
Bahagia yang perlahan datang.
Suasana ruangan yang semula datar dan biasa saja, kini mendadak mencekam. Johan yang memang acuh terhadap urusan Ibu dan dua anak disana, melirik reaksi alami Tirta ketika diusik. Jangan tanya bagaimana Tirta menatap ibu dan adiknya di hadapannya, tajam bak menghunus tepat pada Amira, seakan menelanjangi dosa wanita itu.
Lelaki yang menjadi majikan Johan itu, masih tak bersedia mengalah sama sekali.
"Aku tak pernah berharap kau bersujud di kakiku sebagai anak, Nak. Tetapi perlu kau tahu, aku kembali mencarimu, dengan maksud ingin memperbaiki hubungan dan membangun kembali kasih sayang untukmu. Aku tahu, aku bukan wanita baik di masa lalu, itulah sebabnya aku datang dengan segala kerendahan hati dan kerendahan diri untuk mengiba maaf padamu," ungkap Amira kemudian.
Inilah akhirnya, Amira yang angkuh dan arogan di masa lalu, pada akhirnya sukarela merendahkan harga dirinya, semua sebuah maaf. Mimpi buruk setiap malam tentang Tirta yang menuntutnya, seolah terus terngiang dalam kepala wanita itu.
Amira masih ingat, saat lebih dari tiga setengah dasawarsa yang lalu, ketika ia meninggalkan Tirta. Saat itu, karakter, pembawaan, insting dan kharisma Tirta mulai terbentuk. Putra Rahardja itu begitu kuat jika sudah berpendapat dan berkeinginan.
Bahkan mendiang ayahnya pun, Tirta sanggup meluluhkan. Namun belum tentu orang tuanya sanggup meluluhkan Tirta balik.
Tatapan istri mendiang Manovti itu seolah bernostalgia dengan masa lalu. Bagaimana tangis Tirta, bagaimana ketika Tirta meraung, meminta pada dirinya agar tidak ditinggalkan. Padahal Tirta sudah berteriak, untuk menyuruhnya berhenti, dan lagi selama itu Tirta adalah anak yang penurut dan tidak nakal.
"Kau seorang nyonya besar yang tak seharusnya merendahkan dirimu. Mengiba padaku hanya demi sebuah maaf, aku rasa itu bukanlah karaktermu," jawab Tirta.
"Sekarang pergilah. Aku tak ingin bicara dan membahas apapun lagi saat ini. Aku perlu istirahat," sambungnya lagi.
Amira mengangguk, menatap putra bungsunya penuh permohonan agar tak mendebat Tirta. Beruntung, Jefry masih sanggup menahan egonya kali ini.
"Baiklah. Aku pamit pulang. Mungkin malam nanti aku akan kembali. Selamat beristirahat," Timpal Amira sebelum wanita itu berbalik pergi, meninggalkan Tirta yang masih berusaha mengontrol emosinya.
Baru saja Amira pergi, belum sampai lima menit, Gihana Atmadja kembali datang. Seingat Tirta, wanita yang sebagai mantan istrinya itu, baru pergi satu setengah jam yang lalu. Lantas, kedatangannya kemari, mau apa lagi?
__ADS_1
Tak hanya itu, kening Tirta dibuat mengerut keheranan, karena Hana membawa sebuah koper kecil yang ia seret. Tirta pun menatap Johan yang juga menatap ke arahnya. Keduanya saling melempar tanya.
Ada apa lagi Gihana datang kemari?
"Hai, Tirta. Maaf aku terlambat. Mungkin aku akan menginap disini saja selagi kau sakit," kata Hana kemudian.
Suasana hati Tirta yang tadinya memburuk, kini seolah berganti dengan banyak bunga bermekaran dalam hatinya. Gersang yang semula membuatnya nyaris mati, seolah kembali basah oleh embun cinta.
"Tetapi aku memiliki pelayan setia yang ku gaji mahal untuk mengurusku. Pulanglah. Kau tak perlu repot-repot merawat dan menjagaku. Felix pasti lebih butuh dirimu dari pada aku. Aku ingin istirahat. Jangan mengganggu!" Seru Tirta, "lagipula aku sekarang bukanlah siapa-siapamu. Aku cukup tahu diri aku siapa. Kau tak menginginkan aku sejak dulu. Kau sendiri yang mengatakan bahwa aku, adalah suami yang tak diinginkan."
