Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 24


__ADS_3

Alisha melirik malas ke arah pasangan yang tengah duduk di samping meski jarak antara kursi satu dengan yang lain sejauh 3 meter.


Lirih terdengar, mereka tengah mengobrol romantis dengan rayuan murahan sebagai bumbu. Si wanita terlihat begitu bahagia mendengar rayuan itu hingga kepalanya di sandarkan pada pundak pasangannya.


"Kau ingin seperti mereka?" Alisha menoleh cepat ke arah Eldar yang ternyata tengah memperhatikannya." Itu gampang." Eldar mengiring kepala Alisha agar bersandar pada pundaknya namun Alisha menghindar.


"Tidak!!! Menjijikan sekali." Umpat Alisha.


"Buktinya dia menikmati." Eldar menunjuk pasangan yang kini tengah melihat ke arah mereka.


"Dia hanya belum sadar jika apa yang di ucapkan lelaki itu hanya gombalan yang tidak berarti." Tunjuk Alisha ke arah pasangan tersebut.


"Hei apa maksudmu berkata itu." Tentu saja si lelaki merasa tersinggung. Dia berfikir jika Alisha tengah menunduhnya macam-macam.


Dengan di temani si wanita, pasangan itu menghampiri Alisha yang sedang memasang wajah bingung.


"Bukan itu maksudku?" Jawab Alisha terbata karena merasa sungkan.


"Apa dia mantanmu sayang?" Tanya si wanita dengan raut wajah cemburu. Ucapan Alisha tadi membuatnya berfikir jika kekasihnya memiliki banyak wanita dan menggombal di sembarang tempat.


"Aku tidak mengenal dia sayang." Menunjuk kasar ke arah Alisha dan dengan cepat Eldar menampis nya.


"Jangan menunjuknya seperti itu!!!" Tentu saja Eldar tidak terima dan ingin memakan hidup-hidup lelaki di hadapannya.


"Jika tidak ingin ku tunjuk!! Jaga dan atur mulut kekasihmu itu!!"


Bugh!!!!


Satu pukulan Eldar langsung membuat si lelaki terkapar pingsan.


"Kau memukulnya!!!" Pekik si wanita memeriksa si lelaki yang tidak sadarkan diri.


"El apa yang kau lakukan." Sahut Alisha dengan wajah panik.


"Melindungi mu apalagi." Eldar mengeluarkan kartu nama dan melemparkannya pada tubuh si lelaki." Hubungi nomer itu jika ingin menuntut!" Ucapnya tersenyum tipis lalu menggiring Alisha untuk pergi.


"Itu salahku El. Kenapa kau memukulnya." Protes Alisha saat sudah berada di mobil.


"Dia meneriaki mu Babe, aku tidak suka."


"Tidak perlu memukul, bukankah bisa bicara baik-baik."


"Jika perlu aku akan membunuhnya." Alisha mengerutkan keningnya menatap Eldar.


"Kau gila?"


"Aku tidak suka berbasa-basi."


"Lalu kau suka dengan kekerasan fisik seperti itu." Eldar menoleh, menyadari ketakutan pada wajah Alisha.


"Kecuali dengan mu."


"Mana mungkin begitu. Almarhum Mama berkata jika sifat sulit berubah." Alisha menatap lurus ke depan dan malah takut dengan Eldar. Dia menggeser tubuhnya sedikit sehingga Eldar memahami situasinya.


"Aku tidak mungkin memukul wanita yang ku sayangi."


"Mungkin saja. Bukankah itu sifat mu."


"Jadi itu alasan kamu menolakku?"


"Tadinya tidak tapi sekarang aku menjadi semakin ragu denganmu. Aku baru saja melewati masa berat. Aku mohon, tolong lepaskan aku dari perjanjian itu agar aku bisa hidup bebas." Tentu Alisha berfikir macam-macam. Dia merasa takut jika nantinya Eldar memutilasi dirinya.


"Memangnya aku mengikatmu sekarang?"


"Iya."


"Apa kamu berfikir jika aku nanti akan melukaimu."


"Mungkin sekali." Alisha kembali menatap Eldar yang mungkin akan marah dengan penolakannya. Jika dia marah dan memutilasi ku sekarang bagaimana?


Gleg!!!


Saliva tertelan kasar dengan manik Alisha yang terlihat melebar. Suasana berubah tegang. Alisha tengah membayangkan jika Eldar akan marah lalu melukai nya.


"Maafkan aku." Ucap Alisha tiba-tiba.


