Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 24


__ADS_3

Tak ingin di sentuh


"Hatiku yang Tirani telah mati, Hana. Ketahuilah, aku benar-benar mencintaimu." Tirta menguraikan isi hatinya yang terdalam.


Tawa lantang Hana menggema di kamar utama kediaman Tirta. Wanita itu benar-benar menganggap bahwa ucapan Tirta ini, adalah sebuah candaan yang lucu.


Tak bisa dipercaya. Mana mungkin Hana akan percaya begitu saja, dengan kata Tirta yang mencintainya? Memangnya sejak kapan? Hana tak peduli. Ia yakin, Tirta hanya akan menjebaknya, mengangkat wanita itu tinggi-tinggi dalam pujian dan angan, sebelum kemudian menjatuhkan Hana dengan sangat mengenaskan.


Padahal, Tirta benar-benar telah berubah.


"Mencintaiku, lantas kemudian membunuhku dan menghilangkan jejak agar keluargaku tak curiga? Ketahuilah, Tirta. Dulu, kau juga sangat mencintai Anita, kekasihmu itu. Sayangnya, Anita tewas dan kau kah pelaku pembunuhan Anita. Aku curiga, kau mengatakan mencintaiku, di depanku dan di depan orang tuaku, semata untuk membunuhku kemudian. Sama seperti Anita, apakah rencanamu membunuhku sama seperti membunuh Anita? Apakah kau akan menggunakan metode yang sama?" Hana bertanya serius.


Wanita itu menatap tajam Tirta yang benar-benar telah berubah. Hana hanya tak ingin melihat ketulusan Tirta.


Sejak Hana memutuskan untuk keluar dan pergi dari rumah Tirta, maka saat itu pula Hana membekukan hatinya. Banyak luka di masa lalu, yang membuatnya tak ingin lagi mengenal cinta.


Sosok pangeran Praja Bekti yang berkuasa itu, telah menghempaskan perasaan Hana. Dan Tirta juga telah menyiksa batin, raga dan jiwa Hana dua tahun lalu. Wajar saja bila Hana kini sudah enggan lagi mengenal, tentang apa itu cinta.


"Tidak, Hana. Aku memang berdosa di masa lalu terhadap Anita, hanya saja, untuk kali ini percayalah, aku benar-benar mencintaimu. Tak ada sedikit pun pemikiran untukku menghabisi dirimu. Aku tak mungkin melakukan itu." Jawab Tirta.


"Apa jaminannya agar aku percaya padamu?" Tanya Hana.


"Kau bisa membunuhku dan melawanku jika aku berani bermacam-macam padamu." Tirta menjawab lagi.

__ADS_1


"Sayangnya, aku tetap tak akan percaya pada dirimu. Ketahuilah, Tirta. aku membencimu sejak saat itu." Ungkap Hana. Wanita itu membuang muka, tak ingin raut sedih dilihat oleh Tirta.


"Mengapa kau pergi dariku, Hana? Mengapa saat itu kau memilih pergi, dan menyembunyikan kehadiran Felix dalam rahimmu?" Tanya Tirta. Sorot matanya berubah sendu.


Inilah yang membuat Tirta penasaran. Tirta sadar betul, bahwa dirinya memang telah membuat Hana terluka di masa lalu. Tetapi menyembunyikan keberadaan Felix saat Felix berada di dalam kandungan, rasanya itu terlalu kejam bagi Tirta.


"Kau lupa, Tirta? Bahkan sebelum dokter datang memeriksaku, kau menampar pipiku tiga kali, tidakkah kau ingat itu?" Tanya Hana dengan nada menghardik.


"Tidak ingatkan bagaimana kau menyerang tubuhku dengan banyak pukulanmu selama lima bulan? Tidak ingatlah bagaimana kau menjatuhkan mentalku saat itu? Tidak ingatlah kau bagaimana menganggap aku layaknya sampah, atau bahkan binatang yang menjijikkan?" Hana mengingatkan.


Tirta diam. Lelaki itu menatap datar istrinya. Meski hatinya bergejolak penuh rasa bersalah, namun Tirta memilih bungkam dan membiarkan Hana melampiaskan kemarahannya.


"Jika aku katakan bahwa aku mengandung, kau pasti akan menghajarku dan menyuruh diriku untuk menggugurkan kandunganku. Karaktermu yang sudah sangat tirani itu, bisa saja kau tega menyuruhku membunuh anakmu sendiri. Aku tak ingin Felix menjadi korban. Ketahuilah, Tirta. Aku sudah muak saat itu. pergi adalah pilihan yang tepat." Hana berkata demikian.


