Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 48


__ADS_3

Setelah tahu kehamilannya. Alisha lebih sering menghabiskan waktu untuk tidur karena kantuk yang tidak tertahankan.


Matanya menjadi bengkak, dengan jerawat kecil yang mulai tumbuh di sekitar wajahnya.


Sore itu, seusai mandi. Alisha berkaca di depan meja rias. Menatap fokus pada wajahnya yang kelihatan berantakan.


"Mas.." Panggil Alisha melihat Eldar dari pantulan cermin.


"Hm.." Jawab Eldar seraya fokus menatap laptop.


Alisha memutar tubuhnya karena merasa di abaikan. Matanya mulai berkaca-kaca seraya menatap ke arah Suaminya yang masih terlihat tampan sementara dia.


Aku buruk sekali..


Awalnya Eldar tidak menyadarinya. Namun ketika dia terlalu lama menunggu jawaban ucapannya. Eldar baru sadar dengan wajah sendu yang di tunjukkan Alisha.


Segera laptopnya di tutup dan bergegas beranjak menghampiri Alisha.


"Aku tidak mengabaikan mu." Langsung saja Eldar berkata demikian. Dia hafal dengan perubahan sikap Alisha yang cenderung ingin di perhatikan.


"Aku tahu aku tidak menarik lagi Mas." Tarikan nafas berhembus. Eldar meraih kedua tangan Alisha lalu melingkarkannya pada pinggangnya.


Ini terjadi berulang-ulang. Aku tidak mengerti kenapa Istriku berubah sangat mengemaskan. Ahh Tuhan.. Kesabaran ku benar-benar di uji. Apa dia tidak tahu bagaimana buruknya emosiku dan sekarang aku harus di hadapkan dengan hal seperti ini. Apa kamu tidak sadar betapa besarnya perasaanku ini. Percuma aku jujur, dia tidak akan memahaminya..


"Kamu sudah mengatakannya kemarin Babe. Kamu tidak ingat apa kata Dokter Ira. Itu bawaan bayi. Akan menghilang jika kamu sudah melahirkan." Keluhan soal wajah berjerawat, sudah di tanyakan pada Dokter. Tapi sepertinya penjelasan itu tidak membuat Alisha berhenti mengeluh.


"Kamu bahkan sudah malas melihatku Mas." Ucapan yang sama sehingga membuat Eldar tersenyum.


"Aku tadi memeriksa laptop sebentar sambil menunggu kamu mandi sebab kamu tidak ingin mandi bersama."


"Aku tadi sudah keluar tapi kenapa Mas masih saja mengacuhkan ku." Eldar menahan tawa karena tidak ingin memperburuk suasana hati Alisha.


Laporan menumpuk begitu banyak Babe.. Sepertinya aku harus fokus padanya dulu. Akan ku hubungi Abraham untuk mengurus semuanya..


"Maafkan aku ya." Ucap Eldar seraya mengusap lembut rambut panjang Alisha.


"Hm Mas. Aku maafkan. Aku sekarang ingin makan nasi bebek."


"Kamu tunggu di rumah biar ku belikan."


"Iya Mas." Alisha melepaskan pelukannya.


"Nasi bebek saja?"


"Buah-buahan juga Mas."


"Masih ada banyak Babe. Itu habiskan dulu baru membeli lagi." Tolak Eldar lembut.


"Buat stok Mas. Kalau aku kelaparan waktu malam bagaimana?" Eldar mengangguk-angguk.


"Kamu tiduran saja. Aku belikan sesuai pesanan."


"Iya Mas. Jangan lama-lama ya. Aku sudah lapar."


"Iya Babe. Love you." Eldar mengecup sebentar bibir Alisha dan melangkah keluar kamar.


.

__ADS_1


.


.


.


.


Eldar mengangkat tubuh Alisha untuk menuruni anak tangga. Setiap datang waktu makan, Eldar selalu melakukannya tanpa di suruh.


Bukan hanya Alisha yang ingin menjaga janin itu, tapi dia sendiri begitu menunjukkan perhatiannya agar tidak terjadi sesuatu dengan calon anaknya.


"Terimakasih Mas." Ucap Alisha saat Eldar menurunkannya tepat di samping meja makan.


"Sama-sama."


Alisha duduk dan membuka kotak bebek goreng pesanannya. Dia menyisihkan sebagian nasi sebab beberapa hari ini dia kesulitan makan karena mual yang berlebih.


"Nanti kalau muntah tidak apa-apa kan Mas."


"Tidak apa Babe."


Alisha tersenyum dan mulai memakan sajian di hadapannya. Terasa menggoyang lidah. Dalam satu menit, setengah porsi nasi sudah berpindah ke dalam perutnya.


Matanya melihat ke arah Eldar yang tengah makan sajian yang sama dengan santai.


"Mas.."


"Hm kenapa lagi?"


"Rasanya enak sekali."


