Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 33


__ADS_3

Flashback..


Alisha tengah menunggu kedatangan Tama di depan rumahnya dengan senyum mengembang. Dia sengaja mandi lebih awal karena ingin berbelanja kebutuhan rumah tangga yang setiap bulan mereka lakukan.


Uang Tama tidak cukup banyak di pakai untuk sekedar berjalan-jalan. Sehingga Alisha begitu menunggu hari yang hanya bisa terjadi dalam satu bulan sekali.


Alisha berjalan menyerbu, ketika motor Tama terparkir di halaman rumah.


"Lama sekali Mas. Aku menunggu sejak tadi." Tama memperlihatkan mimik wajah masam.


"Menunggu untuk apa?" Tanya Tama berjalan masuk di ikuti oleh Alisha.


"Belanja Mas, kalau menunggu hari Minggu nanti uangnya keburu habis."


Keduanya sudah terbiasa melakukannya. Itu kenapa Alisha mengucapkannya dengan begitu bersemangat.


"Tidak bisa berangkat sendiri ya!!" Jawab Tama ketus. Dia duduk di sofa seraya meminum teh hangat yang selalu tersedia.


"Berangkat sendiri?" Ucap Alisha bergumam. Hatinya terasa nyeri dengan jawaban kasar yang di lontarkan Tama padanya.


"Ya berangkat sendiri! Jangan mengandalkan aku terus. Kau tahu kan jika aku sibuk berkerja! Apa salahnya belanja sendiri. Motor juga ada." Alisha duduk lemah di sisi Tama.


"Bukankah kita melakukan ini setiap bulan Mas."


"Kalau aku tidak lelah mungkin tidak masalah. Tapi jika aku lelah kau berangkat sendiri saja!"


"Bawa beras itu berat Mas dan aku juga belum lancar memakai motor." Alisha tidak sedang beralasan sebab dirinya memang baru belajar memakai motor akhir-akhir ini. Itupun atas paksaan Tama yang mulai merasa di repotkan dengan sifat ketergantungan Alisha.


"Di sana kan ada pegawainya. Kamu minta tolong angkatkan beras dan semuanya beres!"


"Aku takut jatuh juga Mas. Masih tidak berani kalau di jalan raya." Jawab Alisha lembut. Dia takut menyulut emosi Tama yang sangat buruk akhir-akhir ini.


"Kalau tidak di lawan ya begitu!! Takut terus!! Kapan bisanya!! Tidak berguna Mama membelikan motor itu!!" Mata Alisha mulai berkaca-kaca mendengar umpatan kasar dari Tama.


"Mas kan tahu aku belum lancar memakai motor itu."


"Semua itu tergantung niat!! Kau lihat Bu Mila yang anaknya 3 itu. Setiap hari dia membawa semua anaknya dan mengantarkannya sekolah padahal dia sendiri sedang hamil besar. Sementara kamu? Begitu saja tidak bisa! Jadi Istri itu harus mandiri! Jangan bergantung terus!! Bikin pusing saja!!" Tama beranjak pergi meninggalkan Alisha dengan air mata yang mulai jatuh.


Sebenarnya ini bukan hanya masalah belanja Mas. Tapi kebersamaan. Bukankah hanya itu waktu untuk kita bisa jalan berdua? Kenapa kamu mengikisnya lagi dan malah menyalahkan aku agar bisa mandiri..


Flashback off


"Apa yang terjadi? Kenapa wajahmu seperti itu Babe?" Tanya Eldar meraih jemari Alisha dan menggenggamnya.


"Aku hanya tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama Mas." Jawab Alisha tersenyum namun terlihat getir.


Alisha adalah mantan anak rumahan dengan peraturan ketat yang di terapkan oleh Ayahnya. Tapi bukan peraturan yang menyakitinya, melainkan peraturan yang bertujuan menjaganya.


