
Keenggana Seorang Ibu.
Tirta tersadar dari tidurnya, ketika lelaki itu merasakan bau menyengat obat-obatan. Entah berapa lama lelaki itu tertidur, memerangi rasa sakit dalam alam bawah sadarnya, sebelum ia terjaga dalam ketidakberdayaan. Tirta mengerang lirih, menikmati rasa sakit yang menikam.
Lagi dan lagi, entah untuk yang keberapa kalinya, Tirta merasakan sakit di dalam dadanya, sakit yang kemudian di susul dengan berat yang tiba-tiba menghantam kepalanya. Tirta kembali meneteskan air matanya, air mata yang begitu murah ia teteskan untuk Hana.
Dia satu-satunya wanita yang berhasil membuat Tirta menangis dalam diam. Dia satu-satunya wanita yang berhasil mengobrak abrik ego dan perasaan Tirta. Dia satu-satunya wanita yang berhasil membuat Tirta merasakan, apa arti kehilangan dan patah hati, patah harapan, dan patah semangat.
"Tuan, anda sudah sadar?" Haikal, si kepala pelayan menghampiri Tirta, begitu ia mengetahui Tirta mengerjapkan matanya beberapa kali.
Lelaki bermata sipit dengan pandangan tajam itu masih setia menangis, membiarkan emosinya tumpah ruah bersamaan dengan air matanya yang menganak sungai.
"Ya, aku di rumah sakit?" tanya Tirta pelan.
"Iya, Tuan. Anda tak sadarkan diri," Haikal menjawab pelan. "Anda haus?"
"Tidak, Kal. Nanti saja aku minum. Dimana Johan?" Tirta bertanya pelan, suaranya berat, terlihat sekali seperti sedang memikirkan hal yang berat.
"Johan sedang mengurus sesuatu. Saya hanya ingin memberitahukan, bahwa kemarin saya dan Johan telah menemui keluarga Nyonya. Saya juga mengatakan bahwa anda tidak bisa menemui Tuan Daniel secara langsung karena sesuatu hal. Beruntung tuan Daniel tidak menghakimi dan bersedia mau mengerti," ungkap Haikal.
"Tetapi aku akan mendatanginya sendiri, nanti, Kal. Kepalaku semakin terasa tak nyaman," Tirta mengeluh. Biasanya, Tirta bukanlah lelaki yang mudah mengeluh. Namun kali ini, lihat saja, dirinya merasa seperti tidak kuat menahan sakit di kepalanya.
"Istirahatlah, Tuan," Haikal menatap prihatin pada Tirta.
"Tolong hubungi Johan, Kal. Aku ingin pulang sekarang juga. Sudah berapa hari aku tak sadar? Felix pasti sedang merindukanku," ungkap Tirta kemudian.
__ADS_1
"Anda harus istirahat total, Tuan," jawab Haikal, mencoba untuk memberi pengertian. Entah mengapa, Tuan besarnya ini sangat keras kepala.
"Jangan mengabaikan kesehatan karena nyonya Gihana yang sudah menyakiti anda dan tidak menginginkan anda sebagai suami, tetapi pikirkanlah kesehatan demi tuan muda Felix. Tuan muda, adalah pewaris yang butuh didikan dan kasih sayang anda," tambah Haikal kemudian.
"Kau benar, Haikal. Aku berjanji, akan bangkit demi Felix, bagaimana pun caranya," Tirta tersenyum lembut.
Haikal diam-diam takjub di tempatnya. Ada kalanya, Tirta terlihat rapuh dan tidak berdaya. Namun dengan hebat dan tangguhnya, Tirta berusaha untuk sembuh.
**
Di tempat lain, Jefry tengah tersenyum lebar, dengan cerah sinar wajahnya pagi ini. Lelaki itu menuruni anak tangga, dengan langkah teratur dan senandung kecil dari bibirnya yang padat berisi, menciptakan kesan sensual yang melekat kuat dalam dirinya.
Kabar mengenai kandasnya rumah tangga Hana, membuat semangatnya kian menggebu. Ada sorot kebahagiaan, dan juga sorot cinta yang begitu kentara, dari wajahnya yang bahagia.
Lain Jefry lain Amira. Wanita itu muncul dari arah ruang tamu, dengan wajah kuyu dan aura yang menggelap. Jefry mengerutkan keningnya bingung, ketika mendapati sang Mama yang tampak lain dari biasanya. Amira, ibu Jefry itu biasanya akan tampil ceria, dengan senyum cerah saat menyapa putranya itu.
"Mama tak apa-apa, Jef. Kau sudah sarapan?" tanya Amira lirih. Wanita itu menghampiri putranya, dengan senyum palsu yang dipaksakan. Jefry sedikit curiga kali ini.
