Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 17


__ADS_3


Happy reading 🥰🥰


Satu Minggu kemudian...


Tama sering tidak pulang dan melontarkan alasan yang sulit Alisha terima. Perdebatan kerapkali terjadi karena rasa tidak perduli Tama yang semakin bertambah.


Braaaakkkkk!! Braaaakkkkk!! Braaaakkkkk!!!


Pagi itu, Alisha berniat tidak membukakan pintu untuk Tama. Dia merasa tidak ada gunanya Tama pulang jika hanya akan memicu pertengkaran. Tapi suara gebrakan pintu kian mengeras, membuat Alisha terpaksa membukanya.


"Kau tidak dengar aku datang!!" Tatap Tama tajam.


"Kenapa tidak langsung berkerja saja Mas. Tidak ada gunanya kau pulang." Ucap Alisha duduk lemah. Waktu tidurnya terganggu hingga tubuhnya terlihat lebih kurus karena siksaan batin yang Tama berikan setiap harinya.


"Oh! Kau mengusirku sekarang!!" Jawab Tama geram. Dia lebih mudah marah seminggu ini hingga membuat Alisha terkadang merasa takut.


"Aku tidak mengusir Mas. Kau berpamitan keluar sebentar tapi hingga sekarang kau baru kembali lalu setelah ini kau pergi berkerja lagi." Ucapan yang di lontarkan Alisha memang benar adanya. Namun tentu saja Tama tidak ingin di salahkan atas semuanya.


"Lalu. Tuduhan apa yang kau berikan padaku!!" Mata Tama melebar menatap Alisha hingga bola matanya seakan keluar.


"Aku tidak menuduh. Aku hanya..."


"Aku lelaki Alisha!!! Kau paham kan!!" Alisha tertunduk ketakutan dengan Air mata yang mulai jatuh membasahi wajahnya." Jadi terserah mau berbuat apapun karena aku kepala keluarga!! Kau tidak berhak mengatur ku apalagi banyak mulut seperti ini!! Ingat ya. Jika tidak ada aku! Kau bisa apa!! Makan saja masih meminta pada ku, jangan sok kamu!!" Tama melewati Alisha dengan sebuah dorongan hingga membuat tubuhnya terdorong dan hampir terjatuh.


Aku sudah tidak pernah makan uangmu itu Mas!!


"Apa semua ini untuk Mbak Lilis Mas." Alisha yang sudah terlanjur kesal. Melontarkan pertanyaan yang selama ini tertahan di tenggorokannya. Dia yakin jika selama ini Tama tidak mungkin menginap di Mama Rita. Sebab berulang kali Mama Rita mengumpatnya dan menyebutnya tidak memperbolehkan Tama ke sana.


Alisha sengaja diam. Dia ingin tahu sejauh apa Tama memperlakukannya. Namun kediamannya tidak juga membuat Tama berhenti. Dia malah berbuat semaunya sendiri bahkan mulai marah dengan sentuhan fisik.


"Jujur saja Mas, kamu ke Mbak Lilis kan?" Tanya Alisha seraya terisak.


"Jika iya kenapa!!" Tangis Alisha pecah, dia duduk lemah di sofa ruang tengah karena jawaban Tama mampu melemaskan otot-otot kakinya." Aku bosan padamu! Aku jenuh!!" Imbuh Tama seolah tidak berperasaan.


"Dia wanita yang tidak baik Mas. Sudah ku katakan untuk menjauhinya agar kau tidak melakukan perbuatan itu."


"Itu juga bukan sepenuhnya kesalahanku!!"


"Lalu!! Ini semua salahku dan kalian berdua merasa benar melakukan itu di belakangku!!!" Teriakan Alisha tidak membuat Tama merasa iba. Dia malah berjalan mendekat dan melayangkan sebuah tamparan.


Plaaaaaakkkkkk!!!


Tubuh Alisha terhempas dengan rasa panas yang menjalar pada pipi kanannya.


Ya Tuhan aku tidak tahan...


Alisha berdiri dengan lemah. Menatap Tama dengan bulir air mata yang terus saja jatuh. Tanpa mengalihkan pandangannya ke arah wajah Tama, Alisha melontarkan kata-kata yang tidak pernah Tama fikirkan sebelumnya.


"Bebaskan aku Mas. Ceraikan aku, jika memang kau ingin mengejar kesenanganmu itu. Aku tidak sanggup jika harus begini." Mata Tama melebar mendengar itu. Dia tidak menyangka jika Alisha berani berkata itu padanya.


Mama bisa marah besar jika dia sampai tahu Alisha minta cerai karena perbuatanku dengan Lilis. Gawat ini!!!


Tangan Tama terulur dan mencoba menyentuh jemari Alisha namun dengan cepat Alisha menghindar.


"Jangan menyentuhku!! Aku jijik melihatmu!!" Alisha berjalan melewati Tama dan masuk ke dalam kamar lalu menutupnya rapat. Dia bergegas mengganti baju, berniat berangkat berkerja sekarang karena merasa muak dengan wajah suaminya sendiri.


