Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 42


__ADS_3

Grepp...


Belum sempat Alisha bangun dari tidurnya. Eldar memeluknya erat dari belakang.


"Aku tidak bermaksud berkata kasar Babe." Eldar menciumi pundak belakang Alisha dengan penuh perasaan.


Jantung Alisha berdegup, bibirnya tersungging dan merasa senang dengan sikap Eldar yang di tunjukkan.


"Aku tadi lama karena membuat teh hangat dulu. Bukan meninggalkanmu makan." Rajuk Eldar menjelaskan." Ayolah Babe. Kita makan dulu, nanti nasinya dingin." Hehe.. Aku bahkan tahu kamu tidak semarah itu. Apa kamu suka seperti ini Babe. Di rajuk dan di bujuk meskipun kesalahan itu sekecil debu.


Eldar duduk dan membawa tubuh Alisha ikut serta. Dia berdiri kemudian mengangkat Alisha dan mendudukkannya di atas sofa.


"Ayam bakar di situ enak sekali." Ucap Eldar seraya duduk di bawah tepat di samping kaki Alisha.


"Kenapa duduk bawah Mas."


"Agar bisa melayani mu." Alisha tersenyum, tubuhnya ikut turun sehingga keduanya sama-sama duduk di bawah." Kenapa ikut?" Eldar membukakan satu kotak makan dan menggesernya ke hadapan Alisha.


"Hm.." Alisha hanya mengucapkan itu tanpa menyentuh makanannya karena masih merasa malu.


"Oh baiklah." Eldar menggeser lagi kotak makanan dan memutuskan untuk menyuapi Alisha." Aku suka Babe. Terus saja bersikap seperti ini." Imbuhnya mulai menyodorkan sendok penuh makanan ke arah bibir Alisha.


"Biar aku makan sendiri Mas." Tolak Alisha sebenarnya tidak menginginkan Eldar menyuapinya. Dia hanya ingin makan bersama.


"Aku minta maaf untuk tadi. Ayolah, ini perintahku." Dengan terpaksa dan malu-malu Alisha membuka mulutnya dan menerima suapan demi suapan dari tangan Eldar." Suka yang seperti ini." Tangan Eldar sesekali mengusap pinggiran bibir Alisha yang belepotan.


"Biasa saja." Jawab Alisha berkilah namun raut wajah merahnya tidak bisa di bohongi." Mas sendiri yang ingin menyuapi bukan aku." Eldar mengangguk-angguk dan melanjutkan suapannya.


"Iya ini memang keinginanku."


"Biar ku makan sendiri Mas." Alisha mengambil kotak makannya dan mengantikannya dengan kotak makan milik Eldar.


"Kamu harus terbiasa dengan ucapan kasar ku Babe. Tapi aku akan berusaha menahannya jika sedang berbicara denganmu." Padahal aku masih mengucapkannya dengan lembut tapi dia sudah tersinggung..


"Mungkin aku yang terlalu perasa Mas."


"Aku akan memahami nya."


"Apa terasa tidak nyaman tadi?" Tanya Alisha ingin tahu.


"Belum terasa. Aku hanya takut kamu menganggap aku marah lalu kamu kesal padaku." Alisha mengangguk-angguk seraya mengunyah.


"Aku bisa mengerti asal jangan mendua."


"Aku tidak akan melakukan itu."

__ADS_1


"Untuk sekarang Mas."


"Jangan lagi Babe. Kamu masih tidak percaya padaku?"


"Kita masih bersama dalam beberapa hari Mas. Bukankah itu wajar?"


Eldar tidak bergeming. Semua yang di katakan oleh Alisha benar adanya. Dia tidak kuasa menolak ketidakyakinan Alisha karena tahu luka pada hati Alisha yang mungkin belum sembuh.


"Mas marah?"


"Tidak Babe. Aku mengerti posisi mu. Habiskan lalu kita akan berusaha setelah ini." Alisha meletakkan kotak makannya yang sudah kosong dan tanpa di suruh, Eldar menuangkan teh hangat pada cangkir kecil untuk Alisha.


"Berusaha apa Mas?" Tanya Alisha bingung.


Berusaha untuk mendapatkan keturunan..


"Berusaha untuk lebih dekat Babe." Alisha bernafas lega mendengarnya.


"Kita memang harus dekat Mas. Sudah selayaknya seperti itu."


"Kamu sudah mencintaiku." Sahut Eldar cepat.


"Cinta Mas. Kamu kan Suami ku." Eldar meletakan makanannya dan fokus menatap Alisha.


