
Sesuai janji. Siang itu Alisha kembali memasakkan makan siang untuk Eldar.
Sebuah sajian sederhana tersaji, lengkap dengan sirup dingin juga air putihnya.
Eldar terlihat menikmati, meski masakan Alisha tidak terasa sedap.
Ini lebih sedap dari masakan tadi. Apa mungkin cara memasaknya yang salah?
Di tengah acara makan, si penjaga rumah tiba-tiba menerobos masuk.
"Ada Tamu Tuan."
"Siapa?"
"Tuan Dean dan.."
"Suruh masuk saja." Sahut Eldar cepat. Dia tidak tahu jika Dean tidaklah sendiri. Dia datang bersama teman lelakinya untuk singgah sebentar.
"Baik Tuan." Si penjaga rumah bergegas pergi.
Tidak berapa lama kemudian, terdengar sapaan Dean dari arah ruang tamu.
"Aku temui dulu sebentar Babe."
"Hm Mas, silahkan." Alisha membereskan piring kotor dan langsung mencucinya sementara Eldar berjalan ke depan untuk melihat.
Raut wajah tidak suka langsung tergambar jelas padahal Dean hanya membawa satu orang teman lelaki.
"Ada perlu?" Tanya Eldar tanpa duduk.
"Tidak ada. Aku hanya singgah sebentar." Obrolan itu cukup keras sehingga Alisha dapat mendengarnya di dapur.
"Kau fikir ini tempat persinggahan!" Dean tertawa aneh. Dia merasa sungkan dengan teman mainnya.
"Di rumahku sedang banyak Tamu El. Keluarga besar ku menginap beberapa hari jadi bolehkan..."
"Tidak boleh!!" Sahut Eldar cepat.
Pandangan Dean teralih ketika Alisha keluar dari dapur dengan membawa cemilan dan minuman ringan. Hal itu semakin membuat emosi Eldar naik ke ubun-ubun.
"Bawa pergi temanmu!!" Pinta Eldar kasar.
"Mas tidak boleh begitu, mereka kan tamu." Eldar mengambil nampan dari tangan Alisha dan melemparkannya ke arah Dean dan temannya.
Kluntang....
Sontak Dean dan temannya berdiri karena tidak ingin terkena lemparan itu.
"Mas." Alisha meraih lengan Eldar dan menggenggamnya erat.
"Oke kutub selatan. Biarkan aku menumpang buang air kecil saja." Rajuk Dean.
"Pergi kataku! Jika kau tidak pergi! Kalian yang akan ku lempar ke neraka!!!" Alisha menoleh, sedikit mendongak menatap Eldar yang tengah memperlihatkan wajah kesalnya.
Kenapa bisa dia merubah sikap dengan begitu cepat.. Mimik wajah itu memang terlihat ketika awal pertemuan kita. Aku sempat menyebut dia orang yang kasar tapi nyatanya sikapnya begitu lembut terhadap ku.
__ADS_1
"Maafkan Suamiku." Ucap Alisha setengah berteriak saat melihat Dean beranjak pergi.
"Tidak masalah Nona. Aku sudah..." Eldar meraih sebuah guci sehingga Dean lebih memilih pergi daripada guci itu benar-benar terlempar.
"Bukankah itu teman kamu Mas."
"Teman sialan!!" Eldar meletakan kembali guci yang sempat di ambil.
"Biar ku bereskan."
"Tidak Babe. Kita ke atas."
"Terus kekacauan itu?" Eldar mengangkat tubuh Alisha karena pecahan toples kaca berserakan di lantai.
"Kirman!!!!" Panggil Eldar berteriak.
"Iya Tuan.." Kirman datang dalam beberapa detik.
"Bereskan itu."
"Baik Tuan." Eldar melangkah menaiki tangga dengan noda darah yang ada pada kakinya akibat terkena serpihan kaca.
Terasa sedikit perih, namun Eldar tidak perduli itu hingga berhasil menurunkan Alisha di ruang televisi.
Tangannya meraih tisu lalu duduk di samping Alisha dan mengangkat kaki kanannya untuk mengambil serpihan kaca.
"Loh Mas." Pekik Alisha tentu merasa kaget.
Tanpa ekspresi, Eldar mencabutnya dan membersihkannya dengan beberapa lembar tisu.
"Mau kemana? Jangan turun untuk mengambil kotak P3K. Aku baik-baik saja."
"Aku mau ke kamar, sebentar." Alisha melepaskan genggaman tangan Eldar dan melangkah masuk kamar yang terletak tidak jauh dari sana.
Alisha keluar dengan membawa sebuah plester yang selalu tersedia di tas miliknya.
"Dari mana kamu dapat itu Babe." Alisha tersenyum dan duduk di bawah tepat di kaki Eldar.
"Aku selalu membawa ini di tas untuk jaga-jaga." Alisha membersihkan luka ringan itu dan menempelkan plaster bergambar bunga.
Itu kenapa dia mengangkat tubuhku. Aku bahkan tidak mengerti jika serpihan kaca berceceran di sana.
