Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 12


__ADS_3

Eldar memutuskan untuk memberikan laporan pada Abraham dahulu setelah tahu jika Alisha masih pulang pukul empat.


Dengan langkah tergesa-gesa, dia memasuki rumahnya lalu meletakan buku laporan secara kasar.


"Duduk dulu Tuan." Pinta Abraham.


"Aku terburu-buru."


"Saya ingin membicarakan tentang wanita yang Tuan sukai."


"Bukankah sudah ku katakan untuk tidak mencampuri urusanku!!" Jawab Eldar ketus.


"Tuan akan terkejut dengan kebenaran yang saya sampaikan." Eldar duduk sebab merasa tergelitik dengan perkataan Abraham.


"Jangan bertele-tele. Apa maksudmu?" Tanya Eldar dengan tatapan tajam.


"Wanita yang Tuan sukai sudah bersuami." Ingin sekali Eldar memakan hidup-hidup lelaki paruh baya di depannya. Namun dia sadar jika kaki tangan Almarhum Ayahnya tidak mungkin asal bicara.


Apa benar? Apa Alisha...


"Ini tidak mungkin! Dia bahkan terlihat masih belia. Bagaimana bisa dia sudah bersuami!!" Runtuk Eldar tidak sanggup menerima laporan dari Abraham.


"Saya juga tidak percaya Tuan. Tapi anak-anak tidak mungkin asal bicara. Mereka mendapatkan info itu dari tetangga sekitarnya."


Apa itu alasan kenapa dia menghindar? Agh!! Kenapa kenyataan ini muncul setelah aku ingin memperjuangkannya?


"Sebelum semuanya terlambat. Sebaiknya Tuan mundur saja dan mencari calon pendamping lain!!"


"Mana bisa sialan!!" Umpat Eldar tidak perduli jika lelaki yang di umpat lebih pantas menjadi seorang Ayah untuknya.


Pasti ada yang salah! Tidak mungkin aku di pertemukan berulang kali tapi nyatanya harus menerima rasa pahit ini..


Eldar berdiri dan langsung mengambil buku laporan kuliahnya di meja. Dia melenggang keluar tanpa berpamitan, kembali ke kampus dan ingin mencari tahu tentang kebenaran yang di katakan Abraham padanya.


Aku tidak percaya sudah jatuh cinta dengan istri orang...


Eldar berdiri terpaku tidak jauh dari kantin seraya memperhatikan Alisha dengan sembunyi-sembunyi.


Perasaan salah yang di rasakan tetap sama. Eldar masih menginginkan wanita yang terlihat tengah membereskan kursi kantin.


Alisha sendiri, diam-diam menunggu kedatangan Eldar yang belum tampak. Entah apa yang di harapkan, yang pasti sejak tadi matanya sering melihat ke sana kemari untuk mencari keberadaan Eldar.


Apa yang kamu harapkan Alisha?


"Melamun terus sih Al." Alisha berjingkat ketika Mbak Sarah menepuk pundaknya.

__ADS_1


"Eh Mbak, astaga aku kaget." Jawab Alisha seraya mengelus dadanya.


"Kamu boleh pulang. Biar Mbak bereskan sisanya. Nih untuk makan nanti." Mbak Sarah menyodorkan satu porsi mie ayam yang sudah di bungkus.


"Tidak perlu Mbak." Tolak Alisha sudah beberapa hari kehilangan selera makan. Dia bahkan tidak makan sejak pagi dan hanya meneguk air putih.


"Kamu di suruh makan tidak mau. Jadi Mbak bungkusin. Terima ya, paling tidak cicipi mie ayam buatan Mbak." Dengan sedikit sungkan Alisha menerima bungkusan tersebut.


"Terimakasih ya Mbak."


"Sama-sama Al."


"Aku ambil tas dulu." Dengan langkah malas, Alisha berjalan masuk untuk mengambil tas lusuhnya. Ingin rasanya dia tidak pulang karena chat yang di dapatkannya dari Tama, Suaminya.


Alisha berjalan santai menuju parkiran, tanpa tahu jika sejak tadi Eldar mengikutinya. Suasana sedikit terasa aneh. Seolah semua mahasiswa yang ada di sekitar enggan menatap ke arahnya.


Itu terjadi karena mereka tidak ingin berurusan dengan Eldar. Setelah tahu kenyataan mahasiswa yang ingin mendekati Alisha babak belur di tangannya.


Apa aku ke rumah Monik saja? Ahh tidak, hari ini Suaminya pulang jadi mungkin dia akan menghabiskan waktu dengannya..


Alisha memasukkan kunci motornya dan menghidupkan mesin. Setelah beberapa saat terdiam, motornya baru melaju meninggalkan area Kampus bersama dengan Eldar di belakangnya.


Apa aku lewat kantor Mas Tama saja?


