
Malam telah larut, merambah menuju dini hari dimana banyak makhluk bumi yang menggunakan waktu itu untuk terlelap. Angin berhembus kencang, merasuki area kamar melalui ventilasi jendela kamar tamu mewah yang Tirta tempati.
Harusnya Tirta bisa tidur nyenyak saat ini, mengingat Hana yang dulu tak menginginkan dirinya sebagai suami, kini telah datang menginginkan pernikahan kembali. Alih-alih bahagia karena Hana sukarela datang sendiri padanya, Tirta justru merasakan ketakutan yang teramat besar.
Bagaimana jika Hana nanti berubah pikiran dan kembali tak menginginkan bersuamikan Tirta? Sungguh, Tirta tak ingin kejadian serupa membuat Tirta kembali terkapar.
Sekelebat bayangan Amira yang meneteskan air mata, bersamaan dengan senyum hangat tersinggung disana, kembali menghiasi sudut otak Tirta. Lelaki itu benar-benar merasa kepikiran dengan hal ini. Ditambah lagi, Jefry yang faktanya adalah adiknya satu ibu, membuat Jef kembali pening.
Berkat jasa Jefry, harusnya Tirta berterima kasih karena berandil besar dalam penyembuhannya. Tetapi yang ada, Tirta seolah digulung rasa benci yang tak sudah-sudah.
Cukup lama Tirta memandangi langit malam dari balik pintu balkon kamar tamu yang ia tempati, sebuah getar telepon membuyarkan lamunannya. Dan yang membuat Tirta tercengang, nama Cintaku tertera disana. Perasaan, Tirta tidak menamai kontak seseorang dengan nama 'cintaku'.
Dengan penasaran, Tirta menggeser menu hijau pada layar ponselnya, menerima panggilan.
" .... " Tirta diam, menunggu suara seseorang dari seberang sana, sambil membalikkan badan, membiarkan tirai terbuka dengan pintu kaca balkon yang sudah terkunci.
"Calon suami, kau belum tidur juga?"
Tidak salah lagi, diseberang sana adalah suara Hana. Tanpa sadar, Tirta berdecak sebal dan risih juga dengan Hana yang belakangan memiliki hobi mengganggunya.
"Apa-apaan kau ini, Hana? Kau mengganti nama kontakmu di ponselku dengan nama Cintaku?" tanya Tirta dengan jengah.
"Ya, saat kau tidur tadi. Maaf, aku lancang."
Jawab Hana dengan suara terkekeh, tanpa rasa berdosa.
"Apakah kurang romantis?"
__ADS_1
"Kau ini. Kenapa lancang tanpa seizinku? Aku belum resmi menjadi suamimu," jengkel Tirta.
"Sekarang demikian. Akan tetapi nanti, aku akan kembali menyandang gelar Nyonya besar Rahardja yang dulu terpaksa aku lepaskan. Jangan khawatir, jika nama Cintaku belum atau kurang pantas, nanti aku ganti dengan nama lain yang lebih romantis. My sweet heart, mungkin."
Hana tergelak kencang di seberang sana.
"Sudah cukup, Hana. Aku tak ingin mencari gara-gara denganmu, dan kau juga jangan memancing perkara denganku," ungkap Tirta.
"Buka pintunya," pinta Gihana kemudian, sambil menggedor pintu kaca di belakang Tirta.
Sontak saja Tirta terkejut, merasa bahwa Hana terlalu barbar kali ini. Tak ingin Hana membuat suara kegaduhan terlalu lama, Tirta lantas mematikan panggilan pada ponselnya, dan membuka pintu balkon berbahan kaca itu. Tak lupa, Tirta juga menutup tirai berlapis tiga itu.
"Apa-apaan kau ini, Hana? Kau tidak takut bila ada yang melihat?" tanya Tirta dengan geram, "malam telah larut, harusnya kau tidur dan tidak masuk kemari?"
"Aku rindu padamu," lirih Hana sambil melempar senyum.