Ayahnya tidak memperbolehkannya keluar malam meski ada urusan mendesak. Dia tidak bisa memakai motor sebab Ayahnya selalu mengantarkannya tanpa mengeluh. Selain tidak bisa memakai motor, Alisha juga tidak seberapa hafal jalan kota. Dia jarang keluar, bahkan untuk berpacaran saja selalu mengajak Monik.

__ADS_1


Bagaimana dia tidak merasa terbebani dengan permintaan Tama yang menuntutnya untuk menjadi mandiri tanpa mengandalkannya. Hingga Tama merubahnya menjadi sekarang. Sering berkeliaran di luar meski batasan-batasan masih mencoba dia pertahankan.


"Kesalahan apa? Katakan."


"Ada kalanya nanti Mas sibuk dengan perkerjaan. Jadi aku harus terlatih untuk mengerjakan semuanya sendiri."


"Sesibuk apapun nanti. Akan ku luangkan waktu jika hanya untuk mengantarkan kamu berbelanja saja."


"Memang awalnya begitu Mas. Tidak tahu nanti." Eldar menarik nafas dan membuangnya kasar.


"Kenapa selalu membahas awal dan nanti Babe? Berikan aku pengertian tentang maksud ucapan mu itu."


Apa ini ada hubungannya dengan masa lalunya? Tentu saja Eldar menanggapi nya dengan serius sebab mimik wajah Alisha seperti tidak sedang main-main.


"Aku tidak mau bergantung padamu, nanti kamu akan bosan." Seperti Mas Tama.


Rasa sesak menjalar cepat. Alisha masih merasakan kesakitan yang sudah di pendam selama satu tahun lalu. Tuntutan dari Tama sangat membebani. Hingga dia harus mengambil langkah cepat dan memberanikan diri untuk melakukannya semuanya sendiri.


Apa Ayah salah mendidik ku atau Mas Tama yang keterlaluan?


Pertanyaan itu berputar-putar kala itu. Mengingat ucapan Tama dan Almarhum Ayahnya yang berbanding terbalik.


Anak perempuan itu tidak boleh berkeliaran sendiri. Itu bahaya Nak. Kalau Ayah sibuk, kamu tunggu dulu biar nanti Ayah antar setelah menyelesaikan perkerjaan..


Jadi Istri itu harus mandiri!! Jangan mengandalkan Suami terus-menerus. Apa-apa nunggu aku! Sedikit-sedikit minta antar!! Aku itu sudah lelah mencari nafkah tapi waktu pulang ke rumah malah mendengarkan rengekan mu!!!


Setelah ini aku tidak akan pernah mengandalkan mu lagi Mas. Aku berjanji..


Eldar mendekap erat tubuh Alisha. Mencoba mencerna pemikiran Alisha yang mungkin masih menyamarkannya dengan Tama, mantan Suaminya.


Aku ingin marah. Tapi bagaimana bisa marah jika dia sudah akan menangis hanya karena hal sepele itu. Aku yakin kamu sedang menyamakan aku dengan lelaki sialan itu Babe..


"Memangnya kamu sejenis makanan Babe." Tanya Eldar lirih.


"Makanan apa?" Eldar melepaskan dekapannya dan cepat-cepat Alisha menyeka air matanya.


"Bukannya kamu bilang jika kamu takut aku bosan?"


"Memang begitu. Kita hidup tidak hanya satu atau dua hari."


"Aku tahu."


"Ya sudah jika tahu."


"Bergantung saja padaku dan kita lihat. Berapa lama waktu yang di butuhkan agar aku merasakan kebosanan?" Tantang Eldar menatap fokus pada Alisha." Aku berjanji akan memberi tahu jika sudah merasa bosan, agar kamu bisa memberikan sedikit ruang untuk hubungan kita." Alisha terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab dengan sangat pelan.


"Aku tidak mau gagal lagi jadi aku tidak akan membuatmu bosan." Tarikan nafas berat berhembus. Eldar tengah mengendalikan perasaan kesalnya karena sikap Alisha.


Aku Eldar Babe!! Bukan dia!!

