Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 23


__ADS_3

Lilis menatap kesal ke arah kontrakan yang berukuran kecil. Ada rasa sesal terbesit sebab ternyata Mama Rita bukan seorang mertua yang baik dan suka berbagi.


"Kecil sekali Tam! Pasti panas." Eluh Lilis menunda langkahnya untuk masuk rumah.


"Pakai uangmu untuk membeli rumah."


"Nah kok malah aku. Itu uangku. Kamu dong yang harus mikir. Ayo masuk, aku mau istirahat." Tama menarik nafas panjang lalu berjalan untuk membuka kontrakan yang berukuran 5×4. Fikiran Tama langsung tertuju pada satu nama yaitu Alisha.


Kenapa aku ini? Bukankah ini keputusan yang ku ambil sendiri tapi.. Mereka memang berbeda. Sepanjang waktu yang ku habiskan bersama Alisha, sekalipun dia tidak pernah berkata ini milikku dan ini milikmu.


Rumahku juga rumahmu juga Mas, jangan sungkan ya..


Hati Tama semakin di liputi rasa ragu, namun semua sudah terlanjur karena kini Lilis menjadi Istri Syah nya.


"Aku delivery ya. Lapar sekali." Tama melirik seraya bermain ponsel. Melihat Lilis mulai membuat pesanan.


"Terus uang mu mau kau apakan?" Tanya Tama lirih.


"Terserah Tam. Kamu tidak berhak bertanya itu."


"Daripada habis kamu buat belanja. Bukankah sebaiknya kita belikan rumah sederhana." Lilis berdiri dengan tatapan tajam.


"Sudah ku katakan, itu uangku. Kau tidak berhak jadi jangan membahasnya." Lilis masuk ke dalam kamar, menghindari pertanyaan Tama yang selalu saja menjurus ke uang miliknya.


Sementara Tama sendiri menddesah lembut, menatap kontrakan yang sangat kecil untuk di tinggali. Tidak ada kipas apalagi pendingin ruangan sehingga membuatnya berkali-kali menyeka keringat.


"Mana bisa aku tinggal di tempat panas dan buruk ini!!" Eluhnya seraya beranjak pergi menuju motornya." Sebaiknya aku merajuk Mama. Agar memperbolehkan aku tinggal di rumah." Tama menghidupkan mesin dan pergi begitu saja tanpa berpamitan.


***********************


Setelah makan siang, Eldar benar-benar mengajak Alisha membeli beberapa pasang baju. Entah Alisha harus merasa senang atau tidak tapi dia merasa ada yang aneh dengan sikap Eldar yang berubah-ubah dengan begitu cepat.


Raut wajah dingin di sunguhkan, ketika dia tengah berbincang dengan orang lain. Namun, wajahnya begitu hangat saat Eldar berbicara padanya seperti sekarang.


Apa dia memiliki kepribadian ganda?


"Ini Tuan. Terimakasih kunjungannya." Eldar membawa semua barang belanjaan tanpa membalas sapaan ramah si kasir.


"Setelah ini kita ke apartemen." Alisha melongok dan menghentikan langkahnya.


"Apartemen?! U untuk apa?" Tanya Alisha terbata. Eldar berjalan menghampirinya.


"Salah satu fasilitas perusahaan, Babe." Alisha tersenyum aneh sebab dia sudah menebak sesuatu yang tidak-tidak.


"Aku tinggal di kontrakan saja." Tolak Alisha sebenarnya masih ingin bersembunyi dari Tama. Jika mungkin bisa memiliki banyak uang. Alisha tidak perlu repot-repot untuk mencari kerja seperti sekarang.


"Tunjukkan padaku di mana letaknya?"


"Untuk apa?" Protes Alisha mulai kembali melangkah.


"Ingin tahu keadaan di sana."


"Semua baik-baik saja jadi kamu tidak perlu repot-repot ingin melihat. Lakukan selayaknya berkerja. Jangan bertanya macam-macam tentang urusan pribadiku." Eldar tidak mengerti dengan pola fikir yang Alisha terapkan. Dia merasa begitu sempurna tapi Alisha masih saja menolaknya mentah-mentah.