"Sejak aku jatuh cinta padamu, sejak kau selalu menghantui otakku, dan sejak hatiku sakit parah setelah berpisah denganmu," jawab Hana enteng.
"Kembalilah ke kamarmu, Hana. Aku tak ingin orang tuamu memergoki kau ada di kamarku," pinta Tirta datar. Mau marah, tapi sepanjang hidupnya, Tirta tak akan pernah bisa marah pada wanitanya itu.
"Tidak. Aku ingin tidur disini, denganmu. Hanya tidur dan tidak macam-macam," ungkap Hana.
Tirta kaget seketika.
"Jangan memancing masalah, Hana. Aku tak ingin keluargamu berpikir bahwa aku menyeretmu ke ranjangku," ungkap Tirta.
Hana terkekeh gemas pada Tirta di tempatnya.
__ADS_1
"Aku sudah lama merindukanmu, Tirta. Tak salah bila aku ingin dekat denganmu semalaman ini. Jangan melarangku. Lagi pula hanya tidur oke? Mari beristirahat dengan damai dan besok kita bangun pagi dengan membangun masa depan baru yang bahagia," ungkap Hana kemudian.
"Tidurlah. Aku mau tidur di sofa saja," ungkap Tirta kemudian. Tak ada gunanya mendebat Hana. Tak ada gunanya pula bila Tirta bicara panjang lebar pada Hana yang sudah mulai kehilangan kewarasannya.
"Jangan," kata Hana seraya mengibaskan kedua tangannya. "Temani aku tidur atau aku akan tidur di atasmu setelah kau merebahkan diri di sofa."
Kalimat Hana, berhasil membuat Tirta tercengang tak percaya.
Seingat Tirta, Hana dulu adalah wanita biasa yang bertingkah datar, dan terkendali. Namun entah mengapa, belakangan Hana bertingkah seperti ****** untuknya.
"Kumohon, Hana," erang Tirta dengan penuh frustasi," jika aku tidur denganmu, aku takut aku tak mampu mengendalikan diriku. Bagaimana jika nanti terjadi sesuatu pada kita? Tidak. Aku tak mau berbuat hal yang lebih jauh padamu. Lebih baik, kau tidur di ranjang, dan aku akan tidur di sofa," ujar Tirta, sambil melangkah berniat untuk tidur di sofa.
"Kumohon, Tirta," Hana segera meraih dan merangkul erat tubuh Tirta dari belakang, dan melingkarkan tangan hingga ke dada, "Jangan takut tak bisa mengendalikan diri. Maaf jika aku terkesan murahan untukmu. Tetapi perlu kau tahu, aku benar-benar ingin menghabiskan waktuku denganmu. Kali ini saja, aku mohon," lirihnya.
Tirta mematung, seolah tak sanggup menahan gejolak dalam dadanya. Cinta dan rindu yang sempat Tirta bunuh mati untuk Gihana, kini bahkan tumbuh besar dan mengerikan.
"Bagaimana bila aku tak bisa mengendalikan diriku dan melakukan hal lebih padamu?" tanya Tirta tanpa sadar.
Logikanya saja, sepasang mantan suami istri yang berada dalam satu ruangan, bertemu dengan cinta yang kembali menggebu, mustahil bila tidak melakukan hal yang lebih intim. Faktanya, Tirta dan Hana manusia normal yang memiliki hawa napsu.
"Hanya tidur, oke? Kita tak akan melakukan lebih," kata Hana seraya menarik pelan tangan Tirta menuju ranjang, "kecuali jika kau menginginkannya," bisik Hana dengan mengerlingkan sebelah matanya.
"Tidak!" tegas Tirta, yang kemudian disusul dengan gelak Hana yang lantang mengisi seluruh ruangan.
"Tidak akan. Aku hanya menggodamu. Berhenti berpikiran buruk tentangku, oke? Lihat, wajahmu sudah semerah tomat," ledek Hana, yang berhasil membuat Tirta malu-malu sapi.
**
__ADS_1