"Jangan begitu sayang. Kita bicarakan baik-baik." Ucap Tama berusaha merajuk dari balik pintu.


Alisha keluar kamar dengan tas kecil dan kunci motornya. Dia menempelkan kunci motor pada dada Tama.


"Ini milikmu Mas. Ambil saja. Aku tidak berhak memakainya. Akan lebih baik jika nanti kau tidak perlu pulang. Ikuti wanita yang menurut mu baik." Alisha melangkah keluar rumah dengan fikiran kalut. Sebisa mungkin dia menyembunyikan wajah buruknya saat beberapa tetangga menyapanya ramah.

__ADS_1


Sementara Tama sendiri, kebingungan setengah mati. Dia tidak berfikir jika Alisha bisa mengambil keputusan sebesar ini.


"Aku harus bicara dengan Lilis. Aku tidak mau Mama menyalahkan aku atas ini." Bukan tangis Alisha yang membuat Tama ketakutan. Namun tentu saja semuanya demi nama baiknya. Seringnya dia menutupi kebohongan hanya untuk bersama Lilis. Membuatnya tidak memiliki waktu bersama Alisha atau bersama Mamanya.


Tentu saja Mama Rita selalu menyalahkan Alisha, sebab Tama memang menjadikan Alisha alasan. Seolah Alisha yang melarangnya pergi ke sana. Padahal itu semua di lakukan hanya karena ingin memenuhi hasratnya.


******************


Apa aku sudah memilih jalan yang benar? Fikir Alisha dalam hati. Dia menunggu telepon dari Tama dan berharap merajuknya tapi sejak tadi ponselnya terasa hening.


Tarikan nafas berat berhembus. Alisha tidak percaya dengan perkataannya sendiri.


Apa pernikahanku akan hancur? Tapi.. Mas Tama benar-benar bersama wanita itu selama ini. Menginap dan sudah pasti mereka melakukan.. Alisha tertunduk seraya mengelap piring di hadapannya. Matanya berkaca-kaca, membayangkan Tama di sentuh Lilis dengan bebasnya apalagi sampai melakukan hubungan intim. Aku sudah benar.. Keputusan ku sudah benar..


Alisha memutar tubuhnya seraya membawa piring bersih untuk di letakan pada rak. Tapi lelaki yang tengah berdiri menatapnya membuat dua harus menyembunyikan wajah tidak baiknya.


Aku tidak mengerti Alisha. Kenapa hingga saat ini kamu masih tidak bisa jujur padaku dan menerimaku sebagai teman..


Alisha berpura tidak tahu, meletakkan piring meski matanya tengah melirik ke Eldar yang tengah berjalan mendekat.


Hati Eldar tercabik, melihat kenyataan yang setiap hari anak buahnya laporkan padanya. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa sebab Alisha enggan bercerita bahkan masih mengacuhkannya seperti sekarang.


"Skripsi ku sudah selesai. Tadi aku menyetorkannya ke Dosen. Doakan semoga cepat di terima dan aku bisa lulus." Tidak perduli Alisha mengacuhkannya setiap hari. Eldar tetap pada posisinya. Menganggap nya sebagai kekasih meski Alisha meresponnya dengan sikap acuhnya.


Dia baik sekali. Aku selalu mengacuhkannya tapi dia tetap saja ke sini dan bercerita kesehariannya padaku..


"Hm aku doakan lulus."


"Terimakasih, Babe."


"Sudah ku bilang. Jangan memanggilku dengan sebutan itu." Protes Alisha berulang kali.


"Sudah ku bilang jika terserah sebab ini mulutku." Alisha menarik nafas panjang, berjalan ke arah depan untuk memeriksa mungkin ada meja kotor." Aku sampai tidak tidur hanya agar skripsi itu selesai." Ucap Eldar tidak perduli jika wanita di sampingnya tidak perduli." Kita harus merayakannya." Alisha tersenyum tipis tanpa menoleh.


"Setiap hari kau mengancam ku hanya untuk makan."


Bukankah hanya berteman?


"Kau sendiri yang bilang. Bukan aku."


"Hm iya. Aku sendiri yang berharap meski kamu tidak." Imbuh Eldar dengan perasaan semakin menggila. Ingin berada di posisi Tama. Memiliki hati Alisha agar dia bisa di cintai seperti apa yang di lakukan Alisha pada pernikahannya." Kita berteman ya." Ucap Eldar untuk kesekian kali.


"Jika sudah berteman. Aturannya seperti apa?" Tanya Alisha yang hatinya sedikit luluh.


"Selayaknya teman." Teman hidup.


"Tidak boleh menelfon sembarangan."


Tapi boleh datang sembarangan..


"Iya lalu, apalagi?"


"Itu saja." Jawab Alisha tidak yakin mengatakannya. Rasa nyaman yang di hadirkan Eldar membuatnya selalu berangsur membaik ketika pertengkaran yang terjadi setiap pagi.


