Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 5


__ADS_3

Seperti biasa, Alisha bangun di pagi hari untuk membereskan rumah. Apalagi hari ini dia sudah berkerja di kantin milik saudara Monik sehingga membuatnya semakin bersemangat.


Sebaiknya aku tidak memasak saja..


Alisha melangkah keluar untuk membeli nasi bungkus di warung. Dia akan memakannya sendiri sebab dia fikir Tama tidak akan mau memakannya.


"Ikannya apa Mbak Al." Tanya Bu Marni.


"Ayam saja Bu." Jawab Alisha ramah.


"Memangnya tidak pernah masak."


"Iya Bu. Hanya berdua saja jadi jarang masak." Bu Marni memberikan satu bungkus nasi pesanan Alisha." Berapa Bu?" Tanyanya mengeluarkan dompet.


"15 ribu Mbak." Alisha memberikan uang pas lalu pulang.


Setibanya di rumah. Tama terlibat sudah bangun. Dia berdiri di depan kaca seraya memakai seragam kerjanya.


Alisha acuh, dia seolah tidak melihat dan langsung berjalan ke belakang untuk mengambil piring. Belum sempat Alisha menikmati nasi bungkus tersebut, suara Tama menghentikan gerakan tangannya.


"Mana sarapan untukku? Kau tidak menyiapkannya?" Alisha meletakan sendoknya segera.


"Bukannya kamu tidak pernah makan di rumah Mas? Masakanku juga tidak pernah kamu makan jadi aku tidak memasak." Jawab Alisha tidak mau menatap wajah Tama.


"Terus. Untuk apa aku memberikanmu uang belanja jika kau tidak memasak untukku."


"Ini bukan salahku Mas. Setiap hari aku harus membuang masakan karena kamu tidak pernah makan di rumah." Alisha ingin sedikit membela diri karena dia sangat tersakiti dengan Tama yang tidak pernah menghargai masakannya.


"Terus ini salahku! Jika masakanmu enak, aku pasti mau makan tapi ini!! Kau bahkan tidak mau memakannya sendiri kan! Kenapa kau buang dan tidak kau makan saja sendiri masakan buruk mu itu!!"


Aku tidak selera makan karena sikapmu Mas...


"Aku sudah berusaha tapi memang aku tidak pandai memasak." Jawab Alisha pelan.


"Dulu kau bilang bisa memasak! Sekarang bilang begini! Sia-sia ku berikan uang! Lebih baik uangnya ku berikan Mama saja!! Sudah boros! Tidak bisa mengatur!!...."


"Ya sudah bulan depan, berikan saja gajimu pada Mama." Sahut Alisha menatap Tama tidak percaya. Otaknya tidak bisa menjangkau kenapa bisa mulut lelaki yang di cintai nya begitu busuk.


"Hah! Jangan sok kamu bilang begitu! Jika kau tidak ku beri uang! Kau kau makan apa hah!!"


Alisha tahu sudah tidak memiliki siapapun. Ibunya meninggal 5 tahun lalu, sementara Ayahnya satu tahun lalu. Tapi tidak seharusnya Tama berkata demikian dan semena-mena.


"Aku tidak berkerja juga atas perintah mu Mas." Alisha kembali menekan rasa sakitnya. Dia tidak ingin terlihat terlalu lemah di hadapan Tama.


"Aku ingin kau cepat hamil! Tapi kau tidak juga hamil hingga sekarang. Jika bukan karena kau membunuh janin kita! Mungkin anak kita sudah besar sekarang!!"


Tama melangkah pergi, meninggalkan Alisha dengan mata berkaca-kaca. Dia kembali mengingat penyesalan itu. Tapi waktu tidak mungkin bisa kembali.


Tidak ada seorang Mama yang ingin membunuh anaknya sendiri Mas.. Aku tidak tahu dan tidak sengaja.. Aku menyesal melakukan itu!! Batin Alisha kembali meruntuki dirinya sendiri atas apa yang terjadi beberapa tahun lalu.


Setelah Tama berangkat, Alisha bangun dan membereskan nasi bungkus yang bahkan belum tersentuh. Alisha membuangnya karena seleranya benar-benar musnah. Tama memberikannya beban yang sungguh luar biasa berat hingga dia seringkali tidak makan.

__ADS_1


Sebaiknya aku ke kantin sekarang.. Meskipun sebenarnya masih terlalu pagi..


Alisha meletakkan ponsel dan dompetnya pada tas lalu mengambil jaket dan memakainya. Langkahnya terhenti ketika dia tidak melihat motornya. Alisha melupakan itu, melupakan motornya yang hingga kini tidak ada kabar.


"Dia!!" Gumamnya mengambil ponsel Di tasnya dan memeriksanya. Wajahnya berubah gelisah ketika belum ada pesan dari Eldar." Bukankah seharusnya dia menghubungiku." Alisha menggenggam ponselnya erat. Tiba-tiba dia memikirkan soal sesuatu yang seharusnya sudah terpikir sejak awal.


Apa lelaki itu menipuku dan membawa motorku!!


************************


Eldar meremas rambut tebalnya lembut. Dia merasa kesal karena nomer Alisha tidak juga bisa di hubungi. Hanya ada suara operator yang berkata dan saat dia mengirimkan pesan, tentu saja pesan itu tidak terkirim.


"Bodoh sekali! Apa dia memberikan nomer palsu! Atau dia tidak sengaja? Agh!! Kenapa aku ini." Eluh Eldar tidak mengerti dengan perasaannya yang menggebu sejak semalam.


Dua hari ini bahkan dia sulit tidur apalagi setelah pertemuannya kemarin. Dia mencoba menelfon dan terus mencoba hingga semalaman penuh matanya memandangi layar ponsel miliknya.