"Kalau muntah kan sayang Mas."


Mual itu akan datang ketika Alisha selesai makan dan ketika saat makan seperti sekarang sama sekali tidak terasa seolah semua baik-baik saja. Namun selang beberapa menit berlalu. Perutnya sering terasa di aduk-aduk hingga dia memuntahkan semua makanannya.


"Paling tidak keinginanmu sudah tercapai Babe. Makan saja sampai habis. Jika muntah nanti makan buah saja."


Alisha mengangguk seraya tersenyum dan melanjutkan separuh porsi nasinya.


"Enak sekali Mas." Eldar melongok, melihat nasi sudah habis tidak tersisa." Ikannya masih ada. Tolong ambilkan nasi lagi." Pintanya lirih.


"Tidak kekenyangan nanti."


"Aku masih ingin makan."


"Hm oke." Eldar berdiri dan mengambil tambahan nasi lalu meletakkannya di hadapan Alisha.


"Mas beli di mana? Enak sekali." Gumamnya seraya makan.


"Di depot dekat sini."


Eldar melanjutkan makan seraya memperhatikan Alisha makan dengan lahapnya. Satu piring nasi habis berserta daging bebeknya dan di akhiri dengan meminum sirup dingin satu gelas.


"Ahh.. Aku sudah tidak pernah merasakan makan senikmat ini." Bibir Alisha tersungging begitupun Eldar.


"Jangan di tambah lagi minumannya. Takutnya malah muntah Babe."

__ADS_1


"Iya Mas. Apa kamu habis Mas."


Alisha menggeser kursinya seraya memperhatikan jatah makanan milik Eldar.


"Masih mau?" Tanya Eldar menawarkan.


"Bebek gorengnya saja Mas."


"Aku takut kamu kekenyangan."


"Daripada Mas tidak habis." Eldar tersenyum dan mulai menyuapi Alisha sampai dia rela hanya memakan nasi putih berlauk sambal.


Aku berharap dia bisa makan sebanyak ini setiap hari..


.


.


.


.


Setengah jam setelah makan. Alisha tersenyum penuh kemenangan sebab dia tidak merasa mual sama sekali. Makanan bebek goreng itu di terima dengan baik oleh janin yang ada di perutnya.


"Tidak muntah Mas."


"Syukurlah. Apa beli lagi untuk makan malam?" Tanya Eldar melirik ke jam yang menunjukkan pukul empat sore.


"Tidak Mas. Aku sekarang mengantuk sekali." Alisha berbaring dan menumpukan kepalanya di paha Eldar yang tengah duduk.


"Ya sudah kamu tidur jika mengantuk."


"Iya Mas."


Cukup sebentar, mata Alisha mulai meredup dan dengan cepat mendapatkan kantuknya.


🌹🌹🌹


Wajah Mama Rita berubah sumringah, ketika melihat perut buncit Lilis yang mulai membesar. Dia berjalan menghampiri Tama dan Lilis karena keinginan kuatnya untuk menimang cucu.


"Kenapa kamu tidak bilang Tam kalau Lilis hamil." Tama tersenyum kecut. Pertengkaran hebat terjadi sebelum dia menuruti kemauan Lilis untuk ke rumah. Itu karena Lilis akan membeberkan kebenaran jika anak yang di kandung Lilis adalah anak Damar bukan Tama.


"Ini anak Damar bukan anak Tama."


Plaaaaaakkkkkk!!!!


Tama melayangkan tamparan karena ketidaksabaran Lilis mengucapakan itu. Padahal tadi mereka sudah membicarakannya untuk mengatakan kebenaran itu dengan sopan di dalam rumah. Tapi Lilis malah mengatakan di depan rumah tanpa melihat keadaan sekitar.


"Apa maksudnya ini?" Tanya Mama Rita lirih. Wina yang mendengar ucapan Lilis langsung berjalan masuk karena tidak bisa menerima kenyataan itu.


"Ini anak Damar bukan anak Tama." Jawab Lilis berbisik." Minta anakmu untuk menceraikan ku agar aku bisa hidup bersama Damar, lelaki idamanku." Pinta Lilis tersenyum tipis.


Tubuh Mama Rita seketika ambruk karena kehilangan kesadaran. Tama bergegas mengangkat tubuhnya ke dalam rumah sementara Lilis memilih pergi setelah membuat keonaran.


"Mama!!" Pekik Wina duduk di bawah sementara Mama Rita terkulai lemah di sofa." Ini semua gara-gara kamu Kak!! Kau memasukkan wanita sialan itu di kehidupan keluarga kita hingga dia menghancurkan semuanya!!!" Tama tertunduk seraya terisak. Dia begitu menyanyangi Mama Rita hingga rasa bersalah akan itu berputar-putar di otaknya.


🌹🌹🌹

__ADS_1


Meskipun dikit yang penting bisa update ya😩🙏


Terimakasih dukungannya 🥰


__ADS_2