"Kau tidak tertarik padaku?" Alisha melirik sebentar lalu berpura-pura acuh.


"Tidak." Jawabnya tidak sesuai dengan isi hatinya.


Perasaan Eldar kian menggebu. Tertahan selama tiga bulan dan setelah berjumpa dengan targetnya. Ekspresi targetnya di luar keinginannya bahkan sangat jauh.


"Apa yang kurang? Katakan?"


"Apa pentingnya jawabanku."

__ADS_1


"Serius kamu bertanya itu padaku? Bukankah sejak awal sudah ku katakan jika aku menyukaimu? Jadi jawaban darimu sangat penting." Ingin rasanya Alisha tersenyum namun di tahan olehnya.


"Aku lebih nyaman sendiri."


"Hm oke sampai kapan?" Tanya Eldar tidak sabar.


"Aku tidak tahu. Aku hanya tidak ingin mengenal seseorang."


"Jangan egois Alisha. Kita jalani dulu agar kau tahu jika aku serius dengan semuanya."


"Kau yang memaksa jadi kau yang egois. Bisakah perjanjian itu di batalkan?" Alisha tidak ingin membuat dirinya terlibat pada sebuah hubungan termasuk dengan Eldar.


"Kenapa kamu begitu membenciku Alisha? Memangnya apa salahku?"


"Aku tidak membencimu tapi aku ingin menghindar dari orang sepertimu." Alisha menatap Eldar dengan sorot tajam.


"Aku? Kenapa aku?"


"Kau menyukaiku jadi harus ku hindari."


"Apa kau masih memikirkannya dia?"


"Dia siapa?"


"Mantanmu."


"Tidak! Aku tidak pernah berjalan ke belakang hanya untuk bersama masa lalu."


"Terus? Apa yang salah dari keinginanku?


"Kau ingin tahu?"


"Tentu saja." Eldar memperlihatkan senyuman yang sungguh tampan hingga Alisha memalingkan wajahnya.


"Yang tidak sempurna saja mampu menyakiti apalagi kau!" Ucapnya dengan nada suara di tekan. Terdengar pelan namun menusuk gendang telinga.


"Itu sebagai bukti." Jawab Alisha lirih." Belum apa-apa saja kau sudah membentakku, apalagi nanti." Nafas Eldar terbuang kasar. Dia melihat Alisha dari samping. Ingin mengerti tentang kegagalan yang baru saja menimpanya.


"Aku memang seperti ini orangnya tapi aku tidak akan berkata kasar padamu."


"Kau bahkan baru mengatakannya."


"Emosiku sangat buruk Alisha. Tapi aku serius dengan perasaanku." Alisha terdiam, dia berdiri di samping mobil sementara Eldar terpaku menatap wanita yang sudah mencuri hatinya semenjak tiga bulan yang lalu.


"Sebaiknya kita kembali."


"Aku malas." Eldar membuka pintu jok belakang dan meletakkan barang belanjaan.


"Malas bagaimana?"


"Ya malas. Tidak perlu kembali. Sudah ada Abraham di sana."


"Terus bagaimana?"


"Kamu mau kemana? Biar ku antarkan." Alisha menatap heran ke arah Eldar.


"Aku serius ingin berkerja Eldar. Bukan bermain-main."


"Hm iya Babe. Gajimu akan tetap ku berikan, kamu tenang saja. Katakan, kamu ingin ke mana? Kita pergi ke sana."


"Aku tidak ingin kemana-mana. Aku berangkat tadi pagi berniat untuk berkerja."


"Aku berangkat tadi pagi berniat untuk menemuimu. Aku jarang datang ke perusahaan jika tidak ada rapat ataupun sesuatu yang genting. Abraham sudah meng-handle semuanya." Alisha menoleh, menatap Eldar yang tengah bersandar di body mobilnya.

__ADS_1


"Kau hebat sekali. Baru tiga bulan tapi sudah bisa membangun perusahaan sebesar itu." Eldar tersenyum dan membalas tatapan manik Alisha.


"Aku kuliah hanya untuk menjalankan amanat agar nanti jika Abraham meninggal aku sudah mampu menjalankan perusahaan dengan penuh."


