
Sakit 2
"Ketahuilah, Tirta. Jangankan untuk mengurus dirimu. Bahkan bila aku hanya sekadar mengambilkan kau minum, aku tak akan sudi."
Tirta mengunyah makanan yang terasa hambar di mulutnya. Pasalnya, Lelaki itu terus terngiang-ngiang kalimat istrinya yang menghujam tepat di dalam hatinya. Sakit yang Tirta rasakan pada tubuhnya, nyatanya tak seberapa parah bila dibandingkan dengan sakit pada hatinya.
Beginikah rasanya patah hati? Beginikah rasanya dihempaskan ketika angan sedang tinggi-tingginya melambung? Tirta menyimpulkan, bahwa ini adalah karma dirinya yang dulu telah menyakiti ibu dari putranya itu.
'Sesakit inikah mencintai?'
Tirta bergumam di dalam hati.
Beruntung, tawa dan senyum Felix adalah penyemangat untuk Tirta, agar Ia tak putus asa dalam meraih hati Hana. Dengan sikap hangat dan lembut Tirta, Tirta yakin, Hana akan luluh suatu saat nanti. Wanita pada dasarnya memiliki hati yang lembut.
Seraya mengunyah makanan yang terasa hambar di lidahnya, Tirta menatap Felix yang masih setia terlelap sambil terlentang. Anak yang manis, tidak rewel dan selalu bergelayut padanya itu, Tirta mana mungkin bisa meninggalkannya?
"Haikal, bawa ini ke dapur. Aku sudah tak berselera lagi," kata Tirta pada Haikal. "Aku akan membahas pekerjaan dulu dengan Johan. Dan aku meminta, pastikan jika Hana makan dengan lahap." Ujar Tirta kemudian. Tak lupa, lelaki itu juga meminum obat.
"Baik, tuan." Ujar Johan kemudian. Lelaki itu lantas berlalu begitu saja dari kamar utama, membawa bekas makan Tirta ke dapur.
"Aku malas untuk ke ruang kerja, Han. Kita bicarakan pekerjaan di sini saja." Ujar Tirta kemudian. "Kau sudah membawa berkas-berkas yang aku minta? Mendekatlah."
"Baik, tuan," kata Johan seraya mendekat ke arah Tirta. Lelaki itu lantas mendudukkan dirinya di kursi rias yang posisinya dekat dengan Tirta. Tak lupa, Johan juga membawa beberapa berkas-berkas pekerjaan, untuk ditanda tangani oleh Tirta.
"Sejak kapan tuan muda tidur disini, tuan?" Tanya Johan kemudian. Lelaki itu menatap Felix yang sangat mirip dengan Tirta.
__ADS_1
"Sejak setengah jam yang lalu. Aku memang meminta Hana membiarkan Felix tidur bersamaku." Tirta menjawab dengan suara sengau.
"Oh ya, tuan. Jangan lupa, besok adalah jadwal pemeriksaan lanjutan kesehatan anda." Johan mengingatkan. Raut wajah Johan mendadak sendu, saat mengangkat topik tentang kesehatan Tirta. Belakangan, Tirta memang sering mudah sakit.
Maklum saja, kehilangan Hana selama dua tahun, membuat Tirta menjadi sosok yang abai terhadap kesehatannya sendiri. Tak hanya itu, Tirta juga tak pernah melewati malam tanpa menenggak minuman keras, seolah-olah, minuman itu wajib bagi Tirta.
Kehilangan istri, nyatanya mampu membuat duni seorang tuan besar Raharja, porak poranda.
"Ya. Atur saja waktunya. Dan aku mohon, jangan biarkan siapa pun tahu, termasuk keluarga Hana dan Hana sendiri." Pinta Tirta. Ia sudah final dalam mengambil keputusan ini.
"Lalu, apakah tuan tidak khawatir, jika suatu saat nyonya tahu semuanya? Cepat atau lambat, nyonya pasti akan tahu, tuan. Bahkan sekalipun saya dan Haikal menutup mulut rapat-rapat. Katakan saja yang sejujurnya pada nyonya besar." Johan berusaha memberikan pendapatnya.
"Tidak, jangan katakan apa pun pada Hana. Aku pasti sembuh tanpa memberi tahu Hana. Biarkan saja. Wanita itu, aku perlu bekerja keras untuk bisa meluluhkan hatinya. Aku tak mau bila nanti, Hana akan iba dan sekedar kasihan padaku, Han, hingga ia menerimaku dan memaafkan aku. Aku tak mau itu terjadi. Biarkan seperti ini saja. Jika Hana berubah menerimaku dan bisa mencintaiku, itu murni karena dari hatinya, bukan karena iba." Pinta Tirta.
