Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 19


__ADS_3

Wina masuk dengan langkah terburu-buru. Wajahnya terlihat kesal sebab dia tidak membenarkan Kakaknya memiliki teman wanita dengan pakaian seksi itu.


"Kak ada Tamu." Tama pura-pura memasang wajah tidak tahu. Padahal!


Pasti Lilis. Tebakan yang benar. Sebab ini adalah rencananya.


"Siapa?"


"Aku tidak tahu. Tapi, apa itu temanmu?" Tanya Wina dengan nada bicara meninggi.


"Wanita?"


"Iya. Kenapa sih mesti di kasih alamat rumah segala. Jangan main-main ya Kak! Meskipun Mbak Alisha tidak sempurna, jika aku tahu Kak Tama selingkuh tetap saja itu tidak benar." Ucap Wina tegas.


"Siapa sih Tam?" Sahut Mama Rita.


"Teman wanitaku banyak Ma. Aku juga tidak tahu siapa." Jurus ampuh Tama lontarkan. Dia tidak ayal seperti si kancil yang pintar melarikan diri dari tuduhan. Membodohi orang di sekitarnya agar bisa percaya dengan kebohongannya.


"Buktinya dia tahu alamat rumah sini!!" Jawab Wina tidak percaya.


"Mungkin tahu dari kantor. Itu data lama jadi alamatnya masih di sini." Tama berdiri dan berjalan ke depan untuk menemui Lilis.


Sesuai kemauan, Mama Rita ingin tahu dan mengekor langkah Tama begitupun Wina lalu pertunjukan pun di mulai.


"Oh kamu Lis." Sapa Tama berpura-pura. Lilis sengaja membuang cake untuk melancarkan aksinya." Ada apa Lis." Tanya Tama duduk sementara Mama Rita berdiri di ambang pintu.


"Aduh bagaimana ya Tam bilangnya." Jawab Lilis seraya melirik ke arah Mama Rita.


"Bilang saja. Ada apa?" Tanya Tama merasa penasaran sebab tidak tahu dengan apa maksud Lilis.


"Ini Tam. Aku melihat Istrimu di sini." Lilis menunjukkan potret antara Eldar dan Alisha.


Darimana dia mendapatkan foto ini? Apa dia mengeditnya. Aneh! Sebab ada rasa sakit ketika Tama melihat foto tersebut. Sebab sebelumnya, dia memang tidak pernah melihat Alisha dekat dengan lelaki manapun.


"Kau dapat darimana?" Tanya Tama terus memandangi foto tersebut.


Mama Rita dan Wina yang merasa penasaran, langsung merebut ponsel untuk melihat foto tersebut.


"Mbak Alisha." Tutur Wina terbata.


"Dasar menantu tidak tahu diri! Sudah susah hamil malah selingkuh dengan lelaki lain!!" Tama terdiam sementara Lilis tersenyum menang bahkan terkekeh dalam hati mendengar umpatan Mama Rita.


Aku tidak yakin dia Alisha tapi..


"Maaf Tante jika membuat kericuhan. Saya hanya kasihan pada Tama. Sebenarnya saya mencoba menutupi ini tapi Alisha semakin menjadi seperti yang Tante lihat." Mama Rita memberikan ponselnya pada Tama.


"Antar Mama bertemu wanita itu!!" Pintanya geram.

__ADS_1


Hahaha!! Seru sekali..


"Belum tentu benar Ma. Jangan emosi." Cegah Wina merasa tidak yakin. Dia mengenal Alisha dengan baik dua tahun ini.


"Itu kenapa Mama harus mencari tahu! Mama tidak mau Kakakmu memiliki Istri tidak setia seperti itu! Ayo Tam." Meski dengan setengah hati, Tama berdiri untuk menuruti apa perintah Mamanya.


.


.


Alisha cepat-cepat mengintip ke jendela ketika terdengar suara motor Tama terparkir. Wajahnya semakin menegang saat melihat Tama datang bersama Mama Rita.


"Ya Tuhan aku takut." Gumam Alisha membuka pintu dengan ragu dan memperlihatkan senyum untuk menyambut Mertuanya." Mama tumben." Dengan kasar Mama Rita menghindari jabatan tangan Alisha. Dia duduk seraya menatapnya geram.


"Duduk kamu. Tutup pintunya." Tama melihat ke arah Alisha dan baru menyadari jika Istrinya terlihat lebih kurus.


"A ada apa ya Ma." Tanya Alisha duduk lemah. Lututnya terasa lemah dengan tubuh dingin seolah tidak ada aliran darah.


"Ada apa!! Kau masih bertanya itu?" Alisha menarik nafas panjang. Dia melihat ke arah Tama yang tengah menatapnya.


"Aku benar-benar.."


"Siapa lelaki itu?" Sahut Tama masih memiliki perasaan cemburu. Ada setitik rasa tidak rela melihat Alisha berdekatan dengan lelaki lain.


"Lelaki mana." Tanya Alisha lirih. Berharap jika Lilis tidak memberitahu secara detail tentang kejadian tadi.


"Foto?" Jawab Alisha terbata. Dia tidak tahu jika Lilis tadi sempat memfotonya.


"Ya! Kau mau menyangkal seperti apalagi?" Alisha menarik nafas panjang. Mencoba mengendalikan perasaannya untuk memberikan jawaban selembut mungkin pada Mama Rita.


"Dia hanya teman Ma. Aku tidak sengaja bertemu dengannya tadi."


