Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 9


__ADS_3

Ciiiiiiiiiiiittttttttttttt!!!!


Mobil di depan mengerem mendadak begitupun Alisha sehingga tabrakan bisa di hindari meski kejadian kini memicu kemacetan.


"Ya Tuhan aku masih hidup!!!" Teriak Monik histeris. Dia merasa beruntung terhindar dari kecelakaan itu.


Sementara Alisha sendiri tengah mengatur nafasnya dan masih berada di atas motornya. Seluruh tubuhnya bergetar hebat hingga dia tidak menyadari lelaki paruh baya yang mulai berjalan ke arahnya.


Hampir saja... Runtuknya dalam hati.


"Bagaimana kamu ini!!!" Umpatnya kasar. Alisha mengangkat kepalanya dan menatap wajah geram lelaki tersebut.


"Ma maaf Pak saya tidak sengaja hiks.." Alisha turun dari motor seraya tertunduk. Meruntuki nasib sial yang malam ini menghampirinya. Bertemu suaminya dengan wanita lain, di tambah dengan kata-kata kasar dari lelaki yang ada di hadapannya, sungguh sanggup menyayat hatinya begitu dalam.


"Jika saya kecelakaan bagaimana tadi!!! Kalau bilang maaf saja enak!!" Monik merangkul pundak Alisha karena merasa tidak terima dengan suara kasar dari si lelaki.


"Bukankah teman saya sudah minta maaf Pak. Bapak lihat!! Dia juga ketakutan!!!


"Lihatlah!! Kalian yang salah karena melewati lajur kiri jalan."


"Saya.. Benar-benar minta maaf Pak hiks hiks hiks."


Tiba-tiba saja, Eldar muncul dan langsung mencengkram erat kerah baju lelaki paruh baya yang lebih pantas di panggil Ayah olehnya. Dean akan melerainya, tapi mana bisa sebab selain perangai Eldar yang dingin, dia selalu arogan dalam bertindak.


Braaaakkkkk!!!


"Kau siapa hingga berani membentaknya seperti itu!!" Monik melongok. Alisha sendiri tertunduk, mendadak linglung, sebab fikirannya tertuju pada perbuatan Tama tadi.


"Dia temanmu!! Dia yang bersalah!! Lalu kenapa kau berbuat ini!! Dasar tidak tahu sopan santun!!!" Cepat-cepat Dean memegang tangan Eldar yang hampir terhempas pada wajah lelaki separuh baya itu.


"El jangan begini." Rajuk Dean kesulitan untuk melerai." Ingat hukumanmu sialan!! Jika tua bangka itu melihatmu bukan kah hukuman itu akan bertambah." Eldar memincingkan mata, menatap seragam yang kini di pakai lelaki itu.


Bibirnya tersungging, seraya melepaskan cengkraman tangannya pada pundak depan si lelaki. Kepalanya mendekat, membisikkan sesuatu yang sanggup meluluh lantakkan ego si lelaki.


"Aku.. Eldar Dirgantara, putra dari Alexander Dirgantara. Kau kenal Abraham bukan? Dia kaki tangan Ayahku dan jika aku sampai mengadukan hal ini padanya. Kau siap kehilangan perkerjaan." Eldar mengangkat lagi kepalanya dan menatap si lelaki yang cukup ketakutan meski belum yakin.


"Ti tidak mungkin." Eldar mengeluarkan dompetnya dan memperlihatkan kartu tanda pengenalnya.


"Belum yakin?" Tanya Eldar tersenyum tipis. Lalu mengeluarkan satu-satunya maskot yang di pakai untuk lambang perusahaan. Sebuah cincin di keluarkan dengan lambang gambar yang sama dengan maskot perusahaan tersebut.


Itu cincin Tuan Alex... Lelaki itu melebarkan matanya seraya menelan salivanya kasar.


"Maafkan saya Tuan."


"Pergi!!!" Teriak Eldar tidak ingin ada seseorang sampai membongkar jati dirinya.


"Tapi Tu.."