__ADS_1


Ingin rasanya Eldar berteriak dengan lantang tapi dia lebih memilih bungkam karena ingin menjaga perasaan Alisha yang membenci ucapan kasar.


"Bukankah kamu harus patuh pada Suamimu ini?" Senyum getir Eldar perlihatkan. Jika bisa! Eldar ingin langsung membersihkan kenangan buruk yang ada di otak Alisha. Tapi dia sadar jika membersihkan itu tidak segampang menghilangkan nyawa seseorang.


"Iya Mas tapi."


"Bergantung pada ku sampai aku merasa bosan." Jawab Eldar cepat.


"Lalu kamu akan meninggalkan aku."


"Aku mohon Babe. Jangan menebaknya dulu. Lakukan perintahku agar kamu tahu bagaimana awal dan akhirnya nanti." Alisha mengangguk pelan seraya tersenyum.


"Maaf Mas."


"Tidak apa. Aku mengerti." Mencoba mengerti.. "Tidak perlu membeli motor. Jika ingin membeli sesuatu biar ku antar dan jika aku sibuk. Aku harap kamu bersabar sampai aku menyelesaikan perkerjaan ku."


Mirip Ayah... Ya Tuhan aku bahagia sekali..


"Terimakasih Mas." Dengan sedikit ragu, Alisha mencium pipi Eldar sejenak hingga kekesalan yang ada di hati Eldar runtuh.


"Sama-sama Babe. Hatiku terasa hangat saat kamu menciumku seperti tadi."


"Mas menggombal lagi." Eldar menarik nafas panjang sementara Alisha tersenyum.


"Kita beli baju untukmu. Aku kemarin sengaja membeli beberapa stel karena takut jika kau tidak menyukai modelnya."


"Aku suka Mas." Jawab Alisha cepat." Apapun pilihan baju mu aku suka." Imbuhnya menyakinkan.


"Jika di kamar tidak masalah memakai yang minim tapi jangan sampai keluar kamar. Mungkin sedikit tidak nyaman Bebe. Tapi aku tidak ikhlas tubuhmu terekspos bebas."


"Aku nyaman. Sebentar, aku ambil tas dulu." Alisha kembali mencium pipi Eldar lalu pergi untuk mengambil dompet.


"Suaranya lembut sekali. Aku suka Mas." Eldar tersenyum seraya terus meniru gaya bicara Alisha berulang-ulang.


💙❤️


Lilis cepat-cepat berjalan ke ruangan Tama untuk memperlihatkan surat pemecatan. Peraturan baru menyebutkan jika Suami Istri tidak boleh berkerja pada satu perusahaan sehingga Lilis harus terpaksa di keluarkan.


"Apa ini?" Tama mengambil amplop putih itu dan membacanya." Kau di pecat?" Gumamnya pelan." Bagus sekali. Agar kau cepat hamil." Nino yang ada di sana mendengarkan obrolan tanpa berkomentar. Dia tersenyum dan turut bahagia mendengar itu. Meskipun berita pernikahan Lilis dan Tama sudah menyebar namun rasa bencinya pada Tama tetap melekat.


"Bagus katamu Tam!! Jika aku tidak berkerja. Bagaimana caranya aku membeli bedak mahal ku ini!!" Menunjuk ke arah wajah.


Rasakan kamu Tam!! Aku bersyukur Alisha sudah kau ceraikan dan sekarang tinggal menikmati pilihan mu sendiri!!! Batin Nino seraya terkekeh dalam hati.


"Uangmu kan masih banyak. Kenapa memikirkan itu."


"Itu uangku! Kau tidak berhak mengungkitnya!!" Tama merasa malu dengan kata-kata kasar yang di lontarkan Lilis padanya. Dia segera beranjak dari tempat duduknya dan meninggalkan meja kerja nya begitu saja.


Padahal baru jadi Istri tapi kenapa sudah berani membentakku seperti itu!!! Alisha saja tidak pernah melakukannya!!

__ADS_1


❤️💙


Terimakasih dukungannya 🥰


__ADS_2