Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 31


__ADS_3

Alisha membiarkan Eldar menyentuhnya dengan leluasa. Meskipun Eldar selalu saja meminta izin padanya lebih dulu.


"Bolehkah Babe." Tanya Eldar dengan nafas memburu. Saat akan menyentuh milik Alisha yang ada di bawah.


"Kamu sudah menikahiku Mas. Tidak perlu izin." Jawab Alisha lembut.


Tangan Eldar menurunkan celana dallam, satu-satunya penutup yang tersisa.


Sesuai dugaan.. Ini masih sangat indah..


Dengan tangan bergetar, Eldar menyentuhnya lembut, menekannya dengan tatapan fokus ke Alisha yang menikmati sentuhannya.


"Berjanjilah padaku."


"Berjanji apa Mas."


"Jika ingin buang air kecil, lepaskan dan tidak perlu di tahan."


"Nanti ranjangnya kotor."


"Ini perintahku."


"Iya Mas." Eldar tersenyum dan kembali memulai. Bibirnya bermain bebas di dua gundukan milik Alisha dengan tangan sibuk mengusap milik Alisha yang ada di bawah." Mas emmmppt.. Ada yang akan keluar." Lenguh Alisha menekan kepala Eldar agar Eldar memperdalam hisapannya.


"Keluarkan Babe." Alisha memejamkan matanya dengan tubuh bergerak tidak beraturan. Bibirnya terbuka lebar untuk menghirup oksigen kuat-kuat akibat kenikmatan yang di berikan oleh Eldar.


Saat akan mencapai pelepasannya, Eldar cepat-cepat menurunkan celananya lalu menggantikannya dengan miliknya.


"Sempit sekali Babe." Lenguh Eldar tidak langsung bergerak. Dia ingin melihat bagaimana ekspresi Alisha sekarang.


"Rasanya panas Mas. Sedikit nyeri di sana." Eluh Alisha menarik nafas panjang karena nyeri yang di timbulkan.


"Aku merasa kamu masih gadis." kita buktikan Babe..


Eldar mendorong miliknya kuat, hingga Alisha menjerit seraya mencengkram erat kedua pundaknya.


"Kenapa sakit sekali ahhh.. Mungkin terlalu lama tidak di pakai." Celoteh Alisha tidak di dengar, sebab manik Eldar melihat ke bawah dan melihat sesuatu yang mampu membuat bibirnya tersungging.


Aku melihat darah! Bagaimana mungkin.. Apa selama ini mantan Suaminya tidak pernah menyentuhnya..


"Tahan sedikit Babe." Eldar mulai bergerak dengan pelan. Memejamkan matanya dan sesekali mendesis nikmat. Miliknya terasa di hisap kuat hingga membuatnya langsung menambahkan tempo gerakkannya.

__ADS_1


Alisha hanya bisa menddesah hebat, merasakan sesuatu yang selama ini tidak pernah di dapatkannya. Milik Eldar terasa mengobrak-abrik dinding rahimnya. Menimbulkan sensasi melenakan hingga membuat kedua tangannya melingkar erat pada pinggang Eldar.


"Kenapa begini rasanya.. Ah Mas lebih dalam.." Eldar tersungging, menarik tubuh Alisha dan menyentuh milik Alisha dengan posisi duduk.


"Katakan. Kau pernah merasakan ini?" Tanya Eldar seraya terus bergerak.


"Tidak Mas. Kenapaaa begini rasanya ahhh sentuh lagi Mas."


"Itu jawaban yang membahagiakan Babe." Eldar menusukkan miliknya dari bawah begitupun Alisha yang juga tengah bebas bergerak.


pelepasan beberapa kali Alisha dapatkan hingga peluh keringat mengucur deras dan membuat sprei terlihat basah.


"Mas aku ingin keluar lagi.."


"Bersama-sama Babe." Gerakan semakin brutal. Bunyi decitan ranjang terdengar cepat. Nafas keduanya terengah-engah bahkan kesulitan bernafas. Menghirup kuat-kuat oksigen yang terasa menipis di sekitar. Hingga erangan panjang terdengar lolos dari bibir Eldar dengan kedua tangan masih menekan pinggang Alisha kuat.


"Emmm ah terimakasih." Eldar menelungkup wajah Alisha dan mengecup bibirnya sebentar.


"Sama-sama Mas." Ya Tuhan... Nikmat sekali... Ingin rasanya Alisha menjerit untuk melambangkan kenikmatan yang di rasakan. Matanya melebar ketika dia melihat banyak bercak darah di spreinya. "Darah?" Ucapnya terbata. Berarti Monik benar?


"Bukankah itu aneh Babe. Aku tidak ingin membahas lelaki sialan itu. Tapi, apa saja yang kalian lakukan saat menikah dulu. Kenapa selabut darahnya robek lagi." Tanya Eldar merasa penasaran.


"Jangan bilang kau tidak pernah merasa puas pada pernikahanmu dulu?"