"Tutup mulutmu lalu pergi!!! Atau kau ingin aku melakukan sesuatu yang akan menjadi penyesalan untukmu!!" Lelaki itu hanya mengangguk dengan raut wajah ketakutan. Dia masuk mobil dan segera pergi meninggalkan lokasi.


Aku tidak menyangka jika nasibku seburuk ini... Sejak tadi Alisha berkata seperti itu dalam hatinya berulang-ulang. Dia sampai tidak menyadari perdebatan yang terjadi di hadapannya.


"Al.." Ucap Monik menggoyang-goyang kedua bahu Alisha.


"Aku pusing Mon. Aku ingin pulang." Monik menarik lengan Alisha untuk mencegah.


"Tidak! Tenangkan hatimu dulu." Eldar terlihat mulai berjalan ke arah keduanya yang tengah berdebat.


"Aku tidak mengerti kenapa dia memperlakukan ku seburuk itu!! Hanya demi dia!! Wanita gatal itu!! Aku mau pulang!!!" Emosi Alisha selalu tidak terkendali jika menyangkut soal kecemburuan. Apalagi dia sangat membenci Lilis.


Selama ini dia berusaha bersikap tenang karena hanya sekedar menduga. Sementara yang di lihat tadi menjadi bukti kekhawatirannya akan Tama yang memang hobi mengoda wanita.


"Jika kau masih di sini terserah! Aku mau pulang." Dengan gerakan cepat, Eldar mengambil kunci motor Alisha sehingga membuat Alisha mendongak menatapnya." El.. El Dar.. Sejak kapan." Tanya Alisha terbata.


Eldar tidak menjawab, memperhatikan kedua tangan Alisha yang masih gemetar.


"Kembalikan kunciku." Imbuhnya tertunduk. Dia tidak ingin membalas tatapan Eldar yang pasti sedang memperhatikannya.


"Ambil sendiri." Eldar memasukkan kunci Alisha pada saku jaketnya. Alisha mendengus kemudian turun dari motor.


"Ya! Ambil saja motor itu!!" Umpat Alisha benar-benar ingin pulang. Dia meraih ponsel untuk memesan taksi dan dengan tangan panjangnya, Eldar kembali mengambilnya." A maksudmu!!!" Meskipun Alisha tengah berteriak. Namun bagi Eldar, suaranya terdengar lembut.


"Jangan marah-marah terus, nanti darahmu naik." Monik kembali merangkul kedua pundak Alisha erat." Sebaiknya kita beristirahat dulu sampai kamu tenang." Imbuhnya merasa payah sebab Monik tidak bisa membawa motor.


"Bagaimana bisa tenang sih Mon." Jawab Alisha penuh penekanan." Dia.. Huaaaaaaaa." Alisha memeluk Monik yang tingginya sejajar dengannya. Sementara Eldar dan Dean lebih memilih diam meski tingkah laku Alisha sekarang menjadi sorotan sekitar.


"Kau tidak malu Al." Bisik Monik menenangkan, tersenyum aneh ke arah Eldar dan Dean yang fokus ke arah keduanya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Eldar tentu ingin tahu. Pertemuan ketiganya kini, membuatnya semakin yakin jika ada rahasia di balik pertemuan tidak sengaja yang terjadi berulang-ulang.


"Putus cinta." Jawab Monik asal. Dean tersenyum seraya menepuk pundak Eldar lembut.


"Kesempatan bagus." Eldar malah menatap tajam ke arah Dean sebab dia merasa kasihan melihat keadaan Alisha sekarang." Hehe iya maaf." Imbuh Dean tersenyum aneh.


Bagaimana bentuk lelaki yang sudah membuatnya menangis seperti ini. Dia bahkan hampir menghilangkan nyawa milikku dengan kesakitan yang di torehkan nya itu!!!


"Sebaiknya kalian makan bersama kami." Tawar Dean ramah.


"Kamu mau Al?"


"Kita pulang Mon." Sahut Alisha cepat.


