Unwanted Husband

Unwanted Husband
Episode 29


__ADS_3

Suami yang tak diinginkan


Hana tengah duduk di depan meja rias, seraya membersihkan wajahnya dengan menggunakan kapas wajah. Malam ini, wanita itu terlihat tak biasa di mata Tirta. Ada gelagat bahagia yang diam-diam Tirta lihat, meski Hana selalu bersikap dingin pada lelaki itu.


Mungkin ikatan batin, Tirta tak juga mengerti dengan istrinya itu. Tirta seolah ikut merasakan apa yang tengah Hana rasakan, termasuk aura kebahagiaan yang Hana miliki.


"Kau cantik sekali malam ini, Hana. Kulihat kau juga sedang bahagia. Ada apa?" tanya Tirta kemudian.


Hana menoleh sekilas, sebelum kembali sibuk membersihkan wajahnya.


"Bukan urusanmu, Tirta. Aku bahkan tak pernah mencampuri urusanmu, jadi jangan ikut campur urusanku." Hana menjawab, masih dengan nada judes dan wajah yang terlihat membenci.


"Kau istriku, mana mungkin apa yang menyangkut tentangmu, bukan urusanku?" Tirta berkata dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Status kita hanyalah suami-istri diatas kertas, Tirta. Jadi jangan coba-coba melewati batasanmu. Aku sudah peringatkan sebelumnya, bahwa aku tak lagi sudi menjadi istrimu. Kau saja yang keras kepala." Hana mencibir Tirta.


"Hana, dengarkan aku. Jangan bicara begitu lagi, oke? Ada Felix yang harus kita pikirkan masa depan, dan kasih sayang untuknya." Tirta menatap istrinya, memandang Hana dengan kilat emosi yang rumit.


"Felix tak akan kurang kasih sayang, sudah aku bilang, kau bisa mengunjungi dia sesempat dan sesuka hatimu. Mari bercerai dan biarkan aku bebas." Hana berkata, dengan ringannya.


"Sayangnya, aku tak akan membiarkan itu terjadi. Sudahlah, Hana. Jangan memancing pertengkaran, aku tak ingin ribut denganmu. Kau baru pulang dari Aussie, mari kita ciptakan hubungan yang lebih baik lagi ke depan." Tirta mencoba kembali bernegosiasi. Sayangnya, Hana adalah Hana dengan sifat congkaknya yang kini telah kembali ke permukaan.


"Kita lihat saja nanti. Oh ya, besok malam aku ada acara reuni dengan teman-teman sekolahku dulu. Aku perlu hadir kesana." Hana berkata dengan suara datar.


"Baiklah. Aku akan usahakan untuk sembuh. Beli baju baru sekalian untuk kita dan Felix." Tirta memerintah. Ia berharap, sejak saat ini hubungannya dengan Hana bisa berangsur membaik.

__ADS_1


Hana yang menyadari bahwa Tirta berniat ikut, segera menghentikan gerakannya. Wanita itu lantas memutar badannya, dan beralih menatap Tirta.


"Aku akan datang sendiri. Jangan membatasiku dengan kemana-mana harus denganmu. Aku tak sudi pergi bersamamu." tukas Hana.


Bak tombak dengan ujung yang lancip, mengenai dada Tirta. Lelaki itu demikian sangat sakit, dengan penolakan yang Hana berikan padanya. Siapa yang mengira, rupanya sesakit ini saat berharap, namun dihempaskan begitu saja.


Sakit dan luar biasa sesak.


"Mengapa? Kita akan pergi ke sana dengan membawa serta Felix." Tirta kembali berusaha membujuk, menggunakan Felix agar Hana bisa luluh. Sayangnya, ia salah besar.


"Dan memperlihatkan kepada seluruh dunia, bahwa rumah tangga yang bobrok ini baik-baik saja? Tidak, Tirta. Aku tak pernah menginginkan kau sebagai suamiku." Hana berkata dengan tenang. Raut wajahnya juga datar, tapi mampu membuat Tirta nyaris mati akibat sensasi sesak.


"Jangan pernah meminta lebih padaku, Tirta. Ingat satu hal, aku kembali padamu, semata hanya karena aku menuruti keinginan orang tua dan juga Om Kara, yang sudah menolongku dan Felix. Aku akan berangkat sendiri, tanpa dirimu, dan juga tanpa Felix. Berikan nilai untuk dirimu sendiri, jangan meminta lebih dariku. Seperti apa kau dulu memperlakukan aku, maka seperti itulah aku akan berlaku padamu." Hana menambahkan.


