Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 10


__ADS_3

Setelah kepulangannya, sejak tadi Alisha terdiam seraya menunggu kedatangan Tama yang tidak juga muncul batang hidungnya. Tangisnya tidak lagi terlihat, karena ucapan Eldar yang cukup membuat hatinya sedikit membaik.


Apa aku tegur atau pura-pura tidak tahu? Jika ku tegur, Mas Tama akan tetap menyalahkan aku atas ini. Jadi sebaiknya aku pura-pura tidak tahu. Aku yakin mereka hanya berteman meski...


Alisha menddesah lembut saat bayangan masa lalu kembali terlintas. Dia kerap kali melihat Lilis dan Tama bersentuhan fisik meski hanya sekedar berpegangan tangan.


Ya Tuhan. Aku sangat lelah selalu di salahkan. Buang fikiran buruk ku agar aku bisa menerima kenyataan jika Suamiku tidak bisa berhenti melakukan kesenangannya..


Alisha langsung beranjak ketika terdengar suara motor Tama terparkir di depan rumahnya. Segera saja dia membuka pintu dengan tatapan yang tidak fokus.


"Langsung masukkan saja Mas, ini sudah malam." Pinta Alisha.


"Hm iya." Tama mendorong motornya dan memarkirkannya tepat di samping motor Alisha.


"Mama tadi menelfon Mas." Mata Tama melebar mendengar itu.


Wah gawat!! Kebohonganku terbongkar..


"Sebenarnya Mas Tama ke mana?" Tanya Alisha pelan.


"Maaf sudah berbohong." Alisha berharap Tama mau jujur sehingga mematahkan kecurigaannya." Aku takut kamu cemburu jadi terpaksa aku bilang begitu." Tama berpura-pura membetulkan posisi motor karena tidak ingin Alisha melihat celananya yang basah.


"Memangnya kemana?"


"Bertemu teman lama." Seketika wajah Alisha berubah kecewa. Tama tidak juga berkata jujur pada nya.


"Hm begitu."


"Iya. Aku mandi dulu. Bawakan aku baju ganti ke kamar mandi ya." Tama berjalan ke belakang dan masuk ke kamar mandi.


"Kenapa tidak jujur saja sih Mas." Gumam Alisha masuk ke kamarnya untuk mengambil baju sesuai dengan perintah Tama.


Perbuatan yang di lakukan Tama bersama Lilis tadi, membuat fikirannya semakin kotor. Lilis yang sudah merasa lega karena telah mengungkapkan perasaannya. Terang-terangan mengirimkan pesan mesrah yang menjurus ke sesuatu yang membuat Tama merasa kepanasan. Dia sampai mengabaikan Alisha yang tengah tidur di sampingnya dan memilih keluar rumah untuk menerima telepon dari Lilis.


"Sudah malam. Kamu sebaiknya tidur.


"Setelah tadi, aku malah tidak bisa tidur dan kepikiran kamu.


Jawab Lilis dengan suara manja. Tama dengan bangga tersenyum. Dia merasa jadi idola karena paras tampannya yang standar.


"Nanti Alisha tahu malah jadi masalah.


"Ih kenapa malah membahas Alisha?


"Besok akan ku beri, sekarang kamu tidur.


Tama yang tidak tahu diri malah menganggap dirinya sangat sempurna. Padahal dia sangat payah saat di ranjang.


"Iya Tam. Sampai jumpa besok.


"Hm..


Tama mengakhiri panggilan, lalu menghapus semua chat dan sejarah panggilan pada ponsel. Dia tidak ingin Alisha mengetahui soal hubungan terlarangnya bersama Lilis yang di mulai hari ini.


.


.


.


Keesokan harinya...


Setelah Alisha selesai beberes rumah. Dia memutuskan untuk duduk menonton televisi sebab masakan ikan tuna masih utuh tidak tersentuh.


