Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 64


__ADS_3

Menjelang pernikahan.


Suara denting jarum jam dinding mahal yang bertengger manis di atas pintu kamar mandi, seolah tertawa lantang berkali-kali tanpa henti. Menertawakan Tirta dan Hana yang tidur merebah di atas satu ranjang yang sama.


Suara itu seolah mengolok-olok Tirta, yang kini mendadak bodoh saat berhadapan dengan Gihana. Bucin? Bahkan Tirta tidak pernah tahu apa arti kata bucin.


Setelah dua tahun lamanya berpisah dengan Hana akibat Hana yang meninggalkannya, ditambah lagi tak pernah ada ritual suami istri saat Hana kembali hingga mereka bercerai sampai saat ini, Tirta tak pernah sekalipun menjamah wanita manapun. Hanya Gihana, yang berhasil mengunci Tirta untuk tak kembali terjun dalam dunia seka bebas seperti kala masa muda dulu.


Kini, tidur satu ranjang dengan Hana, sama saja artinya dengan menggugah gairahnya secara langsung. Tak urung, wajah Tirta memerah akibat menahan suhu panas pada tubuhnya yang tiba-tiba meningkat.


Dan dengan tidak tahu malunya, Hana memeluk Tirta dari belakang, merangkul erat hingga Tirta seolah tercekik.


"Hana, bisakah kau menjauh? Aku gerah dan aku ingin bebas. Tolong, lepaskan aku," pinta Tirta yang entah ke berapa kalinya.


"Tidak. Salah sendiri kau memunggungi aku. Jangan harap aku akan melepaskanmu. Malam ini, anggap saja kau sedang membayar uang muka padaku, atas pernikahan kita. Kau mengerti, bukan?" ungkap Hana kemudian.


Di balik punggung Tirta yang membelakangi Hana, lelaki itu menahan napasnya berkali-kali. Entahlah, mungkin sebentar lagi Tirta akan gila mendadak karena Hana.


"Kau pikir jika aku berbalik dan memelukmu, aku akan baik-baik saja? Tidak, Hana. Jangan berpikir aku tak bernafsu. Sebisa mungkin aku menahan nafsuku agar aku tak kelepasan menyeretmu ke dalam dimensi surga dunia yang sesungguhnya," balas tirta dengan suara yang jelas kesal.

__ADS_1


Hana terkekeh, sambil mencerukkan wajahnya pada tengkuk Tirta. Tentu hal ini cukup membuat Tirta kian merinding, merasakan tubuhnya kembali menegang setelah tadi sempat tenang.


Menjauhlah, Hana. Aku tak mau kita celaka. Aku tak mau melakukannya dan menyentuhmu sekarang. Pergilah, ini demi kehormatanmu juga," pinta Tirta sekali lagi.


Lelaki itu merasakan sekujur otot pada tubuhnya menegang seketika. Jangan tanya bagaimana kondisi Tom and Jerry di bawah sana. Tirta menggigit bibir bawahnya, mencoba membuang jauh-jauh keinginan untuk memuaskan syahwatnya.


"Tidak. Aku kan sudah katakan, hanya tidur bersama, tidak melakukan hal lebih," ujar Hana dengan tenang.


"Dasar bodoh. Kau pikir tingkahmu yang seperti itu tak menggambarkan tingkah seorang penggoda?" balas Tirta dengan suara yang sebagai di tekan.


Namun bukan Hana namanya, jika ia harus menyerah. Wanita itu bahkan tak masalah bila harus kehilangan harga dirinya di depan Tirta. Toh sebentar lagi Tirta adalah suaminya, mereka kan kembali menikah, dan Hana sendiri sesungguhnya hanya menggoda Tirta akibat kantuk yang tak kunjung datang. Anggap saja Hana tengah iseng.


Tirta tak menyahut sama sekali, mencoba memejamkan matanya untuk terlelap. Sayangnya, Tom and Jerry di bawah sana seolah sudah beri tak dengan tenaga yang luar biasa kuat.


Spontan, Tirta membalikan badan, ******* bibir mantan sekaligus calon istrinya itu, untuk meredakan gejolak dalam dirinya. Sayangnya, bukannya reda, Tirta seolah kian merasakan tubuhnya kian menuntut lebih.


Di hadapan Tirta, Hana menerima Tirta dengan baik, mencoba untuk meladeni Ayah dari putranya itu.


Betapa bodohnya Hana dulu, telah menyiakan Tirta dan meminta perpisahan. Tirta demikian lihat dan sanggup membuai jiwa Hana, seolah Tirta adalah lelaki yang paling mengerti dan cocok dengan Hana. Bahkan dengan Jefry yang dulu merenggut kesuciannya, Hana tak pernah merasakan senyaman ini.

__ADS_1


"Hentikan, Hana. Sekarang pergilah, jangan nampakkan wajahmu di depanku sebelum kau resmi menjadi istriku lagi. Aku takut tak bisa mengendalikan diriku," erang Tirta sambil berusaha bangkit.


"Baiklah. Tidurlah, pagi nyaris tiba dan kau jangan kurang istirahat. Wajahmu mulai memucat. Maaf, aku membuatmu pening malam ini," kata Hana, seraya bangkit, dan menabrak Tirta dengan tubuhnya yang mulai berkeringat. Dapat Hana lihat, tatapan Tirta sayu mengundang. Lama-lama, Hana merasa bersalah.


Tanpa aba-aba lagi, Hana bangkit dari ranjang, berdiri dan memeluk sekali lagi pada Papa Felix itu. Dan tahukah apa yang terjadi? Wanita itu menghadiahi Tirta dengan satu tanda merah pada leher Tirta yang putih bersih.


"Hana, jangan memulai lagi!" Seru Tirta dengan udara parau, sebelum akhirnya Hana berlalu dengan tawa menyebalkan di telinga Tirta.


**


Sebuah upacara pernikahan sederhana, pada akhirnya kembali akan di gelar pagi ini, di kediaman Adi Prama, rumah utama yang paviliun mewahnya di tempati oleh Daniel dan Dita. Bila pernikahan pertama Hana dan Tirta digelar di sebuah gedung mewah, namun pernikahan kedua digelar di rumah dengan dekorasi sederhana namun elegan.


Harusnya pernikahan di gelar dengan ramai, namun Tirta dan juga Hana telah sepakat untuk mengadakan acara sederhana saja. Hanya keluarga besar saja yang diundang, tanpa mendatangkan tamu kolega bisnis.


Wajah Tirta tampak segar, meski lelaki itu tidur hanya tiga jam semalam. Ia tak menyangka, sosoknya yang terbiasa bermulut pedas dan suka mengintimidasi Hana, kini telah berubah menjadi lunak dan penakut.


"Tirta, kau masih disini? Nyonya Amira Manovti dan Jefry Manovti datang ingin bertemu denganmu. Turunlah," Kata Alex secara tiba-tiba, yang pagi ini hendak menghadiri acara pernikahan Hana, keponakannya dengan Tirta.


Tirta menatap datar Alex, seolah menolak sambil berkata, "Secara biologis dia memang ibuku, Om Alex. Tetapi secara batin, aku lebih tenang bila tidak menjumpainya. Tolong sampaikan, bahwa aku ingin tenang dan jangan menggangguku dan keluarga kecilku lagi."

__ADS_1


**


__ADS_2