Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 50


__ADS_3

Pasca perceraian


Hari terus berganti, seiring dengan waktu yang terus berputar tanpa henti. Sayangnya, hal itu tidak membuat sebuah kisah asmara berhenti begitu saja meski sejak empat bulan yang lalu, ada niat untuk menghentikan.


Gihana Atmadja.


Meski wanita itu telah menjadi janda Tirta Rahardja, namun ia tidak pernah bisa melupakan bayangan Tirta begitu saja dari hatinya. Selepas berpisah dari Tirta, alih-alih ia bisa bahagia seperti yang ia bayangkan, namun yang ada justru ia terjebak dalam sebuah rasa kehilangan yang tidak pernah sirna.


Perih, terluka, merana dan sengsara, itulah yang Hana rasakan tatkala wajah Tirta tak dapat lagi ia lihat, semenjak malam liburan penuh petaka terakhir kali di pulau Dewata. Bahkan dalam sidang perceraian, Tirta tidak pernah hadir dan menyerahkan kuasa pada pengacara ternama, untuk mengurus hak asuh Felix.


Entah kegilaan apa yang pernah Hana alami kala itu. Dengan bodohnya Hana memberikan Felix pada Tirta, hanya karena dirinya ingin terlepas dari pernikahan bersama Tirta.


"Mengapa kau sendirian disini, Hana? Hari sudah mulai petang. Masuklah. tidak bagus bila kau termenung seorang diri diluar. Ayo masuk. Papamu sudah menunggumu di dalam, ada yang ingin kami bicarakan," Dita muncul dari ambang pintu, melambaikan tangannya pada Hana.


"Maaf, Ma. Hana hanya merasa tidak nyaman di dalam terus," jawab Hana yang segera menghampiri Ibunya, dan mendorongnya pelan untuk masuk ke dalam rumah.


Beberapa pelayan mulai bersantai karena semua pekerjaan telah usai. Hanya juru masak yang tengah beraktivitas di dapur.


Setibanya Hana dan Dita, ibunya di dalam ruang tengah, Hana segera disambut oleh Daniel yang sedang membaca majalah. Lelaki itu menghentikan acara membacanya, dan membuka kacamata yang ia kenakan.


"Hana, duduklah, Papa ingin bicara," kata Daniel, sambil membuka dan meletakkan kacamatanya diatas meja.


Hana menurut, tidak membantah dan duduk tak jauh dari Daniel.


"Empat bulan kau berpisah dari Tirta, empat bulan pula kau diam tanpa melakukan sesuatu yang berarti. Setiap hari kau habiskan waktumu dengan melamun dan meratapi penyesalanmu. Bagaimana ke depan, kau tidak memikirkan. Ingat, Hana. Kau berpisah dengan Tirta atas kemauanmu sendiri. Kau pula yang menyesali semuanya, dan sekarang kau bersikap layaknya mayat hidup yang enggan mati, untuk hidup pun kau tak mau," ucap Daniel panjang lebar.

__ADS_1


Daniel mungkin telah kehabisan kesabaran selama ini. Bukan hanya membuat malu Tirta, bahkan Hana juga telah berhasil membuat Daniel menyerah.


"Apa yang papa ingin aku lakukan?" Hana bertanya pelan, menunduk dan merasa tidak berani. Wajar saja Daniel marah padanya, mengingat bahwa dirinya itu begitu bodoh karena meratapi perpisahan dengan Tirta, uang ia inginkan selama ini.


"Jawab Papa, Hana, kau mencintai Tirta? Apa keputusanmu untuk meminta cerai dari Tirta, semata karena kau belum bisa memaafkannya?" Daniel bertanya dengan datar. Raut wajahnya demikian menyiratkan kekecewaan.


Baru kali ini, Hana melihat Papanya marah padanya. Meski raut wajahnya datar, namun kemarahan jelas tercetak dalam raut wajahnya.


"Hana tidak tahu, Pa. Aku, aku merasa bersalah. Empat bulan aku melalui perceraian kilat dengan Tirta, tanpa bisa bertatap muka dengannya, nyatanya membuat aku, seperti ... kehilangan," jawab Hana pelan, di akhir kalimatnya.