"Aku tidak pernah menceritakan itu." Alisha mengenakan dress-nya lagi. Dia masih tidak ingin membicarakan aib mantan Suaminya.


"Kita mandi bersama." Alisha mengangguk seraya berdiri. Wajahnya tersipu karena merasa senang dengan perlakuan Eldar di awal pernikahan.


Semoga kamu selalu seperti itu Mas. Aku akan mengabadikan sisa hidupku hanya untukmu..


********************


Lilis duduk bergabung untuk sarapan pagi tanpa merasa sungkan pada Mama Rita. Muka tebalnya tidak ingin perduli karena dia sudah masuk menjadi anggota keluarga Mama Rita.


"Enak ya. Bangun tidur langsung makan terus berangkat kerja." Celetuk Mama Rita menatap tajam Lilis.


"Terus mau bagaimana lagi Ma. Aku kan kerja." Jawab Lilis melahap sarapannya.


"Paling tidak bangun pagi dan bantu beres-beres rumah Mbak." Sahut Wina menatap malas ke arah Lilis yang seperti nya tengah bermain mata dengan Damar, Suaminya.


Wina tidak tahu jika keduanya bukan hanya sekedar bermain mata. tapi sudah melakukan perbuatan menjijikan tadi malam.

__ADS_1


"Kamu bilang begitu karena kamu tidak tahu rasanya berkerja sayang." Sahut Damar membuat Wina langsung menajamkan tatapannya.


"Hm iya benar kata Damar. Kamu fikir kerja itu tidak capek. Sudah capek suruh beres-beres rumah. Males lah." Wina yang merasa tersinggung langsung pergi begitu saja mendengar Suaminya membela wanita yang di benci.


"Ya kalau tidak ingin begitu tidak perlu punya Suami!" Sahut Mama Rita tidak terima anaknya di pojokan meski ucapan Lilis tidak sepenuhnya salah.


Wina terlalu di manja oleh Mama Rita sehingga membuatnya menjadi seorang wanita yang tidak bisa melakukan apa-apa.


"Berarti termasuk Wina juga Ma." Jawab Damar sebenarnya mulai kesal dengan sikap Wina yang selalu marah dengan hal-hal kecil seperti sekarang.


"Bukankah kamu tidak sopan berkata itu Damar!" Ucap Tama kesal.


"Bukan tidak sopan Kak. Tapi itu kenyataan. Wina saja tidak bisa memasak. Kenapa Mama harus menuntut Mbak Lilis untuk memasak? Padahal Wina kan di rumah, seharusnya dia yang membantu." Mama Rita meletakkan sendok dengan sedikit membantingnya seraya mendengus.


"Sebaiknya kamu cepat-cepat membeli rumah Tam! Mama tidak bisa tinggal dengan wanita seperti ini!!" Mama Rita menunjuk Lilis dan pergi dari acara sarapan pagi yang memanas.


"Mungkin dalam mimpi." Jawab Lilis lirih.


"Apa maksudmu Lis?"


"Mana mungkin kau bisa membeli rumah Tam." Damar tersenyum seraya meneguk sisa air putihnya.


"Aku duluan Kak." Pamit Damar sempat menyentuh paha Lilis sebentar dan pergi untuk berangkat kerja.


"Kamu kenapa berubah seperti ini sih Lis?" Protes Tama merasakan jika Lilis tidak seperti dulu.


"Aku tidak berubah Tam. Aku memang begini sejak dulu. Aku tidak bisa mengerjakan perkerjaan rumah dan jika sekarang Mama mu menuntut untuk itu. Aku lepas tangan!!" Tama menarik nafas panjang dan membuangnya kasar." Kau tahu perawatan tangan ku saja mahal terus harus rusak gara-gara mencuci. Haha malas sekali! Lebih baik aku tidak memiliki Suami sekalian!!!" Ucapan Lilis membuat Tama naik pitam. Dia yang notabenenya lelaki yang tidak ingin di salahkan tentu langsung tidak terima.


"Jika kau merasa seperti itu! Kenapa kau merebut ku dari Alisha!!!"


"Siapa yang merebut! Kau yang tergoda sendiri! Bukankah kau tahu kehidupanku seperti apa!! Aku memang selalu akrab dengan semua lelaki termasuk kau!!!" Tama membuang nafas kasar seraya menatap tajam Lilis. Dia kembali mengingat peringatan dari Alisha yang sering terlontar.


Mas, Mbak Lilis itu bukan wanita baik-baik. Jauhi dia Mas. Sesuatu yang buruk itu gampang menular...


Jika memang Mbak Lilis baik! Dia tidak akan mungkin mau kamu sentuh sementara dia sudah memiliki Suami!!


Sesal, sesal dan sesal hanya itu yang tersisa sebab mau tidak mau Tama harus menelan semuanya bulat-bulat. Merasakan sendiri keputusan yang sudah di ambilnya dulu. Lebih memilih bersama Lilis daripada Alisha yang menurutnya membosankan.


❤️❤️❤️❤️


Terimakasih dukungannya 🥰

__ADS_1


__ADS_2