Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 28


__ADS_3

Wina tersenyum girang, ketika melihat Damar pulang sore itu. Padahal biasanya Damar selalu saja pulang malam dan beralasan sibuk berkerja tanpa tahu kenyataannya.


"Tumben Mas." Wina mencium punggung tangan Damar sementara Damar malah tersungging ketika melihat motor Tama sudah terparkir.


Berarti Mbak Lilis sudah pulang..


Wina tidak tahu, jika selama ini Damar memang selalu pulang sore namun dia lebih memilih menghabiskan waktu di tempat bilyard bersama wanita-wanita cantik yang memiliki ukuran payudara besar.


Damar kehilangan selera dengan Wina saat dia tertarik dengan Alisha yang memiliki postur tubuh idamannya.


Damar sempat akan merayu Alisha untuk melakukan hubungan terlarang. Namun Alisha menolak itu bahkan tidak memberikan celah sedikitpun.


"Sekarang mungkin sudah pulang normal soalnya karyawannya bertambah." Sambil berjalan masuk, Damar mencari keberadaan Lilis yang ternyata tengah duduk seraya menonton televisi.


Mata nakalnya melirik ke bagian dada sehingga Damar langsung menelan salivanya kasar.


Pasti rasanya menyenangkan..


Lilis yang baru sadar, membalas lirikan mata nakal Damar bahkan sengaja menurunkan sedikit kerah dasternya.


"Lihat apa sih Mas." Protes Wina mengiring Damar masuk karena sampai saat ini dia belum bisa menerima Lilis sebagai anggota keluarga baru.


"Aku belum berkenalan dengan anggota keluarga baru." Damar menolak untuk masuk dan menghampiri Lilis yang tengah duduk tanpa perduli pada wajah tidak suka Wina." Aku Damar Mbak." Ucap Damar seraya mengulurkan tangannya.


"Aku Lilis, Istri barunya Tama." Lilis menyambut uluran tangan Damar seraya tersenyum menggoda.


"Sudah kan Mas. Yuk masuk." Wina menarik paksa lengan Damar dan menggiringnya masuk.


"Ish!! Mirip Alisha saja!! Pencemburu!! Dasar!!!" Umpatnya melanjutkan menonton.


💙❤️


"Persiapan pernikahan sudah mencapai 80 persen Tuan. Besok untuk tanda tangan data-data bisa di lakukan langsung saat prosesi akad nikah." Alisha tersenyum aneh, melongok karena merasa terkejut dengan apa yang di bicarakan Abraham.


Rumah Eldar bahkan sudah di hias sedemikian rupa, lengkap dengan kamar utama yang mulai di dekorasi.


"Kamu dengar Babe? Aku tidak sedang bercanda kan?"


"Mustahil sekali? Bukankah pernikahan memerlukan pendaftaran?" Ucap Alisha masih mencoba memahami.


"Sudah saya urus dengan baik Nona."


Astaga Tuhan... Kenapa secepat ini?? Aku merasa sedang mimpi saja. Semoga saja kehidupan pernikahannya tidak berjalan cepat seperti persiapannya.


Meskipun Alisha merasa tidak percaya. Namun nyatanya itu benar-benar terjadi. Eldar benar-benar membuktikan keseriusannya meski terbesit rasa ragu di hatinya.


.


.


Malam kian larut, Alisha belum juga bisa memejamkan matanya. Selain merasa gugup, semua yang terjadi padanya terasa aneh.


Dari pertemuannya tiga bulan lalu bersama Eldar dan berakhir sebuah penolakan. Tapi nyatanya lelaki itu hingga sekarang masih bersamanya bahkan akan menjadi Suaminya besok.


Triiiing!!


Suara bunyi pesan masuk mengagetkannya. Alisha beranjak dari sisi ranjang untuk mengambil ponselnya yang ada di dalam tas kecilnya.

__ADS_1


💌Kenapa belum tidur.


Bagaimana dia tahu? Alisha melihat sekeliling kamar yang tertutup bahkan mungkin kedap udara.


💌Sedang mencariku?


Alisha meletakan ponselnya kemudian berjalan keluar kamar. Dia sempat melirik ke bawah. Masih ada beberapa orang yang masih sibuk mendekor hingga dia tidak melihat jalan dan membentur dada bidang Eldar.


Dugh!!


"Ah.." Eluhnya mengusap kening.


"Kenapa malah keluar? Kamu harus beristirahat agar pernikahan kita berjalan dengan baik."


"Kenapa kamu bisa tahu aku belum tidur?"


"Aku asal menebak saja sebab aku juga tidak bisa tidur." Jawab Eldar santai.


"Aku merasa aneh." Jawab Alisha pelan.


"Maaf sudah membuat hidupmu aneh. Kita menonton televisi saja." Eldar merangkul kedua pundak Alisha dan mengiringinya ke ruang televisi yang ada di lantai dua." Duduk sini, biar ku ambilkan sesuatu untuk di makan." Pundak Alisha di tekan lembut. Dia berjalan ke dapur mini yang terletak di samping dan mengambil beberapa cemilan juga minuman ringan.


Tak!!!


Eldar memberikan satu botol minuman pada Alisha namun Alisha menggelengkan kepalanya dan menghindar.


"Aku tidak suka minuman semacam itu." Ucapnya lirih. Setiap kali dia melihat minuman bersoda, dia selalu saja teringat dengan janinnya.


"Why?"


Eldar tidak banyak berkomentar, dia mengambil lagi minuman itu dan membuangnya.


