
Alisha berjalan menjelajahi rumah Eldar yang sangat besar namun begitu bersih. Tidak ada perkerjaan yang bisa di lakukan, sehingga Alisha memutuskan untuk kembali ke ruang tengah.
"Ada yang kotor?"
"Tidak Mas." Alisha duduk di samping Eldar sedikit menjauh dan dengan cepat tangan Eldar merengkuh pinggangnya. Alisha membiarkan sikap Eldar padanya." Paling tidak beri aku perkerjaan agar tubuhku tidak terasa kaku nanti." Imbuhnya melihat sebentar ke wajah tampan Eldar.
"Lama-lama kamu akan terbiasa Babe. Perkerjaanmu adalah mengurus ku dengan baik."
"Kalau itu ya pasti Mas. Aku akan mengurus mu."
"Aku juga akan mengurus mu." Alisha mulai gelisah ketika Eldar mengerakkan tangannya yang tengah berada di pinggangnya.
Kenapa aku jadi ingin Mas Eldar mencium ku..
Alisha mengendalikan keinginannya yang terasa aneh. Selama dua tahun bersama Tama. Sekalipun dia tidak pernah menginginkan sentuhan fisik seperti sekarang.
"Emmm Mas.." Pekik Alisha ketika bibir Eldar mengecup pundak belakangnya beberapa kali.
"Bebas kan Babe." Alisha mengangguk seraya menikmati cumbuan hangat itu. Dia malah terus memundurkan tubuhnya agar menempel pada dada bidang Eldar." Aku sudah menyiapkan ini?" Eldar mendekap tubuh Alisha seraya memberikan sebuah ATM.
"Gaji Mas Eldar?" Tanya Alisha terbata.
"Gaji apa?" Alisha melupakan jika Eldar adalah pemilik perusahaan yang tidak pernah mendapatkan gaji." Ini uang untuk keperluan mu. Jika kurang nanti ku transfer lagi." Alisha menerimanya dengan perlahan.
"Mas ikhlas?" Tanyanya lirih." Aku tidak mau di ungkit-ungkit nantinya." Imbuhnya menggenggam ATM dengan kedua tangannya. Kembali mengingat saat Tama mengambil lagi uang ATM nya karena menganggapnya tidak becus mengelola keuangan.
"Tentu saja ikhlas. Aku tidak akan mengungkitnya." Jawab Eldar seraya memainkan rambut panjang Alisha.
"Janji ya Mas." Alisha sedikit memiringkan tubuhnya lalu mengeluarkan jari kelingkingnya dan langsung di sambut oleh Eldar.
"Iya janji Babe." Aku tidak mengerti kenapa harus melakukan perjanjian seperti ini hehe.. Dia benar-benar membuat hidupku menjadi tidak membosankan.
"Mas punya motor?"
"Motor sport yang ku pakai kemarin."
"Motor Matik Mas. Aku tidak bisa memakai motor seperti itu." Eldar begitu bahagia melihat wajah Alisha yang terlihat bersinar.
"Beli saja jika ingin motor."
"Kredit saja Mas, biar tidak terlalu berat." Eldar terkekeh sejadi-jadinya. Sementara Alisha menatapnya kesal.
"Serius sayang? Kau suruh aku mengkredit motor?" Alisha tidak sanggup menjangkau berapa banyak penghasilan sebuah perusahaan. Dia hanya merasa tidak enak dengan pernikahan yang di gelar besar-besaran. Sementara dia tidak mengeluarkan uang sepeserpun.
Luka yang di torehkan Tama, masih melekat bersama semua aturan darinya yang harus menuntutnya untuk berhemat. Alisha memprioritaskan kebutuhan rumah tangga daripada kebutuhannya sendiri karena tidak ingin di sebut payah dalam mengelola keuangan.
"Pernikahan kemarin kan habis banyak Mas. Jadi kredit saja." Alisha mengira jika sebuah perusahaan hanya bisa menghasilkan puluhan juta perbulan dan harus di potong dengan gaji karyawan dan biaya operasional." Tapi kalau Mas belum bisa. Ya sudah nanti aku pesan taksi online saja." Eldar menegakkan posisi duduknya.
"Memangnya kamu mau kemana Babe? Kenapa harus pakai motor dan taksi online?" Tanya Eldar tentu ingin tahu.
"Kalau sekarang Mas kan masih cuti untuk berkerja. Tapi jika nanti Mas sibuk bukankah merepotkan jika harus mengantarkan ku berbelanja?"
"Cuti? Tidak ada cuti Babe."
__ADS_1
"Aku kan bilang kalau nanti sibuk." Jawab Alisha pelan seraya menatap wajah tampan Suaminya.
"Memangnya aku sibuk kemana."
"Kerja Mas. Kemana lagi. Jika Mas sibuk kerja nanti biar aku yang berbelanja sendiri dengan motor."
"Berbelanja apa? Biar ku antar."
"Berbelanja kebutuhan rumah."
"Kebutuhan rumah?" Alisha mendengus seraya memalingkan wajahnya." Hei, aku benar-benar tidak paham. Kebutuhan rumah apa maksudmu?" Tanya Eldar sangat ingin tahu.