Lelaki itu, setiap membicarakan Hana, pasti keringat dingin bermunculan di pelipisnya. Itu adalah pengaruj emosinya yang ia miliki.
"Tuan, anda tak baik-baik saja." Johan menatap penuh khawatir pada Tirta. Namun Tirta acuh saja, dan membiarkan Johan kepikiran. Apa aku panggilkan dokter Ida kemari sekarang?"
"Aku baik, Han. Berikan itu padaku, biar aku pelajari nanti malam dan menanda tangani jika sudah benar dan sesuai yang aku harapkan." Pinta Tirta.
"Silakan, tuan." Johan mengangsurkan berkas yang Tirta minta.
"Jangan lupa, Han. Katakan pada dokter Ida, bahwa besok jadwal kunjunganku ke rumah sakit. Katakan padanya untuk hadir serta dengan dokter ahlinya. Aku tak ingin setengah-setengah dalam meraih kesembuhan," pinta Tirta.
"Tentu saja, tuan." Johan menjawab dengan tersenyum. Senyum yang hanya ada untuk Tirta, dan juga untuk wanitanya.
__ADS_1
"Jika aku sembuh nanti, aku berjanji akan membahagiakan Hana hingga Tuhan memanggil aku, Han. Kau harus menjadi saksi atas janjiku ini." Tirta menatap Johan, dengan semangat yang membara.
**
Di lain tempat, Ronnie dan Joshua bertemu. Keduanya kini tengah duduk di sebuah minibar di rumah lama Joshua. Seperti biasa, kepulangannya kali ini, tentu saja atas paksaan Ronnie.
"Apa kabar, brother? Bila aku perhatian, kau tampak semakin tampan saja. Pandai sekali istrimu mengurusmu. Apakah di Texas istrimu hanya menyuruhmu di dalam rumah saja?" tanya Ronnie, yang kini tengah duduk di depan Joshua. Jarak keduanya hanya terpisah oleh meja. dan keduanya sama-sama menatap jenaka.
"Ya, begitulah jika mendapat istri yang penyayang. Oh ya, bagaimana kabar si Tirta? Sahabat kita yang tirani itu. Apakah dia benar-benar sakit?" Tanya Josh sambil meneguk minuman yang ia buat sendiri.
"Ya, aku dengar dari Haikal, si kepala pelayannya berkata begitu. Entah, aku tak tahu dia sakit apa. Maka dari itu aku menyuruhmu kemari. Kita bisa menjenguk Tirta sama-sama." Ronnie berkata dengan ringan.
"Anak itu, selalu menyusahkan. Sudah aku bilang, ia tak bisa menganggap semua wanita sama rata. Jika sudah ditinggal istrinya selama dua tahun, baru tahu rasa." Joshua mendesah berat. Entah mengapa, ia jengkel sekali saat mendengar kabar dari Ronnie, bahwa Tirta kacau akibat ditinggal istrinya. Dulu saja, Tirta jahat pada Hana.
"Oh, aku lupa memberikan kabar rupanya. Gihana, istri Tirta itu sudah kembali. Dia juga sudah melahirkan anak yang katanya sangat mirip dengan si bedebah itu. Aku penasaran dengannya. Namanya pun aku belum tahu." Ronnie kembali bersuara.
"Apa? Kau yang benar saja?" Tanya Josh terkejut.
"Jika kau tak percaya, aku akan membawamu besok kesana." Ronnie menjawab santai. Pria itu lantas meraih toples kue dan memakan isinya. Keduanya lantas berbincang, membicarakan tentang rencana mereka untuk mengunjungi rumah Tirta.
**
Hai buat semua, jangan lupa tetap dukung karyaku yang amatiran ini, ya. Aku seneng banget kalau ada yang nangkring komen, apalagi komen positif. Jangan bosan-bosan, ya.
Jangan lupa juga baca karyaku yang lain, dan juga minta maaf kalau banyak typo. Apalah daya, masih belajar juga. Bagi yang suka banget sama kisah Hana dan Tirta ini, jangan lupa untuk kasih ulasan ya. Like nya juga di tunggu. Terima kasih.
__ADS_1
Salam santun dari Istia 🙏😍.