Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 53


__ADS_3

Tak berdaya.


"Tidak, Jef. Dulu aku tidak mencintainya. Tetapi setelah tahu rasa sakitnya demikian nyaris membunuhku, setelah tahu Tirta mengalami kesakitan seperti itu, aku baru sadar, bahwa cintaku hanya untuk Tirta."


Betapa kalimat itu sungguh sangat menghantam kesadaran seorang Jefry Manovti. Lelaki itu menatap Tirta yang tak sadarkan diri, dengan banyak peralatan medis yang menempel pada tubuhnya itu. Tatapan pria itu penuh dilema.


Harusnya, ini menjadi kesempatan Jef untuk melenyapkan Tirta dengan dalih penyakitnya. Dengan begitu, Jefry bisa memiliki Hana dengan mudah. Terlebih, dirinya pernah menjalin sebuah kisah di masa lalu dengan Hana. Tak masalah bila ada Felix putra Tirta. Jef berjanji akan menyayangi dan memiliki Hana dan felux sepenuh hati.


Tetapi satu fakta lain, berhasil mengoyak kesadaran seorang Jefry. Lelaki itu mendengar dari mulut ibunya sendiri, bahwa ia adalah adik Tirta. Tirta dan Jefry, terlahir dari satu rahim yang sama. Bukankah ini berhasil menggilas pendirian Jefry, untuk membungkam Tirta selamanya? Harus bagaimana Jefry mengambil sikap sekarang?


Cukup lama Tirta berada di dalam ruangan ICU, menatap Tirta yang masih kritis hingga saat ini. Betapa menyedihkannya lelaki itu saat ini. Bahkan disaat begini saja, Hana menangisinya. Sebesar apa sebenarnya cinta Hana untuk Tirta? Jefry sangat ingin tahu.


Bukan tak mampu, Jefry bahkan bisa lebih dari sekedar mampu memberi solusi medis untuk kesembuhan Tirta. Tetapi ini tentang Hana. Tak pernah sekalipun, Jefry dihadapkan pada pilihan yang sulit. Jefry mencintai Hana. Ini adalah kesempatan emas untuk melenyapkan penghalang yang menjadi batu sandungannya dalam mendapatkan Hana.


"Aku tak menyangka, kau akan ada di hadapanku ini. Bila Mama tak mengatakan padaku bahwa kau terlahir dari rahimnya, mungkin kau telah menyatu dengan tanah saat ini," Jefry bermonolog.


Sekali lagi, hembusan napas panjang terdengar dari bibir Jefry. Bibir yang dulu sangat mengatakan ingin sekali tahu, seperti apa suami dari wanita yang menjadi pujaan hatinya.

__ADS_1


Dengan emosi yang sulit ditebak, dan juga kilat rumit pada pendar matanya, Jefry keluar dari ruangan. Setelan baju serba hijau dan juga penutup kepala, ditambah dengan sebuah jas putih khas dokter, membuat Jefry sangat tampan.


"Bagaimana, Jef? Ada perubahan?" Amira yang duduk bersebelahan dengan Hana, menatap penuh harap pada Jefry. Wanita itu terlihat kacau dengan rbjt yang berantakan.


"Ada kabar baik, Jef? Bagai mana perkembangan kondisi Tirta?" Hana tak kalah heboh. Wanita itu bahkan tidak tidur dua malam terakhir. Lihat saja, lingkar matanya demikian kentara. Kacau, itulah kata yang pantas Jef sematkan untuk wanita yang ia cintai itu.


Dua wanita itu, kacau karena Tirta.


Jef menghela napas panjang sebelum berkata, "kondisinya sangat buruk dari waktu ke waktu. Aku tak yakin, kak Tirta bisa bertahan lebih lama lagi, itulah yang terjadi dalam dunia medis tentang kondisinya," dusta Jef. Padahal, Tirta tidak demikian.


"Tidak, itu tak boleh terjadi. Aku yakin, kau bisa menyembuhkannya. Kau adiknya, bukan?" Hana menatap nanar Jefry.


"Aku bukan Tuhan, Hana. Aku memang dokter dengan gelar mumpuni dan ilmu yang tinggi. Tetapi kau perlu tahu, aku hanya bisa berusaha. Nyawa manusia, tetap tak bisa lepas dari garis takdir tuhan. Sadarlah, aku tak mungkin mencelakai kakakku sendiri. Hanya doa yang bisa menyelamatkannya," ungkap Jef.


Amira hancur. Terdengar suara serupa patahan ranting dari dalam dadanya. Hati seorang ibu telah patah, rapuh dan akhirnya merana dalam penyesalan. Ia tak memiliki kesempatan untuk bis memeluk dan membuat putranya tersenyum.


"Tidak, Jef," Amira meluruhkan tubuhnya ke lantai. "Aku belum Menebus dosaku pada anak itu. Tukar saja nyawaku untuk menyelamatkannya, Jef. Aku tak mau dia pergi membawa dendamnya padaku. Aku yang bersalah, aku yang berdosa," ungkap Amira lagi.

__ADS_1


"Selamatkan Tirta apapun yang terjadi, Jef!" seru Hana lagi. Wanita itu mendudukkan tubuhnya di ruang tunggu, memejamkan matanya sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Tuhan, aku tak pernah meminta apapun darimu. Kali ini, kali ini saja, aku meminta kesembuhan dan kembalikan Tirta padaku. Aku bersumpah, aku bersumpah untuk memperbaiki semuanya. Beri aku kesempatan. Aku belum bisa menebus dosaku padanya. Aku rela, aku rela menukarkan seluruh kebaikan yang aku punya seumur hidupku, untuk kesembuhannya. Aku, aku rela tak menempati surga, demi nyawa Tirta," lirih Hana.


Baik Amira maupun Jefry, tercengang di tempatnya, mendengar sebaris doa untuk Tirta dari Hana. Bahkan Mira yang melahirkan Tirta, menempati posisi sebagai ibu, tidak menukarkan apapun saat meminta kesembuhan Tirta.


"Nak, kau mencintainya?" Amira bertanya pelan, dengan napas yang seolah tercekat di tenggorokan. Diperhatikannya wajah Hana yang pucat. Andai dulu Amira memiliki cinta yang begitu besar pada ayah Tirta, mungkin saat ini Tirta tak akan membencinya.


"Sangat, Nyonya. Hanya saja, saya tidak menyadari cinta ini, dan baru menyadari setelah Tirta pergi dari hidupku beberapa bulan lalu," jawab Hana apa adanya.


"Bagaimana jika seandainya, Tirta tak bisa bertahan?" Jef melempar pertanyaan sensitif dengan beraninya. Ia kembali menguji, sedalam apa cinta wanita yang ia sayangi itu, tehadap kakak Jefry.


"Maka, aku yang akan menyusulnya meski ke neraka sekalipun, Jefry," tandas Hana, membuat Jefry semakin tak berdaya menahan sakit hatinya.


**


Maaf, terlambat update. Saya demam dan konsentrasi sedikit buyar. Semoga nanti dan besok bisa update lagi ya. terima kasih.

__ADS_1


__ADS_2