicara bertiga dengan kedua anak buahnya yang bisa dipercaya.
Sebuah rencana atas keinginan Hana, mulai muncul dalam otaknya.
__ADS_1
Sebuah keputusan besar telah final akan ia ambil.
Sebuah kehancuran pula, telah dimulai dari sekarang.
Apalagi yang lebih menyakitkan dan lebih menyedihkan dari ini? Nyatanya semua itu tertuang dalam satu wadah di dada Tirta, dengan bentuk luka yang demikian sempurna.
Tak ada yang bisa mengembalikan senyum cerahnya, tak ada yang bisa melanjutkan hidup seindah rancangan Tirta. Nyatanya, kebahagiaan yang semula kokoh ia bayangkan di depan mata, harus kandas tak berbekas akibat tergilas oleh ego seorang wanita bernama Gihana.
"Tutup pintu dan pastikan tak akan ada yang mendengar, Han, Haikal," titah Tirta lagi.
"Iya, tuan," Haikal menutup pintu, menunggu apa yang hendak dikatakan oleh sang majikan.
"Han, pastikan besok kau mengurus semua proses perceraianku dengan Hana. Cari pengacara ternama untuk mengurus prosesnya cepat dan tidak bertele-tele. aku mau selesai segera," Pinta Tirta, membuat Johan terkejut seketika. Lelaki itu lantas menatap Haikal, merasa bingung dan Haikal juga serupa dirinya yang kebingungan.
"Perceraian, Tuan?" tanya Haikal kemudian.
"Mengapa harus bercerai, Tuan? Bukankah sebelum ini, anda berlibur ke pulau Dewata, untuk memperbaiki hubungan?" Johan merasa gatal mulutnya karena ingin bertanya.
"Hana tak bisa dipertahankan lagi, karena jika aku mempertahankan dirinya, aku hanya akan melihat penderitaannya. Sebaiknya lakukan dengan cepat apa yang aku minta, Han. Jangan sampai prosesnya lama. Lakukan juga pertemuan dengan Tuan Kara. Buat perjanjian agar aku bisa menemui Tuan Kara secepatnya," jawab Tirta.
"Mengapa tak bisa dipertahankan, Tuan? Anda ... bukankah anda begitu sangat mencintainya?" Kali ini Haikal yang bertanya, "bukankah nyonya sudah bersikap baik akhir-akhir ini?"
"Aku tak bisa bila harus membuat Hana bertahan di sisiku, sementara dirinya harus menanggung penderitaan, raganya memang bersamaku, tetapi hatinya pergi entah kemana. Bila pernikahan ini dipertahankan, itu hanya akan percuma," Suara Tirta mencicit lirih. Lelaki itu mulai memucat, dengan bibir bergetar dan nyaris membiru.
"Tuan, mengapa jadi seperti ini?" ucap Johan khawatir, mengingat saat ini kondisi Tirta tidak juga membaik, dan justru terlihat sangat kacau.
__ADS_1
"Mungkin, aku ditakdirkan hidup sendiri. Oh ya, Han. Aku ingin Felix tetap berada di sisiku. Aku juga akan bicarakan ini dengan Tuan Kara untuk mendapatkan dukungannya. Sore nanti, bawa Felix ke rumah ini. Aku akan membersamai anakku, menjaganya sebisaku," ungkap Tirta.
Hening sejenak, ada banyak hal yang tak bisa Tirta ungkapkan lagi. Dan hal itu tentu saja tak luput dari tatapan Haikal dan Johan. Lihat saja, Tirta benar-benar sangat kacau saat ini.
"Tuan, anda memucat, jangan terlalu stress. Saya mohon, mari kita ke rumah sakit sebentar, untuk memeriksakan kondisi anda. Selain kelelahan sepertinya anda juga sedang stress," Johan mengingatkan.
Sebagai bawahan yang setia, juga telah mendapatkan banyak bantuan dari Tirta, Johan menganggap majikannya itu, sudah seperti saudara baginya. Kesakitan Tirta, penderitaan Tirta yang demikian ini, tentunya berhasil membuat Johan khawatir bukan main.
"Aku tidak butuh dokter untuk menyembuhkan penyakitku, Han. Aku tidak butuh simpati siapa pun, aku hanya butuh tenangkan saat ini. Hatiku hancur, jiwaku terasa hampa karena Hana tak menginginkan aku. Aku tahu, aku bersalah. Hanya saja, aku mohon aku ingin bahagia dengan Felix," jawab Tirta.
Tirta menyandarkan bahunya pada sandaran kursi kebesarannya. Ada banyak luka yang saat ini ia rasakan dan ia resapi.
Pelan tapi pasti, air mata Tirta yang nyaris tak pernah keluar selama ini, akhirnya mengalir juga, menganak sungai tanpa bisa dibendung. Lelaki itu merasakan perih di hatinya, akibat istri yang tak dicintainya, tidak menginginkannya sama sekali.
"Tuan, anda semakin pucat. Saya akan panggilkan dokter ternama untuk bisa datang kemari," Johan berkata dengan tegas, tidak peduli bila nanti Tirta akan membantahnya. Beruntung, saat ini Tirta hanya pasrah, dan masih bergelung dengan kesakitannya.
"Obatnya hanya satu, Han. Andai Hana datang dan mengatakan ingin memulai semua dari awal, mungkin tanpa obat pun, aku akan sembuh. Tetapi sayangnya, wanita yang menjadi pusat duniaku itu, tidak menginginkan aku sama sekali. Tuhan, mengapa sesakit ini mencintai?" Tirta meremas dadanya pelan.
Tirta lantas terlihat tak nyaman. Tubuhnya bergerak-gerak gelisah, dan Haikal pun menghampirinya. Keringat dingin tampak mengucur di pelipis dan dahinya. Napasnya pun putus-putus
"Tuan, mari ke kamar saja, Tuan harus merebahkan diri dan menenangkan pikiran. Jangan terlalu memikirkan nyonya, saya mohon, tuan. Ini demi keselamatan anda, juga demi tuan muda Felix," Haikal berkata tidak tega.
Meski Tirta tampak seperti lelaki jahat, namun nyatanya yang ada, Tirta selalu baik dan royal. Bahkan tak jarang, Tirta selalu memberikan bantuan pada anak buahnya yang kesusahan. Pantas saja haikal begitu khawatir.
Tepat ketika Haikal menyentuh kening Tirta, Tirta tidak sadar diri. Lelaki itu pingsan, tubuh dan hatinya menyerah pada keadaan.
__ADS_1
**