Alisha menatap tidak percaya, menyaksikan dengan jelas jika Tama tengah membonceng Lilis. Segera saja dia lajukan motornya lagi. Mengikuti Tama dari jarak aman dengan hati yang mulai tercabik lagi.


Pasti hanya mengantar pulang kan? Tapi meski begitu, kenapa harus Mbak Lilis? Bukankah Mas tahu kalau aku membencinya..


Karena jarak terlalu jauh dan tidak seberapa lincah menyetir. Alisha kehilangan jejak hingga terpaksa meminggirkan motornya ke bahu jalan. Dia yang tidak tahu letak rumah Lilis, hanya bisa menahan perasaan yang bergemuruh yang mulai memenuhi dadanya.


Ku telepon Mama saja...


Dengan tangan bergetar dan mengumpulkan keberanian, Alisha menghubungi nomer Mama Rita. Dia berharap bisa mendapatkan jalan dari sana mengingat kedua orang tuanya yang sudah meninggal dunia.


"Ya halo.


"Ma itu..


"Tama tidak ke sini lagi!!


Bibir Alisha rasanya bungkam, ketika Mama Rita langsung menyambutnya dengan nada suara meninggi.


"Itu Ma, Mas Tama berboncengan dengan wanita lain tadi. Aku minta tolong mungkin saja Mama bisa menegur Mas Tama.


"Apa maksudmu Al?

__ADS_1


"Aku melihat Mas Tama berboncengan dengan wanita lain.


"Tidak mungkin begitu. Mungkin kau terlalu cemburu atau ini alasanmu saja agar Tama tidak mampir ke sini.


"Tidak Ma. Aku serius. Mas Tama sudah tidak bisa di hentikan. Mungkin jika Mama yang bicara, Mas Tama akan menjadi menurut.


"Mama tidak percaya anak Mama seperti itu! Jika terbukti tidak benar! Awas ya! Suruh Tama ke sini, cepat!!


Tut ... Tut... Tut...


Mama Rita mengakhiri panggilannya. Alisha menggenggam ponselnya erat dengan mata berkaca-kaca. Sementara Eldar yang masih mengikutinya, merasa bingung dengan apa yang di lakukan Alisha di sana.


Kenapa dia tidak langsung pulang?


Motornya kembali melaju mengikuti dengan rasa penasaran yang begitu besar. Ada dessahan lembut, ketika melihat Alisha masuk ke sebuah daerah perkampungan di pinggiran kota sehingga tebakan soal status Alisha semakin menguat.


Dia memberikan alamat palsu padaku kemarin... Apa karena dia tidak ingin aku tahu letak rumahnya??


Motor Eldar berhenti di bahu jalan rumah peninggalan orang tua Alisha. Tanpa membuka helm, dia mematikan mesin dan memperhatikan rumah itu dari sana hingga seorang lelaki paruh baya keluar dari rumah yang letaknya di sebelah.


"Maaf Pak permisi." Eldar membuka helm miliknya dan berusaha tersenyum ramah.


"Iya ada apa?"


"Saya mau tanya? Apa itu rumah Alisha." Menunjuk ke arah rumah.


"Iya, itu rumah Mbak Alisha? Apa ada perlu? Biar saya panggilkan."


"Oh tidak Pak. Saya hanya sekedar bertanya sebab Ayah saya menyuruh saya mencari alamat ini. Em Ayah saya itu teman baik Ayahnya Alisha."


"Pak Prabu sudah meninggal dua tahun lalu jadi mendingan Mas tunggu Suaminya pulang dulu baru bertamu. Takut ada fitnah Mas." Tubuh Eldar melemas mendengar itu. Ternyata apa yang di katakan Abraham benar dan bukan hanya sekedar info palsu.


"Em begitu ya Pak. Memangnya Suaminya pulang jam berapa?" Tanya Eldar mencoba menyakinkan hatinya. Rasanya dia tidak percaya jika cinta pertamanya adalah wanita milik seseorang.


"Waduh kalau masalah itu saya tidak tahu Mas. Soalnya pulangnya kadang-kadang malam dan tidak tentu waktunya." Eldar mengangguk-angguk seraya masih memperhatikan rumah Alisha.


"Ya sudah Pak terimakasih ya infonya. Saya permisi." Eldar berjalan lemah menuju motornya seraya kembali memakai helmnya.


Jika dia memiliki seseorang, untuk apa perasaan ini hadir. Aku harus melupakannya...


Motor Eldar melaju kencang, dengan fikiran yang melayang entah kemana. Kenyataan pahit itu, harus di telan bulat-bulat meski hingga sekarang rasa untuk Alisha tetaplah ada.


"Agh!!! Sial!!!" Umpatnya melajukan motornya dengan lincah, menyalip beberapa pengendara yang ada di sekitarnya.


~Bersambung

__ADS_1


__ADS_2