Wanita itu lantas bangkit dan berlalu pergi ke ruang ganti, mengganti pakaiannya dengan piyama dan bersiap untuk tidur.


Kepala Tirta yang terasa pening, semakin terasa berat dan terasa mau pecah. Wajah Tirta juga kian pucat pasi, memperlihatkan kulitnya yang seputih kapas. Lantas, kemana sifat Tirani yang selama ini ia agung-agungkan?


'Teganya dirimu, istriku. Aku bahkan mengharapkan hubungan suami istri ini agar segera membaik. Ya tuhan, sesakit inikah saat perasaan dengan kejamnya dihempaskan?'


Tirta membatin.


Hingga kemudian Hana keluar dengan piyama kimono berwarna kuning gading, Tirta masih bungkam, masih setia menatap Hana yang tak peduli terhadapnya sedikit pun. Inilah akhirnya, Hana benar-benar tidak menginginkan Tirta.


Hana yang menyadari bahwa Tirta tidak sedang baik-baik saja, hanya memalingkan muka. Ia tak mau suaminya itu besar kepala dan merasa bahwa Hana peduli padanya. Hana tak ingin itu terjadi.

__ADS_1


"Hana, mari kita bicara." Ajak Tirta kemudian. Lelaki itu menepuk ranjang disebelahnya. "Duduklah sebentar. Kita perlu berbincang."


"Jangan lama-lama, Tirta. Aku lelah dan tak punya banyak waktu." Jawab Hana dingin.


"Kau, apakah kau akan bertemu dengan seseorang spesial, hingga tak bersedia aku ikut denganmu?" Tirta bertanya.


"Ya, mereka adalah teman-temanku yang spesial. Ketahuilah Tirta, mereka bahkan lebih baik daripada kau." Hana menjawab tanpa perasaan. Wanita itu benar-benar tak bisa mengendalikan mulut tajamnya itu.


"Kumohon padamu, Hana. Kita perlu bicara baik-baik untuk menjalin komunikasi. Kau ingin aku bagaimana, mari kita bicarakan agar rumah tangga kita baik-baik saja." pinta Tirta dengan suara lirih.


"Sudahlah, Tirta. Aku tak ingin apapun lagi setelah ini, selain perceraian. Antara aku dan kau, tak ada kecocokan. Lebih baik, kau cari wanita yang lebih baik dariku. Aku, bukanlah istri yang kau inginkan." Hana meraih ponsel dan pandangannya fokus pada ponselnya itu.


Entah mengapa, hatinya merasa enggan bila harus berdekatan dengan Tirta. seperti ada jarak tak kasat mata yang terjalin.


"Dan aku bukan suami yang kau inginkan? Begitukah?" Tanya Tirta.


"Ya. Kau sudah tahu tentang itu. Jadi aku tanya padamu, apa gunanya kau menarik diriku lagi ke rumah ini? Jika kita berumah tangga dan hanya saling menyakiti, bukankah alangkah baiknya bila kau dan aku tak saling bersama, Tirta? Kita hanya akan saling menyakiti." Hana menjawab lirih.


"Apa kau tidak tahu, betapa tersiksanya aku saat melihatmu dan mengingat masa lalu?"


"Aku minta maaf untuk itu, Hana. Aku mohon, maafkan aku. Aku tak peduli harus berapa kali pun aku bersujud padamu. Demi maaf, aku rela melakukan segalanya. Kumohon, mari kita perbaiki hubungan." Tirta mencoba mengiba, berharap Hana mau mengerti.


"Hubungan ini sudah hancur dari awal, Tirta. Lantas, apanya yang mau diperbaiki? Dengar, jika kebersamaan hanya saling menyakiti, lantas untuk apa? Sudahlah, sebaiknya kita akhiri saja semua." Hana tetap teguh pada pendiriannya.


"Andai aku pergi jauh dan tak nampak lagi di pelupuk matamu, apa yang akan kau lakukan, Hana?" Tirta bertanya tepat sasaran. Namun karena ego dan gengsi Hana yang tinggi, Hana berhasil meluluh lantakkan semangat Tirta untuk sembuh.

__ADS_1


"Itu lebih baik, Tirta. Mungkin, akhirnya aku akan lebih bahagia." Jawab Hana kemudian.


**


__ADS_2