"Kau kan tahu aku tidak bisa menyetir." Jawab Monik lemah.


"Pesan taksi."


"Lalu motornya."


"Biar saja di ambil." Jawab Alisha ketus meski matanya tidak berani melihat ke arah Eldar.


"Ish! Serius? Jika Ayahmu marah bagaimana." Alisha terdiam, dia membenarkan itu. Apalagi motor itu pemberian dari Mama Rita.


"Please. Mana kunciku."


"Ku antarkan pulang." Eldar mengambil kunci Alisha dari saku jaketnya dan naik ke motornya." Antarkan dia." Pinta Eldar memberikan kunci motor miliknya pada Dean.


"Tidak. Biar aku ikut temanmu." Meski kenyataan pahit tentang Suaminya terkuak. Alisha tetap tidak ingin memberikan Eldar harapan.


"Hanya aku yang boleh mengantarkan mu pulang." Jawab Eldar menekankan.


"Sudahlah El. Aku berjanji akan menjaganya sampai tujuan." Dean tidak berniat buruk, dia hanya tidak ingin terlalu memaksa setelah melihat keadaan Alisha yang berantakan.


"Lakukan! Jika kau tidak ingin melihat matahari besok!!" Ancam Eldar.


"Hehe iya iya. Em Nona sebaiknya menurut saja, dia tidak seburuk suaranya."

__ADS_1


"Dean!!!"


"Iya ini pergi. Mari." Dean memberi isyarat Monik untuk mengikuti nya namun tangan Alisha mencegah Monik pergi.


"Aku mau asal berdua." Entah kenapa Eldar tersenyum mendengar itu.


"Rumah kalian berdekatan."


"Iya."


"Hm oke baik tapi kau di tengah."


Gleg!!!


Alisha mengurungkan niat untuk naik sebab dia baru memikirkan itu. Motor matik yang memiliki jok minim, harus di naiki tiga orang dewasa dan dia berada di tengah.


"Wah ayo Al." Goda Monik tahu maksud dari senyum simpul yang Eldar perlihatkan.


"Hm aku menyerah. Kita bertemu di gang ya Mon." Ucap Alisha mengedipkan sebelah matanya.


"Oke Al." Monik berjalan menyebrang jalan, menghampiri Dean yang sudah menunggunya sementara Alisha langsung naik ke motornya dengan gerakan kaku.


Bagaimana mungkin aku bertemu dengannya lagi..


"Sudah?" Tanya Eldar memastikan.


"Hm iya." Eldar mulai melajukan motornya. Dean terlihat mendahului keduanya dan Eldar sengaja memelankan laju motornya." Apa kau mengikutiku." Tanya Alisha menebak.


"Tidak. Aku sedang makan malam bersama Dean di restoran dan Tuhan mempertemukan kita lagi dalam ketidaksengajaan." Alisha terdiam, tidak bergeming. Dia menyembunyikan wajahnya pada punggung Eldar yang memiliki postur tinggi. Niatnya ingin menghindari tatapan mata Eldar yang tengah memperhatikannya dari spion motornya." Sudah ku katakan. You are mine. " Ucapan Eldar kembali menyentuh hatinya lembut meski Eldar mengatakannya dengan bahasa kasar." Meski aku kasar tapi aku tulus." Imbuh Eldar menyakinkan.


Alisha tersenyum tipis, dia mengingat ucapan Tama padanya saat pertama kali bertemu.


"Aku tidak mengerti bagaimana ciri-ciri orang yang benar-benar tulus?"


"Apa maksudmu?!!" Tanya Eldar merasa tersinggung.


"Entah apa? Aku pusing dan ingin pulang. Jangan merayuku, aku sedang tidak berselera." Eldar malah tersungging. Mendengar jawaban Alisha yang meninggi.


"Apa kamu percaya jika aku hanya tertarik pada satu wanita, yaitu kamu."


"Omong kosong!!"


"Aku tidak sedang merayu."


"Lalu apa? Aku bosan mendengar kata-kata semacam itu."


