Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 45


__ADS_3

Sebuah karma.


Waktu telah menunjukkan pukul dua dinihari, ketika seorang pria bertubuh tegap suruhan Amira, berjalan lurus menuju ruang kerja Amira. Lelaki itu berjalan anggun seperti seekor macan liar yang siap menerkam mangsanya. Penuh dengan aura hitam yang menakutkan.


William segera menemui Amira, setelah semua informasi mengenai Tirta dan Hana yang ia dapatkan, lengkap. Ia bukanlah pria dengan kerja lamban dan makan gaji buta. Tak heran, Amira tak pernah perhitungan dan selalu royal untuk Will.


Tak sedikit dari relasi bisnis Amira mengatakan, bahwa Amira dan Will terlibat skandal antara nyonya dan anak buahnya sendiri. Padahal, itu tidak pernah terjadi.


Di dalam ruang kerja Amira, wanita itu duduk termangu menanti kedatangan William sejak sepuluh menit yang lalu. Ketika hendak tiba, Will sudah mengabarinya lebih dulu.


Pikiran Amira melayang memikirkan banyak hal yang mengerikan belakangan ini. Ada banyak kemungkinan atas ketakutannya yang tak berdasar. Trauma, kecewa, rasa bersalah dan juga terluka bercampur menjadi satu bagian yang menakutkan bagi Amira.


Semoga saja, ketakutannya itu tidak menjadi kenyataan.


Pintu diketuk dari luar, sosok William datang dengan penampilan seperti biasa, jaket kulit yang menjadi ciri khasnya dalam menjalankan tugas dari Amira. Sorot mata William sellau datar, seolah ia tidak memiliki sedikit pun emosi, layaknya manekin yang dipajang di dalam pusat perbelanjaan.


"Selamat malam, nyonya," sapa William sopan, sambil menunduk dalam, memperlihatkan pada Amira, bahwa ia selalu menjunjung tinggi profesionalisme pekerjaan.


"Jangan terlalu formal, Will. Oh ya, aku lupa memberitahu dirimu. Sekarang sudah bukan waktunya malam lagi, saat ini kan dinihari. Mari berbincang layaknya teman," Amira melambaikan tangan satu kali ke arah William, sebagai tanda ia memanggil lelaki itu mendekat.


"Baik, nyonya," William menjawab sopan.

__ADS_1


"Bagaimana? Kau sudah mendapatkan semuanya?" Amira bertanya datar, menatap Will yang tampak membuka sebuah Map dengan beberapa lembar dokumen di dalamnya. "Bacakan secara jelas untukku, Will. Nanti aku akan membacanya ulang setelah tiba di kantor."


William mengangguk, membuka map dan membaca dokumen di lembar awal.


"Tirta Rahardja, adalah satu-satunya putra yang terlahir dari Amira Manovti, dan Rizal Rahardja," William berkata, sambil mengamati mimik wajah Amira yang tampak terkejut, saat namanya disebut. Lantas, Lelaki itu kembali melanjutkan kalimatnya.


"Terlahir pada tanggal .... -menyebutkan tanggal, bulan, dan tahun lahir Tirta- di sebuah daerah pinggiran ibukota. Naasnya, sejak berusia enam tahun, sang ibu yang melahirkannya memilih pergi karena mencintai lelaki lain yang bernama Zein Andika Anderson. Tirta Rahardja besar hanya dengan ayahnya, Hinga ayahnya tewas terbunuh oleh preman yang merampok nya saat usia Tirta Rahardja tujuh belas tahun dan belum lulus sekolah menengah pertama," William menjeda kalimatnya.


"Di usia semuda itu, ia harus bekerja banting tulang demi bisa menyambung hidupnya dan melanjutkan kuliah. Hingga lantas ia bertemu dengan Pewaris Praja Bekti, Azkara Putra Praja Bekti, di sanalah, Tirta Raharja ditolong dan mulai membangun bisnis kecil-kecilan, hingga sukses seperti saat ini. Lima belas tahun silam, ia menjalin kasih dengan wanita yang bernama Anita, dan Anita tewas akibat sebuah kecelakaan sepuluh tahun silam," Tambah William lagi.


Lelaki itu juga terus membuka dokumen selanjutnya, kembali membaca sambil sesekali melirik Amira yang syok dengan wajah yang mulai memucat.


Amira masih diam tak menyahuti. Tatapannya itu seolah tengah bernostalgia dengan masa lalu, namun juga masih mendengar dan mencermati apa yang tengah William sampaikan.


