Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 37


__ADS_3


Happy reading πŸ₯°


Alisha kebingungan memilih jas dan dasi yang cocok untuk di kenakan Eldar, sehingga dia memutuskan untuk memilih sesuai dengan seleranya.


"Jika Mas punya pilihan lain, Mas ganti saja." Ucap Alisha yang memang tidak merasa keberatan karena keterbatasannya perihal jas dan dasi.


"Itu sudah pilihan terbaik Babe." Alisha beralih membantu Eldar mengancingkan kemeja dengan posisi kaki menjinjit.


"Aku tidak bisa memakaikan dasi Mas. Kamu pakai sendiri ya." Eldar mencegah Alisha yang akan beranjak pergi.


"Ku ajari, agar kamu bisa memakaikan ini." Pintanya seraya mengambil dasi pilihan Alisha.


"Hm ya sudah."


"Perhatikan ya." Eldar mulai memakai dasi. Alisha memperhatikannya dengan sungguh-sungguh bahkan langsung mempraktekkannya." Gampang kan?" Eldar tersenyum saat melihat Alisha dengan mudah belajar memakaikan dasi meski sedikit tidak rapi.


"Meskipun gampang, jika tidak pernah melakukannya akan menjadi susah Mas. Kenapa tidak bisa rapi ya Mas."


"Ini renggangkan terus di tarik seperti ini Babe. Nah kan rapi."


"Oh iya." Alisha tersenyum dan beralih mengambil jas dan memakainya. Suamiku semakin tampan jika mengenakan jas seperti ini.


"Terimakasih ya." Eldar dengan cepat mellumat sebentar bibir Alisha yang terlihat tengah melamun.


"Iya Mas sama-sama." Alisha menunduk dengan wajah memerah dan mengusap sekitar bibirnya yang sedikit basah.


"Sekarang aku yang memilihkan dress untuk kamu pakai."


Eldar mengambilkan sebuah dress berwarna putih yang di belinya kemarin. Tanpa pikir panjang, Alisha menanggalkan bajunya dan menggantinya dengan dress pilihan Suaminya.



Alisha memoles wajahnya dengan bedak padat miliknya dan lipstik murahan yang masih di pakainya sampai sekarang.


"Sudah?" Tanya Eldar memastikan.


"Sudah Mas. Aku tidak bisa berdandan." Jawab Alisha lirih.


"Begini saja sudah terlalu cantik." Alisha menarik nafas panjang. Ingin melontarkan kata-kata menggombal tapi di urungkan karena tahu rasanya kesalnya seperti apa." Tidak bilang jika aku menggombal?" Eldar merangkul kedua pundak Alisha lalu berjalan beriringan.


"Maaf Mas. Itu rasanya mengesalkan jadi aku tidak akan mengatakannya lagi." Alisha selalu berkaca dengan apa yang akan di lakukan. Sehingga dia menjadi pribadi yang lebih berhati-hati dalam bersikap terutama mengkritik seseorang.


"Aku tidak masalah Babe. Nanti juga kamu tahu jika aku tidak sekedar menggombal saja."

__ADS_1


"Iya Mas. Terimakasih." Alisha masuk mobil dan dengan lembut Eldar menutup pintunya.


Mobil melaju meninggalkan pekarangan rumah menuju perusahaan. Alisha kembali melihat wajah datar Eldar.


Tidak perduli secantik apa para staf yang menyapa. Wajah Eldar tetap saja tidak berekspresi dan datar.


"Berkas untuk nanti Tuan." Abraham memberikan map sebelum Eldar masuk ke dalam ruangannya.


"Berikan waktu sepuluh menit untuk mempelajari." Eldar melangkah masuk tanpa menunggu jawaban dari Abraham.


Setibanya di ruangan, Alisha duduk seraya memperhatikan Eldar yang tengah fokus membaca berkas di tangannya. Ingin sekali dia bertanya tapi dia takut menganggu konsentrasi Eldar.


"Kenapa diam Babe?" Tanya Eldar lirih.


"Bukankah Mas sedang belajar."


"Semua isinya hampir sama." Eldar cepat-cepat menutup map tersebut dan mengalihkan pandangannya ke Alisha.


"Hampir sama?"


"Hm.. Konsepnya."


"Kenapa tidak bisa di wakilkan Mas? Apa bedanya?" Tanya Alisha ingin tahu.


"Ya sudah Mas boleh pergi." Apa ada wanitanya Mas?


"Mungkin hanya setengah jam. Setelah selesai aku langsung ke sini dan jika kamu bosan. Aku minta kamu sabar menunggu dengan memakan cemilan itu." Menunjuk ke cemilan yang ada di atas meja.


"Iya Mas." Eldar mendekatkan wajahnya dan mellumat bibir Alisha sedikit lama hingga membuat nafas Alisha terbuang kasar.


"Jika besok tidak ke perusahaan. Kita harus melakukan siang pertama ya Babe." Alisha tersenyum tipis dengan wajah merah padam. Dia tidak ingin melepaskan tautan bibir Eldar namun waktunya sudah harus pergi.


"Pagi pertama, malam pertama, nanti siang pertama."