"Kau menyamakan aku dengan lelaki di luaran sana?!!!" Alisha terdiam sebab tidak suka dengan bahasa kasar Eldar." Hei.." Panggil Eldar setelah beberapa saat berlalu.


"Bukankah aku sudah menolakmu."


"Lalu? Kau fikir aku akan menyerah? Tidak! Aku bukan orang seperti itu."


"Nada bicaramu bisa di turunkan tidak? Kau kasar sekali." Protes Alisha yang memang tipe wanita perasa.


"Kau membuatku tersulut emosi."


"Ya jangan mengurus ku! Jika tidak ingin emosimu tersulut."


"Bukan itu maksudku."


Tiba-tiba Eldar menghentikan laju motornya, membuat Alisha merasa sedikit panik dan bertanya-tanya. Meskipun Eldar beberapa kali membantunya, dia tetap saja lelaki asing baginya.


"Kenapa berhenti?" Protes Alisha tidak di dengarkan sebab Eldar turun dari sana dan malah duduk di trotoar jalan sementara Alisha masih di atas motor." Kau sedang apa?" Tanya Alisha tentu gugup. Menyadari jika Eldar tengah memperhatikannya dari bawah sana.


"Jika tidak suka. Kenapa kau membuang muka seperti itu?"


"Em itu, anu.."


"Kau menyukaiku kan?" Tanya Eldar lagi.


"Tidak."


"Kenapa?"


"Bukankah sudah jelas alasannya. Kau memaksa sekali."


"Aku bukan memaksa, aku sedang berusaha. Coba katakan, apa yang kurang dariku?" Eldar terdorong perasaannya hingga dia kembali merendahkan dirinya di hadapan Alisha.


"Kau aneh." Eldar tersenyum tipis seraya mengusap rambut tebalnya.


"Aku juga merasa aneh pada diriku sendiri. Padahal kau menolak ku tapi aku tetap memikirkanmu dan sakitnya, kau menyamakan aku dengan lelaki lain."


"Kau semakin terlihat aneh. Bagaimana mungkin kau seyakin itu padahal pertemuan kita begitu singkat."


"Apa pentingnya itu Alisha. Aku memikirkan semuanya dengan simpel. Aku menyukaimu dan kau harus jadi milikku."


"Aku tidak mau."


"Aku tidak akan berhenti." Eldar berdiri dan menatap Alisha yang kembali berpaling." Aku tidak main-main!! Kau harus jadi milikku!!" Umpat Eldar kembali naik ke motornya lalu mulai melajukan nya lagi.


Situasi apa sih ini!! Tapi.. Perasaanku menjadi lebih baik setelah mendengar kekonyolannya.. Apa kamu tahu jika aku sudah bersuami? Dan rasanya aku memang tidak ingin dia tahu.. Dia selalu menolongku.. Lelaki yang baik meski sedikit kasar...


Ciiiiiiiiiiiittttttttttttt!!!!


"Aaach!!!" Pekik Alisha saat keningnya membentur punggung Eldar." Ada apa?" Tanya Alisha ingin tahu.


"Di mana rumahmu? Kau melamun terus sehingga tidak mendengar pertanyaanku."


"Cih!!" Umpatnya lirih dan Eldar kembali tersenyum mendengar itu." Turunkan aku di gang saja. Jika memaksa, lebih baik sampai sini saja." Imbuh Alisha menjelaskan.


"Patuh sekali dengan Ayahmu?" Eldar kembali melajukan motornya." Di mana? Katakan?" Alisha mendessah lembut sebelum menyebutkan alamat rumah palsu yang sudah terfikir kan sejak tadi.


"Perumahan Indah raya." Itu adalah perumahan di mana Monik tinggal.


Keduanya tidak bergeming, hingga sampai di tempat tujuan dan ternyata Monik dan Dean masih menunggu kedatangan mereka di sana.


"Kalian tersasar?" Tanya Dean konyol.


Eldar tidak menjawab pertanyaan Dean dan turun seraya memegang kedua setir motor.


