
Sebuah seringai licik dibibir Fani
" Kamu kejar kembali Cherry bawa dia pergi sejauh mungkin , pastikan untuk tidak bertemu dengan Franky lagi, aku akan menyelesaikan apa yang sudah aku siapkan , pasti nya hadiah terindah untuk Franky, hehehehe" tawa Fani dengan licik
" Tanpa kau minta pun,aku akan mengejarnya kembali" kata David seraya meninggal rumah Rita
" Kakak kenapa menyuruh David mengejar Cherry lagi" kata Rita mendengus kesal , alih-alih mendapatkan David malah sekarang David harus kembali pada Cherry
" Ya..untuk membantu aku mendapatkan Franky, hahahaha" kata Fani dengan bahagia
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Setelah sampai di apartemen, Franky mengendong Cherry kekamar nya untuk membersihkan diri
"Kakak tunggu diluar dulu , aku mau mandi" kata Cherry mengusir Franky secara halus
"Ini apartemen ku , terserah aku donk mau tunggu dimana" katanya dengan menggoda Cherry
" Aku mau mandi, kalau kakak dikamar , gimana aku bisa mandi nanti" tanya Cherry polos
" Mandi saja dikamar mandi dan kunci , apa salahnya?" jawab Franky
Cherry yang kesal akhirnya masuk dan mengambil baju ganti dan masuk kedalam kamar mandi
Franky yang awalnya hanya duduk disofa , sangat khawatir kepada Cherry, takut dia terjatuh dan sakit , akhirnya berdiri didepan kamar mandi sambil menunggu Cherry selesai mandi
"KREEK"
Pintu kamar mandi terbuka , baru saja Cherry mau keluar , betapa terkejutnya dia melihat Franky berdiri didepan pintu kamar mandi
" Kakak sejak kapan disitu? mengagetkan saja" Kata Cherry kesal sambil berjalan pelan ke arah meja rias , kemudian Franky memapahnya duduk dimeja rias kemudian mengambil hairdryer dan mengeringkan rambut Cherry
"Apa dengan memarahi ku , sakitmu bisa hilang?jika iya , lakukanlah..aku siap dengan amarahmu hahaha" Franky terus mengolok Cherry sambil mengeringkan rambut Cherry
" Sudah kering" kata Cherry lalu mengambil pelembab dari tas nya kemudian memakaikan nya
Franky melihat alat kosmetik yang dia beli masih tersegel utuh , "Kenapa enggak pakai yang ini aja?" tanya Franky sambil mengambil kosmetik dimeja rias
" Bukan punyaku" kata Cherry jujur
" Katakan sekali lagi" kata Franky serasa duduk disamping Cherry
" Kosmetik ini bukan punyaku" ucap Cherry tegas , namun Franky tiba-tiba menciumnya ,
" Barang yang ada di apartemen ini dan dikamar ini adalah milikmu , aku yang membeli nya untuk mu , kamu berhak dan wajib memakainya, mengerti?" kata Franky menatap wajah Cherry tanpa berkedip ,
Cherry menunduk dan terdiam
" Ada apa?" tanya Franky heran , tangannya memegang dagu Cherry dan mengangkatnya menghadap wajahnya
__ADS_1
"Katakan apa yang menjadi beban dihatimu , bukankah suatu hubungan harus dilandasi dengan kejujuran agar bisa bertahan?"
" Hah.. kenapa seperti Dejavu bagiku" kata Cherry dalam hati
" Hmmm....aku hanya teringat yang dikatakan Lena tadi" Cherry jujur
" Jadi..apa kamu ingat dengan apa yang sudah aku katakan?" tanya Franky
" Iya"
" Lalu?"
". Aku tidak ingin kejadian dulu dengan David terulang" Cherry mencurahkan apa yang ditakutkan
" Percayalah pada ku, Lena memang menyukai ku , tapi aku tidak mempunyai rasa kepada nya ,bahkan ke wanita manapun, hanya kamu , wanita satu satunya dari dulu sampai sekarang" jelas Franky dengan mencium kening Cherry
" Jika ada wanita lain yang memfitnah ku ,kamu harus percaya padaku , karena kepercayaan dan kejujuran adalah dasar utama suatu hubungan" kata Franky
DDDRRRRTTTTTZZZZ
Ponsel Franky bergetar
"Halo ayah..."Jawab Franky
" Jelaskan...kenapa kamu tidak menemani pak Zhang makan siang?"
Ayah dan Ibu Franky sudah mengetahui hubungan Franky dan Cherry, mereka sangat bahagia dan mendukung
" Hah...jadi itu benar? Ayah dengar Lena menampar Cherry?"
." Iya ayah , aku sudah memblacklist namanya dirumah sakit karena memfitnah aku"
" *A*pa Cherry marah?"
"Tentu saja ayah , bahkan sekarang dia masih kesal dan percaya bahwa aku dijodohkan dari kecil oleh ayah dan ibu" kata Franky pura pura putus asa , mencari perhatian pada Cherry dan sengaja membuka speaker diponselnya
" *B*olehkah ayah bicara dengan Cherry?"
* Tentu Ayah...." lalu Franky menyodorkan ponsel nya kepada Cherry
" Ayah mau bicara denganmu"
Cherry mengambil ponsel Franky
" Halo om..."
"Halo cherry , apa kabar mu?"
" Baik om"
__ADS_1
" *B*agaimana luka tusukan itu?"
" Sudah diobati, Om...dan sekarang udah baikan"
"*B*aguslah kalau begitu dan masalah Lena kamu jangan ambil hati ya, apa yang diucapkan Lena itu tidak benar, nak..dia hanya memprovokasi mu agar meninggalkan Franky, om berharap kamu dan Franky bisa terus bersama selamanya" harap nya
" Iya om..."
" Baiklah ,.jaga kesehatan, Tante kirim salam untuk mu...sampai jumpa Cherry"
" Terimakasih om" kata Cherry menutup telepon dan menyerahkan kepada Franky
Franky meletakkan ponselnya ke meja rias
"Katakan..apa penjelasan ayah tadi membuat mu yakin atau masih kurang yakin?" tanya Franky serius , Cherry dan Franky saling menatap , bola mata Franky melirik kiri kanan mata Cherry
"Iya, aku sudah yakin"
" Bagus..Ayuk kita makan siang" ajaknya
Mereka keluar dari apartemen menuju cafe milik Franky dan mereka menikmati makan siang dengan damai
Saat selesai makan siang , Franky menyelesaikan pekerjaan sedangkan Cherry yang merasa bosan keluar dari ruangan Franky dan menemui Celina
Sejak Cherry sering ke cafe , hubungan dia dengan Celina semakin baik ,
" Cherry..ada apa dengan kakimu?"
" Tak apa kak ,hanya tertusuk pisau"
" Hah..Kok bisa?" Celina terkejut
" Panjang lebarnya tidak usah diceritakan la hahaha"
" Kamu sudah siap ujian, apa kegiatan kamu selanjutnya?"
" Entahlah kak... liat nanti setelah sembuh dari bekas luka ini dulu"
" Oow baiklah... , aku kesana dulu ya , sudah rame pengunjung"
" Baik kak"..lalu Cherry kembali keruangan Franky dan melihat Franky tengah serius dengan beberapa dokumen dimeja nya
Tak ingin mengganggu , Cherry hanya duduk disofa
πΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈπΈ
Ditengah kegundahannya, David mengirimkan Cherry sebuah puisi, puisi yang ditulis sesuai hati nya
Berharap cherry memaafkannya , luluh dan kembali kepada nya.
__ADS_1