
Sakit.
Pagi merambah siang, terik matahari membuat beberapa orang mengeluh karenanya. Usai hujan turun semalam, siang ini berubah panas yang mengakibatkan daya tahan tubuh menurun.
Tirta masih setia memejamkan matanya. Lelaki itu masih tertidur pulas dan sesekali merintih dalam lelapnya. Sepertinya, pria itu tengah tak enak badan. Belakangan memang kerap kali Tirta mengeluh pada Haikal dan Johan, bahwa kepala bagian belakangnya sakit.
Sejak kepergian Hana tiga jam yang lalu, wanita itu tak kembali kamar. Wanita itu justru berkeliling di sekitar taman belakang untuk mengajak Felix menyegarkan mata. Beberapa tanaman hias yang Tirta pilih, membuat mata termanjakan. Terlebih, Hana memang menyukai tanaman hias seperti bangsa bunga-bunga.
Dibalik kepribadian Tirta yang pemarah dan dingin, Hana tak menyangka bahwa lelaki itu memiliki selera yang tinggi juga pada lingkungan. Bahkan Haikal dulu pernah berkata, bahwa yang mendesain tatanan taman adalah Tirta sendiri.
Setelah lelah berkeliling dengan Felix, Hana lantas singgah di sebuah gazebo belakang rumah. Beberapa pelayan tampak berwara-wiri mengerjakan tugas mereka masing-masing. Hana memang acuh dan kerap kali tak memperhatikan para pelayan.
"Felix, jika kau sudah besar nanti, apa kau bisa memberi mama perlindungan? Dengar, mama mungkin tak selamanya berada di rumah ini. Kemungkinan, kita hanya akan hidup berdua suatu saat nanti." Hana berkata pada Felix, yang masih tak mengerti tentang bahasa orang dewasa.
"Mama minta maaf padamu, sayang. Jika nanti kau dewasa, kau akan mengerti, mengapa mama tak bisa bertahan disisi papamu." Hana menambahkan.
Wanita itu hanya tak sadar saja, bahwa saat ini, apa yang ia ucapkan, tak luput dari pendengaran tajam Haikal. Lelaki itu tadinya berniat meminta Hana untuk membangunkan Tirta, sang majikan. Namun urung karena Hana masih berbincang dengan Felix.
"Kita pasti akan hidup bahagia suatu saat nanti, nak."Hana mengungkapkan lagi. Tentu saja ini membuat Haikal, sebagai kepala pelayan Tirta yang setia, merasa tidak nyaman.
"Nyonya, maaf. Tuan ada di rumah dan jam makan siang akan tiba. Sebaiknya anda membangunkan tuan besar untuk makan siang. Sajian menu makan siang juga hampir siap." Haikal berkata. Dia datang secara tiba-tiba, menemui Hana karena tak ingin Hana terus berkata yang tidak-tidak.
Berniat meninggalkan Tirta, apakah Hana tidak tahu bagaimana kacaunya Tirta, saat ia tinggalkan?
__ADS_1
"Bisakah kau membangunkan dia sendiri, Haikal? Aku masih ingin menidurkan Felix sebentar lagi." Hana menjawab pelan. Wanita itu sebisa mungkin menghindari interaksi dengan suaminya.
"Tetapi saya perlu membuat hidangan penutup makan siang kali ini, nyonya. Saya tak bisa mempercayakan itu pada pelayan." Haikal tersenyum lembut, namun lelaki itu menatap tajam Hana.
Hana tak bisa menyangkal lagi. Haikal seolah mengisyaratkan perintah, namun tidak secara langsung. Entah mengapa, sejak kepulangan Hana, Haikal tak lagi menyorotkan ketulusan yang dulu pernah Hana temui.
"Baiklah, aku akan membangunkan Tirta sebelum menidurkan Haikal." Hana menjawab datar. wanita itu lantas membawa Felix dalam gendongannya. Anak itu sedikit rewel, mungkin memang jam tidur sudah hampir tiba.
Hana melangkahkan kakinya ke lantai atas dengan kepayahan. Bobot putranya yang gembul itu, membuat Hana nyaris tak kuat membawanya dalam gendongan, terlebih Hana berjalan dengan melalui tangga.
Haikal pun tak peduli. Lelaki itu memilih untuk diam saja, dan tak berniat membantu Hana yang mulai menaiki tangga satu persatu. Semenjak Hana pergi dan Tirta menggila mencari istrinya itu, baik Johan maupun Haikal, menyimpulkan bahwa Tirta benar-benar mencintai Hana.
