Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 23


__ADS_3

Tirani yang telah mati


"Ya tuhan, putriku ... Hana .... Kau kemana saja selama ini, nak? Bahkan kau pulang dengan membawa cucu untukku." Suara Dita terdengar bergetar dengan Daniel yang mendorong kursi rodanya, berhasil membuat Hana merasa terluka seketika.


Sesaat setelah mendengar bahwa Hana menghilang, Dita dan Daniel tentu syok. Yang mereka tahu, selama ini menantu mereka selalu memperlakukan putri mereka dengan baik. Namun setelah mendengar pengakuan Tirta dalam keputusasaan setelah kehilangan Hana, membuat Daniel sempat murka.


Andai tak ada Dita saat itu, mungkin Daniel sudah melenyapkan Tirta tanpa pikir panjang.


"Ma, pa, maafkan Gihana. Maafkan Hana." Hana memeluk kedua orang tuanya bergantian. Tentu saja Felix masih setia berada dalam gendongan Tirta. Anak itu terlihat tak peduli pada orang yang terasa asing di matanya.


Selepas perjalan jauh yang Tirta dan Hana lalui, Hana ingin segera mengunjungi kedua orang tuanya. Wanita itu sudah tak kuat menahan rindu, dan juga rasa bersalah yang selama ini menghantuinya.


"Tak apa. Ayo kita duduk. Mana cucuku." Dita menatap Felix yang kini tengah berada dalam gendongan Tirta.


Mereka lantas berbincang, membicarakan tentang kepergian Hana selama ini, dan juga permintaan maaf dari Tirta atas apa yang pernah Hana terima selama pernikahan. Penyesalan, datang saat terlambat, yakni ketika Hana telah pergi. Dan setelah wanita itu kembali, Tirta bersumpah dalam hati, ia akan berubah, demi Hana, dan juga putranya.


Setelah lama berbincang, Tirta memutuskan untuk membawa Hana pulang ke rumahnya.


"Hana, aku rasa kita perlu pulang sekarang. Felix sudah mulai rewel. Kita bisa mengunjungi mama dan papa besok." Ajak Tirta.


Dita menatap Tirta dengan perasaan yang ... entah. Sebagai seorang ibu, ia demikian sangat rindu pada Hana. Rasanya ia tak bisa begitu saja melepas Hana kembali pada Tirta. Sayangnya, ia tak berdaya.


"Aku masih ingin disini bersama mama dan papa." Jawab Hana. Wanita itu menatap Tirta dengan berani.


"Pulanglah, Hana. Tuan Kara sudah menghubungiku dan membiarkanmu ikut dengan suamimu. Jika Tirta kembali mengulangi sikap kasarnya padamu, kau berhak memutuskan untuk berpisah darinya." Ujar Daniel menimpali.

__ADS_1


Tirta tersenyum kecil, senyum yang selama ini bahkan tak pernah Dita dan Daniel temui. Sikap Tirta selalu dingin selama ini, bahkan untuk menjumpai senyum hangat Tirta, rasanya itu tak mungkin.


"Aku mengerti, pa. Papa dan mama bisa menghukumku langsung, jika aku berani memperlakukan Hana dengan kasar lagi. Maaf, aku tak akan pernah bisa meminta maaf atas semua kesalahan yang pernah aku lakukan." Untuk yang ke sekian kalinya, Tirta meminta maaf pada keluarga istrinya.


"Aku mengizinkan putriku kembali padamu. Dua bulan adalah waktu untukmu bisa membuktikan kesungguhanmu." Tegas Daniel.


"Saya mengerti." Tirta menjawab dengan senyum. Hingga kemudian Hana tak memiliki pilihan lain selain ikut dengan suaminya. Saat itulah, Hana memutuskan untuk memperlakukan Tirta, seperti dulu Tirta memperlakukan dirinya. Hana akan membalas lelaki itu.


**


Malam telah larut. Hana tak pernah menyangka, ia akan terjebak dalam kamar utama yang dulu juga pernah menjadi tempatnya menangis nyaris tiap hari.


Sedikitpun, wanita yang masih menyandang nama Rahardja di belakang namanya itu, tak mampu memejamkan mata. Ia terlalu risau, dan gelisah tanpa sebab.


