Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 66 Ekstra part


__ADS_3

Waktu tak selamanya menjadi siang, selalu saja berganti malam jika matahari telah tiada di ufuk barat. Cuaca tak selamanya hujan, selalu ada panas yang sesekali memberikan kehangatan untuk melangsungkan kehidupan.


Begitu halnya dengan sebuah hubungan. Hubungan tak akan selamanya baik, selalu ada permusuhan yang acap kali menjadi akibat perselisihan. Dan tentunya tak ada hubungan yang akan selamanya memburuk. Ada kalanya lelah menghampiri hati, memeluk jiwa dan mengucap lebih baik damai.


Begitu juga dengan hubungan Tirta dan Amira, ibunya. Perlahan mulai membaik karena Hana selalu meminta Tirta, agar Tirta menghentikan dendam kesumatnya pada seorang wanita yang menjadi surganya. Seburuk apapun Amira, Hana selalu memberi wejangan Tirta. Sejahat dan seburuk apapun Ibumu di masa lalu, dia tetap Ibumu.


Tirta duduk di balkon kamar dengan koran di dalam genggaman, ditemani secangkir teh jahe hangat ramuan buatan Hana untuk menghangatkan tubuhnya. Sejak kembali menikahi Hana setahun silam, Tirta tak diperbolehkan sedikitpun untuk mengonsumsi kopi oleh istrinya. Kesehatan adalah alasan utamanya.


Hana muncul dari pintu balkon, menatap Tirta dengan senyum lembut menggoda. Sayangnya, Tirta tak menyadari lagi fokus pada koran yang ia baca.


"Serius sekali," sapa Hana saat ini.


Tirta menghentikan fokusnya, menatap Hana dengan mata yang berbinar cerah sore ini. Fokus netranya lantas tertuju pada perut Hana yang sudah mulai buncit. Lihat saja, bahkan Tirta


"Aku sedang membaca berita harian bisnis. Sayang, duduklah," Tirta berkata seraya bangkit dari duduk, menuntun Hana agar dapat duduk dengan nyaman di kursi di depan Tirta.


"Kau semakin cantik hari ini, aku mencintaimu," ungkap Tirta, sebuah hal yang menjadi rutinitas Tirta sedari pagi, siang, sore hingga malam pada Hana.


Hana hanya memutar bola matanya malas, menganggap bahwa tidak berubah lebay sejak sebulan pasca pernikahan kedua.


"Setiap hari kau melakukannya. Aku bosan mendengarnya, dan lagi, apa kau tak lelah?" tanya Hana, menatap Tirta dengan sungguh-sungguh.


Tirta terkekeh kecil, menyadari bahwa istrinya ini begitu mengemaskan baginya.

__ADS_1


"Selamanya, tak akan ada kata lelah, bosan, apalagi mengeluh. Cinta ini entah mengapa membuatku kebablasan gila padamu."


Lagi, Hana hanya bisa memutar bola matanya jengah sambil berkata, "sekarang kau berubah jadi gila, sementara setahun lalu, kau menolak aku mati-matian," sungutnya, "kau hanya tidak tahu, Mas. Aku bahkan refleks berdoa pada Tuhan ketika kau kritis di rumah sakit, aku rela kehilangan seluruh kebaikan yang aku miliki, hanya untuk menukarnya dengan kesembuhan dirimu."


Tatapan Hana yang sedari tadi jengah terhadap Tirta, kini berubah sendu. Kilat kenangan di masa lalu, cukup membuat Hana terguncang.


"Terima kasih atas doamu, sayang. Sekarang aku sudah ada disini, sudah sembuh dan sanggup membuatmu mengandung berkali-kali," kelakar Tirta dengan penuh canda.


Ada banyak kenangan luka yang terbilang singkat, namun terasa seribu tahun saat menjalaninya, Tirta dan Hana benar-benar bahagia bisa bertahan hingga detik ini.