Maniknya menatap ke arah Tama yang tengah selesai mandi dan bersiap untuk berkerja. Ada dessahan lembut ketika dia mengingat kejadian saat mencuci celana milik Tama yang terasa kaku di bagian resleting.


Ingin sekali Alisha bertanya untuk membunuh kekhawatirannya, namun bibirnya mendadak bungkam karena terlalu takut untuk mengawali dan akan memicu pertengkaran di pagi hari.


"Aku tidak memasak Mas. Ikan tuna kemarin masih ada."


"Hm.." Tama menyeruput sedikit teh hangatnya seraya menjinjing tas kerjanya." Aku sarapan di kantin saja." Imbuhnya.


"Hm ya sudah." Alisha menjabat tangan Tama dan mencium punggung tangannya.


"Aku pergi."


"Hati-hati Mas." Tama tidak membalas ucapan Alisha dan langsung mengeluarkan motornya. Padahal pandangan Alisha masih tidak berpaling.


Aku dulu selalu saja bilang. Mas jangan nakal-nakal tapi sekarang? Dia membuatku benci melakukan itu. Sejauh apa hubunganmu dengan Mbak Lilis Mas..


Alisha menutup pintu cepat dan mempersiapkan baju yang akan di pakainya berkerja hari ini. Ada niat mengambil baju lamanya namun semua tersimpan di atas lemari dan dia tidak bisa mengambilnya sendiri.


Sebuah kaos berwarna merah di keluarkan dari lemari. Dia meletakkannya di atas tempat tidur lalu mengambil sebuah celana panjang yang langsung di pakainya bersama dengan kaos pilihannya.


Alisha berkaca, memandangi kaos yang di pakainya masih terlihat ketat di tubuhnya. Ada dessahan lembut terdengar, sebelum akhirnya dia tidak memperdulikan itu dan beralih memoles wajahnya dengan bedak padat dan lipstik murahnya.


"Sudah cukup! Mas Tama juga tidak pernah melihatku." Gumamnya masih berharap ingin di puji oleh Tama seperti saat pertemuan pertamanya dulu. Itu membuktikan jika Alisha masih sangat mencintai Tama, Suaminya. Meski akhir-akhir ini perbuatan Tama kepadanya semakin keterlaluan.


Setelah selesai dengan riasan sederhana, Alisha memasukkan ponsel juga dompet ke dalam tas kecilnya. Dia menggalungkan tas itu seraya mengambil kunci yang tergantung di samping pintu kamar.


"Semoga saja aku bisa berkerja dengan baik hari ini." Walaupun fikiran buruk tentang Lilis memenuhi otaknya. Alisha harus tetap berkerja agar dia memiliki penghasilan sendiri meski dengan sembunyi-sembunyi.

__ADS_1


Alisha tidak ingin Tama tahu. Dia tidak ingin dia di salahkan, tidak bisa hamil karena terlalu lelah. Tapi di sisi lain, Alisha sudah terlalu lelah menerima umpatan dan membuatnya ingin mendapatkan perkerjaan apapun asal bisa menghasilkan uang.


Motornya melaju meninggalkan pekarangan rumah, menuju kampus yang jaraknya cukup jauh dari tempat tinggalnya.


Setibanya di sana, dia memarkir motornya di tempat para mahasiswa memarkir kendaraannya. Alisha berjalan menuju kantin dengan rambut indah yang menjuntai. Sudah lama dia tidak merapikan rambutnya, karena terlalu acuh dengan penampilan dan terlalu sibuk memikirkan sikap Tama padanya.


"Pagi sekali datangnya Al." Sapa Mbak Sarah yang baru saja membereskan sebuah meja dan membersihkannya.


"Di rumah tidak ada perkerjaan Mbak, jadi ke sini saja."


"Hm sarapan dulu baru berkerja, ambil sendiri ya."


"Aku sudah sarapan Mbak." Jawab Alisha berbohong.