Tirta telah pergi selepas kedatangan dirinya di rumah ini. Entah apa yang dia lakukan di luar. Hanya saja, Haikal memberinya kabar bahwa Tirta tengah mengurus sesuatu di luar sana. Dasar lelaki penggila kerja. Bahkan setelah perjalanan dari sini ke Aussie, hingga kembali menempuh perjalanan dari Aussie kemari, tetap saja Tirta seolah tak merasakan lelah. Pria itu pantas disebut workaholic sejati.


Kening Tirta berkerut, saat tak mendapati istrinya di ranjang. Mata tajam Tirta melirik ke arah balkon, mendapati Hana tengah berdiri disana seraya menatap langit yang bertabur bintang. Gaun tidur yang dikenakannya, sesekali berkibar pelan ketika angin malam berhembus. Tirta memutuskan untuk menyusul Hana.


"Mengapa belum tidur? Malam sudah larut, ayo masuk. Angin malam tak bagus untuk kesehatanmu." Ucap Tirta tiba-tiba, sambil melingkarkan jasnya di bahu Hana yang telanjang. Kulit Hana yang putih, Tirta bahkan tak rela bila ada yang berani menatapnya.


"Aku sedang tak ingin tidur." Jawab Hana, melepas jas dan memberikannya kembali pada Tirta dengan gerakan kasar. Wanita itu lantas berbalik dan meninggalkan Tirta di balkon.


'Sikap dinginmu ini, aku tak keberatan menerimanya, Hana. Aku harap kau benar-benar mampu menerima diriku suatu saat nanti.'


Batin Tirta.

__ADS_1


Pria itu lantas menyusul Hana, menutup pintu balkon serta tirainya. Ia perlu membersihkan diri dengan air hangat. Dengan gerakan pelan, Tirta membuka dasi, kancing lengan, dan kancing bajunya. Hana yang memiliki kesempatan untuk menatap Tirta, memandang suaminya itu yang tampak lelah.


Wajah Tirta sangat sayu dengan kantuk yang begitu kentara, tak sedikitpun membuat Hana iba. Alih-alih iba, Hana justru merasa bersyukur melihat Tirta yang mirip disebut seperti zombie.


"Aku akan membersihkan diri dulu." Ujar Tirta seraya meletakkan jam tangannya di atas meja rias Hana.


"Aku tak peduli." Sahut Hana seraya meraih ponselnya di atas nakas. Ia memang sulit terlelap. Hanya saja, melihat Tirta juga bukanlah hal yang Hana inginkan.


Tirta berlalu ke kamar mandi dengan perasaan yang sulit ia artikan. Sikap dingin Hana, seperti telah menusuk hatinya secara perlahan. Apa yang harus Tirta lakukan? Menurut Tirta, ia hanya perlu waktu dan bersikap baik, agar Hana bisa luluh dan menerimanya kembali.


Usai membersihkan diri, Tirta segera menggunakan piyama kimono berwarna putih, dengan motif bunga berwarna emas. Lelaki itu duduk di samping Hana, menatap istrinya yang masih sibuk memainkan ponselnya. Saat melirik, Tirta melihat Felix yang terpampang disana.


"Aku menyuruh Johan untuk mengurus akta kelahiran Felix, secepatnya." Ucap Tirta seraya melirik Hana yang masih acuh. Hanya sebuah deheman sebagai jawaban.


"Letakkan ponselmu diatas nakas, mari kita tidur dan aku akan mematikan lampu. Ini sudah malam. Harusnya kau istirahat agar tubuhmu segar besok pagi." Ujar Tirta lagi.


"Kau ini kenapa?" Tanya Hana. Wanita itu lantas meletakkan ponselnya diatas nakas sesuai dengan apa yang Tirta katakan.


"Aku tak suka kau mengatur-atur hidupku. Berhenti mengurusiku, Tirta. Kembalilah ke karaktermu semula."


"Maaf, Hana. Aku tidak bisa. Aku tak bisa kasar seperti dulu lagi. Kau harus tahu itu." Jawab Tirta.


"Bukankah kau membenci wanita cantik sepertiku? Mengapa kau tak bisa kejam seperti dulu? Kemana hatimu yang tirani itu?" Tanya Hana mencibir.


"Hatiku yang Tirani telah mati, Hana. Ketahuilah, aku benar-benar mencintaimu." Tirta menguraikan isi hatinya yang terdalam.

__ADS_1


**


__ADS_2