Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 36


__ADS_3

Alisha menunggu dengan raut wajah cemas. Menatap Eldar yang mulai memasukkan masakannya ke dalam mulutnya.


Sesuai dugaan, wajah Eldar berubah aneh ketika sedang memakannya sebab masakan Alisha memang banyak kekurangannya.


"Tidak enak kan." Eluh Alisha pelan.


"Kurang sedap sedikit tapi masih bisa di makan." Jawab Eldar tetap memakan sajian di hadapannya dengan bersemangat.


"Tidak perlu di makan dan berpura-pura seperti itu Mas."


"Berpura-pura apa Babe? Aku tidak pernah melakukannya. Ini cukup baik untuk di makan, apalagi dari tanganmu." Bibir Alisha tersungging. Dia tahu jika Eldar tengah berpura-pura. Tapi setidaknya dia bisa menghargai masakan yang sudah di buat susah payah.


"Terimakasih sudah menghargai masakan ku Mas."


Senyummu lebih penting dari sekedar kecewa karena masakan ini..


"Ambilkan lagi. Aku masih lapar." Pinta Eldar menggeser piringnya yang sudah kosong.


"Serius Mas El?" Tanya Alisha mengulang.


"Serius. Itu masih ada satu potong kan, biar ku habiskan."


Alisha begitu bersemangat dan menyiapkan makanan meski piring miliknya belum tersentuh.


"Nanti makan siang kita beli Mas. Silahkan." Ucap Alisha meletakan piring Eldar dengan sangat lembut.


"Bahan makanan habis?" Tanya Eldar mulai memakannya lagi.


"Tidak Mas. Em ini kan hanya sekedar mencicipi." Alisha kembali duduk dan makan.


"Selama Bibik pulang. Masakan untukku ya. Aku tidak seberapa suka makan di luar." Pinta Eldar kembali membuat senyum Alisha kian mengembang." Kamu siap Babe?" Imbuhnya menyakinkan.


"Siap Mas."


"Tapi jika lelah bilang ya. Aku tidak ingin kamu terlalu capek." Agar kamu bisa cepat hamil..


"Tidak lelah jika untuk melayani kamu Mas."


"Kamu sedang menggombal." Canda Eldar seraya terkekeh kecil.


"Ish tidak." Jawab Alisha lirih." Aku akan dengan senang hati melakukannya Mas." Alisha merasa sedikit sungkan mendengar kata-kata darinya di kembalikan lagi.


Ternyata rasanya tidak nyaman juga saat seseorang ingin berkata serius tapi di sebut menggombal.


"Hari ini aku datang ke perusahaan sebentar. Kamu mau ikut?"

__ADS_1


"Memangnya tidak apa-apa aku ikut Mas?"


"Tidak apa-apa jika ingin ikut." Eldar menggeser piringnya yang sudah kosong.


Dia menghabiskannya..


"Ikut atau tidak?" Tanya Eldar mengulang.


"Kesannya tidak baik Mas. Seolah aku pencemburu berat kalau aku sampai ikut kamu kerja."


"Apa salahnya cemburu? Aku juga sering merasakannya."


"Kesannya tidak dewasa dan seperti anak kecil. Aku menunggu di rumah saja Mas."


Alisha tidak ingin mencoreng nama baik Eldar nantinya sehingga dia memutuskan untuk di rumah saja.


Tapi jangan nakal-nakal ya Mas... Ingin rasanya Alisha mengutarakan kekhawatirannya namun dia kembali takut mengulang kesalahan yang sama.


"Kamu ikut saja jika begitu." Alisha tidak menjawab dan membereskan piring kotor untuk di cuci." Tidak ingin ikut?" Lagi lagi, Eldar mengulang pertanyaannya.


"Tidak Mas. Aku juga tidak bisa berdandan jadi di rumah saja." Meski senyum Alisha suguhkan tapi Eldar kembali merasa ada yang salah dengan raut wajah Istrinya.


Para bos besar pasti di kelilingi banyak wanita cantik. Ugh! Kalau aku ikut malah kelihatan tidak pantas..


Eldar memeluk tubuh Alisha dari belakang seraya memperhatikannya mencuci piring.


"Aku tahu kamu memikirkan sesuatu." Ucapnya menunduk dan mengecup pundak belakang Alisha sesekali.


"Tidak Mas. Setelah cuci piring aku siapkan bajunya tapi aku tidak bisa memilih baju yang bagus." Terdengar tarikan nafas berat berhembus. Eldar sangat sakit melihat kenyataan jika Alisha masih saja tidak bisa terbuka dengannya.


"Semua pilihanmu pasti bagus Babe."


"Aku tidak pernah menyiapkan jas sebelumnya."


"Setelah ini pasti pernah." Alisha tersenyum begitupun Eldar." Ikut denganku ya." Rajuk Eldar malah meminta Alisha ikut.