"Terserah kau mau berkata apa, Tirta. Tetapi yang jelas, aku sedang ingin disini merawatmu," tatapan mata Hana beralih pada Johan, "Han, suruh pulang pelayan yang akan menjaga Tirta. Aku sendiri yang akan menyiapkan kebutuhan Tirta hingga ia sembuh.
"Baik, Nyonya. Saya pamit pergi," pamit Johan.
"Ya, pergilah," sahut Hana, sebelum Johan berlalu pergi dari sana. dan Tirta semakin gemas akan kepercayaan diri dan keras kepala ibu dari anaknya itu.
Aku tak tahu sekuat apa kau bertahan, Hana. Tetapi yang jelas, aku perlu melihat lebih dalam lagi, sebesar apa tekad dan keinginanmu untuk bisa membersamai aku.
Batin Tirta.
"Jangan suka memutuskan sesuatu sesuai kehendakmu saja, Hana. Aku tak suka dipimpin oleh wanita," tegas Tirta kemudian. Mimik wajah lelaki itu teramat sangat serius, hingga membuat Hana harus lebih keras untuk meraih hati Tirta.
Hana ingat, dulu bahkan Tirta seperti ini, ketika di awal pernikahan mereka. Hanya saja, tekad Hana terlalu kuat untuk dapat membuat Tirta bertekuk lutut di hadapannya.
"Terserah kau. Yang jelas aku sedang tidak ingin mendebatmu. Titik!" balas Hana dengan percaya diri.
__ADS_1
Hingga Hana telah selesai membereskan semua baju-bajunya, wanita itu duduk pada sebuah kursi yang terletak di samping brankar. Tirta tampak memejamkan mata, mengasah aktingnya untuk pura-pura terlelap.
Dan Tirta menyadari, Hana melangkah mendekat ke arahnya. Benar saja, dada dtieta mendadak merasakan degub yang kencang.
Ditatapnya wajah mantan suaminya itu. Ada rindu yang begitu besar yang saat ini masih Hana rasakan. Padahal menurutnya dulu, ia sangat membenci Hana. Sebuah getaran aneh menelusup ke dalam dadanya.
Aku mencintaimu, Tirta. Sungguh mencintaimu. Aku harap cinta di hatimu untukku itu, masihlah ada.
Batin Hana.
Bahkan dengan Jefry, lebih dari satu dasawarsa yang lalu, Hana tak merasakannya. Kulit Tirta yang seputih kapas karena pucat, ditambah lagi dengan bulu mata lentik dan alis tegas, dibingkai dengan rahang kokoh dan hidung mancung bibir sensual. Bukankah ini menakjubkan?
Lantas, mengapa aku dulu demikian bodoh karena menolaknya mentah-mentah, padahal Tirta sudah menawarkan hidup bersama, sejak dulu? Bahkan aku tak memberinya kesempatan sama sekali, meski ia berkali-kali menawarkan rumah tangga yang berhasil.
Batin Hana.
Di tempatnya, Tirta merasa bahwa dirinya sangat bahagia. Serupa beribu-ribu kupu-kupu kecil yang beterbangan diatas perut dan kepalanya. Tirta terlena.
Hana pun terlalu larut dalam sebuah rasa di hatinya, hingga ia melewatkan momen, di mana wajah Tirta merah merona.
"Tirta, jika kau tak tidur, mungkin aku tak akan pernah sudi mengatakan ini padamu. Aku bahkan tak pernah segila ini dalam mencintai seorang lelaki. Bahkan dengan Jefry, adikmu, aku tak pernah merasakan kehadiran euforia yang dahsyat seperti ini. Sungguh, Tirta, kehilanganmu cukup menyiksaku. Terutama batinku," ungkap Hana kemudian, dengan suara lirih. Sengaja, Hana meraih dan menggenggam kedua tangan Tirta.
Tirta merasakan dadanya semakin bergejolak hebat. Cintanya, benar-benar merasakan hal serupa dengannya. Andai lelaki itu tak pandai mengendalikan dirinya, mungkin saja saat ini Tirta akan berteriak kegirangan di tempatnya.
Sebuah kebahagiaan perlahan datang, menyertai hidup Tirta dan Hana, meski harus merasakan luka menganga akibat hadirnya Amira Manovti kembali dalam hidupnya.
__ADS_1
**