
Aku sadar mencintainya.
"Hubungi Nyonya Hana dan katakan padanya, untuk menjemput tuan muda Felix dan pengasuhnya, kita tak punya banyak waktu, Kal. Aku akan membawa tuan besar ke rumah sakit," ucap Johan pada Haikal. Lelaki itu panik karena Tirta kembali mengamuk dan pingsan setelahnya.
"Baiklah, Han," jawab Haikal, sambil berlalu pergi memanggil Lila dan Felix, untuk diantar ke kediaman Daniel.
Amira tersedu dalam tangis, akibat ia terlalu terpukul dan merasa bersalah.
"Tirta, bangunlah, Nak. Ini Mama," ucapnya sambil menahan sesak yang mendera dadanya.
"Harusnya anda tidak perlu datang disaat tuan besar sedang sakit begini, nyonya. Lihatlah, bahkan tuan besar kembali kambuh sakitnya. Maaf, saya tidak tahu jika anda memiliki putra seorang dokter ahli penyakit tuan, hanya saja, saya tetap akan membawa tuan besar ke rumah sakit yang menanganinya selama ini," Johan mengangkat Tirta, di bantu dengan beberapa pengawal dan mendudukkan pria itu di atas kursi roda.
"Maafkan aku, Nak Johan. Aku tak tahu situasinya akan seperti ini. Aku, izinkan aku ikut ke rumah sakit mendampingi Tirta, putraku. Aku mohon. Aku hanyalah seorang ibu yang tak berdaya dan ingin maaf dari putraku," Amira menatap Johan penuh permohonan. Wanita itu tahu betul, bahwa saat ini Tirta butuh dirinya.
Sedang Haikal, lelaki itu mengemudikan mobilnya dengan gila-gilaan. Tak peduli bila dirinya harus menerobos lampu merah dan di klakson oleh para pengendara lain. Ia harus segera menitipkan Felix pada ibunya, agar tetap aman.
Setibanya di rumah Daniel, Haikal segera membawa turun Felix, menggendongnya menuju ke arah Dita yang tengah menyambutnya. Lihat saja, bahkan Dita demikian ceria saat mendapatkan kunjungan dari cucunya, Felix.
"Haikal, bukankah baru kemarin Felix kemari, apakah dia meminta kemari lagi?" Tanya Dita yang tersenyum cerah.
Hana yang baru keluar, segera menghampiri Haikal dan membawa Felix dalam gendongan.
"Kau mengapa seperti tegang begini, Kal? Ada apa? Apakah terjadi sesuatu?" tanya Hana pada Haikal. Lila yang baru mengeluarkan barang-barang Felix, segera menghampiri Haikal.
"Maaf, nyonya. Tuan besar kembali masuk rumah sakit untuk yang ke sekian kalinya. Dengan sangat berat hati, Tuan meminta saya untuk menitipkan Tuan muda Felix pada anda," jawab baiklah sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
"Memangnya sakit apa dia? Mengapa aku tak tahu? Kenapa kau tidak memberitahu aku dan menyembunyikannya? Apakah sakitnya parah?" tanya Hana lagi.
__ADS_1
Haikal tampak berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan Hana. Bukankah seharusnya Hana tahu semuanya. Persetan andai nanti Haikal dimusuhi oleh Tirta, Haikal tak akan keberatan, asal Hana bisa tahu dan bersedia kembali pada Tirta.
"Maaf, nyonya. Tetapi disini tuan besar yang meminta saya untuk menyembunyikan semuanya, sebelum beliau menceraikan anda. Beliau mengidap neuralgia oksipital, dimana beliau sering mengeluhkan nyeri di kepalanya," jawab baiklah kemudian.
"Apakah itu penyakit yang parah dan mematikan?" Dita bertanya penuh khawatir.
"Saya tak tahu itu mematikan atau tidak, nyonya. Hanya saja, sepertinya memang parah. Beliau tak bisa menjaga kesehatannya selepas bercerai dengan nyonya Hana, selalu tertekan dan terus mengonsumsi minuman keras nyaris setiap hari. Bahkan, rokok yang sudah lama tak Tuan sentuh, kini Tuan kembali menyentuhnya. Itu juga yang menyebabkan penyakit Tuan semakin parah," ujar Tirta apa adanya.
"Aku akan ikut denganmu, Kal. Biar Lila dan Mama yang menjaga Felix," ungkap Hana sambil menyerahkan Felix pada Lila, sebelum berlari ke dalam rumah dan mengambil dompet dan ponselnya.
