
Saat mata terbuka, Alisha kaget setengah mati ketika melihat dua orang wanita asing duduk di samping ranjangnya.
Mimpi atau...
"Syukurlah sudah bangun. Silahkan mandi dulu Kak biar kami langsung merias wajah Kakak." Alisha tersenyum dan memijat kepalanya.
Aku lupa.. Hari ini aku menikah...
"Kakak baik-baik saja? Atau sakit? Maaf Kak, waktu kami hanya satu jam sebab akad akan di lakukan sebentar lagi."
"Baik saya mandi sebentar." Alisha beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas membersihkan diri.
Setelah selesai mandi, dua perias segera memoles wajahnya. Kedua perias itu berdecak kagum pada kulit alami yang di miliki Alisha.
"Kakak tidak pernah menggunakan pemutih wajah ya." Tanyanya mencoba akrab.
"Tidak Kak. Saya tidak tahu menahu soal itu. Setiap hari saya hanya mengunakan bedak padat dan lipstik."
"Kulit Kakak bagus sekali ya. Masih tebal dan tidak tipis tapi halus sekali."
"Ya beda dong sama kulit kamu yang sudah pakai cat tembok." Sahut temannya yang tengah menghias tangan Alisha.
"Ya wajarlah, kulit badak jika tidak di tutupi malu-maluin." Alisha tersenyum mendengar pujian itu.
Senangnya jika tidak memiliki perasaan yang gampang terluka seperti mereka. Jika aku yang di sebut begitu, mungkin aku sudah tersinggung..
Dengan cepat mereka menyelesaikan riasan karena kulit halus Alisha. Mereka membantu Alisha mengenakan baju pengantin yang sudah di siapkan.
Sesuai pesanan, Eldar menginginkan gaun pengantin berlengan yang terlihat sopan. Dia tidak ingin tubuh Alisha terlalu terekspos bebas.
"Astaga." Pekik Monik yang baru saja datang.
"Darimana kamu tahu?" Tanya Alisha bingung sebab dia tidak tahu menahu soal undangan.
"Dari undangan. Selamat ya." Ucap Monik dengan air mata hampir tumpah. Harapan besarnya terwujud. Sudah sejak dulu dia ingin Alisha melepaskan diri dari Tama dan mencari pengganti." Ini baru pernikahan." Imbuhnya mengusap kasar air matanya. Dia tidak ingin Alisha melihat tangis harunya." Ayo turun. Akad sudah selesai dan kamu harus menandatangani beberapa berkas." Monik meraih lengan kanan Alisha untuk membantunya berjalan.
Ada rasa gugup meski hanya sedikit. Namun ketika dia sampai ke ujung tangga. Rasa gugupnya bertambah, melihat banyak tamu yang tengah fokus ke arahnya.
Aku tidak pernah membayangkan merasakan ini lagi..
"Eldar tampan sekali. Aku yakin kau akan mengeluarkan darah lagi nanti saat malam pertama." Canda Monik berbisik. Alisha tersenyum aneh seraya menunduk karena fokus melihat jalan.
"Kamu berkata apa sih Mon."
"Ish! Sok tidak dengar. Besok kamu harus bercerita kisah malam pertamamu." Ingin rasanya Alisha membalas ucapan Monik. Tapi dia terlalu fokus pada suasana riuh yang terjadi sekarang.
Dia benar-benar melakukannya. Dia mengundang orang sebanyak ini hanya untuk menyaksikan dia menikahi wanita bekas seperti ku. Alisha tersipu ketika melihat Eldar terlihat semakin tampan dengan jas yang di pakainya sekarang. Suamiku tampan sekali. Ahhh tidak!! Aku juga begitu dua tahun lalu!! Jika Eldar nanti bersikap seperti Mas Tama bagaimana? Ya Tuhan, jadikan ini pernikahan terakhir ku.
Alisha di giring duduk tepat di samping Eldar untuk menandatangani berkas-berkas yang ada di sana. Satu surat nikah di berikan padanya untuk prosesi pemotretan. Tidak lupa keduanya bertukar cincin untuk pelengkap janji suci keduanya.
"Aku bahagia sekali. Kamu jadi milikku hari ini." Bisik Eldar lirih.
"Iya Mas."
"Iya apa?" Tanya Eldar ingin tahu.
"Kamu bahagia."
"Terus kamu?"
"Asal saling menghargai aku pasti bahagia." Eldar menarik nafas panjang. Alisha masih saja tidak merasa yakin dengan perasaannya.
"Aku tidak bisa menghargai mu karena kamu tidak ternilai di mataku."
"Ahh menggombal." Eldar terkekeh sementara Alisha tersenyum.
