
Alisha terjaga tengah malam. Janin dalam perutnya menendang-nendang meski sudah di usap beberapa kali.
Sejak perkenalannya dengan bebek goreng. Alisha terus menginginkannya bahkan makan tiga kali sehari dengan menu yang sama.
Namun yang merepotkan adalah. Caranya meminta yang tidak melihat jam dan waktu. Eldar kerapkali menawarkan sore hari untuk membungkusnya dobel. Tapi Alisha menolaknya karena merasa rasanya tidak sesedap saat baru beli.
"Mas El. Mas.. Bangun." Alisha menepuk-nepuk pundak Eldar seraya mengusap perutnya yang bergerak.
"Hm ya Babe." Eldar mencoba membuka matanya yang berat.
"Dia menendang-nendang terus Mas." Momen berharga untuk Eldar. Dia segera duduk dan menyentuh janin kecil yang tengah bergerak di dalamnya.
"Astaga Babe. Ini menyenangkan sekali. Ingin rasanya aku menyentuh tangan kecilnya."
"Dia lapar." Senyum Eldar memudar. Dia tahu maksud dari perkataan Alisha.
"Mau beli apa di jam segini? Kalau jam 11 mungkin masih ada yang berjualan tapi kalau jam..."
"Bebek goreng Mas." Sahut Alisha cepat.
Pasti sudah tutup. Aku berjanji akan datang jam 11 jika memang membutuhkannya. Tapi ini.. Ya Tuhan, aku tidak mempermasalahkannya, tapi jika depot itu sudah tutup aku harus mencari di mana.
"Mas lelah ya, ku suruh bolak-balik? Pasti sedang mengerutu. Kenapa tidak tari-tadi saja! Begitu kan." Eldar tersenyum aneh. Dia mencium perut Alisha sejenak kemudian beralih pada keningnya.
"Bukan masalah lelahnya Babe. Tapi takutnya, depotnya tutup."
"Katanya sudah Mas suruh buka lebih lama."
Eldar sudah menyuruh pemilik depot membuka dagangannya lebih lama meski itu tidak gratis. Tentu saja dia memberikan tarif yang cukup menggiurkan hingga si pemilik depot dengan senang hati menunggu pesanannya.
"Sampai jam 11 Babe. Lihatlah sekarang jam berapa." Alisha melirik malas ke arah jam lalu memunggungi Eldar yang tengah duduk di sampingnya.
"Ya sudah Mas tidur saja." Pinta Alisha lirih dengan mata mulai berkaca-kaca.
Eldar menarik nafas panjang. Dia tahu jika akhirnya akan seperti sekarang. Ini kerapkali terjadi setiap malam bahkan berulang-ulang. Terkadang dia berharap Alisha bisa bangun di jam sepuluh atau sembilan tapi sekarang. Dia bahkan tidak yakin jika depot itu masih buka hanya untuk menunggunya.
"Oke aku belikan." Eldar bergegas berdiri dan meraih jaket." Mau menonton televisi atau di situ saja." Tanyanya menghampiri Alisha yang masih tidak bergerak.
Tentu saja dia menangis..
"Jika kamu menangis kasian yang di dalam."
"Mas yang membuat aku menangis." Eldar duduk di sisi ranjang dan mengusap lembut sudut mata Alisha.
"Maaf. Aku hanya takut tutup."
"Belum juga berangkat sudah bilang tutup." Celetuk Alisha yang suaranya hampir mirip dengannya.
"Oke sayang Papa belikan." Bisik Eldar pada perut Alisha." Mau di sini atau menonton televisi?" Tanyanya mengulang.
__ADS_1
"Menonton televisi. Jika kamu pergi aku kesepian Mas."
Jika kamu tidur.. Aku juga kesepian Babe. Hehe dia hanya mau di pahami tanpa mau memahami..
Eldar mengangkat tubuh Alisha dan mendudukkannya di sofa ruang tengah. Tidak lupa dia menyalahkan televisi lalu memberikan remote padanya.
"Ada tambahan."
"Tidak ada Mas. Aku hanya ingin minum susu hangat setelah makan bebek goreng nanti."
"Hm tunggu ya." Eldar mencium bibir Alisha sejenak kemudian beranjak pergi.
Dengan motor sportnya dia membelah jalan gelap dengan mata menyipit. Setibanya di depot, tarikan nafas berhembus berat sebab sesuai dugaan depot itu sudah tutup.
"Harus mencari di mana." Gumam Eldar memarkirkan motornya tepat di samping penjual nasi goreng." Tidak mungkin aku pulang dengan tangan kosong." Imbuhnya mencengkram erat kepalanya.
Kraaaaaaaaakkkkkkkkkk
Eldar menoleh ketika mendengar suara pintu depot di buka. Senyum mengembang langsung tergambar. Kerena ternyata pegawai depot itu masih menunggunya.
"Sudah saya duga Tuan kesini." Sapanya ramah.
"Ku fikir sudah tutup."
"Nyonya menyuruh saya menunggu. Em pesanan seperti biasanya." Eldar turun dari motor dan menghampiri si pegawai.
"Tunggu di dalam Tuan."
"Aku ambil uang dulu di ATM."