Pintu kamar utama terbuka dari luar. Hana masuk dan melihat Tirta pertama kali, dengan kondisi Tirta yang terbalut selimut tebal. Posisinya miring dan hanya Nampak wajahnya saja.
"Tirta, bangunlah. Makan siangmu sudah siap. Haikal menyuruhku membangunkan dirimu." Hana berkata dengan raut dan suara datar. Ia bahkan tak sedikitpun berniat untuk memeriksa suhu tubuh Tirta.
Yang pertama kali Tirta rasakan adalah, sendi-sendinya yang terasa nyaris putus semuanya. Kulitnya yang nyeri saat bergesekan dengan pakaian yang membalutnya. Tak lupa, kepala lelaki itu terasa pening dan tak nyaman. Sejenak, Tirta merasa gemetar akibat menggigil.
"Aku minta tolong, katakan pada Haikal bila aku tak bisa turun. Badanku sakit semua dan suruh dia mengantar makanan untukku." Ujar Tirta, setelah ia menghadap ke arah langit-langit ruangan.
"Tidak bisakah kau bicara dengannya sendiri? Kau bisa meneleponnya dan menyuruhnya mengantar makan siangmu, sendiri. Aku tak bisa turun lagi ke bawah." Hana menjawab dengan ketus.
"Kenapa tak bisa menemui Haikal?" Tirta bertanya.
__ADS_1
"Karena aku lelah, Tirta. Membawa Felix dalam gendongan dengan naik turun tangga, kau ingin aku mati perlahan?" Hana kembali bertanya, dengan wajah dan suara judes. Tentu saja Tirta baru menyadari, bahwa Hana masih menggendong putranya.
"Ya sudah, aku minta maaf. Aku akan menghubunginya sendiri." Tirta berkata, seraya bangkit dan duduk bersandar di bahu ranjang. Kepalanya terasa berat dan pening. Entah karena apa, Tirta tak tahu pasti.
"Haikal, bawa makan siangku ke kamar. Tanya istriku, dimana ia akan makan." Tirta berkata, dan memutuskan panggilan sepihak. Haikal sudah hapal akan sifatnya yang seperti ini.
"Kau mau makan siang dimana?" Tanya Tirta pada Hana.
"Di meja makan saja." Hana menjawab datar. Sejujurnya, ia juga tak keberatan bila harus makan di dalam kamar. Hanya saja, Ia enggan makan dalam satu ruangan dengan suaminya itu.
"Baiklah, Kemarikan Felix, aku akan menidurkannya." Pinta Tirta. "Sepertinya dia sudah mengantuk."
Meski Tirta merasakan tubuhnya tidak sedang baik-baik saja, namun menatap Felix, rasanya dunia Tirta baik-baik saja. Bukan tanpa alasan, bahkan Tirta telah melewatkan masa-masa emasnya, dalam tumbuh kembang Felix sejak Felix berada di dalam rahim istrinya.
Lelaki itu lantas meraih Felix, menidurkan putranya diatas ranjangnya, Sebotol susu mulai dihisap Felix kuat-kuat. Anak itu memang tak pernah rewel jika ingin tidur. Tak butuh waktu lama, Felix terlelap di samping Tirta. Rasa nyeri pada tubuh Tirta, seketika hilang dalam sekejap, saat wajah mungil nan menggemaskan Felix, terlelap tepat disamping Felix.
Hana sendiri juga masih duduk nyaman di kursi rias dekat ranjang.
"Hana, aku sedang tak enak badan. Bisakah kau mengurusku seharian ini?" Tirta bertanya untuk memastikan, bahwa ia bisa mengakrabkan diri dengan Hana.
"Kau menjemputku dari Aussie kemari, hanya karena ingin aku mengurus kau sakit?" Hana bertanya datar, namun tatapan matanya tajam menghunus Tirta. "Aku tidak mau, Tirta. Suruh saja pelayan untuk bisa membantumu mengurus diri." Tukas Hana kemudian.
"Tapi aku ingin istriku yang mengurusku. Bukankah mengurus suami, lumrahnya dilakukan oleh istri?" Tirta masih tak menyerah.
__ADS_1
"Ketahuilah, Tirta. Jangankan untuk mengurus dirimu. Bahkan bila aku hanya sekadar mengambilkan kau minum, aku tak akan sudi." Hana berucap dengan nada judesnya.
**