Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 25


__ADS_3

Janji


Hidup memang berjalan layaknya roda berputar. Ada banyak perubahan, dan juga ada banyak perbedaan. Tak selamanya seseorang berada di bawah, dan juga tak selamanya seseorang berada di atas. Tidak selamanya seseorang mengalami kelaparan, dan juga tidak semua orang selalu hidup dalam kekenyangan.


Dunia berputar. Posisi juga pasti akan terus berganti-ganti layaknya seleksi alam. Demikian pula dengan yang namanya cinta. Ada cinta, ada rindu, ada benci, dan juga ada kecewa. Semua akan mendarat seusai waktunya.


Seperti kehidupan pernikahan Hana dan Tirta setelah berpisah selama dua tahun ini. rasa di hati mereka sangat berbanding terbalik dengan apa yang terjadi sebelum mereka berpisah.


Dulu, Hana sempat mulai mencintai suaminya, lantaran keduanya selalu hidup bersama. Tapi lihatlah kini, bahkan untuk sekedar menatap wajah Tirta saja, Hana tidak mampu. Wanita itu bahkan muak dan membenci Tirta setengah mati.


Begitu pula dengan Tirta yang berubah. Rasa rindu serta kehilangan yang datang bersamaan, berhasil membuat Tirta menjadi nyaris gila. Ia mencari Hana secara membabi buta, kehilangan rasa manusiawi, dan juga merasakan kehampaan dalam hatinya. Inikah karma?


Andai waktu bisa diputar. Rasa-rasanya, Tirta ingin sekali menawar takdirnya pada tuhan.


"Hana, boleh aku meminta tolong?" Tirta bertanya lembut. Lelaki itu sudah memikirkan hal ini semalam, usai pertengkarannya dengan Hana saat menjelang tidur di tengah malam, Tirta akan berlaku lembut pada istrinya itu.


"Aku sibuk, Tirta. Mintalah tolong pelayan atau pengawal untuk menolongmu. Aku akan mengurus Felix." Hana menjawab.


Pembawaan Hana yang acuh, tak urung membuat Tirta kembali mengulas senyum.


"Aku tak mungkin meminta tolong pada pelayan, dan juga tak mungkin harus meminta tolong pengawal. Oh ayolah, aku hanya meminta tolong kau memasangkan dasi untukku." Tirta mengutarakan niatnya.


Hana segera melemparkan tatapan tajamnya, seraya berkata, "kau lupa? Bahkan kau dulu melarangku untuk menyentuh seluruh barang-barang milikmu, Tirta. Oh tidak, pernah satu waktu, kau menamparku hanya karena aku memindahkan jam tangan mahal koleksimu. Jadilah orang yang tidak memiliki kepribadian ganda!"

__ADS_1


"Hana, itu masa lalu dan aku mengakuinya jika aku yang bersalah. Aku pun juga telah meminta maaf berulang kali padamu. Saat ini, aku mohon, aku ingin berubah dan aku ingin memperbaiki segalanya. Kumohon, mari kita ubah masa lalu demi Felix, demi rumah tangga kita agar menjadi rumah tangga yang berhasil di masa depan." Ujar Tirta kemudian.


"Maaf saja tidak cukup untuk menebus semua dosa-dosamu dulu padaku, Tirta. Bahkan andai luka di hatiku harus dicuci dengan air tujuh lautan, rasanya masih tak akan hilang." Hana mengatakannya seraya bangkit dari duduknya. Ia perlu turun dan berniat hendak menyambangi Felix.


"Sebeku itukah hatimu, Hana? Kau merasa teraniaya selama lima bulan, tapi kau tak peduli padaku, neraka apa yang aku lewati saat kau pergi membawa Felix, tanpa memberiku kabar. Kita jangan saling menyalahkan. Bukankah sejatinya kita sama-sama bersalah?" Tirta mencoba untuk tetap menjaga kelembutan kalimatnya.


Meski sejujurnya ia merasa tersinggung dan sakit hati dengan apa yang Hana ucapkan, namun Tirta tak ingin marah, ataupun menganggap dirinya benar.


"Cukup, Tirta. Jangan merusak suasana hatiku pagi ini." Hana bangkit. Sayangnya, cekalan tangan Tirta, berhasil membuat langkah Hana terhenti.


"Hanya memasang dasi, dan ini tak akan lama, oke?" Tirta tersenyum manis. Senyum yang tidak pernah Hana lihat.