"Baik Tuan." Eldar menyebrang menuju ATM 24 jam untuk mengambil tambahan uang.
Ada hikmah di balik ini semua. Eldar menjadi sering bersosialisasi dengan orang sekitar hingga membuat sikapnya sedikit ramah. Dia baru sadar jika kehidupan itu pasti membutuhkan peran orang lain sebab tidak semua hal bisa di selesaikan dengan uang.
Setelah mengambil uang. Eldar kembali ke depot dan melihat pesanannya di siapkan.
"Istrinya baru bangun Tuan."
"Hm iya. Untung saja masih ada. Jika tidak, aku bingung harus membeli di mana."
"Saya akan tunggu sampai Tuan datang." Semoga Tuan ini memberikan uang lebih agar bisa ku pakai untuk membayar SPP Adikku.
Pegawai lelaki ini memang sengaja menginap. Dia tidak bisa pulang karena merasa binggung jika tidak membawa uang untuk SPP Adiknya yang akan melaksanakan ulangan besok.
"Ini Tuan sudah siap." Ucapnya meletakkan dua kotak porsi bebek goreng.
"Seperti biasanya dua juta untuk dua porsi." Si pegawai mengangguk seraya menerima uang tersebut. Ada wajah kecewa sebab Eldar memberikan nominal uang yang sama.
Nyonya menyuruhku mengambil 200 ribu atau aku ambil saja uang ini dan bilang jika Tuan ini tidak ke sini malam ini. Itu tidak baik. Tapi, aku harus cari di mana tambahan 400 ribunya
__ADS_1
"Dan ini free untukmu." Senyum pegawai itu mengembang saat Eldar menyodorkan uang tambahan 1 juta lagi.
"Terimakasih Tuan. Astaga terimakasih. Ini bisa untuk bayar SPP Adik saya."
"Terserah mau kau buat apa. Jangan lupa besok tunggu lagi mungkin aku membutuhkan ini." Jawab Eldar mengangkat kotak makan pesanannya.
"Iya Tuan siap. Saya siap menunggu."
"Hm." Eldar bergegas pergi tanpa mengucapkan terimakasih.
🌹🌹🌹
Tak!!!
Tama melemparkan surat gugatan cerai ke wajah Lilis yang tengah tersenyum kecut ke arahnya.
"Tanda tangani itu! Agar kita cepat berpisah dan aku tidak harus melihat wajah pembunuh Mamaku!!" Ucap Tama tegas.
Setelah kejadian buruk dua Minggu lalu. Mama Rita jatuh sakit hingga harus merenggang nyawa. Penyesalan terberat dari Tama, terjadi hari itu. Dia bahkan berharap waktu bisa di putar untuk memperbaiki semuanya tapi nyatanya nyawa Ibunya tidak dapat di kembalikan.
Lilis mengambil bulpen dan membubuhkan tanda tangan lalu melipatnya kembali.
"Ini akan segera di proses. Aku sudah mengatakan jika anak yang kau kandung bukan anakku. Jadi surat resminya akan keluar setelah kau melahirkan." Tama mengambil surat tersebut lalu berdiri.
"Hm oke. Jangan lupa untuk harta gono-gini nya." Tama tersenyum kecut mendengar itu.
"Kau tidak akan mendapatkan harta sepeserpun. Surat rumah dan semua kontrakan atas nama Mama. Jadi jangan berharap kau bisa mendapatkan itu."
"Tidak bisa begitu Tam."
"Memang itu kenyataannya sialan!! Aku tidak memiliki apapun yang bisa ku berikan. Kubur dalam-dalam keinginanmu itu!!" Tama melangkah meninggalkan Lilis yang masih menatapnya tajam.
"Terserah!!! Setelah ini Damar akan mau menikahi aku karena aku sudah bercerai dengan Tama." Harapan yang terlalu jauh sebab Damar kini tengah menjalin hubungan dengan target barunya yang lebih cantik juga lebih muda pastinya.
Tama langsung berangkat berkerja setelah mengambil cuti dua Minggu untuk mengurus kematian Mama Rita. Dia menjadi pribadi yang lebih pendiam dari sebelumnya. Kematian Mama Rita terasa menghantam kuat perasaannya.
Lampu rambu berubah merah. Tama menghentikan laju motornya tepat di belakang garis rambu. Sambil menunggu lampu berubah hijau. Dia memperhatikan sekitar dan menangkap sosok yang pernah singgah di hidupnya.
Alisha, terlihat tengah berjalan bersama Eldar di taman perumahan dekat rumahnya. Tama menatapnya lekat bagian perut Alisha yang terlihat membesar.
Dia hamil? Ya Tuhan... Eluhnya kembali meruntuki nasibnya. Dia terlihat bahagia tidak seperti saat bersamaku.
Tiiiiiiinnnnnnn!!!
Tama mengurungkan niatnya untuk berjalan lurus. Dia berbelok arah dan berniat menghampiri Alisha dan Eldar. Entah apa niatnya, yang pasti dia melajukan motornya sedikit cepat seolah merasa tidak sabar.
🌹🌹🌹
Terimakasih dukungannya 🥰
__ADS_1