Haikal tersenyum kecil, saat mendapati reaksi Hana yang agak panik. Bisa dipastikan, Hana dan Tirta memang benar-benar saling mencintai. Hanya ego dan harga diri mereka lah yang terlalu besar.
"Putriku masih mencintai Tirta, Haikal. Hanya saja, ia masih dendam dan marah pada Tirta, belum memaafkan suaminya itu sepenuh hati. Aku mohon maklum atas putriku itu. Tetapi aku sendiri tak bisa mencegah perceraian itu, karena Tirta yang tidak mau menemui aku dan Daniel sejak saat itu. Aku titip Hana, mungkin saja, dengan begini bisa menyatukan kedua orang tua Felix itu untuk bersatu lagi," kata Dita.
"Semoga saja, nyonya," jawab Haikal lirih.
Suasana mendadak hening. Lila juga sudah masuk ke dalam, ke kamar Felix yang memang sudah disediakan oleh Daniel di rumahnya.
"Ma, jika Papa datang, katakan aku sedang menjenguk Tirta di rumah sakit."
"Ya, pergilah. Sampaikan pada Tirta bahwa Mama minta maaf karena belum bisa menjenguknya," sahut Dita kemudian.
Hana mengangguk, sambil terus berlalu mengekor dibelakang langkah Haikal.
**
Suasana rumah sakit sedikit lengang hari ini. Tirta yang baru saja keluar dari ruang UGD, segera dipindahkan ke ruang ICU mengingat kondisinya yang semakin memburuk. Dokter ahli dalam rumah sakit itu sudah mengupayakan yang terbaik, namun kondisi Tirta masih kritis.
__ADS_1
Betapa luluh lantak rasanya tubuh Hana, saat mendapati Tirta berbaring tak sadarkan diri di ranjang pesakitan itu. Tubuh atas Tirta bertelanjang dada, dengan beberapa selang kecil yang menempel di beberapa bagian dada, punggung dan kepala.
Fakta yang baru saja terungkap, setelah Tirta mendapatkan penanganan serius, dari beberapa dokter ahli yang sudah dihubungi Amira, termasuk Jefri, adik Tirta sendiri.
Tak hanya neuralgia oksipital yang Tirta derita. Lelaki itu juga rupanya mengidap penyakit lain yang selama ini baru diketahui banyak orang.
"Hana?" sapa Jefry yang baru keluar dari ruangan Tirta. Lelaki itu tampak kuyu, dengan mata yang tampak sembab. Bayangkan saja bagaimana kacaunya Jefry, saat Amira menjelaskan satu jam yang lalu, bahwa Tirta adalah kakaknya. Terlebih, Amira sampai bersujud pada Jefry, agar membantu kesembuhan kakaknya itu.
"Jef? Kau, kau yang menangani Tirta?" Tanya Hana kemudian.
"Ya, aku yang menanganinya. Kau, bukankah kau dan ... kakakku, sudah berpisah?" tanya Jefry yang masih asing dengan menyebut Tirta sebagai kakaknya.
"Tirta, Tirta kakakmu?" tanya Hana tak percaya.
"Ya, saudara satu ibu beda ayah. Kau mengunjunginya?" tanya Jefry kemudian, yang mendapat anggukan dari Hana.
"Bagaimana kondisi Tirta, Jef?" tanya Hana lagi, yang sangat penasaran.
"Untuk apa kau bertanya, Hana? Bukankah kau berkata bahwa kau tidak mencintainya?" Jef tak habis pikir dengan tingkah Hana. Bukankah seharusnya Hana tak peduli pada Tirta?
'Jadi selama ini, kau masih mencintainya, Hana? Bukankah kau mengatakan bahwa kau tak mencintainya? Aku percaya Jane, dia tak mungkin berbohong padaku. Ya Tuhan, aku semakin bersalah pada saudaraku.'
Batin Jefry.
Pertanyaan Jefry, berhasil membuat Hana bungkam. Wanita itu baru sadar dan mengakui, jika dirinya masih sangat membutuhkan dan mencintai Tirta.
Egonya selama ini terlalu tinggi, dengan harga diri yang tak bisa digapai. Sekarang bila sudah Tirta berada diambang hidup dan kematian, barulah Hana menyadari, apa arti Tirta dalam hidupnya.
__ADS_1
"Tidak, Jef. Dulu aku tidak mencintainya. Tetapi setelah tahu rasa sakitnya demikian nyaris membunuhku, setelah tahu Tirta mengalami kesakitan seperti itu, aku baru sadar, bahwa cintaku hanya untuk Tirta," jawab Hana sambil berlinangan air mata.
**