"Tidak perlu turun." Pinta Eldar. Alisha memajukan tubuhnya dan memegang setir setelah Eldar mengangkat tangannya dari sana.


"Yuk Mon." Tanpa basa-basi, Monik segera naik ke boncengan Alisha.


"Ponselmu." Eldar memberikan ponselnya namun tidak juga melepasnya ketika Alisha mengambilnya.

__ADS_1


"Apa maksudnya?" Runtuk Alisha menarik lagi tangannya, dia merasa Eldar tengah mempermainkannya.


"Hm dapatkan ponselmu." Tangan kanan Eldar terangkat dan akan mengusap puncak kepala Alisha. Namun Alisha menghindar seraya cepat-cepat merebut ponsel dari tangan Eldar.


"Terimakasih. Bye." Alisha melajukan motornya masuk ke dalam gang.


"Sama-sama." Jawab Eldar lirih, menatap motor Alisha mulai menghilang dari pandangannya.


"Bukankah sebaiknya kita ikuti saja, agar tahu letak rumahnya di mana?" Sahut Dean memecah fikiran Eldar yang tertuju pada Alisha.


"Aku tidak mau lancang."


"Kau punya kekuasaan hei Eldar!!"


"Lalu?" Eldar mengambil kunci dari tangan Dean dan berjalan ke arah motornya.


"Gunakan itu untuk menjeratnya."


"Dia akan jadi milikku tanpa ku jerat." Eldar mulai menaiki motornya dan memasukkan kunci.


"Kalau aku jadi kamu.."


"Aku memang bukan kau!!!" Eldar mendorong kening Dean dengan jari telunjuknya membuat Dean terkekeh." Naik atau kau pulang naik taksi!!" Dean segera naik ke boncengan daripada harus di tinggalkan. Segera saja Eldar melajukan motornya kencang memecah jalan yang minim penerangan.


*********************


"Bagaimana Tam, enak kan?" Tanya Lilis mencoba menggoda Tama dengan bahasa tubuhnya hingga membuat Tama tidak bisa fokus sejak tadi. Baju seksi yang Lilis kenakan, membuat fikiran kotornya langsung membayangi.


Astaga... Lilis cantik sekali... Dia juga pintar berdandan..


"Iya enak kok." Jawab Tama gugup.


"Kenapa gugup sih." Lilis menggeser tubuhnya sedikit agar bisa lebih dekat dengan Tama.


"Jangan terlalu dekat Lis, takut ada yang melihat."


"Jika tidak terlihat berarti tidak takut?" Ujar Lilis menggoda." Aku menyukaimu sejak lama Tam." Tama menoleh, bibirnya terbuka tertutup karena merasa tidak percaya dengan apa yang di dengar.


"Kau bercanda."


"Serius Tam."


"Kau sudah punya Suami Lis. Kenapa bicara seperti itu." Lilis menddesah lembut seraya meletakkan sendoknya pelan.


"Mau bagaimana lagi Tam. Aku menyukaimu sejak awal. Aku berani berkata ini karena kau terlihat tidak bahagia bersama Alisha dan aku juga tidak bahagia bersama Mas Tomi." Tama tidak bergeming dan hanya terdiam seraya melirik ke paha terbuka Lilis yang terpampang." Seharusnya kau jadi milikku jika Alisha tidak hadir waktu itu. Aku hampir minta cerai tapi kau lebih memilih dia." Lilis kembali melontarkan kebohongan. Dia tidak pernah meminta cerai sebab gaji Tomi yang begitu besar selalu masuk otomatis ke rekeningnya. Hal itu yang membuatnya sanggup bertahan sampai saat ini.


"Kau sudah sudah punya Suami, bagaimana bisa aku memilihmu."


"Kita coba jalani dulu Tam, bagaimana?" Lilis memegang tangan Tama dan menuntunnya untuk meraba pahanya.


"Coba apa Lis?" Tama menarik tangannya dengan cepat. Dia masih sangat menyukai Alisha yang terlihat lebih muda dari Lilis.


