Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 38


__ADS_3

Eldar menyimak presentasi seraya sesekali memperhatikan ponselnya yang tengah menyorot kegiatan apa saja yang di lakukan Alisha di ruangannya.


Kenapa lama sekali.. Batin Eldar tidak sabar ingin segera menyelesaikan pertemuan agar bisa mendapatkan siang pertamanya.


Abraham yang melihat itu hanya tersenyum, seraya fokus mendengarkan presentasi. Dia tahu pernikahan Tuannya masih sangat baru. Sehingga mungkin sekarang Tuannya tengah berada di asmara yang menggebu.


"Bagaimana Pak Eldar?" Sontak, Eldar tersadar dari lamunannya. Abraham dengan cepat menulis sesuatu di kertas agar Eldar bisa menjawab pertanyaan dari relasinya.


"Tuan." Bisik Abraham menggeser kertas tersebut.


"Baik sekali. Saya setuju dengan proyek baru ini tapi saya minta rincian dari biaya pembangunan perusahaan nanti."


"Itu masalah gampang Pak Eldar. Kami sudah menyiapkannya." Eldar mengangguk seraya tersenyum aneh." Jadi bagaimana? Apa Bapak mau menjadi investor perusahaan baru kami." Imbuhnya mengulurkan tangan.


"Saya setuju." Eldar dengan cepat menyambut jabatan tangan.


"Terimakasih Pak. Senang bisa berkerja sama."


"Jadi saya boleh pergi?" Abraham tersenyum menatap Tuannya yang merasa tidak sabar ingin segera menemui Alisha.


"Pak Eldar sibuk sekali."


"Hm. Istri saya menunggu. Em kami ada acara setelah ini."


"Astaga. Jika seperti itu sudah lain cerita Pak. Kami cukup senang Pak Eldar hadir jadi jika ingin pulang sekarang. Silahkan Pak." Eldar bergegas berdiri dan meraih ponselnya.


"Ku serahkan sisanya padamu." Ucapnya lirih. Abraham mengangguk seraya tersenyum.


"Saya permisi." Setelah Eldar bersalaman. Dia langsung melangkah pergi meninggalkan ruangan untuk menemui Alisha yang tengah menunggunya.


Alisha kaget saat Eldar tiba-tiba saja masuk dan mengunci pintunya lalu menyerbunya dengan pelukan juga ciuman panas.


Tubuh Alisha terdorong hingga terhempas di atas sofa. Dia tidak kuasa menolak dan berprotes. Bibir Eldar tengah membungkamnya dengan sangat manis.


Tanpa melepaskan tautan bibir, Eldar merenggangkan dasinya setelah melepaskan jasnya yang kini tergeletak di lantai.


"Mmmmppppttttt.. Maaas sebentar." Ucap Alisha memukul dada bidang Eldar lembut.


"Hmmmm Babe." Memang tautan bibir terlepas, tapi dengan nakal Eldar beralih pada lehernya.


"Mas kenapa?" Tanya Alisha seraya mendesis.


"Siang pertama."


"Di sini? Eug Mas."

__ADS_1


"Hm di sini."


"Jika ada yang masuk?"


"Sudah ku kunci."


Alisha menurut saja, sebab itu permintaan Suaminya. Apapun akan di lakukannya demi membuktikan baktinya, meski terbesit rasa takut jika ada yang menerobos masuk ke ruangan.


Namun ketakutan itu sirna, ketika milik Eldar sudah menumbuknya. Dia tidak lagi memikirkan pintu. Tapi mencoba menahan dessahan agar tidak terlalu keras. Tapi apa bisa? Sebab itu hanya berlaku untuk sesaat.


Gerakan Eldar semakin tidak terkendali, merasakan sensasi percintaan di ruangannya kali ini.


Miliknya menumbuk Alisha dari belakang dengan tangan aktif membelai dua gundukan di depannya. Sesekali bibirnya mencumbu pundak belakang Alisha meski lebih banyak nafas terbuang kasar karena oksigen yang terasa menipis.


"Babe.. Aku akan sampai ah ah.." Eldar kembali menekan miliknya hingga kedalam lalu menyemburkan benih dan berharap bisa tumbuh subur di rahim Alisha.


"Mas El gila sekali." Runtuk Alisha membereskan dress dan baju dallamnya yang berantakan.


"Milikmu menghisap ku, bagaimana aku tidak gila."


"Aku malu Mas. Keadaan ku jadi seperti ini sekarang."


"Mandi saja Babe."


"Aku tidak nyaman. Mandi di rumah saja." Alisha merapikan rambutnya dengan lima jari tangannya." Kenapa sudah selesai Mas? Katanya setengah jam." Tanya Alisha seraya duduk dan menutup cemilan yang tadi sempat di makan.


"Hehe.. Mas bercanda."


"Serius Babe. Kamu tidak?" Tanya Eldar ingin Alisha bisa mengungkapkan semua keinginannya.


"Rindu Mas tapi aku harus mengerti jika kamu sibuk."


"Repotkan aku jika kamu ingin melakukan itu." Alisha menoleh, menatap wajah Eldar dari samping. Terlihat serius, sehingga membuat bibirnya tersungging.


"Itu tidak dewasa."