"Turuti mau ku jika tidak ingin terluka." Dengan cerdas, Eldar mengunakan kesempatan kali ini untuk mengikat Alisha agar tunduk padanya.


"Turuti?"


"Hm. Menjadi terbiasa denganku." Alisha memasang wajah gelisah. Ada rasa sesal saat dia menyadari keanehan yang ada pada surat panggilan kerja yang di terimanya lewat email.


Seharusnya itu menjadi pertanda buruk.. Aku tidak bisa lari sekarang. Bagaimana ini?


Aku sebenarnya tidak tega melihat wajahnya yang ketakutan. Tapi mungkin dengan ini, dia bisa merasakan jika aku tulus mencintainya..


"Sangat banyak wanita lain, kenapa memilihku?" Tanya Alisha lirih.


"Itu karena kita berjodoh." Alisha tersenyum aneh lebih tepatnya tersenyum di liputi ketakutan.


"Apa kau sejenis psikopat El?" Eldar menahan kekehannya.


"Hm. Aku gila ketika mencintai sesuatu."

__ADS_1


Gleg!!


Ya Tuhan.. Nasibku sial sekali. Aku terlepas dari anak Mama dan sekarang di terkam oleh psikopat!!


*******************************


Wina memasang wajah tidak suka saat Lilis dan Tama tiba di pekarangan rumah mereka.


"Kenapa di izinkan sih Ma." Protes Wina kesal.


"Dia Kakakmu. Jangan seperti itu." Dengusan terdengar berhembus. Wina kembali masuk daripada harus menyambut Kakak ipar barunya.


"Bilang terimakasih pada Mama." Pinta Tama berbisik.


"Terimakasih ya Ma, sudah di izinkan tinggal di sini." Ucap Lilis sok ramah.


"Bukan di izinkan tapi terpaksa mengizinkan. Ingat! Jaga sikap ketika tinggal di sini! Mama tidak mau kamu mencorong lagi muka Mama!!"


"Iya Ma." Ish!!! Sudah bau tanah saja sok sekali!! Kalau kau mati, properti ini juga akan jadi milikku dan Tama..


"Lilis pintar masak kok Ma. Hampir mirip dengan masakan Mama." Lilis menoleh dengan melebarkan matanya.


Gawat!!! Kenapa Tama bicara itu??


"Siapkan masakan untuk makan malam. Anggap sebagai permintaan maaf kamu sama Mama."


Lilis tersenyum aneh seraya fokus menatap Mama Rita yang sudah masuk kamar.


"Aku masih lelah Tam, kenapa di suruh begitu?"


"Biar Mama senang padamu."


"Aku malas Tam." Jawabnya lirih.


"Bukankah kau bilang jika memasak itu hanya sebentar."


"Kapan aku berkata itu?"


"Saat aku mengeluh tentang Alisha." Tama mengembalikan ucapan yang di lontarkan Lilis beberapa 5 bulan lalu. Kini ucapan itu berbalik menyerangnya sehingga mau tidak mau di harus memasak.


Tinggal lihat resep di yuutube dan beres! Tama tidak tahu, jika Lilis itu lebih parah dari Alisha. Lilis malah tidak tahu bumbu dapur dan bisa di pastikan jika makanan yang di akui sebagai buatannya adalah hasil membeli di restoran.


***********************


Alisha semakin menegang, ketika Eldar membelokkan mobilnya ke sebuah rumah besar berpagar tinggi.


"Ke kemana ini?" Tanyanya terbata.


"Bukankah sebaiknya kita kembali ke kantor."


"Sudah ku katakan. Aku ke perusahaan ingin menemuimu saja tadi." Jawabnya seraya memarkir mobilnya di samping mobil lainnya.


Aku fikir dia anak kuliahan biasa. Tapi, jika dia setelah ini mengurung ku bagaimana?


"Tidak turun?" Tiba-tiba saja Eldar sudah berada di samping Alisha dengan pintu terbuka.


"Aaaaaggghhhhhhhhhhh.." Alisha mengusap dadanya sendiri." Kau mengagetkan saja." Imbuhnya bertambah kesal.


"Aku tidak bermaksud mengagetkan, mungkin kamu yang terlalu sering melamun."


"Aku tidak mau turun." Sahut Alisha menggeser tubuhnya menjauhi pintu.


"Aku tidak mengerti jika menyukai itu serumit ini." Eldar bersandar pada body mobil dengan posisi pintu yang terbuka." Turunlah. Kita bisa bersantai di dalam." Pinta Eldar tidak juga menyerah.