"Maaf aku tidak tahu." Eldar kembali membuka kulkas mini dan mengambil minuman bersoda lain untuk di masukkan ke kantung sampah.


"Kenapa di buang. Jika kamu ingin minum ya tidak apa." Protes Alisha melirik malas.


"Ini juga tidak sehat. Em bagaimana dengan teh kemasan?"


"Hm boleh."


"Oke Babe." Eldar kembali mengambil minuman ringan berupa teh kemasan lalu membukakannya untuk Alisha.


"Terimakasih." Alisha mengambil minuman itu dan meneguknya sedikit. Dia melakukan itu tanpa ku suruh sementara Mas Tama..


Membuka begini saja tidak kuat!!


Apa yang ada di dalam hati Alisha menandakan jika dia belum sembuh dari rasa sakit yang di torehkan Tama padanya. Dia masih canggung untuk bermanja-manja atau sekedar merengek meminta bantuan.


"Tidak perlu berterimakasih untuk hal sekecil itu."


"Hm." Alisha terlihat menatap fokus ke arah televisi padahal fikirannya sedang tidak fokus melihat.


"Besok akan jadi hari melelahkan untuk kita. Akan banyak Tamu sebab aku mengundang seluruh staf juga relasi kerjaku."


"Bukankah lebih baik sederhana saja. Kamu hanya menikahi seorang janda." Tentu saja Alisha merasa tahu diri dan takut mempermalukan Eldar meskipun umur Alisha memang masih sangat muda.


"Menikah untuk sekali seumur hidup, tidak perduli dengan siapa kita melakukannya. Aku meniatkannya untuk yang terakhir. Jadi, aku ingin pesta besar-besaran untuk itu." Alisha mengangguk pelan. Kembali mengingat ucapan Mama Rita dua tahun lalu.

__ADS_1


Jika memang ingin cepat menikah. Mama tidak bisa mengadakan pesta besar. Mama baru saja menikahkan Adiknya Tama. Bagaimana?


Sederhana tidak masalah Ma. Asalkan syah.


Tuduhan pertama yang di dapatkan Alisha adalah itu. Padahal Tama yang berjanji akan menikahi dia dengan segera. Namun jawaban Mama Rita cukup membuat Alisha sedikit tercengang. Seolah dia yang ingin cepat menikah bukan Tama, anaknya.


Memangnya Mas tidak memiliki tabungan? Kenapa di bebankan pada Mama?


Ada. Tapi cuma sedikit. Tidak apa kan menikah sederhana?


Alisha cukup kecewa kala itu. Namun dia mencoba menerimanya meski pernikahan bersama Tama sangat sederhana. Tidak ada resepsi ataupun pesta. Dia hanya di rias saat akad nikah berlangsung. Bahkan ketika dia pergi ke rumah Tama untuk pertama kali, Alisha tidak memakai riasan apapun.


"Aku tidak perduli dengan masa lalu mu, yang terpenting kamu bersamaku sekarang." Eldar menggenggam jemari kiri Eldar dengan kedua tangannya.


Aku tidak bisa berkomentar lagi. Lelaki ini baik sekali padaku. Apa selamanya akan seperti ini? Atau dia akan berhenti ketika nanti rasa bosan menghampiri. Aku hanya bisa berharap. Semoga ini adalah pernikahan terakhir ku.


******************


Lilis tidak berekspresi ketika Tama mengeluarmasukkan miliknya yang di rasa semakin mengecil. Apalagi Tama selalu mendapatkan pelepasannya begitu cepat dan langsung meninggalkannya tidur seperti sekarang.


Apa begini rasanya jika tanpa obat kuat!!!


Grooooook Groooookkkk...


Aku tidak mengerti kenapa Alisha bisa bertahan dengan lelaki tidak tahan lama ini!! Umpatnya seraya menendang tubuh Tama yang tidak bergerak. Jika aku membeli obat kuat terus-menerus. Bisa habis uangku!!!


Lilis berdiri dan memakai lagi dasternya yang tergeletak. Milik nya masih terasa gatal karena klimmaks belum di dapatkan.


Haus sekali. Lilis mengambil teko kosong dan berniat untuk mengisinya dengan air putih.


Baru saja kakinya melangkah keluar kamar. Bibirnya tersungging ketika melihat Damar tengah menonton televisi sendirian.


"Belum tidur Mbak Lilis?" Sapa Damar memandang nakal ke arah kedua benda kecil yang menyembul.


"Belum nih. Mau ambil air." Lilis tersenyum nakal dan berjalan ke arah dapur. Seolah tengah memberikan kode, Damar mengekor Lilis ke belakang.


"Mas Tama sudah tidur Mbak?"


"Sudah. Terus Wina?"


"Sudah Mbak, padahal lagi pengen." Lilis tersenyum kecil seraya menyentuh dada bidang Damar dengan telunjuknya.


"Di bangunin biar ada lawan mainnya."


"Ini sudah bangun Mbak." Damar menunjuk miliknya yang sudah menegang dengan isyarat mata.


"Nanti ketahuan bagaimana."


"Kalau bergerak cepat ya tidak ketahuan Mbak." Segera saja Damar melummat bibir Lilis dan melakukan perbuatan keji di dapur sementara anggota keluarga yang lain terlelap tidur.


💙❤️❤️💙


Duuuh Lilis 🤮


Untuk pembelajaran. Jangan bawa penyakit di rumah nanti ketularan semua😁😁


Terimakasih dukungannya 🥰

__ADS_1


__ADS_2