"Ya sudah taruh tas dulu, nanti mbak terangkan perkerjaan kamu."


"Hm baik." Alisha berjalan ke arah dapur kantin lalu menggantung tasnya. Mbak Sarah masuk dengan membawa banyak cucian piring.


"Perkerjaan pertama, cuci piring ya. Em kerjanya santai saja tidak perlu terburu-buru, asal bersih. Maklum Al, melayani mahasiswa jadi kotor sedikit protes." Alisha tersenyum dan mengangguk.


"Iya Mbak."


"Pakai celemek biar bajumu tidak kotor." Imbuhnya memberikan celemek bersih.


Perkerjaan yang terlalu ringan untuk Alisha sebab dia sudah biasa mengerjakannya di rumah. Cukup sebentar, perkerjaan mencuci sudah selesai.


"Apa langsung di lap mbak?"


"Tunggu sedikit kering Al. Antarkan ini ke ruangan dosen ya."


"Aku tidak tahu itu di mana Mbak?"


"Kamu tinggal lurus saja, ada tulisannya kok Al. Mbak mau menyiapkan bumbu untuk mie ayam."


"Hm ya Mbak." Lebih dulu, Alisha mengikat rambutnya lalu meraih nampan yang berisi tiga cangkir kopi.


Alisha berjalan keluar dan kembali mencuri perhatian. Banyak para mahasiswa berbisik namun para mahasiswi malah mencibirnya setelah tahu dia adalah wanita yang bersama Eldar kemarin.


Alisha mencoba acuh, meniatkan semuanya hanya untuk perkerjaan agar sifat perasa nya menjauh.


Di mana letak kelas Eldar? Semoga aku tidak melewatinya...


"Kau yang bersama Eldar kemarin?" Alisha menghentikan langkahnya dan memutar tubuhnya menghadap ke seorang gadis cantik yang berdiri tepat di belakangnya.


"Aku tidak tahu." Alisha melanjutkan langkahnya namun gadis itu menghadangnya hingga hampir membuat kopinya tumpah.


"Eh main pergi saja. Tidak sopan sekali sih! Ada hubungan apa kamu dengan Eldar?"


"Aku melihatmu kemarin. Jujur saja padaku agar aku bisa tahu, bagaimana caranya kamu bisa mendapatkan perhatian Eldar. Apa dengan menjual diri?" Alisha mendongak menatap tajam gadis yang di ketahui bernama Aprilia, gadis satu-satunya yang tahu jika Eldar adalah pewaris tunggal perusahaan Artena grup.


Aprilia sengaja bungkam agar dia tidak mendapatkan saingan terlalu banyak meski tanpa hal itu, Eldar sudah sangat populer dengan postur dewasanya.


"Eit jangan salah faham. Jika memang kau memberikan itu pada Eldar, aku akan melakukan hal yang sama tanpa rasa ragu. Aku hanya takut mengawali, bagaimana? Apa itu benar?" Tanyanya tersenyum tipis menatap Alisha rendah.


"Aku tidak pernah melakukan itu." Jawab Alisha penuh penekanan karena merasa tersinggung dengan ucapan April yang merendahkannya.


"Aku berjanji ini akan jadi rahasia." Alisha akan melewati April begitu saja namun dengan tega April membuat Alisha jatuh dengan kakinya." UPS!! Hahaha, salah sendiri tidak mau berkerja sama." Karena perbuatan April, membuat semua kopi tumpah bahkan baju Alisha juga ikut kotor meski terhalang oleh celemek.


"Kenapa kau membuat masalah sih." Tutur salah satu mahasiswa yang tengah menolong Alisha meski tidaklah tulus. Sebab dia malah sering memperhatikan kaos ketat Alisha yang terlihat basah hingga sesuatu yang di dalam sedikit terlihat meski samar.


"Halah!! Modus saja sok menolong!! Sialan!!!" Umpat April meninggalkan Alisha begitu saja.