Bukankah seharusnya aku bisa menceraikannya? Tapi kenapa aku malah tidak rela? Nafas Tama terbuang kasar. Dia tidak tahu harus bersikap, mengingat pertengkarannya dengan Alisha tadi pagi.


"Kelihatannya Mas Tama semakin dekat dengan Mbak Lilis." Ucapan Alisha terasa dingin menusuk. Rasa bencinya pada Lilis mendarah daging apalagi Tama kerapkali menghabiskan waktu semalaman bersamanya.


"Di dia hanya ingin memberitahu itu." Tama merasa terpojok dengan ucapan Alisha dan tetap tidak ingin di salahkan.


"Kenapa tidak jujur saja Mas dan memojokkan aku seperti ini." Alisha sudah sangat pasrah dengan apa yang terjadi selanjutnya. Dia tidak sanggup jika harus mempertahankan semuanya sendirian.


Gawat!! Jika Alisha menceritakan soal itu!! Bisa ketahuan ini!!


"Jujur apa? Kau terlalu cemburu Alisha. Perkerjaan itu pasti ada lelaki dan wanita. Jika kau suruh aku tidak bergaul, mana bisa." Jawab Tama mulai berkilah dan memikirkan strategi untuk bisa membalikkan kesalahannya.


"Kamu jangan mengungkit yang tidak-tidak Alisha!! Mama tidak menyangka jika kamu bisa menemui lelaki lain sementara Tama sibuk berkerja!!"


"Aku tidak pernah melakukan itu Ma. Sampai detik ini aku masih setia tapi.. Em jika Mas Tama sudah tidak nyaman, aku tidak bisa jika harus membagi cintanya dengan yang lain." Alisha mengucapkannya dengan begitu lembut, meski emosinya meledak-ledak. Ingin sekali dia mengumpat Tama dengan kata-kata kasar. Tapi, dia tidak mau lagi jadi tersangka.

__ADS_1


"Tama itu setia!! Kau yang tidak setia!! Itu yang jadi alasan kenapa Tama tidak bisa betah berada di rumah. Karena selain kau mandul!! Kau juga wanita yang gampangan!!" Belati tajam kembali di tusukkan. Alisha tersenyum kecut menatap Tama." Kau menyamakan keburukan mu sehingga kau berfikir jika Tama sama buruknya denganmu." Imbuh Mama Rita belum juga selesai.


"Hm ya sudah. Cari wanita yang menurut Mama baik untuk Mas Tama. Yang tidak pencemburu dan bisa memberikan anak." Mata Alisha mulai berkaca-kaca. Dengan suara bergetar dia mengucapkannya sebab dia tidak pernah membayangkan jika pernikahannya akan berakhir buruk.


"Dasar!!! Secepatnya Tama akan menceraikan mu!!" Tunjuk Mama Rita kasar seraya berdiri.


"Tapi Ma." Protes Tama tidak sadar dengan ucapannya.


"Kemasi bajumu!! Mama tunggu." Alisha tertunduk, tidak menjawab. Melihat Tama melangkah masuk kamar untuk membereskan bajunya.


Ini pasti yang terbaik.. Berulang kali Alisha mengucapkan itu. Menyakinkan pada hatinya jika apa yang terjadi sudah di gariskan.


Meski langkah Tama terlihat ragu, dia tidak sanggup menolak keinginan Mamanya dan berjalan keluar dengan tas besar di tangannya.


Ya Tuhan.. Bukankah ini keinginanku dan rencana ku bersama Lilis tapi kenapa aku jadi merasa bersalah dan tidak tega padanya.. Rasanya terlambat, sebab Tama mulai mengingat kebersamaannya bersama Alisha dalam tiga tahun yang singkat.


Dari saat perkenalan, sampai dia memberanikan diri untuk menyatakan cinta. Alisha menerima segala kekurangannya yang hanya berkerja sebagai staf biasa dengan gaji kecil.


Tidak apa Mas. Asal kamu setia, pasti semua bisa kita lalui..


Aku baru sadar jika aku sering membuatnya menangis sejak saat pacaran dulu..


Aku tidak suka Mas Tama pegang-pegang Mbak Lilis seperti itu hiks...


Tama mengingat itu dengan sangat jelas di saat semuanya sudah hancur seperti sekarang.


Aku bahkan tidak pernah mendengar dia merengek padaku sejak lama..


"Ma." Ucap Tama ketika motornya sudah terparkir di halaman rumahnya.


"Hm, apa?"


"Bukankah seharusnya jangan mengambil keputusan dulu." Mama Rita menoleh dengan tatapan tajam.


"Kamu itu masih tampan Tam. Apalagi kalian belum punya anak. Jadi, cepat urus surat perceraian dan carilah wanita baik-baik."


"Tapi Ma?"


"Tidak ada tapi tapian! Mama juga sudah muak dengan Alisha. Karena dia, Mama tidak bisa bertemu denganmu setiap hari! Ceraikan dia atau kau tidak perlu datang ke rumah Mama lagi!!" Ancam Mama Rita berlalu pergi.


Tama hanya bisa pasrah. Terlihat jelas jika dia bukanlah lelaki yang memiliki pendirian teguh. Sifat plin-plan nya terlihat sekarang.


Sudah terlanjur.. Mau bagaimana lagi. Aku harap Lilis segera bercerai dengan Suaminya jadi aku bisa menikah dengannya..


~Bersambung


Lanjut atau Hiatus ya😁😁😁

__ADS_1


Terimakasih dukungannya 🥰🥰🥰🥰


__ADS_2