"Nanti?" Eldar terkekeh." Akan ku percepat urusan ini agar kita bisa melakukan siang pertama. I love you Babe. Tunggu sebentar saja." Eldar melummat lagi sejenak sebelum akhirnya berdiri dan pergi keluar ruangan.


Alisha menarik nafas panjang. Beranjak dari tempat duduknya menuju ke jendela ruangan. Semua terjadi seperti mimpi. Menjadi Istri seorang Eldar yang awalnya di fikir mahasiswa biasa dan hanya di hadirkan sebagai cobaan untuk rumah tangga. Tapi nyatanya, orang yang di anggap sebagai cobaan, kini benar-benar menjadi Suaminya.


Aku sekarang tahu arti dari pertemuan yang terus-menerus terjadi. Dia selalu hadir ketika aku dalam masalah. Aku mencoba menolak semua perasaan ini tapi nyatanya itu sulit sebab dia kau hadirkan untuk maksud yang lain. Aku hanya berharap ini bisa menjadi selamanya dan bukan hanya sesaat Tuhan. Bukan dari segi kemewahannya, tapi perlakuannya terhadapku.


πŸ’™β€οΈ


Dengan langkah ragu, Tama melangkah masuk ke pekarangan rumah Monik.


Siang itu, dia sengaja meluangkan waktu untuk datang ke rumah Monik karena merasa tidak sabar ingin mengetahui di mana letak rumah Alisha sekarang.

__ADS_1


Tangan kanannya terulur dan menombol bel pintu. Tidak berapa lama menunggu, Pintu terbuka dan memperlihatkan sosok Alan, Suami Monik.


"Ada apa Mas?" Tanya Alan menatap tidak suka ke arah Tama. Seringnya Monik bercerita perihal rumah tangga Alisha, membuat Alan ikut merasa kesal dengan peragai buruk Tama.


"Monik ada?"


"Hm sebentar ku panggilkan." Tanpa mempersilahkannya, Alan kembali masuk untuk memanggil Monik.


"Ada apa ya?" Tanya Monik ketus.


"Em aku hanya mau tanya. Alisha sekarang tinggal di mana?" Tanya Tama lirih. Dia meruntuhkan rasa malunya untuk bertanya hal itu karena sudah menyadari kesalahannya selama ini.


"Untuk apa lagi Mas Tama mencari Alisha? Dia sudah hidup tenang dan sebaiknya Mas hidup tenang juga dengan wanita pilihan Mas itu." Monik pun masih tersulut emosi. Mengingat bagaimana teganya Tama tidak menghargai Alisha sedikitpun.


"Aku menyesal dan ingin minta maaf."


"Oh sekarang baru menyesal? Terus kemana saja Mas waktu itu? Waktu Alisha kebingungan hanya untuk menutupi kebutuhan rumah dan menangis karena perbuatan mu yang lebih membela Mama mu juga wanita pilihanmu itu!!" Monik akan mendorong tubuh Tama namun Alan bergegas menghalangi.


"Jangan terbawa emosi sayang."


"Bagaimana tidak emosi melihat dia Mas! Kurang baik apa sahabatku yang sudah menerima dia apa adanya! Rumah tinggal menempati, menerima kekurangannya tapi malah tidak tahu diri seperti lelaki ini!!" Tunjuk Monik kasar. Tama tertunduk lesu, tidak bergeming karena itulah keadaannya.


Tidak apa jika dia memakiku. Asal Alisha bisa ku dapatkan setelah ini..


"Pergi dari sini!!! Sampai kapanpun aku tidak akan pernah memberitahu di mana Alisha tinggal! Sialan!!!" Umpat Monik berlalu pergi.


"Sebaiknya Mas pergi dari sini." Ucap Alan menekankan.


"Aku hanya ingin tahu rumah Alisha."


"Terlambat Mas. Dia sudah menikah sekarang." Mata Tama melebar, tubuhnya seketika melemas mendengar kenyataan jika Alisha sudah menikah.


"Dengan siapa? Lelaki kaya itu?!!!"


"Dengan siapapun menikahnya, ku rasa itu bukan lagi urusan Mas lagi. Sebaiknya Mas hargai apa yang ada sekarang dan tidak perlu terlalu banyak menoleh agar jalan hidup kita menjadi lurus. Jika kita terus saja mengikuti hawa nafsu. Itu tidak akan ada habisnya dan mungkin saja kita bisa kehilangan orang yang benar-benar tulus. Terkadang memang ada kesempatan kedua yang hadir. Tapi itu terkadang Mas, sebab kesempatan kedua juga tidak selalu ada. Permisi." Alan menutup pintunya begitu saja meskipun Tama belum pergi.


Apa Alisha menikah dengan lelaki kaya itu!!!


β€οΈπŸ’™β€οΈπŸ’™


Di mohon untuk tidak terlalu menghayati cerita, sebab ini adalah karangan belaka meskipun ada sedikit bumbu kisah nyata 😁


Semoga sehat selalu untuk kalian πŸ₯° Biar bisa beli kuota dan menikmati karya recehku ini🀭πŸ₯°πŸ₯°


Terimakasih dukungannya πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2