"Kau tidak apa? April memang seperti itu orangnya. Biar ku bereskan." Mahasiswa itu sengaja ikut membereskan karena ingin menyentuh jemari Alisha yang sejak tadi tertunduk membisu.


Alisha yang notabenenya hanya seorang anak rumahan, sedikit merasa canggung saat berada di luar. Apalagi menerima perlakuan tidak enak seperti tadi, membuatnya setengah mati ketakutan.


Perusahaan kecil tempat Tama berkerja adalah perusahaan pertama dan terakhir bagi Alisha. Itupun dia hanya berkerja selama beberapa bulan sebelum akhirnya memutuskan risen hanya untuk menuruti keinginan Tama.


Greeep!!!


Duaaaak!!!!


sebuah sepatu sengaja menginjak tangan kanan mahasiswa itu dan menendangnya hingga tersungkur di lantai koridor.


"El Eldar..." Gumamnya langsung berdiri dan memutuskan untuk pergi meski nyeri hebat menjalar di rahangnya.


"Kau sedang apa?" Dengan kasar, Eldar memaksa Alisha berdiri. Segera saja, dia melepaskan jaketnya setelah menyadari ada yang salah dengan kaos Alisha yang terlihat basah.


Eldar memperhatikan manik Alisha yang mulai berkaca-kaca, dengan tarikan nafas panjang karena menahan tangis. Eldar membiarkan itu, dia duduk berjongkok dan membereskan cangkir juga nampan yang ada di lantai.


"Siapa yang melakukan ini? Apa orang sialan tadi?!!" Alisha tidak bergeming, berdiri terpaku hingga membuat emosi Eldar berada di puncak ubun-ubun.


"Ke kenapa El?" Tanya Dean baru saja datang.


"Antar dia kembali ke kantin. Aku ada urusan. Ingat untuk tidak menyentuh nya!!" Ucap Eldar melangkah pergi setelah memberikan nampan ke tangan Dean.


"Mari Nona."


"Biar aku." Alisha merebut nampan dari tangan Dean." Urusi temanmu dan bilang padanya untuk tidak mendekati ku." Pinta Alisha lembut dan berjalan meninggalkan Dean begitu saja.


"Ah jangan-jangan!!" Dean bergegas pergi untuk mencari Eldar. Sesuai kekhawatirannya, kini Eldar tengah menghajar habis-habisan mahasiswa yang sempat di tendangnya tadi.

__ADS_1


"Ampun El aku tidak tahu!!" Teriaknya meringkuk mencoba melindungi dirinya dari pukulan dan tendangan Eldar.


"El!! Hentikan!! Kau bisa di skors!!" Dean menarik lengan Eldar namun kekuatannya tidak mampu untuk mengatasinya.


"Lalu siapa jika bukan kau!!"


"Aprilia." Jawabnya menyeringai. Menahan nyeri pada perut dan sekitar wajahnya.


"Sialan!!" Umpat Eldar melenggang pergi seraya mengambil minuman Boba dari seorang mahasiswi yang tengah melintas.


"Eldar!!! Itu minumanku." Pekiknya tidak di perdulikan.


"Untuk mengganti minuman." Dean memberi selembar uang 50 ribu dan kembali mengikuti langkah Eldar." Duhh si kutub selatan semakin gila saja kalau jatuh cinta!!" Umpatnya kehilangan jejak.


Sementara Eldar langsung menerobos masuk ke kelas yang tengah melangsungkan pembelajaran. Dia mendatangi April lalu menguyurkan es Boba yang di dapatkannya dari merebut.


"Huuuuuuuu hahahaha." Gelak tawa terdengar, sementara April berteriak geram karena makeup nya berantakan.


"Aggggh!!! Eldar!!!" Teriak April tentu merasa malu.


"Eldar!! Apa ini?" Sahut asisten dosen seraya menatapnya geram.


Tak!!!