"Berhubungan denganku Tam. Bandingkan saat kamu sedang bersama Alisha nanti, kau akan tahu perbedaannya jika berhubungan dengan wanita yang lebih dewasa. Itu lebih menyenangkan." Lilis kembali menuntun tangan Tama untuk meraba pahanya hingga membuat miliknya langsung meronta.


"Kita pulang saja." Tama tiba-tiba berdiri di ikuti oleh Lilis.


"Fikirkan penawaranku sebab ku lihat kau mulai bosan dengan hubungan mu."


Lilis memang lebih dewasa sebab umurnya hanya terpaut satu tahun denganku tapi..


"Sebaiknya ku antarkan kau pulang." Tama berjalan keluar di ikuti oleh Lilis menuju ke parkiran.


Lilis sengaja merapatkan tubuhnya ketika sedang berada di boncengan. Dia ingin Tama merasakan kedua benda kenyal miliknya yang sudah menyembul keluar.


"Mundur sedikit Lis." Protes Tama setengah mati menahan hasrat.


"Kenapa Tam." Tanya Lilis merapatkan lagi tubuhnya. Kepalanya di sandarkan pada pundak Tama seraya menciuminya.


"Jangan seperti ini, kalau ada yang lihat bagaimana." Ucap Tama menahan hasrat yang semakin membakar akal sehatnya.


"Belok dulu Tam." Pinta Lilis. Tama membelokkan motornya tanpa perlawanan ke jalanan sepi yang jarang di lalui orang." Berhenti di sini Tam." Motor berhenti di bahu jalan sebab Tama juga menginginkan sesuatu yang memang akan Lilis berikan padanya.


Lilis turun dari boncengan dan berdiri di depan Tama dengan tatapan penuh hasrat. Langsung saja Lilis mendekatkan kepalanya dan melummat bibir Tama kasar.


Tama membalas lummatan itu lagi dan lagi. Akal sehatnya terkikis karena hawa naffsu yang tidak tertahankan. Hingga keduanya bercumbu panas di tempat yang tidak seharusnya. Beberapa kali desssahan lolos dari bibir Lilis, ketika Tama mulai melummat benda kenyal milik Lilis secara bergantian.


"Sudah Lis, aku takut ada orang." Lilis tersenyum lalu membetulkan bajunya setelah kenikmatan demi kenikmatan yang Tama berikan tadi.


"Ke rumahku saja."


"Alisha menunggu ku."


"Lalu kapan bisanya? Kamu tidak ingin merasakannya Tam?" Rayu Lilis.


"Kamu nakal sekali ternyata. Naik dulu, kita fikirkan nanti." Lilis segera naik dengan posisi yang begitu intim.


"Hari ini kita jadian ya."


"Jadian apa?" Goda Tama menikmati percintaan panasnya bersama Lilis hingga membuat celananya menjadi basah.


"Ayolah Tam. Aku akan memberikan sesuatu yang tidak pernah Alisha berikan padamu."


Padahal hanya berciuman tapi dia sudah membuatku basah seperti ini. Bagaimana jika di ranjang?


"Tam!!"


"Aku tidak ingin Alisha tahu."


"Aku juga tidak ingin Mas Toni tahu. Kita lakukan di hotel saja."


"Kau yang bayar?" Canda Tama.


"Iya aku bayar, besok ya. Bilang saja menginap di Mama."


"Aku akan berusaha mengaturnya." Tama benar-benar tidak waras. Bagaimana mungkin dia mengiyakan keinginan Lilis dengan begitu mudah hanya karena ingin terpuaskan hasratnya.


~Riane


Dari sini akan banyak adegan yang tidak pantas di baca oleh bocil ya😁


Harap bijak dalam membaca..


Aku masih cari visual yang cocok untuk Eldar tapi belum Nemu. Jika kalian punya rekomendasi, tulis namanya di kolom komentar nanti akan ku cari fotonya 😙


Terimakasih dukungannya 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2