"Sudah Mas." Alisha kembali duduk setelah membuang tisu bekas.
Meski ada sedikit rasa canggung, tapi nyatanya Alisha tengah memposisikan dirinya berbaring dan tidur di pangkuan Eldar. Dia mencoba menuruti perkataan Eldar agar dia melepaskan semua perasaannya dan juga keinginannya.
"Aku tidak menyadari serpihan kaca itu." Ucap Alisha lirih." Bagaimana kamu bisa melihat itu dengan cepat Mas." Alisha meraih jemari Eldar dan menggenggamnya dengan kedua tangannya.
"Sekecil apapun bahaya yang akan melukaimu, aku pasti melihatnya." Alisha kembali menahan diri untuk berkata menggombal.
"Sekalipun Mas tidak pernah pacaran?" Tanya Alisha ingin tahu.
"Untuk apa aku melakukannya."
"Sebagai perkenalan Mas. Saling mengenal atau sekedar teman wanita?"
__ADS_1
"Aku tidak pernah berfikir sejauh itu. Aku orang yang tidak pernah bersosialisasi. Aku tidak mau di repotkan dan itu kenapa aku tidak ingin terlibat atau sekedar bertanya tentang permasalahan seseorang."
"Terus? Kenapa Mas minta di repotkan sekarang?" Alisha akan bangun namun tangan Eldar menahannya.
"Itu yang membuatku tidak mengerti." Eldar tersenyum dan menertawakan dirinya sendiri." Malam itu aku ingin mengabaikan mu dan bahkan sudah berbelok. Tapi otakku menyuruhku untuk menolong mu. Rasanya tangan dan kakiku bergerak tidak sesuai isi hatiku." Alisha ikut tersenyum mengingat pertemuan pertama mereka hingga memicu perdebatan di Cafe." Sebelumnya, kamu sering keluar malam Babe?" Eldar mengelus rambut panjang Alisha berulang-ulang.
"Tidak Mas. Waktu itu aku kemalaman gara-gara mengantarkan Monik berburu diskon. Aku mengambil jalan pintas karena takut.. Em dia marah." Tarikan nafas berat terdengar pada keduanya.
"Kenapa dia membiarkanmu berkeliaran bebas?"
"Dia berkerja."
"Kamu kesepian dan jenuh menunggunya pulang?" Tanya Eldar lembut. Dia tidak ingin mengungkit masa lalu namun tergelitik dengan permasalahan yang menimpa Alisha hingga bisa merubah pola fikir Alisha seperti sekarang.
Dari bahasa tubuh, cara berbicara, Eldar sudah bisa menebak jika sebenarnya Alisha seorang wanita yang suka bergantung. Dia hanya sedang berpura-pura kuat agar tidak terlihat terlalu lemah.
"Tidak juga Mas. Em... Dia tidak pernah ada waktu untukku sehingga membuat aku sedikit pusing dan mencari hiburan dengan menghabiskan waktu bersama Monik."
"Memangnya jam berapa dia pulang berkerja." Manik Alisha menatap Eldar dengan penuh tanya.
"Untuk apa bertanya itu?"
"Bagaimana bisa dia merubah mu seperti sekarang Babe. Sejak awal aku tahu kamu bukan wanita yang kuat tapi kenapa kamu bersikap seolah-olah kamu kuat."
"Ish.. Kenapa Mas jadi sok tahu."
"Memang tahu. Benar tidak? Jujur saja. Agar kamu bisa terlepas dari fikiran buruk dan menyamakan aku dengannya." Alisha cepat-cepat duduk tegak dan menghadap ke arah Eldar.
"Aku tidak menyamakan kamu Mas."
"Terus kenapa kamu tidak bermanja-manja dengan Suami barumu ini." Ledek Eldar terkekeh kecil.
"Semua kan butuh waktu Mas. Aku hanya takut.."
"Gagal?" Alisha tersenyum seraya mengangguk." Aku tidak pernah berpacaran dan berhubungan dengan wanita lain. Itu tandanya, semua yang ku katakan padamu bukan bualan Babe. Aku serius. Tidak mencoba merayumu apalagi menggombal. Kamu pertama dan terakhir, aku berjanji. Jadi.. Tunjukkan sikap manja mu." Wajah Alisha semakin memerah. Perkataan Eldar berhasil menghujani perasaannya dengan sesuatu yang menyejukkan.
"Aku sedang berusaha Mas."
"Akan ku bantu usahamu agar cepat berhasil." Eldar mendekatkan hidung mancungnya ke hidung kecil Alisha.
"Sore pertama Mas." Tanya Alisha lirih.
"Hm kamu mau?" Alisha mengangguk seraya menghirup kuat-kuat aroma nafas masing-masing.
Bersambung🤭
Dari sini kisahnya memang terfokus pada bagaimana cara Eldar mengembalikan Alisha pada jati dirinya
Semoga tidak bosan..
Minum kopi pahit dulu biar nggak kena mental nantinya 🤣🤣🤭🤭🤭
Terimakasih dukungannya 🥰🥰🥰
__ADS_1