Eldar melemparkan gelas es Boba pada wajah April.


"Ini masih awal! Jika kau menganggunya lagi. Akan ku siram wajahmu dengan air keras." Ancam Eldar melenggang keluar tanpa perduli pada teriakan si asisten dosen.


Siapa sih wanita itu!!! April memasukkan semua buku kuliahnya dan memutuskan pulang saja.


Sementara Alisha, baru saja keluar dari kamar mandi dengan kaosnya yang basah. Untung sekali dia memakai celemek sehingga kopinya tidak benar-benar tumpah pada kaosnya.


"Maaf Mbak." Ucap Alisha merasa tidak enak.


"Tidak apa Al. Bagaimana keadaanmu? Apa kulitmu tidak merah? Kopi tadi panas loh Al." Mbak Sarah memeriksa lengan kanan Alisha yang terlihat memerah." Nah kan merah. Biar Mbak kasih garam agar tidak melepuh." Mbak Sarah mengambil garam sejumput dan mengusapnya pada bagian lengan Alisha yang merah.


Alisha mendesis, sebab ternyata rasanya sangat perih.


"Tahan Al daripada melepuh."


"Buatkan lagi Mbak. Biar ku antarkan ke ruang Dosen."


"Sudah Mbak antar sendiri tadi." Alisha menddesah lembut. Merasa sangat payah di hari pertamanya berkerja.


Semua ini gara-gara Eldar!!


Baru saja Alisha menyebutnya dalam hati, Eldar menerobos masuk.


"Bagaimana keadaanmu?" Mbak Sarah tersenyum sebab dia tidak tahu menahu tentang status pernikahan Alisha.


"Kau lagi." Eluh Alisha mengambil jaket dan memberikannya pada Eldar." Sebaiknya kau jangan mendekat. Aku ingin berkerja dengan tenang tanpa gangguan dari fans gilamu." Celetuk Alisha kesal.


"Tanganmu merah." Eldar malah tidak merespon dan akan menyentuh lengan merah Alisha.


"Kamu tidak dengar ucapan ku?" Protes Alisha menghindar.


"Aku mendadak tuli jika kau suruh aku menjauh!!" Mbak Sarah yang mendengar itu malah tersenyum.


"Ahh kau aneh!!! Minggir!!"


"Alisha, Babe, jangan seperti ini." Ucap Eldar tidak juga menggeser tubuhnya.


"Sudahlah Al terima saja." Goda Mbak Sarah terkekeh.


"Jangan bercanda Mbak. Aku tidak menyukainya." Jawaban Alisha yang tidak sesuai membuatnya berkata dengan sangat lirih.


"El gawat!!" Ucap Dean juga menerobos masuk.


"Ada apa?"


"Kepala Dosen memanggilmu." Eldar menddesah lembut dengan manik yang fokus pada tangan Alisha.


"Kamu membuat masalah?" Tanya Alisha lirih.


"Aku akan membunuh semua orang yang menyakitimu tidak perduli dia raja langit sekalipun!!" Alisha melebarkan matanya. Dia mengira jika Eldar sudah membunuh seseorang karena kejadian tadi.


"Mem membunuh? Si siapa yang kau bunuh!!" Tanya Alisha terbata.


"Sesuatu yang jadi penghalang hubungan kita. Aku pergi dulu, nanti ku belikan salep untuk tanganmu." Eldar berjalan keluar sementara Dean masih berdiam.


"Apa benar dia membunuh?" Tanya Alisha lagi.


"Terima cintanya agar dia tidak gila seperti itu." Dean ikut pergi kerena ingin jadi penengah jika mungkin nantinya Eldar naik darah.


Kenapa aku di pertemukan dengan lelaki gila seperti dia? Apa Eldar psikopat??


~Bersambung...


Sambil nunggu pembaca, mungkin aku update nggak setiap hari ya..


Terimakasih dukungannya 🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2