"Kau ini," Hana memikul lengan suaminya pelan, menatap suaminya itu yang sudut matanya mulai memperlihatkan garis halus. Beruntung Tirta menjalani perawatan agar raganya bis awet muda.


Sepasang suami istri itu tertawa renyah, saling tatap dan menikmati kebersamaan di sore hari yang cerah.


"Ngomong-ngomong, kau mau punya anak berapa dariku?" tanya Hana yang yang mendadak memasang wajah serius.


"Kau mau membunuhku, ya? Melahirkan bukanlah perkara mudah. Memangnya aku ini sapi, yang setiap tahun akan melahirkan anak untukmu? Astaga!" seru Hana tak habis pikir.


"Tak masalah, kurasa aku pun masih sanggup bertarung diatas tubuhmu," jawab Tirta dengan mengerling nakal.


"Aku tak habis pikir. Kurasa suamiku ini adalah pria mesum rupanya," jawab Hana seraya menggelengkan kepalanya pelan.


Hingga sebuah suara deru mobil, berhasil mengurungkan niat Tirta untuk meladeni istrinya. Bisa dipastikan, itu adalah suara deru mobil Amira dan Jefry yang tengah memasuki garasi. Bukan hal asing lagi bagi Tirta selama setahun belakangan ini.

__ADS_1


Tirta tak suka dan senantiasa melontarkan kalimat kasarnya. Tetapi Amira dengan keras kepalanya, tetap mendatangi Tirta seminggu sekali untuk menyambangi putranya itu.


"Dia lagi," sungut Tirta di depan Hana. Hana tersenyum kecil, menanggapi kegusaran suaminya.


"Mari keluar, kita sambut mamamu," ajak Hana, menarik tangan suaminya.


Meski Tirta mengomel tak jelas, tetapi lelaki itu menurut saja pada Hana. Hana terkadang gemas sendiri dibuatnya. Cinta memang terkadang bisa segila itu, dapat menyebabkan seseorang bisa bertingkah tak masuk akal.


"Hana, Tirta. Kalian apa kabar?" Ira menyapa Hana dan Tirta. Tetapi lihat saja, Tirta bahkan tak sedikitpun membalasnya. Hanya tatapan tajam yang ia berikan pada Amira.


Jefry yang melangkah berdampingan dengan Amira, merasa tak nyaman setiap kali ia bertemu dengan kakaknya itu. Tatapan Tirta seolah tak bersahabat padanya.


Tentunya hal demikian sudah menjadi hal biasa bagi Amira.


"Baik, Ma. Silahkan duduk," ujar Hana kemudian.


Hening mendominasi. Tak ada yang memulai pembicaraan lebih dulu, hingga kemudian Amira bersuara akibat ia tak suka diam begini saja. Tekadnya untuk memulai hubungan baik dengan Tirta, benar-benar kuat.


"Tirta, kau kenapa masih diam begini pada Mama? Apakah mama benar-benar tak bisa mendapatkan maafmu? Ini sudah setahun Mama mencoba meminta maaf dan mendekatimu. Katakan, harus dengan cara apa agar kau bisa membuka hatimu?" hanya Amira yang mulai lelah.


Setahun bukanlah waktu yang sebentar bagi Amira mendekati Tirta. Perlakuan dingin Tirta, berhasil membuat mental Amira terguncang setiap waktu.


Dengan tatapan tajamnya, Tirta menjawab, "aku bersedia membuka hati untuk menerimamu sebagaimana mestinya, asal kau bisa atur putra bungsumu agar tak lagi menatap istriku penuh minat!"

__ADS_1


Jefry tentu tersentak di tempatnya. Hingga saat ini, Jefry masih tak bisa melepas Hana untuk kakaknya. Ya ... sekalipun Jef hanya diam di tempat dan tak melakukan hal bodoh ataupun rencana merebut Hana dari kakaknya.


**


__ADS_2