Gunung es yang ada di hati Eldar benar-benar runtuh. Dia bahkan tersenyum bangga memperkenalkan Alisha pada satu persatu relasi baiknya.
"Akhirnya si kutub selatan meleleh." Canda Dean seraya memeluk erat tubuh Eldar." Selamat ya." Dean akan menjabat tangan Alisha namun di tampis kasar oleh Eldar.
"Cukup aku saja. Tidak perlu menyentuhnya."
__ADS_1
"Ternyata masih ada sisa gunung es di dalam hehe. Pokoknya selamat ya, semoga bahagia dan cepat di berikan momongan." Raut wajah Alisha berubah seketika.
Aku tidak akan bisa memberikan Mas Eldar keturunan..
Plaaaaaakkkkkk!!!!
Eldar menepuk kasar pundak Dean hingga terjungkal. Dia tahu jika Alisha merasa tersinggung dengan ucapan tersebut.
"Bukankah lebih baik kau tutup mulutmu dengan makanan daripada harus berbicara macam-macam di sini!!!" Ucap Eldar penuh penekanan.
Alisha meraih lengannya erat. Meski dia tersinggung tapi tidak seharusnya Eldar marah.
"Terimakasih doanya." Jawab Alisha.
"Apa salahku El?" Eldar akan maju namun Alisha mencengkram erat lengannya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Itu sebuah doa Mas, jangan seperti itu." Ucapan Alisha langsung mendinginkan perasaannya.
"Aku mendoakan mu El. Apa aku salah?" Sahut Dean lagi.
"Sebaiknya kamu pergi dan nikmati pestanya." Pinta Alisha memberikan kode pada Dean.
"Hm baiklah." Dean pergi. Alisha mengiring Eldar untuk duduk.
"Kamu tersinggung kan?" Tanya Eldar membaca raut wajah Alisha.
"Iya Mas tapi temanmu tidak tahu jadi jangan seperti itu. Apalagi itu memang kenyataan."
"Jangan bersedih di hari bahagia kita."
"Aku tidak bersedih hanya saja sedikit pusing. Hiasan kepala ini berat sekali." Eluh Alisha merasa tidak sanggup menahannya lagi.
"Sebaiknya kamu beristirahat saja."
"Masih banyak tamu Mas." Tolak Alisha merasa tubuhnya tidak fit karena kurang tidur.
"Hanya tinggal sedikit. Ayo." Tanpa aba-aba, Eldar mengangkat tubuh Alisha. Dia kembali tidak perduli dengan sekitar sementara Alisha merasa malu setengah mati.
"Mas biar aku jalan sendiri."
Para tamu berfikir mungkin Eldar tidak sabar dengan malam pertamanya, sehingga membuat para tamu terdengar riuh melihat adegan yang di tunjukkan sekarang.
Eldar menurunkan Alisha di sisi ranjang lalu berjongkok untuk membantunya melepaskan alas kaki.
"Aku akan memanggil para perias untuk membantu mu melepaskan gaun." Ucap Eldar seraya berdiri.
"Terimakasih Mas."
"Sama-sama Babe." Eldar membungkuk dan mencium kening Alisha sejenak." Aku panggilkan mereka ya agar kamu bisa beristirahat." Alisha mengangguk seraya tersenyum dengan manik tidak terlepas dari Eldar yang mulai melangkah keluar kamar.
Apa dia akan bersikap manis seperti itu selamanya? Amin Tuhan. Semua kekayaan ini tidak sepadan dengan rasa saling menghargai. Semoga Mas Eldar bisa selalu melakukan itu...
Setelah menyuruh para perias, Eldar kembali menemui para tamu undangan di temani oleh Abraham dan Dean.
❤️💙
"Sebaiknya kamu berhenti berkerja saja Lis. Mama lelah kalau harus masak sebanyak itu setiap hari." Lilis yang tengah menunggu chat balasan dari Damar malah tidak fokus dengan ucapan Mama Rita." Lis." Panggil Mama Rita.
"Iya Ma?"
"Kau tidak dengar Mama bicara apa?!!"
Ish! Mengomel terus!! Pusing lama-lama.
"Bilang apa Ma?"
"Sebaiknya kau berhenti berkerja agar bisa memasakkan Suamimu makanan."
"Kalau masalah makanan bisa beli Ma." Tolak Lilis cepat.
"Agar kamu juga cepat hamil."
Mana mungkin bisa hamil kalau Tama tidak tahan lama seperti itu!
"Itu tidak ada hubungannya Ma. Gaji Tama juga tidak cukup banyak untuk kebutuhanku jadi aku harus tetap berkerja."
__ADS_1
"Terus Mama kau jadikan pembantu di sini?"
"Suruh saja tuh anak perempuanmu. Kenapa harus aku sih Ma."
"Tama..!!!" Teriak Mama Rita.