"Kurasa Mama sedang tidak baik-baik saja. Ada apa, Ma? Katakan ada Jefry, jika Mama memang sedang ada masalah," tanya Jefry, menarik Amira untuk duduk di ruang keluarga di lantai bawah.
"Hanya masalah kecil di perusahaan. Mama butuh bantuan seseorang untuk mencarikan solusi. Oh ya, nanti malam Mama tak akan bisa pulang karena harus mengurus sesuatu. Jadi nanti selepas sore, Mama harap kau segera pulang dan tak keluar malam," Amira memperingatkan.
"Aku sudah dewasa dan aku bukan lagi anak kecil, Ma. Mama juga tak bisa memikul beban Mama sendirian. Katakan, apa yang bisa Jef bantu untuk meringankan masalah Mama?" Jefry menyentuh bahu kiri mamanya.
Sejenak, Amira tecenung di tempatnya. Andai saat ini ada Tirta yang juga ada disamping kanannya, pastinya hidup Amira terasa lengkap. Jefry juga anak yang paling penurut dan tidak pernah membantahnya, karena Amira memberikan kasih sayangnya tumpah ruah terhadap putranya itu.
__ADS_1
"Ini masalah pribadi, sayang. Ada perkara masa lalu yang belum usai, dan mama harus segera menyelesaikannya. Hanya saja, saat ini Mama maish tidak bisa menceritakan padamu, tentang semua itu. Mama harap, kau tidak mendesak Mama untuk bercerita," jawab Amira kemudian.
Ada banyak gurat sedih dan juga penyesalan yang bisa Jefry tangkap dari raut wajah Amira.
"Baiklah, Jef tidak akan memaksa Mama untuk bercerita. Hanya saja, Jef berharap agar Mama tidak menyerah, apapun masalahnya," Jefry tersenyum lebar, menampakan giginya yang tertanam rapi. Berbeda dengan Tirta yang gigi bawahnya tampak tidak rapi. Hanya saja, ada lesung pipit yang Tirta miliki, sesuatu yang tidak Jef punya.
"Kau, tumben kau hari ini bisa secerah ini. Ada apa? Kau memang undian? Atau kau sudah menemukan jodoh di rumah sakit Mama?" Tanya Amira.
Selain memiliki bisnis yang menjadi peninggalan suaminya, Amira juga rupanya mendirikan rumah sakit untuk Jefry. Disinilah rasa bersalah kembali menggilas hati Amira. Tirta yang ia tinggalkan bersama mantan suaminya dulu, nyatanya harus berjuang banyak dan tidak Amira bantu sama sekali.
"Aku sudah mendapatkan jodohku, Ma. Apa mama tidak mendengar kabar, bahwa Gihana sudah mulai berpisah dengan suaminya?" Jefry bertanya pelan, menatap mamanya dengan senyum yang lebar. .
"Apa maksudmu, Jef? Kau merebut Hana dari tangan suaminya?" tanya Amira kemudian.
"Aku tidak merebutnya, Ma, melainkan mereka yang berpisah sendiri. Aku mendengar sendiri kabar dari teman sekolah kami dulu, bahwa Hana tidak mencintai suaminya. Ini adalah kesempatan untukku, agar aku bisa mendapatkan hati Hana lagi," Jef menjelaskan dengan gamblang.
Harusnya Amira tertawa lebar dan bahagia, saat mendengar bahwa Jefry menemukan cintanya di usia sedewasa ini. Sayangnya, raut wajah Amira justru menampakkan ketidaksukaan.
"Hentikan, Jefry. Sudah Mama katakan, mama tak akan pernah merestuimu menikahi Gihana. Apa tidak ada wanita lain di luaran sana yang bisa kau jadikan istri? Tinggalkan Gihana dan lupakan dia. Mama akan yang akan mencarikanmu wanita, yang jauh lebih cantik dan lebih baik dari Gihana Atmadja," Amira marah, nadanya terdengar lantang dan menggema ke seluruh ruangan luas kediamannya.
"Ma, apa maksud Mama?" Jefry bertanya tak mengerti.
"Jangan kau rebut Hana dari suaminya, Jef." Amira bangkit dan berlalu pergi, meninggalkan Jefry yang terpaku tak percaya.
'Aku bersumpah atas makam mendiang mantan suami yang aku tinggalkan dulu, Jef. Aku akan menyatukan Hana dan Tirta kembali, untuk menebus semua dosa-dosaku di masa lalu pada Tirta. aku harap kau bisa mengalah kali ini. putra sulungku itu sangat mencintai Hana. Kesembuhannya, obatnya, pelipur lara hatinya, adalah Gihana Atmadja.'
__ADS_1
Tanpa terasa, Amira membatin sambil menangis.
**