"Jawabanmu sangat tidak menyakinkan." Alisha tertawa kecil sebab sejatinya dia sendiri tidak tahu bagaimana membedakan benar-benar cinta atau sekedar suka." Itu kenapa kamu selalu gagal. Mungkin kamu belum pernah jatuh cinta." Eldar asal menebak.


"Mungkin itu juga yang di rasakan dia sekarang."


"Maksudnya Mas?"


"Mungkin dulu dia menikahimu hanya karena suatu sebab yang entah itu apa. Lalu seiring berjalannya waktu, sesuatu yang di incar tidak lagi terlihat menarik sehingga dia menjadi bosan padamu."


"Terus Mas El sendiri bagaimana?" Tanya Alisha lirih." Apa yang Mas incar dan sukai dariku?" Imbuhnya ingin tahu. Sesaat Eldar tersenyum seraya bersandar pada sofa di belakangnya.


"Sampai saat ini aku belum menemukan jawabannya. Yang pasti, aku senang saat melihatmu senang dan aku bersedih saat melihatmu tidak bahagia. Mari kita berusaha." Ucap Eldar lagi.


"Berusaha lebih dekat?"


"Iya. Ke sini." Alisha menggeser tubuhnya agar lebih dekat. Tangan Eldar menuntun kepala Alisha untuk bersandar pada pundaknya.


"Makanan mu belum habis Mas."


"Aku tidak lapar dan sekarang ingin berusaha." Eldar meraih ujung dagu Alisha lalu mellumat bibirnya lembut. Aku yakin kamu bisa hamil anakku Babe. Tuhan sengaja menunda kehamilanmu. Karena dia tahu, sejatinya kamu hanya milikku..


"Emmmm Mas." Tidak berapa lama bibir Eldar beralih pada leher Alisha dan mulai mencumbuinya dengan nafas berat.

__ADS_1


Alisha terbawa hasrat saat mendengar suara berat Eldar. Hembusan nafasnya menyapu hangat lehernya sehingga membuat Alisha beralih duduk di pangkuan Eldar.


"Malam ke dua. Aku ingin ini jadi malam yang panjang. Kamu mau." Tanya Eldar dengan mata sayu dan tangan aktif membelai punggung Alisha.


"Maksudnya Mas?"


"Bercinta sampai pagi." Jawab Eldar tersenyum nakal. Wanita di hadapannya benar-benar sudah melunturkan kekerasan yang ada pada dirinya. Hingga sanggup merubah wajah garang Eldar begitu hangat dan teduh.


"Aku siap melayani selama aku mampu Mas."


"Tidak Babe. Aku lakukan jika kamu juga menginginkan ini agar kita sama-sama bahagia."


"Emmm yah Mas aku mau." Eldar mengangkat dress Alisha dan meletakkannya sembarangan. Bra di tarik paksa lalu bibirnya mulai bermain bebas di dua gundukan." Eugh.. Mas El.." Tangan Alisha terulur seraya menekan-nekan kepala Eldar agar memperdalam hisapannya.


Kamu harus hamil anakku agar kamu yakin kita di takdirnya bersama.


Tidak perlu waktu lama untuk melakukan pemanasan sebab keduanya sudah bebas bergerak untuk mencari kepuasan.


💙❤️


Wina menatap lemah ke arah Damar yang bersiap akan pergi. Dia ingin melontarkan kekhawatirannya namun mulutnya masih saja bungkam.


"Ini sudah malam Mas. Memang kumpul-kumpulnya tidak bisa besok pagi?" Tanya Wina mengucapkannya dengan sangat hati-hati.


"Besok ya kerja. Sudahlah. Aku berangkat." Dengan terpaksa Wina mencium punggung tangan Damar lalu mengantarkannya sampai ke depan.


Setelah Damar pergi, Wina menutup pintu dan kembali masuk ke dalam kamar. Dia meraih ponselnya untuk menghubungi Tama.


"Ada apa?


"Lilis di rumah Kak?


"Apa bisa ku hentikan. Aku sudah tidak perduli.


Perasaan tidak nyaman Wina semakin menguat namun tetap saja dia tidak sanggup berbuat apapun. Selain takut Damar marah. Wina juga tidak ingin menambah beban fikiran Mama Rita yang masih terguncang karena perbuatan Lilis.


Semoga tebakanku salah Ya Tuhan..


❤️💙❤️


Gawat!! Idenya kabur lagi😂😂🤣


Kau besok aku update satu kali saja berarti otaknya kembali eror😁


Terimakasih dukungannya 🥰

__ADS_1


Semoga sehat selalu ❤️


__ADS_2