
"Kamu masih tidak berubah Mas." Jawab Alisha lirih. Tama menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya kasar. Dia sangat merindukan suara itu. Suara yang sudah menemaninya selama dua tahun dan harus pergi karena kebodohannya sendiri.
"Berubah apa? Bukankah kamu senang? Kamu tidak perlu bersusah-susah memikirkan uang seperti saat hidup bersamaku dulu."
"Senang karena dia Suamiku bukan karena hal itu." Tama terkekeh. Sakit hati yang di rasakan membuat fikirannya menjadi kacau. Apalagi akhir-akhir ini Lilis semakin berulah dan membuat fikirannya stres.
"Itu hanya alasanmu saja. Bilang saja jika ini semua adalah keinginanmu dan lihatlah. Keinginanmu terwujud. Kau menjadi Suami orang kaya dan..."
plaaaaaakkkkkk!!!!
Untuk pertama kalinya Alisha melayangkan satu tamparan pada Tama. Lelaki yang pernah di pilihnya untuk menjadi pasangan hidup.
"Kau tidak berhak menuduhku menjadi tersangka lagi!!" Suara Alisha masih terdengar lembut meski dia tengah marah." Sudah ku katakan! Nikmati pilihanmu! Nikmati hidup bersama wanita yang kau anggap baik!! Bagaimana?!! Apa dia lebih baik dari ku!! Bisa menerima keadaanmu!! Dan jika bisa, syukurlah. Itu pilihan yang bagus dan kalian memang sangat serasi!" Eldar tersenyum melihat Tama tertunduk tidak berkutik.
Bagus sekali Babe.. Tumpahkan rasa kesalmu, agar jalan kehidupan kita bisa lurus tanpa menyisakan kesakitan yang di tanam oleh lelaki sialan ini..
"Apa kau berkata ini karena sudah sadar wanita siluman itu seperti apa? Lalu kau kembali menumpahkan kesalahan itu padaku?!! Berhenti Mas!! Kau ingat jika Adikmu juga seorang wanita!" Alisha masih teringat saat memergoki Lilis bersama Damar kemarin." Jika perbuatanmu menjadi bumerang untuknya bagaimana??" Nada bicara Alisha cenderung lirih tapi terdengar seperti sebuah peringatan.
"Maafkan aku Alisha." Tama tidak ingin itu terjadi meski nyatanya itu memang sudah terjadi. Lilis mulai melancarkan aksinya merebut lelaki yang di inginkannya, seperti yang sudah di lakukan pada pernikahannya.
"Sudahlah Mas. Aku memaafkanmu. Tapi sebaiknya kita tidak perlu bertegur sapa lagi. Jalan kita sudah berbeda, akan lebih baik kita kita berpura-pura tidak saling mengenal."
"Apa kita tidak bisa berteman." Muka tebal Tama sungguh keterlaluan. Dia masih bisa melontarkan penawaran yang pasti akan di tolak mentah-mentah oleh Alisha.
"Tidak. Dia sudah bisa mengisi posisi itu. Aku tidak membutuhkan seseorang lagi. Kita cari tempat lain Mas." Alisha mengiring Eldar untuk pergi.
Tama dengan gilanya akan meraih pergelangan tangan Alisha, namun Eldar menampisnya kasar membuat Tama meringis kesakitan karena tangannya berkedut nyeri.
"Ku patahkan tanganmu jika kau berani melakukan itu!!" Ancam Eldar menunjuk kasar.
"Dia bekas ku! Kau suka haha." Ledek Tama tidak juga berhenti membuat onar.
"Hm aku suka. Terimakasih sudah melepaskan berlian berharga ini." Eldar tidak banyak bicara dan segera pergi dari hadapan Tama yang semakin terbakar api cemburu.
Di mobil..
"Maaf Mas." Ucap Alisha lirih.
"Tidak apa Babe. Kemarahan mu akan membuat hatimu menjadi lebih baik."
__ADS_1
"Kapan dia sadar akan kesalahannya."
"Jika sudah berada di liang lahat." Jawab Eldar asal." Lupakan soal tadi. Kita makan di sini ya." Alisha mengangguk.
"Kita bungkus saja Mas."
"Oke Babe. Tunggu di sini ya." Eldar turun sendiri untuk memesan dua porsi makanan. Ramainya tempat itu, membuat Eldar tidak rela jika Alisha menjadi sorotan sehingga dia langsung memutuskan turun sendiri tanpa menunggu persetujuan.
"Sebenarnya aku tadi ingin ikut turun." Protes Alisha ketika Eldar sudah kembali duduk di sampingnya.