"Aku di rumah saja Mas. Hanya sebentar kan?" Alisha mengeringkan tangannya yang basah lalu berbalik badan dan berdiri saling berhadapan.


Eldar mengalihkan kedua tangannya dan bertumpu pada tempat cucian piring seraya menunduk dan memandangi wajah Alisha yang mulai memerah.


"Ikut saja Babe." Akan ku tunjukkan kecemburuanku yang menggila ini. Aku sekarang mengerti. Kenapa kamu dulu berkeliaran sendirian tanpa pengawasan. Itu karena lelaki sialan itu tidak pernah cemburu padamu dan malah memikirkan wanita lain. Selamat datang di duniaku Alisha. Aku ingin kau bisa terlepas dari masa lalu buruk mu itu dan melakukan sesuatu yang ingin kamu lakukan.


"Aku di rumah saja Mas."


"Aku takut kamu selingkuh jika ku tinggalkan di rumah." Alisha mendongak seraya tersenyum.

__ADS_1


"Selingkuh? Mas bicara apa. Aku tidak akan pergi kemanapun. Aku menunggumu sampai kamu datang." Eldar berdiri tegak dan menuntut kedua tangan Alisha melingkar ke pinggang nya.


Alisha menikmatinya, bahkan dengan jelas terdengar degup jantung Eldar seolah memanggil nya.


Kepalanya di sandarkan seraya menghirup kuat-kuat aroma tubuh Eldar dengan kedua mata terpejam.


"Aku tetap takut Babe. Di sini ada tukang kebun, penjaga rumah dan tukang bersih-bersih. Bukankah mereka juga lelaki?" Kekehan terdengar keluar dari bibir Alisha.


"Mereka sudah tua Mas. Apa bagusnya?"


"Mereka memang tidak terlihat bagus tapi bukankah kamu terlihat bagus di mata mereka?" Alisha mengangguk-angguk seraya tersenyum." Kamu ikut dan tunggu di ruangan ku." Imbuh Eldar meminta.


"Ya sudah aku ikut."


"Hm. Pilihkan baju untukku." Eldar mengakhiri dekapannya dengan kecupan hangat lalu mengiring Alisha berjalan keluar dapur.


❤️


Tama menatap masam ke arah Lilis yang baru saja pulang pagi itu. Seolah sudah tahu, Tama langsung saja menebak kemana perginya Lilis semalam.


Dengan kasar, Tama menyeret Lilis untuk masuk kamar karena tidak ingin perdebatannya di dengar Mama Rita dan orang sekitar.


"Dengan siapa kamu di hotel semalam!!" Tanya Tama geram. Dia mulai berkaca dan memikirkan sesuatu yang pernah dia lakukan bersama Lilis dulu.


"Kamu jangan menuduh tanpa bukti. Aku ke rumah Tanteku yang tinggal di perumahan bukit tinggi." Jawab Lilis mengelak. Dia menampis kasar tangan Tama lalu duduk di sisi ranjang.


"Aku tahu bagaimana kamu Lis. Bisakah kau berhenti melakukan itu dan fokus hanya padaku?" Lilis tersenyum kecut seraya melepaskan sandal heels nya.


"Bagaimana aku bisa fokus padamu jika kau saja payah ketika bercinta di ranjang!!!" Tama melebarkan matanya mendengar itu karena dia belum juga sadar atas kepayahannya saat sedang bercinta.


"Apa maksudmu?"


"Aku malah merasa heran! Kenapa Alisha bisa bertahan dengan lelaki loyo seperti dirimu." Lilis berdiri dan menunjuk kasar pundak Tama.


"Lantas kenapa kau merayu ku waktu itu?!"


"Aku menyesal melakukan itu! Jika tahu begini, aku tidak akan meminta cerai dari Mas Toni! Setidaknya gajinya besar! Sementara kau!! Payah! Tidak memiliki uang!! Cih!!! Berangkat kerja sana!!! Cari uang yang banyak! Aku mau tidur! Capek!!!" Lilis berlalu pergi masuk ke dalam kamar mandi. Sementara Tama terduduk lemah di sisi ranjang dan semakin terpuruk dengan wanita yang di pilihnya sendiri.


Sesuatu yang baru di sadarinya sekarang adalah. Bagaimana bisa Alisha tidak pernah berprotes atau menyinggung kekurangan yang di bicarakan Lilis tadi. Sedangkan Lilis yang baru saja menjadi Istrinya beberapa hari saja, sudah berprotes seperti sekarang seolah dia sudah merasa bosan padanya.


Apa selama ini Alisha juga merasakan hal yang sama? Tapi kenapa dia tidak pernah mengeluh bahkan selalu melayaniku kapanpun aku memintanya.. Aku harus cepat menemukan nya untuk minta maaf. Mungkin saja ada jalan untuk ku bisa kembali lagi.. Aku akan datang ke rumah Monik untuk bertanya di mana Alisha tinggal..


❤️💙


Terimakasih dukungannya 🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2