Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 31


__ADS_3

Reuni


Seorang wanita cantik turun dari mobilnya seorang diri, tanpa sopir, juga tanpa pengawal. Inilah kehidupan yang Hana inginkan, bebas tanpa harus dibuntuti oleh orang-orang Tirta yang membuat dirinya kerap kali risih.


Hana berjalan anggun, dengan semua mata yang tertuju padanya. Gaun berwarna coklat muda yang dikenakan Hana, sangat pas membalut tubuh sintal wanita itu, pres body dan memperlihatkan lekukan sempurna tubuh nyonya Rahardja itu.


Potongan rendah di bagian dada, membuat tubuh depan wanita itu sangat menonjol. Olesan make up bold, membuat Hana tampak jelita dan menawan hati kebanyakan pria yang hadir. Jangan lupa rambut coklatnya yang disanggul indah dibelakang kepala, membuat Hana tampak seperti kepala geng sosialita kelas atas.


Wanita anggun itu berjalan dan menyapa teman-temannya yang menatapnya dengan tatapan terpana. Tentu dari kalangan wanita kelas atas, sekelas anak pengusaha yang mengenal nama Adi Prama dan Praja Bekti, juga nama Rahardja yang tak asing bagi mereka.


"Hai, Hana. Kau tampak cantik memukau saat ini. Kau apa kabar? Dimana suamimu? Kenapa tidak hadir?" Jane, seorang wanita blasteran Indonesia-Belanda, menatap Hana dengan tatapan terkagum-kagum.


Dulu sewaktu SMA, Jane lah orang yang paling baik pada Hana. Tak hanya itu, Jane juga tahu tentang masa lalu Hana. Bahkan hingga aib Hana pun, Hana memercayakan Jane untuk mengetahuinya.


"Kabarku baik, Jane. Suamiku tak bisa ikut karena dia sedang sibuk mengurusi pekerjaannya. Kau tahu sendirilah, pria ambisius sekelas Tirta Rahardja. Dia workaholic sejati. Kau sendiri, apa kabar? Kulihat kau masih betah melajang." Tutur Hana yang mencium pipi kiri dan pipi kanan Jane. Tak lupa, wanita itu juga tersenyum manis pada semua taman-tamannya.


"Belum menemukan pria yang cocok denganku. Oh ya, kudengar beberapa waktu lalu, kau menghilang. Suamimu mencari dirimu hingga ia mendatangi kediamanku untuk mencari tahu. Ada masalah?" Tanya Jane lirih. Inilah yang ingin ia tanyakan saat bertemu dengan Hana, sejak saat itu. Hanya saja, kontak Hana tak bisa dihubungi cukup lama.


"Nanti aku ceritakan. Jangan banyak bertanya tentang rumah tanggaku yang bobrok luar dalam." Ungkap Hana.

__ADS_1


Jane Hanya mengangguk dan setia menunggu cerita sahabatnya itu. Tak lupa, Jane juga menjumpai Hana yang tengah menyapa teman-temannya yang lain.


Hana memang terkenal ramah pada siapa saja. Cantik parasnya, juga tutur kata yang lembut, membuat Hana digandrungi banyak pria di sekolahnya dulu. Sayang seribu sayang, sifat congkak dan judes Hana akan muncul ke permukaan, jika wanita itu disakiti.


Hingga acara berlangsung lancar dan cukup meriah, banyak teman-teman Hana yang penasaran akan suami Hana itu. Rahardja bukanlah nama yang asing bagi mereka semua. Semua aset, kekuatan dan kekayaan seorang Tirta Rahardja, siapa yang tidak mengetahuinya. Kesuksesan pria itu, membuat banyak wanita mengalami patah hati massal, saat tahu Tirta telah mempersunting Gihana Atmadja Rahardja.


Hana mengedarkan pandangannya, menatap sekelilingnya untuk memastikan keberadaan sosok yang selama ini menghilang misterius dari hidupnya. Sayangnya, Hana tak menemukannya.


"Kita, sekarang hanya tinggal kita berdua, Hana. Ceritakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi pada rumah tanggamu saat itu? Rasanya lebih dari setahun yang lalu suamimu yang kaya raya itu mencari dirimu." Jane bertanya, ketika tiba pada acara dansa. Banyak teman-teman mereka turun ke lantai dansa, dan Jane sengaja membersamai Hana. Keduanya tak memiliki pasangan untuk berdansa.


"Aku tak bahagia dengan pernikahan ini, Jane. Saat malam resepsi kau menyampaikan padaku, bahwa pernikahanku adalah pernikahan yang sempurna, kau salah besar. Nyatanya, pernikahan yang aku jalani adalah pernikahan neraka sepanjang yang pernah ada." Hana menatap kosong pada teman-temannya yang tengah berpesta dansa.