"Hana, tenangkan dirimu. Dengarkan aku kali ini." Tirta berusaha meraih tangan Hana, namun tangan Tirta segera dihempas begitu saja oleh Gihana.


"Jangan menyentuhku! Jangankan kau sentuh, bahkan untuk kau tatap saja, aku merasa tidak sudi." Hana berkata kasar.


"Andai kau memberi tahu saat itu tentang hadirnya Felix dalam rahimmu, aku tak mungkin setega itu menghajar wanita yang tengah mengandung darah dagingku, Hana. Aku memang jahat. Aku memang tirani. Aku memang jelmaan iblis. Tapi bagaimana pun juga, aku adalah pria matang yang tak memiliki keluarga. Hadirnya anak, tentu saja bisa menyadarkan aku. Kau tidak tahu bagaimana kacaunya aku kala itu, istriku. Bahkan setelah mendengar tentang kehamilanmu dari dokter, aku merasa bahagia dan berniat mengubur ingatan tentang kebencianku terhadap wanita cantik." Ungkap Tirta.


"Omong kosong. Aku tak percaya dirimu lagi, Tirta. Kebencianku, sudah tertancap dalam, di hatiku untukmu. Jadi jangan banyak bertingkah, camkan itu." Hana menghardik lagi.


Jangankan untuk bicara maupun berinteraksi dengan Tirta. Bahkan untuk menatap Tirta, rasanya Hana ingin sekali membunuh laki-laki itu dengan tangan Hana sendiri.

__ADS_1


Dua tahun telah berlalu, namun luka yang Tirta berikan pada Hana, masih membekas hingga saat ini. Salah Tirta sendiri, dulu menutup pintu hatinya pada Hana, hanya karena ia pernah di khianati Anita. Itulah yang ada dalam pikiran Gihana.


Percaya ataupun tidak, Hana merasa muak dan enggan sekali percaya dengan apa yang suaminya katakan.


"Kau boleh membenciku, kau boleh menghukum diriku. Hanya saja, aku memintamu untuk melihat dulu kesungguhanku, Hana. Demi Felix, demi rumah tangga kita. Kumohon beri aku kesempatan." Tirta mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Dalam mimpimu, Tirta." Tegas Hana kemudian.


"Sudahlah, Hana. Sudah tengah malam. Tidakkah kau lelah? Mari istirahat. Kurang istirahat tidak baik untuk kesehatan." Ujar Tirta mengalah. Menghadapi wanita dua puluh enam tahun, Tirta memang sudah siap untuk selalu sabar. Emosi Hana meledak-ledak Jika sudah marah.


"Tidak usah mengurusi kesehatanku. Urus dirimu sendiri dan jangan banyak tingkah." Hana menegaskan.


Putri semata wayang Dita itu merebah dan memiringkan tubuhnya membelakangi Tirta. Tentu saja tanpa peduli bagaimana perasaan Tirta saat ini. Yang Hana pikirkan, ia hanya ingin terlelap dan tak lagi memikirkan banyak hal terkait Tirta. Baginya itu tak penting.


Sedang Tirta. Lelaki itu tersenyum simpul dengan sifat alami wanita jika sudah tersakiti. Karakter Hana yang congkak, Tirta yakin suatu saat Hana bisa berubah seiring berjalannya waktu.


Dengan sebuah ide yang tiba-tiba muncul dalam pikiran Tirta, pria itu memutuskan untuk tidur, mendekati Hana yang membelakanginya. Lelaki itu dengan berani memeluk Hana dari belakang, menghidu aroma wangi pada rambut Hana yang membuat Tirta candu.


"Sialan! Jangan menyentuhku, Tirta!" Hana membalikkan badan dan mendorong kasar Tirta. Tentu saja Tirta terkejut dan terkejut setengah Mati.


"Aku memang menuruti perintah orang yang paling berkuasa itu, untuk kembali ke rumah ini. Tapi untuk bisa kau sentuh lagi, jangan harap! Aku muak, aku benci, dan aku jijik padamu!" Hana berucap kasar.


Mendapati penolakan keras Hana atas sentuhan Tirta, tentu menyisakan pedih di hati Tirta. Tirta berpikir, ke depannya pasti akan ada banyak penolakan yang akan ia terima dari Hana. Bahkan penolakan yang sangat kejam.

__ADS_1


**


__ADS_2