"Terimakasih. Aku senang sekali."


"Memangnya aku memberikan apa hingga membuat mu senang."


"Hari ini kita berteman dan aku senang. Sekarang, ceritakan tentang masalahmu?" Alisha menoleh sejenak seraya memasang wajah bingung.


"Masalah apa?" Tanyanya lirih.


"Setiap pagi wajahmu selalu tidak baik Babe. Katakan, apa yang ayah mu lakukan padamu?" Alisha membuang nafas kasar kemudian berdiri dan meninggalkan Eldar begitu saja. Berjalan menuju bangku yang sudah di tinggalkan pembelinya.

__ADS_1


Tentu saja Eldar ikut berdiri untuk mengekor, seperti yang di lakukannya setiap hari.


"Masih tidak nyaman bercerita padaku?"


"Itu masalah keluarga. Tidak baik menceritakannya." Jawab Alisha lembut.


"Tidak baik jika aku menceritakan itu pada semua orang. Tapi aku berjanji akan merahasiakan itu."


"Tidak."


"Aku hafal kata-kata mu yang itu." Alisha membereskan piring kotor dan berjalan ke belakang." Sampai berapa lama lagi hingga kamu merasa nyaman untuk bercerita." Eldar tidak juga menyerah. Alisha bukan merasa risih tapi malah menikmati sikap Eldar yang seperti sekarang." Babe, kenapa kamu selalu saja meninggalkan aku seperti itu." Protes Eldar.


"Kamu tidak sungkan dengan Mbak Sarah?" Mbak Sarah tersenyum dan membereskan makanan sisa dagangan sebab sudah pukul setengah empat.


"Aku tidak melihat siapapun di sini." Jawab Eldar ingin menyakinkan Alisha jika setiap kali melihatnya, dunianya seolah teralih.


"Setelah piring bersih. Langsung pulang saja Al."


"Terus bangkunya Mbak?"


"Nanti biar di bereskan Suami ku."


"Kenapa begitu Mbak."


"Sudahlah, lakukan saja." Mbak Sarah ingin memberikan waktu berdua untuk Eldar dan Alisha. Dia sangat kagum pada Eldar yang sejak seminggu lalu mencuri perhatiannya. Mengemis cinta tiada lelah meski Alisha mengacuhkannya setiap hari. Semoga Alisha cepat menerima perasaan pemuda itu...


Sementara di kantor Tama. Lilis tidak terima dengan keputusan Tama yang ingin tidak melakukan pertemuan sementara waktu. Itu di lakukan karena dia takut di salahkan Mamanya atas keputusan Alisha yang meminta berpisah darinya.


"Pisah saja Tam. Bukankah kamu lebih nyaman bersamaku?" Ucap Lilis memegang jemari kanan Tama dengan kedua tangannya.


"Aku tahu Lis. Tapi jika Mama tahu ini. Dia akan marah besar padaku. Ayolah, kau harus mengerti posisiku."


"Lalu bagaimana dengan posisiku? Aku sudah memberikan semuanya padamu tapi kau tetap membela wanita itu. Bilang pada Mamamu jika kamu sudah memiliki calon lain." Rajuk Lilis sama sekali tidak tahu malu. Bagaimana dia bisa berkata itu padahal dia tahu Tama masih memiliki seseorang di hidupnya.


"Tidak semudah itu Lilis."


"Berikan alamat rumah Mamamu." Tama menoleh mendengarnya.


"Untuk apa?"


"Mendekatinya. Untuk apa lagi?"


"Lalu kau berkata soal hubungan ini?"


"Tidak sayang. Sudahlah. di mana alamatnya, sisanya biar aku urus." Lilis mengusap lembut wajah Tama dengan posisi saling memandang.


Dari jauh, Nino memperhatikan kemesraan keduanya. Rasa perdulinya semakin menggelitik hingga dia ingin sekali bertemu dengan Alisha meski hanya sekedar keinginan.


Semoga Tuhan mempertemukan aku dengan dia. Agar dia tahu seperti apa kelakuan suaminya..


💙❤️


"Kau selalu tidak makan seperti itu." Protes Alisha melihat Eldar hanya memesan secangkir kopi.


"Terima cintaku agar aku bisa berselera untuk makan."


"Cih! Baru saja di terima sebagai teman malah ngelunjak."


"Asal hanya untukmu bukan kah tidak masalah." Alisha tersenyum dan menikmati sajian di hadapannya.


Dari seberang jalan, terlihat Lilis baru saja keluar dari toko kue demi untuk melancarkan aksinya. Dia mengurungkan niatnya untuk memesan taksi saat melihat Alisha tengah makan berdua bersama Eldar.


"Astaga. Jadi itu alasannya kenapa dia minta bercerai." Lilis mengangguk-angguk seraya tersenyum jahat. Dia mengambil beberapa gambar lalu memutuskan untuk menyebrang jalan untuk menyapa Alisha.

__ADS_1


~Bersambung


Terimakasih dukungannya 🥰🥰🥰


__ADS_2