"Itu artinya, kau mencintainya, Hana. Ingat, nak, kau sebenarnya tidak bisa menerima Tirta, semata karena kau belum bis memaafkan dia sepenuhnya. Setelah kau merasa kehilangan, kau akan tahu, arti cinta yang sesungguhnya. Kau membutuhkan Tirta, dan rumah tangga utuh dengan Felix di dalamnya. Meski Felix datang kemari bersama pengasuhnya secara rutin, tetapi percayalah, dia pasti merindukan orang tua yang utuh dan kebersamaan," kali ini suara Dita menimpali.


Hana menatap mamanya dengan perasaan tak karuan. "Andai aku bisa memutar waktu, apakah mungkin Tirta bisa menerimaku kembali?" Hana bertanya, menatap Papa dan Mama bergantian.


Sejujurnya, dalam empat bulan ini, Daniel dan semua keluarganya tidak bisa menemui Tirta sama sekali. Ada sesuatu yang mengganjal bagi Daniel, seperti ada sesuatu yang tengah disembunyikan oleh Tirta dan orang-orangnya


"Aku, aku sebenarnya ingin bertemu dengan Tirta, Pa. Tetapi kenapa Tirta tidak menerima permintaanku untuk bertemu dengannya? Jika boleh, aku ingin bertemu dengannya sekali ini saja," pinta Hana pada papanya.


Wanita itu hanya tidak sadar, bahwa bila sekali saja ia bertemu dengan Tirta, pertemuan itu akan terus terjadi.


"Papa akan berusaha sekali lagi. Satu-satunya yang bisa membantu adalah, keluarga Praja Bekti," jawab Daniel penuh kegamangan.


**


Di lain tempat, Tirta tengah duduk di kursi rodanya dengan tatapan kosong. Sinar matanya meredup, layaknya cangkang kosong yang menunjukkan tatapan tanpa jiwa. Ruang hati lelaki itu merasakan hampa yang tak berkesudahan.

__ADS_1


Sudah satu bulan lamanya, Tirta tidak menyentuh pekerjaannya sama sekali. Semua pekerjaannya telah ia delegasikan pada Johan dan beberapa petinggi perusahaan lain. Kesehatan lelaki itu menurun drastis, selepas perpisahannya dengan Hana.


Satu-satunya yang menjadi umpan adalah Felix, agar Tirta mau mengonsumsi obatnya. Dulu, Tirta bahkan tidak pernah merasakan sehancur ini, bahkan setelah ia dikhianati habis-habisan oleh mendiang Anita.


Sekelebat bayangan Hana terus saja menghantui Tirta. Suara tangisnya, suara tawanya, suara desahannya dua setengah tahun silam, suara jeritnya saat Hana menangis, semua menghantui otak Tirta.


Bisakah bila Tirta menjauh dan membunuh mati semua kenangan itu?


"Tuan, waktunya minum obat, mari masuk karena senja sebentar lagi akan menghilang," Haikal dengan setia merawat dan memperhatikan asupan gizi Tirta.


"Ada tamu juga yang sudah menunggu anda di dalam."


"Aku lelah, Kal. Seharian ini aku berpikir, bahwa mungkin ada baiknya Felix aku kembalikan saja pada Hana," ujar Tirta, menatap sekilas baiklah, sebelum ia kembali melempar pandangan ke arah langit lepas.


"Ada apa, Tuan. Mengapa Tuan tiba-tiba berpikir demikian? Bukankah sebaiknya anda berusaha dan bertekad untuk sembuh? Tuan Felix masih sangat membutuhkan anda," Haikal merasa tak nyaman.


"Akan aku pikirkan lagi. Aku hanya takut umurku tidak lama lagi, Kal. Oh ya, apa Johan sudah datang?" tanya Tirta kemudian.


"Ada di dalam, Tuan, sedang menemui tamu yang bernama Amira Manovti," jawab Haikal kemudian, yang berhasil membuat Tirta mematung seketika.


Mengapa pusing itu kembali mendera Tirta? Tirta tidak tahu, harus bagaimana dirinya mencerna sesuatu yang terasa sulit ia terima.


"Siapa? Amira Manovti?" Tirta menatap Haikal penuh tanya, nama yang selama ini telah ia kubur dalam.


**

__ADS_1


__ADS_2