"Beras, sabun, minyak dan lainya Mas. Begitu saja tidak tahu." Eldar terkekeh tidak terkendali, hingga membuat si pembantu rumah tangga ikut tersenyum.
"Mas selalu begitu ya." Alisha akan beranjak namun Eldar menahannya.
"Maaf Babe. Aku hanya tidak mengerti, kenapa kamu memikirkan hal seperti itu." Eldar kembali mendekap tubuh Alisha erat dan menempelkan dagu di pundaknya.
"Mas ini bagaimana. Orang hidup kan butuh nasi, minyak untuk menggoreng dan sabun untuk mencuci."
"Iya aku tahu hal seperti itu. Maksudku, untuk apa kamu memikirkannya?"
"Terus gunanya ini untuk apa Mas." Mengangkat ATM yang ada di tangannya.
"Itu untukmu."
"Iya hanya sebagian. Sisanya untuk kebutuhan rumah kan?"
"Not Babe. Itu untukmu. Hanya untukmu, kebutuhanmu."
"Bibik yang urus Non. Silahkan Tuan." Sahut Bibik meletakan kopi panas di atas meja.
"Sabun juga Bik?" Tanya Alisha masih tidak mengerti.
"Iya Non. Kebutuhan dapur, untuk mencuci, semua Bibik yang urus."
"Pakai uang Bibik sendiri." Eldar tersenyum seraya menarik nafas panjang.
"Tuan Abraham sudah menjatah Bibik setiap bulannya untuk berbelanja kebutuhan rumah. Permisi Non."
"Iya Bik." Jawab Alisha pelan.
"Sudah paham? Itu ATM khusus untukmu. Terserah jika kau ingin beli apapun. Baju, tas, sepatu, motor juga bisa. Jadi tidak perlu kredit." Sahut Eldar masih menahan gelak tawanya.
"Motor? Dengan ini?" Mengangkat Atmnya lagi.
"Mobil pun bisa tapi untuk apa membeli itu? Gunakan untuk membeli keperluan mu."
"Mobil? Memangnya berapa isinya?" Tanya Alisha menoleh.
"Jika hanya untuk beli motor. Kau bisa membelinya setiap hari dalam satu tahun." Alisha tersenyum aneh seraya menghitung berapa jumlahnya.
Motor Matik itu seharga 20 juta ke atas selama satu tahun..
__ADS_1
Astaga Tuhan. Aku ingin tertawa lepas melihat kelolosannya? Kenapa dia benar-benar menghitungnya?
"Banyak sekali Mas. Itu serius?" Tanya Alisha terbata. Senyumnya masih terlihat aneh sebab otaknya tidak dapat menjangkau berapa isi di dalam ATM tersebut.
"Serius Babe. Jika kurang nanti ku transfer lagi."
"Kurang apa? Itu banyak sekali. Untuk apa uang sebanyak ini kamu berikan padaku Mas."
"Kamu Istriku, bukankah itu jelas?"
"Iya tapi ini banyak sekali."
"Pakai untuk membeli kebutuhanmu. Terus kamu jadi beli motor? Memangnya untuk apa membeli itu?"
"Em jika Mas sibuk. Aku bisa berbelanja sendiri bersama Monik jadi aku tidak merepotkan nantinya."
"Repot dengan apa?"
"Aku Mas." Aku tidak mau lagi di sebut terlalu manja dan bergantung..
"Tidak perlu beli motor, biar ku antarkan jika kamu mau kemana-mana." Alisha tersenyum. Dia menyadari ini awal pernikahannya sehingga mungkin Eldar mengatakan itu dengan mudah.
"Maksudku jika Mas tidak bisa mengantarkan." Jawabnya pelan.
"Aku selalu bisa."
"Mungkin sekarang. Tidak tahu nanti." Nada bicara Alisha berubah sehingga membuat Eldar merasa ada sesuatu yang tidak beres pada pemikiran Alisha.
"Sekarang atau nanti tidak ada bedanya." Eldar menegakkan tubuhnya dan menatap ke Alisha yang tengah memasang mimik wajah yang sulit di artikan.
❤️💙❤️💙
Kalau ada seorang suami yang baca novel ini🤧
Jangan menyalahkan seorang wanita boros atau tidak bisa mengatur uang🤧
Gaji kalian saja yang kurang besar😩🙏
Apa pernah kalian mikir.
Kalian meminta seorang wanita untuk di jadikan istri dari Ayahnya hanya untuk di umpat gara-gara tidak bisa mengatur keuangan.
Padahal! Ayahnya bahkan tidak pernah menyuruhnya berkerja. Tidak pernah menuntutnya untuk memikirkan biaya hidup dan sekarang saat kalian sudah menjadikannya istri... Tau sendiri lah😭🤣
Berfikir lah wahai Pak Suami 😁🥰
Jangan mikir kurangnya. Tapi mikir bagaimana bisa mendapatkan uang tambahan agar uang itu menjadi cukup😚🥰
Jatuhnya ke curhat 😁
Tapi sakit sekali di tuduh seperti yang di atas👆
Semoga suka..
__ADS_1
Terimakasih dukungannya 🥰