"Ya Ma."
"Lihat lah kelakuan Istri barumu ini!!" Tentu saja Mama Rita merasa geram melihat tingkah laku Lilis yang hanya pintar bersolek." Cucian baju menumpuk seperti itu tapi pulang kerja malah duduk-duduk di sini." Tunjuk Mama Rita kasar.
Tama menarik nafas panjang seraya menatap wajah ketus Lilis.
"Sebaiknya kau cuci baju."
"Laundry saja Tam. Aku capek pulang kerja." Tolak Lilis tidak terbiasa melakukan pekerjaan rumah. Dulu saja dia selalu menyuruh orang untuk membersihkan rumahnya jika memang sudah sangat kotor.
"Cucian di laundry! Masakan beli! Memangnya gaji Suamimu cukup!!!"
"Itu bukan urusanku ya Ma. Aku itu pengen jadi Istri! Bukan pembantu!" Celetuk Lilis seraya berdiri dan pergi masuk kamar.
Tama terdiam dengan sorot mata sayu menatap ke arah Lilis. Lagi lagi dia teringat pada Alisha yang sekalipun tidak pernah mengeluh meski setiap hari selalu mengerjakan perkerjaan rumah.
Setiap kali dia pulang kerja, rumah sudah tampak bersih. Bahkan saat dia akan pergi berkerja, baju seragamnya sudah tergantung rapi di dalam lemari.
Apa yang sudah ku lihat selama ini. Eluh Tama merasa menyesal. Keraguannya terbukti sebab Lilis bukan seperti apa yang di bayangkan.
"Sebaiknya kamu mencuci baju mu. Mama lelah Tam!!" Ucap Mama Rita berlalu pergi.
Tama berjalan ke belakang dan melihat cucian bajunya menumpuk. Baunya pun tidak sedap sehingga dia menutup hidungnya dengan tangan kanannya.
"Sebanyak ini?" Gumamnya mengeluh.
"Ya memang sebanyak itu Kak. Istri baru Kak Tama kan takut kalau kukunya patah." Ledek Wina menatap malas ke arah Tama.
"Apa maksudmu berkata itu?"
"Apa perlu ku jelaskan Kak!" Tama terdiam dan tidak bergeming." Bilang pada Istrimu juga! Kalau pakai baju itu yang sopan!! Ini itu rumah! Bukan tempat pelaccuran!!"
Tama mulai memasukkan cucian baju dengan fikiran kalut. Apa yang pernah di protes pada Alisha dulu kini menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
Mencuci ternyata melelahkan padahal ini memakai mesin. Bagaimana rasanya jika mencuci manual?
Tidak perlu membeli mesin cuci Mas. Uangnya buat keperluan lain saja. Jika hanya mencuci baju milik kita, aku masih bisa mengatasi kok..
Tama tersadar dari lamunannya saat melihat Lilis akan berjalan keluar. Segera saja dia menghampirinya untuk bertanya.
"Mau kemana?" Tama meraih pergelangan tangan Lilis kasar.
"Belanja lah."
"Cuciannya banyak Lis. Bukankah lebih baik kau bantu aku?"
"Malas Tam." Lilis menarik tangannya kasar." Cuci yang bersih ya. Jangan lupa di setrika." Lilis mempercepat langkahnya saat taksi pesanannya sudah datang dan mengantarkannya ke sebuah hotel." Hai.." Sapanya memeluk Damar yang tengah menyambut kedatangannya.
"Aman kan Mbak?"
"Hm aku tadi bilang akan belanja."
"Ayo Mbak." Keduanya berjalan beriringan masuk ke sebuah kamar.
"Aku beruntung bisa menikah dengan Tama dan menemukan lelaki tangguh seperti dirimu." Lilis mengusap lembut dada bidang Damar seraya membuka kancing kemejanya.
"Aku juga merasakan keuntungan itu Mbak. Biasanya aku menghabiskan waktu di tempat bilyard. Sekarang sudah ada Mbak Lilis."
Keduanya saling melummat kasar dengan baju yang sudah tertanggal di bawah. Damar sudah terbiasa menghianati pernikahannya meski tanpa sepengetahuan Wina. Sementara Lilis, kembali haus belaian karena Tama yang tidak dapat memuaskannya.
Bibir Lilis tersungging, sesekali menjerit saat milik Damar bergerak keluar masuk di lubang miliknya. Damar juga merasa begitu bersemangat sebab dia menyukai wanita dengan body seperti Lilis.
Jika dengan Damar. Aku tidak perlu membeli obat kuat. Ah.. Dia harus jadi milikku..
💙❤️💙❤️💙
🙄🤮
Aku tidak bisa berkata-kata 🤣
__ADS_1
Terimakasih dukungannya 🥰🥰