Sekilas, Tirta tampak manis dengan jambang dan kumis yang telah di cukur bersih. Hana merasakan getaran tak biasa yang dulu sempat ia rasakan.


Pria yang terkenal kejam dan berdarah dingin itu, nyatanya takluk di bawah pesona seorang Gihana.


Namun naasnya, Hana abai di an memilih untuk meninggikan egonya, mengesampingkan perasaannya yang selama ini coba ia bunuh mati.


"Lepaskan, Tirta. Aku tak ingin menurutimu. Biarkan aku bebas dan melakukan apa pun yang aku inginkan." Hana tak menyerah.


"Tetapi bagaimana jika aku memaksamu?" Tirta bertanya dengan suara lirih.


"Cepat pasangkan dasi untukku, atau kita akan terjebak di dalam kamar utama pagi ini, dengan waktu yang cukup lama?"

__ADS_1


"Kemarikan dasimu." Hana berkata dengan nada suara yang dingin. Ia tak menyangka, ia akan kalah oleh Tirta sepagi ini. Oh, bukankah ini adalah pagi pertama Hana dan Tirta, setelah kepergian Hana selama dua tahun?


Tanpa kata, Hana segera menyimpulkan dasi dengan gerakan cepat. Tak lupa, wanita itu juga menarik keras simpulan dasi, hingga membuat Tirta nyaris tercekik.


"Oh, astaga. Pelan-pelan saja, Hana. Bagaimana jika aku tak bisa bernapas?" Tanya Tirta. Pria itu mencoba untuk mencairkan suasana.


"Maka kau akan mati dan jasadmu akan segera dikubur dalam tanah. Menjadi makanan ngengat dan cacing tanah yang menjijikkan." Jawab Hana seraya membetulkan bentuk simpul dasi, yang tadi sempat acak-acakan. Hana masih kesal pada suaminya itu.


"Apakah kau akan bahagia jika aku mati?" Tanya Tirta kemudian. Lelaki itu iseng, juga ingin tahu tentang seberapa besar kebencian Hana untuknya.


"Mungkin Ia. Oh tidak, rasanya sangat bahagia sekali. Sesekali, aku akan mengunjungi makammu dan menginjak-injak tanah yang mengubur tubuhmu, hingga kau merasa tersiksa di dalam tanah." Hana menjawab santai. Ia juga telah selesai membenarkan simpul dasi suaminya.


"Sebenci itukah kau padaku, Hana? Bahkan setelah kau menghukumku selama dua tahun lamanya? Bagaimana jika aku katakan itu tak adil untukku, hmm?" Tirta menatap netra istrinya itu.


"Adil tak adil, nyatanya itu semua tak mampu membuatku menghilangkan luka hatiku, Tirta. Jadi ya sudah lah. Jangan banyak membantah dan jangan berharap banyak pada pernikahan ini. Aku khawatir, kau benar-benar merasakan kecewa akibat harapanmu, dan berakhir tak sesuai dengan apa yang kau ingin." Hana berbalik, kembali duduk di kursi meja rias. Niatnya untuk menemui Felix pagi ini, harus urung karena Tirta mengajaknya berdebat sepagi ini.


"Maafkan aku, oke? Aku tak akan pernah berhenti berharap, dan juga aku tak akan pernah berhenti meraih hatimu." Tirta mengatakan dengan bersungguh-sungguh. Harapan itu tak akan pernah pudar dari hati Tirta.


"Hentikan omong kosongmu, Tirta. Aku akan ke bawah dan menemui Felix. Jika nanti kau terluka karena harapanmu sendiri, jangan pernah menempatkan aku pada posisi yang salah. Sejatinya, aku sudah memberimu peringatan." Hana bangkit dan berlalu pergi. Wanita itu berkata dengan nada bicara yang dingin.


Tirta tak mencoba untuk mencegah. Ayah Felix itu tersenyum simpul, dan merasa suka dengan keras kepala Hana yang menurutnya menarik. Lihat saja, bahkan meski Hana bersikap sedingin itu, nyatanya itu mampu membuat Tirta terkagum. Cantik dan menawan hati.


"Aku tak akan pernah berhenti meraih hatimu, Hana. Aku berjanji pada diriku sendiri. Janji menyayangimu. Janji mencintaimu sepenuh hati. Janji menjagamu hingga akhir hayat. Dan juga janji akan membuatmu takluk padaku. Kita lihat saja nanti." Tirta bergumam.

__ADS_1


**


__ADS_2