"Gadis itu benar-benar menganggu!!"


Tok...Tok...Tok...


Eldar berdiri dan membuka pintu untuk Dean yang selalu mengajaknya berangkat bersama setiap pagi.


Dean mengerutkan keningnya, menatap wajah Eldar yang terlihat garang.


"Kenapa?" Tanya Eldar singkat. Kutub selatan terlihat semakin mengerikan seolah ingin meledak.


"Nomer gadis itu tidak bisa ku hubungi!!" Dean malah tersenyum seraya menatap Eldar." Aku serius sialan!!!" Kekesalannya sungguh tidak berarah. Bukankah seharusnya dia biarkan saja sebab itu bukan motornya. Tapi sikap yang di perlihatkan Eldar membuktikan jika dia benar-benar tertarik dengan sosok Alisha.


Gleg!


Eldar menelan salivanya kasar seraya mendengus dan mencengkram ponselnya erat.


"Aku hanya sekedar ingin memberitahu tentang kontak ku dan jika aku tidak memberitahu, bagaimana bisa dia mengambil motor itu." Jawab Eldar dengan suara sangat buruk.


"Bukankah seharusnya gadis itu yang kebingungan bukan kau." Eldar menarik nafas panjang lalu masuk untuk mengambil tas. Dia berjalan melewati Dean begitu saja karena kelas di mulai 15 menit lagi. Fikirannya masih tidak juga berhenti memikirkan, meski Eldar mencoba membunuh rasa perdulinya.


Jika memang cantik saja, itu mayoritas. Tidak mungkin aku tertarik karena hal itu. Lalu apa? Kenapa dia membuatku begitu gila seperti sekarang..


Eldar memutuskan untuk berangkat kuliah saja. Dia tidak mau Abraham akan menghukumnya jika sampai dia membolos kuliah satu hari saja.


Via telepon.


"Tunggu saja Al.


"Tunggu bagaimana Mon. Sampai sekarang dia tidak menghubungiku. Jika sampai hilang Mas Tama akan marah padaku.


"Melihat penampilan rapinya, aku tidak yakin dia penipu Al. Tunggu sampai kamu pulang kerja. Nanti jika masih tidak ada kabar, kita cari bengkelnya sesuai nama kemarin.


"Memangnya kau ingat namanya.


"Aku tidak melihatnya.

__ADS_1


"Aku malah lupa.


Alisha mengakhiri panggilan dengan wajah gelisah. Ingin sekali dia mencari alamat bengkelnya namun dia melupakan namanya.


"Namanya apa ya?" Gumamnya menatap kaca jendela angkot yang di tumpanginya sekarang." Stop Pak." Ucap Alisha ketika sudah sampai di depan kampus.


Ku fikirkan nanti saja.. Aku harus menemui Mbak Sarah...


Alisha berjalan mendekati pos satpam, bersamaan dengan masuknya Eldar ke dalam kelas sehingga keduanya tidak bertemu.


"Maaf Pak. Apa benar ini alamat seperti yang ada di ponsel?" Alisha memperlihatkan alamat pada satpam yang langsung merasa tertarik dengan Alisha dalam sekali tatap.


Bukan hanya satpam, para mahasiswa yang ada di sekitar juga berdecak kagum dengan kemolekan tubuh Alisha dengan kulit putihnya yang semakin berkilap ketika cahaya matahari menerpanya.


"Namanya Mbak Sarah Pak." Imbuhnya menyadari tatapan si satpam yang aneh.


"Eh iya Non astaga jadi khilaf karena terlalu cantik." Alisha tersenyum tipis seraya sesekali menunduk." Non jalan lurus saja kemudian belok kiri kalau ada pertigaan jalan setapak. Nah, letak kantinnya di ujung jalan itu." Jawabnya mengembalikan ponselnya.


"Em terimakasih ya Pak."


"Iya sama-sama. Kalau ada temannya saya anterin Non sayangnya saya jaga sendiri."


"Tidak apa-apa Pak biar saya cari sendiri. Permisi." Alisha tersenyum sejenak kemudian melangkah masuk, mencoba tidak memperdulikan tatapan sekitar.


"Ck ck ck.. Segar sekali tubuh Non itu. Astaga Tuhan! Harus ingat istri di rumah." Gumam si satpam memutuskan masuk pos penjagaan daripada harus menatap tubuh Alisha dari belakang.


Alisha mengikuti arahan si satpam untuk berjalan lurus setelah belokan. Dia sadar saat banyak beberapa pasang mata tengah memperhatikannya. Tapi Alisha berpura-pura tidak tahu karena menurutnya itu tidak penting.


Seperti aku harus mengambil baju lama ku.. Di sini sangat banyak mahasiswa dan akan lebih berbahaya jika akan masih memakai baju ketat seperti sekarang...


"Mahasiswa baru Kak." Sapa seseorang dari arah belakang. Alisha berjalan terus namun tiba-tiba pemilik suara itu menghadang langkahnya.


"Eh!!" Pekik Alisha terkejut.


"Mahasiswa baru?" Tanyanya mengulang.


"Tidak. Aku mencari kantin."


"Oh.. Mau ku antarkan." Ucapnya berpura menawarkan bantuan padahal kantin sudah dekat.


"Ti tidak terimakasih."


"Astaga Kakak polos sekali padahal bodynya wow." Entah itu termasuk pujian atau hinaan tapi sanggup membuat Alisha tersenyum aneh seraya berjalan mundur.


Dugh!!!


Punggungnya membentur dada bidang milik Eldar, yang rela meninggalkan mata pelajaran kuliahnya hanya karena ingin menolong Alisha.


~Bersambung...


Terimakasih dukungannya 🥰

__ADS_1


__ADS_2