"Siapa Abraham?"


"Kaki tangan Ayah. Itu perusahaan Ayah dan aku hanya melanjutkannya saja. Bagaimana? Apa kamu berkesan? Jika iya, mari menikah." Alisha membuang muka dan membuat Eldar terkekeh." Bukankah kau akan bahagia hidup bersamaku. Kau tidak perlu berkerja, cukup duduk manis di rumah dan menungguku pulang." Imbuhnya.


"Lalu kau bisa seenaknya memperlakukan aku nantinya." Eldar menarik nafas panjang lalu membuka pintu mobil untuk Alisha.


"Silahkan masuk. Kita cari tempat yang baik untuk berbincang."


"Kita kembali ke perusahaan."


"Perkerjaanmu adalah menuruti perintahku."


"Ini di luar pekerjaan."


"Ini perkerjaanmu Alisha. Membiasakan diri untuk bersama ku adalah perkerjaanmu." Alisha masuk tanpa perlawanan, menatap ke Eldar yang sudah duduk di sampingnya.


Aku belum siap untuk sakit lagi Tuhan.. Tolong hindarkan perasaan ini..


******************


Katakan jujur Tam. Apa sebelum kau bercerai dengan Alisha. Kau sudah memiliki hubungan dengan Lilis?" Tama tertunduk seraya melirik ke arah Wina yang tengah menatapnya.


"Jujur saja Kak." Sahut Wina menimpali.


"Hm aku merasa bosan dengan Alisha meski aku tidak berniat meninggalkan dia."


Plaaaaaakkkkkk!!!


Mama Rita melayangkan satu tamparan untuk putra sulungnya. Dia merasa kecewa pada Tama dan merasa gagal dalam mendidik.


"Maafkan Tama Ma." Tama bahkan tidak berani menegakkan pandangannya.


"Sejak awal aku sudah menebak Ma. Mbak Alisha tidak mungkin berselingkuh. Meskipun aku tidak dekat dengannya tapi aku tahu Mbak Alisha bukan wanita yang gatal."


"Kau tidak takut karma Tam!! Bukankah Mama sudah bilang. Jangan sampai kamu selingkuh dan menyakiti hati Istrimu." Sampai saat ini, Mama Rita belum juga sadar jika dia juga termasuk selingkuhan anaknya sendiri. Keinginannya untuk berjumpa Tama setiap hari, membuat Alisha tidak memilik waktu banyak untuk bersama Tama.


"Aku khilaf Ma."


"Aku jijik melihatmu Kak!! Jika Suamiku memperlakukan aku begitu bagaimana!! Kau tahu kan jika aku juga belum memiliki anak!!" Tama masih saja tertunduk. Wina berdiri karena malas melihat wajah Kakaknya sendiri.


"Jangan harap kamu bisa tinggal di sini Tam. Mama tidak mau tinggal satu rumah dengan wanita itu."


"Aku mohon Ma. Tama kepanasan ada di sana. Aku janji, aku tidak akan melakukan kesalahan itu untuk yang kedua." Ucap Tama merajuk.


Ya Tuhan.. Aku sudah berburuk sangka dengan Alisha..


Padangan nya kembali menatap Tama yang masih tertunduk karena bakti baktinya.


Tapi nasi sudah menjadi bubur. Pasti ada hikmah pada kejadian ini. Semoga setelah ini Tama bisa memberikan cucu untukku..


"Ya sudah. Bawa dia ke sini tapi ingat!! Jangan keluar rumah sampai gosip tentangmu menghilang." Tama tersenyum dan meraih kedua tangan Mama Rita.


"Terimakasih Ma." Hahaha... Aku tahu Mama tidak akan tega melakukan ini.. Akhirnya aku tidak harus tinggal di tempat panas itu...


Sudah dua hari fikiranku mengambang tidak jelas😁


Jadi part kemarin dan sekarang mungkin terlihat aneh atau lebay 🤣🤣


Soalnya aku paksa untuk update.. Padahal hati sedang tidak bersemangat..

__ADS_1


Berikan waktu untuk bisa lanjut ya😩🙏


Terimakasih yang sudah dukung 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2