"Sudah selesai. Hanya sebentar saja." Eldar kembali melajukan mobilnya." Kita ke mini market dekat rumah saja ya." Imbuh Eldar menawarkan.
"Langsung pulang saja Mas. Nanti makanannya dingin."
"Katanya mau beli sesuatu."
"Besok saja."
"Hm ya sudah."
Di dalam hati Alisha masih terbesit kekhawatiran. Meskipun dia tidak ingin perduli. Tapi pemandangan yang tidak sengaja di lihatnya membuatnya memikirkan nasib Wina.
Eldar menyadari wajah gelisah Alisha. Dia meraih jemarinya lalu menggenggamnya hangat.
"Apa kamu masih menyukainya?" Alisha menoleh seraya tersenyum aneh.
"Suka siapa Mas?"
"Lelaki itu."
"Tidak Mas."
"Terus memikirkan apa? Kenapa gelisah seperti itu."
"Bukan masalah penting Mas. Yang pasti aku tidak mungkin memikirkan dia lagi. Mas jangan punya fikiran seperti itu." Alisha menambahkan jemari satunya seraya mencium punggung tangan Eldar.
"Tidak akan ku biarkan kamu memikirkannya lagi. Kamu tidak boleh memikirkan lelaki lain selain aku."
"Iya Mas."
__ADS_1
"Aku serius Babe, sebab kamu sudah jadi Istriku."
"Mas tidak percaya padaku?" Tanya Alisha membulatkan matanya.
"Bukan tidak percaya. Aku hanya mengatakan sebuah larangan." Nada bicara Eldar terdengar di tekan sehingga membuat Alisha sedikit merasa tersinggung.
"Mana mungkin aku memikirkannya lagi." Alisha menarik tangannya dan melepaskan genggamannya.
"Hei, sekarang kamu yang marah?" Eldar memarkirkan mobilnya di bagasi. Dia tidak langsung turun dan memperhatikan Alisha yang tengah memunggunginya.
"Aku tidak pernah marah Mas." Jawab Alisha tidak sesuai. Dia bahkan menghindari kontak mata langsung dengan Eldar. Kenapa harus seperti itu sih suaranya!!
Alisha melirik ke Eldar yang turun dengan membawa dua kontak makan malam. Dia berfikir Eldar akan meninggalkannya tapi ternyata tidak. Eldar masih membukakan pintu mobil untuknya.
Kita lihat. Apa yang bisa dia lakukan. Apa dia juga akan berprotes seperti yang sering di lakukan Mas Tama atau tidak..
Alisha turun tanpa melihat ke arah Eldar yang sepertinya tengah memperhatikannya. Dia berjalan masuk. Eldar mengikutinya tanpa suara bahkan saat Alisha menaiki anak tangga, Eldar masih tidak bergeming dan malah berjalan menuju dapur.
Setibanya di kamar, Alisha memasang wajah kecewa sebab Eldar ternyata tidak mengikutinya.
"Apa dia makan malam sendiri?" Gerutunya lirih." Kenapa aku tidak di paksa untuk ikut makan malam? Padahal aku lapar." Imbuh Alisha duduk lemah di tepian ranjang.
Kruuuuuuukkkkkkkkk...
Alisha mengusap perutnya yang rata. Apalagi mengingat ayam bakar yang di bawa Eldar, membuat perutnya menjerit dan meronta ingin di isi.
Ayam bakar bumbu merah.. Itu kesukaanku. Alisha kembali menatap ke arah pintu yang masih tidak terlihat tanda-tanda Eldar datang.
Dengusan terdengar, Alisha mengerakkan kedua kakinya yang bergantung sehingga sandal miliknya terlepas.
"Ah terserah. Aku tidak akan makan malam ini. Awas saja jika dia membawa makanan itu setelah dia selesai memakannya."
"Aku mengambil tambahan nasi dan teh hangat Babe. Mana mungkin aku makan sendiri." Sahut Eldar yang ternyata sudah berada di ambang pintu dan mendengarkan umpatan Alisha.
Alisha merasa malu, namun dia tidak mau mengakuinya. Sifat asli Alisha mulai di tunjukkan sehingga dia tidak bergerak dari tempatnya sekarang. Tentu saja dia ingin di rajuk terlebih dahulu padahal dia yang sudah berprasangka buruk pada Eldar.
Kenapa sikapku lebih cepat mencuat keluar? Bagaimana jika Mas Eldar menjadi kecewa karena sikapku ini.. Dengan meruntuhkan keangkuhannya, Alisha bergerak perlahan dan akan menyudahi kemarahannya yang tidak jelas.
💙❤️💙
__ADS_1