"Aku mau pulang saja." Alisha cepat-cepat turun namun akan keluar dari bagasi. Tangan Eldar meraih pergelangannya sedikit erat sebab Alisha ingin memberontak.


Grep!!!!


Eldar terpaksa menarik tubuh Alisha hingga punggungnya membentur pada dada bidangnya. Tangan kanannya melingkar pada leher Alisha dengan tangan kiri masih memegang pergelangannya.


Dengan cepat Eldar membalikkan tubuh itu dan menghimpitnya Alisha menegang, bahkan sejenak berhenti bernafas dengan mata bulat menatap ke wajah tampan di hadapannya.


"Ka kau tidak sopan sekali." Protes Alisha tertunduk, mencoba menghindari manik Eldar yang membuat hatinya meronta.


"Kau memaksa aku melakukannya." Eldar tersenyum, menikmati posisinya sekarang. Aroma tubuh Alisha terendus oleh hidung nakalnya.


"Minggir El." Pinta Alisha bersikukuh menolak perasaan yang hadir sekarang.


"Hm.." Eldar malah menghimpitnya semakin erat. Alisha ingin melindungi bagian depan tubuhnya namun tangannya terhimpit dan tidak bisa terangkat.


"Tidak.. Ini salah. Kau berdosa nanti."


"Aku menawarkan sebuah pernikahan padamu. Jadi kau yang berdosa Babe."


"Aku tidak mau dan aku tidak siap!! Bukankah kau tahu itu."


"Hm aku tahu." Jantung Alisha seakan terlepas. Eldar tidak juga berhenti menghimpit hingga tubuh keduanya benar-benar menempel." Terus saja menolak jika kau ingin seperti ini sampai besok." Ancam Eldar semakin menikmati permainannya. Kulit lembut Alisha tersentuh olehnya hingga membuat hatinya semakin menggilai wanita yang sudah menyandang status janda.


"Pak tolong aku." Teriak Alisha pada si tukang kebun yang malah berpura-pura tidak dengar.


"Menurutmu mereka akan menolong mu Babe. Di sini aku yang berkuasa." Tangan Eldar terangkat dan mulai menyingkirkan rambut Alisha dari lehernya.


"Berkuasa. Kau tidak boleh memanfaatkan kekuasaan untuk menghimpit ku seperti ini. Ahh aku sesak bernafas El!! Singkirkan tubuhmu." Eldar tersenyum lalu menunduk. Mendekatkan ujung hidungnya pada leher Alisha yang terekspos jelas.

__ADS_1


"Mari kita lakukan jika memang harus di lakukan." Mata Alisha melebar, mendengar suara berat Eldar yang berhembus.


Cup!!


Bibir hangat itu kini menempel di leher miliknya, mencumbunya dengan begitu lembut hingga tubuh Alisha bergetar hebat.


"Hentikan El." Pinta Alisha berusaha memberontak namun tubuhnya tidak cukup kuat untuk itu.


"Menikah atau ku paksa kau melakukan ini. Jika kamu hamil anakku, bukankah otomatis kamu akan jadi milikku." Himpitan kian erat. Tangan kiri Eldar mulai melingkar pada punggung belakang Alisha untuk merapatkan tubuhnya tanpa cela.


"Kau gila El!! Lepaskan aku!! Jika tidak aku akan teriak!!"


"Teriak sebisa mu. Jika warga sini memergoki kita. Aku mau bertanggung jawab."


Alisha mengigit bibir bawahnya, menahan dessahan yang mendorong ingin keluar. Sentuhan seperti sekarang sudah lama tidak di rasakan hingga respon pada tubuhnya begitu cepat.


"Kamu akan mengandung anakku nanti."


Krekk!!!


Eldar menarik blouse Alisha. Tiga kancing terlepas dan memperlihatkan apa yang ada di dalam.


Ya Tuhan.. Indah sekali.. Bagaimana mungkin wanita seperti ini di sakiti.. Kenapa dia tidak juga menyerah agar aku tidak semakin khilaf dan benar-benar melakukan itu..


Tujuan Eldar hanya mengancam meski Alisha menanggapinya dengan sungguh-sungguh.


"Aku tidak akan bisa hamil! Aku tidak bisa punya anak!! Hentikan perbuatanmu El!! Ini perkerjaan sia-sia jika memang kau menginginkan keturunan!!!" Nada bicara Alisha membuat Eldar menghentikan aktivitasnya sekarang. Tebakannya benar, Alisha mulai menangis karena perbuatannya." Cari wanita lain jika kau menginginkan itu!!" Tunjuk Alisha kasar dengan tangan kanan menahan bajunya yang berantakan.


