
Damar terkejut, ketika lilis menunjukkan testpack bergaris merah dua padanya. Lilis sengaja berhenti meminum pil KB, agar doa bisa menjerat Damar dengan kehamilannya.
"Apa ini?" Tanya Damar terbata.
"Aku hamil." Wajah Damar berubah kesal. Dia bergegas berdiri dan memunguti baju yang tergeletak di lantai." Mau kemana? Katanya kita menginap semalam?" Imbuh Lilis bertanya.
"Aku tidak mengerti. Kenapa kau menunjukkan testpack itu padaku?"
"Ini anakmu." Damar menatap tajam Lilis seraya mengunakan baju dan celananya.
"Omong kosong! Bukankah sudah ku katakan. Minum pil itu agar kamu tidak hamil!"
Satu kebenaran terkuak. Selama ini Damar memang tidak menginginkan anak. Dia masih ingin berpetualang dan tidak ingin di repotkan dengan urusan anak.
"Aku sengaja tidak meminum itu. Aku menyukaimu Damar tapi kenapa kau tidak memperjelas hubungan ini." Lilis meraih lengan Damar dan mencegahnya pergi namun Damar dengan tega menendang tubuhnya.
"Kejelasan apa Lilis!! Semuanya sudah jelas! Kau Istri Tama dan aku Suami Wina, Adik ipar mu!! Aku hanya bersenang-senang dengan mu. Aku tidak mau terikat apalagi harus kau repotkan dengan anak!! Sebaiknya kita tidak berhubungan lagi. Minta Mas Tama untuk bertanggung jawab."
"Aku tidak pernah berhubungan dengannya! Ini anakmu Damar!!"
"Perduli apa aku!!!" Damar melangkah pergi meninggalkan Lilis yang bahkan belum mengenakan baju lengkap.
"Awas kau Damar!! Enak saja kamu mau lari dari tanggung jawab!! Aku akan membuat mu berpisah dari Wina!!! Agggggghhhhhhhhh!!! Dasar lelaki sialan!!" Umpat Lilis seraya menutup pintu kamar keras.
Braaaakkkkk!!!
Damar sendiri langsung menuju parkiran dan memutuskan untuk pulang. Rencana pelarian di lakukan agar dia bisa terlepas dari jeratan Lilis yang akan membuat semua kebusukannya terbongkar.
"Loh Mas sudah pulang." Sapa Wina menyerbu.
"Aku harus ke luar kota selama satu Minggu." Jawab Damar asal. Dia berencana menyewa tempat tinggal sementara. Sampai masalah Lilis dan dirinya selesai.
"Mendadak sekali Mas." Senyum hangat di perlihatkan untuk mengelabuhi Wina agar tidak curiga.
"Mau bagaimana lagi sayang. Ikut orang yang harus seperti ini. Agar aku juga segera naik pangkat." Wajah Wina berubah sumringah. Dengan polosnya dia menerima kebohongan yang di lontarkan Damar.
"Aku doakan cepat naik pangkat Mas."
"Amin. Siapkan bajuku ya. Aku berjanji akan sering berkabar.". Damar menurunkan koper baju besar dari atas lemari agar Wina segera memasukkan bajunya ke dalam sana.
Lebih baik Mas Damar keluar kota daripada harus bertemu Lilis..
🌹🌹🌹
Kali ini Alisha benar-benar membeli beberapa baju yang terlihat longgar. Entah apa maksudnya karena Eldar tidak kuasa berkomentar. Dia takut memicu ledakan nuklir di hati Alisha yang sepertinya sedang sensitif.
"Apa terlalu banyak Mas." Eluh Alisha memperhatikan Eldar memasukkan semua tumpukan baju ke dalam mobil.
"Tidak Babe." Tidak masalah jika banyak.Tapi, ini terlalu banyak. Apa dia akan membuka butik di rumah. Apa yang terjadi dengan Istriku. Kenapa dia terlihat semakin mengemaskan hehe.. Konyol sekali melihatnya marah seperti itu.
"Mas." Tepukan Alisha membuat Eldar terpekik.
"Hm.." Eldar menutup pintu mobilnya kemudian beralih menatap Alisha.
"Mas memikirkan apa. Kenapa lama sekali." Celetuk Alisha berprotes.
__ADS_1
"Aku menata tempatnya agar cukup Babe." Jawab Eldar beralasan.
"Pulangnya beli buah ya Mas. Aku lapar." Alisha masuk ke dalam mobil di ikuti oleh Eldar.
"Beli nasi saja jika kamu malas memasak."
"Nanti ku masakan untuk kamu Mas. Tapi antarkan aku beli buah untuk makan." Rasanya tidak ada gunanya berprotes sehingga Eldar lebih memilih diam dan menurut.
"Oke siap Babe." Sambil fokus menyetir sesekali Eldar menoleh ke Alisha yang tengah duduk tegap menatap jalan. Hatinya tentu bertanya tentang perubahan sikap Alisha hari ini.
Setibanya di lapak buah, Alisha mengambil banyak buah tanpa perhitungan. Untungnya Eldar membawa cukup banyak uang cash sehingga itu tidak jadi masalah. Namun yang jadi pertanyaan adalah.
"Kamu serius menghabiskannya Babe?" Tanya Eldar menyerahkan uang pada pedagang.
"Iya Mas, aku habiskan."
"Hm.." Eldar mengangguk-angguk seraya mengekor Alisha menuju mobil." Ada tambahan lagi Babe?" Tanya Eldar melirik ke bagasi mobil yang terlihat penuh. Hehe seperti pedagang saja. Apa selain membuka butik dia juga akan jadi pedagang buah. Kekeh Eldar dalam hati.