"Oh saya lupa, nyonya," William menjeda kalimatnya, kembali membuka lembaran berikutnya, untuk memperjelas semuanya. "Saat nyonya Gihana pergi meninggalkan Tuan Tirta Rahardja, beliau sedang hamil saat itu. Nyonya Hana berhasil melahirkan seorang putra bernama Felix Harraz Rahardja. Disini saya sudah melampirkan semua foto-foto kenangan masa lalu tuan Tirta dan orang-orang terdekatnya. Anda bisa melihatnya langsung nanti," William menutup Map tersebut, menyerahkannya kepada Amira, yang disambut dengan tangan yang bergetar.


"Ya Tuhan. Tirta. Jad, jadi benar? Dia ... dia adalah, dia Tirta ku? Dia, dia putra sulungku? Ya Tuhan. Astaga, putraku .... " Amira kehilangan kendali dirinya. Wanita itu benar-benar khawatir akan ketakutan yang menghantuinya selama ini. Amira menangis.


"Jadi, benarkah begitu, nyonya? Lantas apa yang akan anda lakukan setelah ini?" William bertanya dengan suara pelan. Netra matanya tajam menatap Amira yang seolah kehilangan arah.


Entah bagaimana caranya, Amira sangat ingin sekali rasanya bisa memeluk putranya yang sudah lama ia telantarkan. Kerasnya ibukota, kejamnya dunia dalam memperlakukan si miskin, sumpah demi Tuhan Amira tidak mampu membayangkan hal itu.

__ADS_1


"Aku tidak tahu, Will. Jef masih belum tahu kabar ini. Jika tahu, aku tak bisa menebak bagaimana reaksinya. Aku telah banyak melakukan dosa di masa lalu. Aku terlalu kejam pada darah dagingku sendiri. Kau tahu, Will? Akulah yang melahirkannya. Dia darah dagingku. Aku, aku seolah tidak lagi punya muka untuk bertemu dengan anak sulungku itu," tangis Amira pecah seketika.


Pedihnya luar biasa menyiksa. Dada Amira terasa sesak seketika. Ia tidak menyangka, akan seperti ini kejadiannya.


"Tidakkah anda ingin memeluknya, nyonya. Tidakkah anda ingin mendengar keluh kesahnya saat ini. Perlu anda tahu, nyonya. pada dokumen terakhir tertuliskan, bahwa Tuan Tirta mengidap penyakit neuralgia oksipital. Kesehatannya belakangan menurun. Di garis paling bawah, ada riwayat rumah sakit ternama tempat Tuan muda Tirta menjalani penyuntikan steroid terakhir kali," tambah William lagi.


Amira syok di tempatnya. Wanita itu seolah sulit untuk mengeluarkan suara. Lidahnya terasa kelu, seiring dengan rasa pahit yang menyumbat tenggorokannya. Mengapa putranya harus mengalami penderitaan separah itu?


"Kesehatannya sedang menurun dan sering drop, nyonya. Berdasarkan keterangan seorang dokter yang saya suap dan telah menangani penyakit Tuan Tirta, tuan Tirta mengalami hal itu akibat stress yang berlebihan, serta jumlah alkohol yang dikonsumsi dalam jumlah banyak. Tebak, apa yang melatar belakangi tuan melakukan hal itu," William menatap Amira yang sudah berderai air mata.


"Katakan, William. Jangan kau sembunyikan apapun dariku mengenai putraku," lirih Mira dengan suara bergetar.


Sekali lagi, William menghembuskan nafasnya kasar. Sejujurnya, ia sendiri tidak tega dengan apa yang dialami oleh Tirta.


"Tuan Tirta mengonsumsi alkohol setiap hari, karena ia ditinggal selama dua tahun lamanya oleh wanita yang ia cintai. Jarang mengonsumsi makanan sehat, serta sering merokok dan meneguk minuman beralkohol, membuat kesehatannya terganggu, dan beliau dihingapi oleh sebuah penyakit yang menyiksanya. Bagaimana menurut nyonya?" William menatap Amira yang sudah limbung saat berdiri. Beruntung, dengan sigap Will menahannya.


"Kau tahu, Will? Ini semacam karma. Will aku dulu pernah meninggalkan ayah Tirta. Tetapi kali ini, Tirta pun harus menanggung karmanya. Ia pernah ditinggalkan oleh istrinya. Katakan padaku, Will. Aku tak becus disebut sebagai seorang ibu," timpal Amira, masih dengan menangis.


Hukum alam selalu bekerja. Ketika karma tidak bisa menimpa kita, maka anak cucu kita lah yang akan menuainya.


**

__ADS_1


__ADS_2