"Aku tidak benar-benar ingin melakukannya."


"Kau anak tunggal kan!!" Alisha menyeka air mata yang jatuh.


"Hm iya." Alisha tersenyum seraya menatap Eldar.


"Sebaiknya kau jauhi aku sekarang."


"Tidak bisa Babe."


"Aku tidak akan bisa memberikan keturunan meski kau memperkosaku berkali-kali!!"


"Aku bercanda."


"Meskipun serius, kau tidak akan bisa mendapatkan keturunan dariku."


"Apa itu alasanmu menolakku?" Tanya Eldar menatap Alisha yang tertunduk. Tubuhnya turun ke bawah dan duduk berjongkok seraya terisak.


"Aku memang payah. Aku tidak bisa memiliki anak dan masakan ku sangat buruk!!" Umpat Alisha membenarkan keputusan Tama meninggalkan dirinya. Dia merasa sangat tidak berguna sebagai seorang Istri. Monik berusaha memotivasi dirinya berulang-ulang namun karena alasan itu membuat Alisha bersikukuh tidak ingin memiliki hubungan lagi.


Eldar duduk lemah di samping Alisha, membiarkan celana mahalnya kotor.


"Apa pentingnya itu? Aku mencintaimu apa adanya."


"Jangan bicara omong kosong hei laki-laki!!!" Alisha kembali menunjuk Eldar kasar." Sekarang kau berkata itu!! Tapi jika besok kau bosan padaku! Kau akan menendang ku seperti sampah yang tidak berguna!!" Eldar terkekeh membaca raut wajah Alisha sekarang meski tidak dapat di pungkiri jika dia kesal ketika mendengar Alisha menyamakan dirinya dengan lelaki lain.


"Kita adopsi anak jika memang kamu tidak bisa memberikan itu. Kalau masalah masakan, aku tidak memintamu untuk jadi tukang masak. Aku ingin memintamu untuk jadi Istriku." Alisha terdiam seraya menempelkan bokongnya pada lantai bagasi yang kotor." Kita menikah dan rasakan perbedaannya. Percuma saja kau menolak sebab aku tidak akan berhenti, bahkan jika mungkin aku akan memperkosa mu di tengah taman agar kita bisa menikah secara paksa." Alisha mengerutkan keningnya, menatap Eldar yang tengah tersenyum.


"Gila sekali!!"


"Aku baru memikirkan itu. Seharusnya aku lakukan saja dari dulu."


"Lalu kau di sebut cabbul oleh para pegawai mu."


"Perduli apa Babe. Hidupku terlalu membosankan sebelum aku mengenalmu. Jika memang aku di tangkap keamanan karena memperkosa mu, itu akan jadi cerita pertama yang akan terkenang seumur hidup." Alisha menddesah lembut seraya menyandarkan punggungnya di ban mobil." Bagaimana? Kita lakukan sekarang di tengah taman kompleks." Alisha menoleh seraya menatap Eldar heran.


"Bicara apa sih!!"


"Terus saja menolak. Aku akan melakukan itu asal kau bisa ku dapatkan."


"Memalukan sekali!!"


"Menikah jika tidak ingin malu."


"Tidak bisa sembuh semudah itu." Jawab Alisha lirih.


"Beri aku izin agar proses penyembuhannya cepat."


"Entahlah El."


"Panggil aku Kak atau Mas.." Protes Eldar cemburu saat Alisha memanggil Tama dengan sebutan Mas." Awal untuk hidup yang baru." Imbuhnya memohon.


"Hm baik Mas, emm.. Bajuku buruk sekali." Eldar melepaskan jasnya lalu memakainya untuk menutupi perbuatannya tadi.


"Kita ganti di dalam." Eldar berdiri lalu mengulurkan tangannya dan dengan ragu-ragu Alisha menyambutnya.


Apa mungkin jika dia psikopat yang baik? Sejenak Alisha tersenyum ketika mengingat ucapan Eldar yang mau menerimanya apa adanya. Meskipun dia seorang psikopat tapi jika dia.... Alisha menggelengkan kepalanya ketika terlintas niat untuk menerima pinangan dari Eldar untuknya. Jangan salah melangkah lagi. Aku harus tahu apa dia benar-benar serius dengan niatnya?


Bersambung 😁😁


Aku berjuang..


Kalian yang berdoa agar feel ku selalu baik dan bisa update setiap hari..


Terimakasih dukungannya 🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2