"Aku tak percaya, Jane. Pernikahan itu adalah pernikahan yang terjadi atas dasar perjodohan. Lelaki itu sama sekali tak mencintaiku." Hana menjawab apa adanya.


"Astaga, ya Tuhan. Lalu? Apa dia memperlakukan dirimu dengan tak baik?" Tanya Jane serius. Wanita itu mencondongkan tubuhnya ke arah Hana.


"Jauh dari kata baik. Dia bukan hanya menyakiti fisikku, bahkan mentalku saja, dihajar habis-habisan olehnya. Dia, menyerang batin dan jiwaku dengan sangat kejam, mengancam ku dengan kelemahan orang tuaku yang maha baik itu, Jane. Ya, meski begitu Tirta memperlakukan aku, Papa dan Mamaku tetap memaafkan dan menyerahkan aku kembali pada pria bangsat itu." Hana menatap Jane, matanya sudah berkaca-kaca, menyorot penuh derita.


"Lalu, bagaimana? Dia ...." Hana meragu untuk menceritakan tentang tragisnya kematian Anita. Biar bagaimana pun, Tirta adalah ayah dari putranya, tak mungkin Hana menyaksikan Felix menangis bila nanti Tirta dijemput polisi atas kematian Anita.

__ADS_1


"Dia kenapa? Apa ada masalah lagi?" Tanya Jane lagi.


"Lima bulan aku mendapatkan luka fisik, banyak tamparan dan juga ... ya begitulah jenis kekerasan, aku merasa trauma berat dan takut. Apalagi sebuah fakta aku mendapati, aku tengah mengandung saat itu. Dia tahu aku mengandung anaknya, dan aku, memilih pergi darinya. Kabur adalah cara terbaik untuk melindungi diriku dan anakku, Jane. Kau tahu, bahkan sedikit pun aku tak sudi kembali lagi padanya. Saat itu fokusku hanya satu, melindungi anakku sekuat yang aku bisa. Beruntung, ada seorang pak tua pemulung yang menolongku untuk tiba ke kediaman Praja Bekti, maka saat itulah, Tante Ridha menolongku dengan mengirimkan aku pada kakaknya, tuan Kara. Di sanalah, aku mendapat perlindungan mutlak." Hana menjawab.


Tidak tahan lagi, air mata Gihana meluncur dengan derasnya. Hatinya selalu sakit setiap kali mengingat penyiksaan fisik dan mental yang Tirta lakukan terhadapnya. Bagaimana mungkin kenangan itu akan hilang begitu saja? Rasanya sangat membekas hingga ke sumsum tulang dan urat nadi.


"Ya tuhan, Hana. Aku tak menyangka akan secepat ini kau mendapatkan penderitaan mu. Kukira rumah tanggamu sudah sangat sempurna dengan bersuamikan Tirta Rahardja, rupanya kau menderita juga. Kenapa tak datang padaku untuk meminta bantuanku saat itu?" Jane bertanya sedih pada Hana. Ia tahu betul bagaimana Hana selama ini. Meski nampak kuat, nyatanya Hana adalah wanita berhati rapuh.


"Aku tak berpikir begitu, karena aku tahu akan sangat sulit berhadapan dan melawan Tirta Rahardja, dan aku tak ingin melibatkan siapa pun. Dua tahun aku menghilang, melahirkan anakku hanya ditemani Tante Hanum, om Kara dan putri bungsunya, Kinara. Hingga kemudian dia datang dan menemukanku, Tirta menjemputku pulang beberapa hari lalu. Kau tahu apa yang terjadi? Aku yang sempat menaruh hati pada Tirta, justru hanya menemukan sakit hati dan membencinya setengah mati. Aku tak menginginkan suami seperti Tirta, Jane. Sekuat apapun ia meminta maaf dan berusaha meraih hatiku, nyatanya kebencian sudah tumbuh subur di dalam sini," Hana menepuk dadanya yang terasa sesak.


"Dia sudah berubah?" Jane bertanya penasaran.


"Sejauh yang aku lihat, ya, memang dia berubah dan memintaku untuk memperbaiki hubungan demi Felix. ia juga memberikan pengakuan bahwa, ia menderita semenjak aku tinggal pergi. Katakanlah, dia mencintai diriku. Tetapi aku, tak berminat sedikitpun untuk menanggapi. Hatiku sudah telanjur beku karenanya.


Baru saja Jane hendak bersuara lagi, Jane urungkan karena suara seseorang yang menyapa Hana, cukup membuat Hana terkejut dan refleks membuat Hana mengusap air matanya. Sosok itu, mata itu ....


"Hai, Gihana, apa kabarmu?" Suara bariton itu? Astaga, jantung Hana nyaris copot saat itu juga, akibat dari keterkejutannya.


Tanpa Hana sadari, ada seseorang yang menguping dan melihat semua yang ia lakukan, dan ia bicarakan.

__ADS_1


**


__ADS_2