"Aku memanggilmu Babe. Itu tandanya kamu bayiku, kesayanganku jadi sudah selayaknya kamu merepotkan aku."


"Tapi..."


"Jangan takut aku bosan." Sahut Eldar cepat." Aku mencintaimu. Love you so much. Aku pastikan aku tidak akan bosan padamu. Forever even more than forever." Imbuh Eldar menekankan.


"Mas marah?"


"Tidak Babe. Mana mungkin. Aku hanya tidak suka kamu menahan-nahan perasaanmu." Alisha terdiam seraya mengangguk. Wajahnya terlihat gelisah sebab dia ingin mengutarakan keinginan plus larangan terbesarnya.

__ADS_1


"Aku... Aku pencemburu Mas. Sebenarnya sangat pencemburu." Nafas berat terbuang kasar. Itu keinginan yang sederhana namun begitu sulit di utarakan.


"Lalu?" Eldar tersenyum lega. Akhirnya Alisha mau mengatakan satu kejujuran.


"Mungkin akan terasa tidak nyaman untuk kamu Mas. Itu sebabnya lebih baik aku berada di rumah. Daripada harus melihat seseorang yang ku sayangi berinteraksi dengan wanita lain. Em tapi, aku sekarang sudah lebih baik dan bisa menepis rasa itu sedikit demi sedikit."


"Kenapa harus di tepis? Menahan perasaan itu bukan sesuatu yang baik. Aku merasakannya sendiri saat aku berusaha menghindarimu dulu." Alisha tersenyum getir. Dia takut membuat Eldar merasa risih." Aku mohon Babe. Buat dirimu nyaman bersamaku. Aku Eldar bukan dia." Eldar mengucapkannya dengan begitu lembut meski dia cukup di buat kesal oleh sikap Alisha.


"Maafkan aku Mas."


"Bukan maaf tapi lepaskan perasaanmu. Kamu tidak bersalah jadi untuk apa minta maaf."


"Terimakasih Mas." Alisha menggeser tubuhnya dan memeluk tubuh Eldar dengan posisi duduk. Air matanya sempat jatuh karena merasa terharu dengan kebebasan yang Eldar tawarkan.


"Aku mencintaimu. Itu sudah seharusnya ku lakukan."


"Aku berjanji akan lebih mencintaimu."


Syukurlah Tuhan. Kegelisahannya terkuak sudah. Batin Eldar begitu lega. Dia sudah bisa menebak bahasa tubuh Alisha yang terlihat gelisah. Itu sebabnya dia ingin cepat-cepat mengakhiri pertemuan untuk membunuh kekhawatiran Alisha dengan percintaan panas mereka tadi.


"Tadi ada wanitanya Mas?" Tanya Alisha melepaskan pelukannya. Eldar tersenyum sejenak dan merasa bangga karena tebakannya benar.


"Tidak ada Babe." Tapi nyatanya, terdapat lima wanita di ruangan tadi, meski Eldar tidak pernah menganggap mereka ada." Bukankah kamu tahu jika aku tidak pernah melihat seseorang pun di sekitar kita kecuali kamu." Alisha mencium punggung tangan Eldar dengan penuh perasaan.


Ini lebih cepat dari yang ku bayangkan. Sikap Alisha begitu lembut ketika dia sudah menjadi Istriku. Apa memang secepat itu atau? Dia memang sudah memiliki rasa seperti yang kurasakan dulu?


❤️❤️❤️❤️❤️❤️


Wina melirik ke arah Damar saat dia mencium parfum lain yang tercampur pada aroma kemejanya.


"Mas langsung pulang tadi? Atau pergi nongkrong dulu bersama teman?" Tanya Wina memberanikan diri untuk bertanya.


"Hm nongkrong sebentar. Mau menolak juga tidak enak."


"Padahal aku menunggu kedatangan Mas sejak pagi tapi Mas malah nongkrong dulu." Damar menoleh seraya menatapnya malas.


"Jangan terlalu pencemburu. Kamu kan tahu aku lelaki yang berkomitmen jadi aku tahu batasan apa yang harus ku lakukan." Jawab Damar mengelak. Mantan playboy itu sungguh sangat bisa mengelabuhi Wina yang jarang tahu dunia luar.


Tidak ayal seperti Alisha. Wina bahkan lebih parah karena tidak pernah berkerja dan berinteraksi dengan orang. Dia menghabiskan waktunya di rumah bersama Mama Rita. Kalaupun dia keluar pasti selalu mengajak Tama atau Damar. Selebihnya dari itu, Wina menghabiskan waktunya untuk mengerjakan perkerjaan rumah kecuali memasak.


Ada trauma hebat yang pernah Wina alami hingga dia terkurung dalam ketakutannya sendiri. Sebuah kecelakaan yang sudah mematahkan kaki dan tangannya membuat Wina tidak ingin lagi berkendaraan. Pen bekas operasi bahkan masih menempel pada tulangnya.


"Aku hanya bertanya Mas. Sebaiknya Mas istirahat. Aku akan mencuci baju kotor ini." Wina mencoba tersenyum meski hidungnya masih saja mengendus aroma parfum yang tidak asing.


Seperti parfum Lilis?

__ADS_1


❤️💙❤️💙❤️


Terimakasih dukungannya 🥰🥰


__ADS_2