"Tidak Mas kita pulang. Aku lelah sekali." Alisha masuk mobil di ikuti oleh Eldar.
.
.
Waktu makan malam pun tiba. Eldar terkesan dengan masakan sedap Alisha yang di hidangkan. Terasa sangat menggoyang lidah.
Kunyahannya seketika berubah pelan ketika melihat menu makanan yang di konsumsi Alisha. Sepiring nasi di hidangkan dengan potongan melon dan apel.
"Babe." Eldar melongok, memperhatikan Alisha makan dengan lahapnya.
"Enak sekali. Tapi, kenapa kamu makan itu. Bagaimana rasanya?"
"Enak Mas. Terasa segar di mulut."
"Apa yang terjadi denganmu Babe?" Tanya Eldar mengulang pertanyaan yang sama.
"Aku hanya mengikuti keinginanku saja."
"Apa ini kebiasaan mu sejak dulu." Eldar berfikir mungkin Alisha mulai menunjukkan sifat dan sikap aslinya. Padahal sekalipun Alisha tidak pernah menutupi itu semua.
"Tidak Mas. Aku baru kali ini makan nasi dan buah." Jawab Alisha lemah. Dia merasa tersinggung dengan pertanyaan yang di lontarkan Eldar." Apa salahnya sih Mas? Katanya yang penting aku bahagia." Imbuh Alisha mulai merasakan sesak pada dadanya.
"Tidak ada salahnya Babe. Aku hanya ingin tahu. Em kita lanjutkan makan."
Suasana makan menjadi hening. Eldar merasa bersalah sudah memicu kekesalan pada hati Alisha hingga membuatnya tidak banyak bicara.
"Aku minta maaf atas tadi." Ucap Eldar lirih. Dia mendekap tubuh Alisha dari belakang dan mencium pundak belakangnya.
"Iya Mas. Aku juga merasa aneh. Em bisakah kita tidur langsung Mas. Aku tidak bersemangat melakukan itu." Nafas berat berhembus. Eldar merasa jika Alisha masih memendam kekesalan karena kesalahan yang di katakan berulang-ulang.
"Kamu tidak memaafkan aku."
"Tidak apa Mas. Aku mengerti maksud dari ucapan mu tadi."
"Terus kenapa harus libur Babe. Kita harus berusaha." Kedua tangan Eldar terulur dan menyentuh benda kecil di hadapannya.
__ADS_1
"Ach Mas sakit!!" Pekik Alisha langsung saja duduk.
"Sakit? Apa yang sakit?" Eldar ikut duduk dan memasang wajah panik.
"Rasanya lebih kencang dari biasanya. Sakit sekali Mas. Mungkin aku akan datang bulan." Jawab Alisha menebak.
"Coba ku periksa." Alisha bergegas berdiri.
"Itu hanya modus Mas El saja. Di periksa apanya? Sakit ya sakit Mas." Eldar menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.
"Aku serius Babe. Sini biar ku lihat. Jika kamu tidak ingin melakukan itu. Kita langsung tidur." Eldar tidak sedang bercanda. Dia merasa khawatir pada benda kecil yang mungkin terluka karena ulahnya.
"Mas El berbohong."
"Serius Babe. Sini biar ku lihat." Rajuknya menepuk-nepuk pinggiran tempat tidur di depannya.
"Hm.." Alisha kembali duduk lalu menaikkan dress-nya. Pengait bra di buka sehingga dia dapat memperlihatkan dua gundukannya yang terlihat lebih padat.
Dengan lembut, Eldar mengusapnya lembut dengan saliva tertelan kasar. Itu terlihat begitu segar namun rintihan suara Alisha membuat otak buruknya langsung musnah.
"Emmm Mas.. Sakit." Ucap Alisha mendesis.
"Apa aku terlalu bersemangat ya Babe. Kenapa bisa keras seperti ini."
"Sudah Mas. Tolong." Alisha memutar tubuhnya memunggungi Eldar untuk meminta bantuan menyatukan pengait bra.
Aku terlalu bersemangat untuk mendapatkan keturunan sehingga membuat payyudaranya sakit seperti itu.
"Maaf ya Mas. Kita puasa dulu untuk malam ini."
"Iya Babe. Kita tidur dan jangan lupa berdoa." Agar besok sudah tidak sakit dan kita bisa berusaha lebih keras lagi Babe.
"Terimakasih Mas. Ayo." Alisha dengan cepat berbaring dan mengajak Eldar ikut serta. Kepalanya di tumpukan pada lengan kekar itu dengan kedua kaki terselip di antara kaki panjang Eldar.
Jika tidak ingin kenapa harus tidur dengan posisi ini.. Ahh juniorku meronta..
"Mas."
"Hm."
"Kalau tidur di tutup matanya."
"Ini sedang berusaha."
"Memikirkan siapa hingga tidak bisa tidur?" Alisha akan menarik kakinya namun kaki Eldar mengikatnya.
"Tidak memikirkan siapa-siapa."
"Ya sudah tidur dan tutup matanya."
"Hm Babe. Selamat malam." Eldar meraih dagu Alisha lalu melummat nya sebentar.
"Selamat malam juga Mas." Bibir Alisha menempel lembut pada leher Eldar yang setengah mati menahan hasrat dengan mata yang terpaksa harus di tutup.
Aku berharap pagi akan cepat datang...
__ADS_1
🌹🌹🌹