
Tidak seperti wajah Alisha yang masam. Sesuai dugaan, Monik memasang wajah bahagia bahkan sangat bahagia.
"Itu keputusan bagus Al. Terima saja." Dengan tega, Alisha menyuruh Eldar menunggu di mobil karena tidak ingin pembicaraannya dengan Monik terganggu.
"Yang seperti Mas Tama saja menyakiti apalagi dia Mon." Eluh Alisha sedikit pusing memikirkan pernikahan yang di gelar besok.
"Selalu saja begitu. Orang itu berbeda-beda seperti selayaknya si keong racun dan Mas Alan. Jalani saja dulu. Jangan berfikiran buruk."
"Bagaimana tidak berfikiran buruk!!" Runtuknya melirik ke arah Eldar yang masih menunggunya di dalam mobil.
"Terus mana undangannya?" Tanya Monik kegirangan.
"Aku tidak tahu. Entah dia serius atau apa tapi dia berkata itu dengan sangat mudah." Eluh Alisha tentu merasa takut jika kembali gagal karena kurangnya perhitungan yang matang.
.
.
.
.
"Kamu serius tidak Mas." Tanya Alisha pelan.
"Menikah?"
"Hm.." Jawabnya mengangguk.
"Serius. Kamu tidak percaya?" Alisha mendengus sebab Eldar terlihat tidak serius.
"Bagaimana bisa percaya? Menikah itu butuh persiapan ini itu. Tapi kamu dengan mudah bilang menikah besok."
"Kamu benar. Tapi aku yakin Abraham bisa memenuhi itu untukku." Jawab Eldar santai." Setelah menikah kita bisa berpacaran dan saling mengenal." Imbuhnya mulai membayangkan bagaimana hari-harinya bersama Alisha nanti.
"Menikah bukan untuk main-main. Aku tidak mau menjadi janda dua kali." Eldar terkekeh sementara Alisha menatapnya malas. Dia berfikir lelaki di sampingnya tidak serius dalam berucap.
"Mana mungkin aku melepaskan mu."
"Mungkin saja. Jangan banyak membual, aku tidak suka." Eldar mengangguk-angguk seraya fokus menatap jalan." Fikirkan lagi Mas. Kamu itu anak tunggal, terus menikah dengan wanita mandul seperti aku. Apalagi bekas orang lain. Aku takut kamu menyesal nantinya terus..."
"Aku tidak akan meninggalkan mu Alisha.." Sahut Eldar cepat." Aku Eldar. Bukan mereka." Imbuhnya tegas.
"Tapi kau tetap saja seorang lelaki." Jawab Alisha lirih.
"Itu kenapa aku ingin cepat menikah. Aku bingung harus bagaimana menyakinkan hatimu itu."
"Aku memang tidak yakin."
"Oke terserah. Yang pasti besok kita menikah dan itu berarti kamu seutuhnya milikku." Tepat di sebuah toko perhiasan, Eldar memarkir mobilnya. Dia turun dan membukakan pintu untuk Alisha.
"Kita akan beli apa?" Tanya Alisha konyol.
"Baju Babe."
"Ini toko perhiasan." Eldar menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jika tahu toko perhiasan, kenapa bertanya?" Eldar mengiring Alisha untuk masuk dan memilih perhiasan yang sesuai dengan keinginannya.
Dulu aku menjual cincin kawin untuk biaya rumah sakit..
Ingatan tentang kisah pilu itu tiba-tiba melintas. Kabut kegagalan masih begitu pekat menyelimuti hati Alisha meski lelaki di sampingnya berusaha untuk membuatnya melupakan semuanya.
Jemari hangat Eldar menggenggamnya sehingga Alisha tersadar dari lamunannya.
__ADS_1
"Sudah menentukan pilihan?" Tanya Eldar lirih.
"Terserah kamu saja Mas." Jawab Alisha terbata. Dia belum terbiasa dengan semuanya.
"Apa bisa memesan untuk acara besok?" Tanya Eldar terpaksa angkat bicara.
"Untuk pernikahan atau pertunangan?"
"Pernikahan. Beri ukiran nama kami berdua juga."
"Terlalu singkat waktunya. Em kami juga menyediakan berbagai jenis cincin pernikahan dengan satu seri." Pemilik toko memperlihatkan beberapa model cincin.
"Bisa di ukirkan nama?"
"Bisa Tuan." Eldar mengambil satu pasang cincin.
"Saya pilih ini. Kira-kira kapan jadi?"
"Besok pagi sudah bisa di ambil."
"Saya ambil ini juga." Eldar menunjuk sebuah kalung." Pembayarannya bisa Debit kan?" Tangannya menyentuh kalung pilihannya.
"Bisa Tuan."
"Saya ambil ini juga, tolong dahulukan." Eldar meletakan kalung ke etalase.
"Baik. Tunggu sebentar."
"Duduk dulu."
"Terlalu.. Ach!!" Pekik Alisha saat tiba-tiba Eldar mengangkat tubuhnya dan mendudukkannya di atas kursi." Aku takut jatuh Mas. Tolong turunkan aku." Pintanya berbisik.
"Tidak akan jatuh." Kedua tangan Alisha di paksa untuk melingkar pada pinggangnya.
"Kau mencari kesempatan." Protes Alisha masih merasa takut karena tempat duduk yang sangat tinggi.
"Ini Tuan." Pemilik toko memberikan kalung yang sudah di proses.
"Hm." Eldar melepaskan kertas kecil yang tergantung di kalung tersebut.
Tanpa persetujuan, dia mengenyampingkan rambut panjang Alisha untuk mempermudahnya memakaikan kalung. Banyak beberapa pasang melihat, tapi Eldar tidak perduli.
Jantung Alisha berpacu, ketika tubuh Eldar sedikit menempel. Dia bahkan berhenti bernafas sejenak namun Eldar malah mempermainkannya.
"Lama sekali." Eluh Alisha dengan wajah merah padam.
"Memang sengaja." Jawab Eldar menegakkan tubuhnya dan baru menyadari jika kedua telinga Alisha juga butuh di berikan hiasan." Apa yang membuatmu bertahan dengannya." Imbuhnya kembali melihat ke arah etalase untuk memilihkan sebuah anting.
"Maksudnya apa?"
"Pak saya mau yang ini juga." Ucap Eldar menunjuk sepasang anting yang setara." Kamu tahu maksudku?" Jawab Eldar kembali menatap Alisha.
"Ini semua tidak penting." Jawabnya lirih.
"Bagaimana mungkin tidak penting. Di sini terdapat lubang yang harus di isi." Alisha menarik nafas dalam-dalam.
"Aku tidak masalah. Asal lelaki itu bisa memperlakukan ku dengan baik." Jawabnya lirih. Sejak awal Alisha menerima keadaan Tama apa adanya. Dia bahkan tidak masalah jika harus berkerja agar kebutuhan rumah tangga bisa terpenuhi. Tapi nyatanya keinginan sederhana itu tidak cukup untuk mempertahankan rumah tangganya." Itu kenapa aku takut denganmu." Imbuhnya tersenyum tipis dengan mata berkaca-kaca.
"Why Babe?"
"Kau bisa melakukan apapun yang kau mau termasuk menyakitiku nantinya."
"Tidak ada alasan aku melakukan itu."
__ADS_1
"Banyak alasan Mas."
"Aku hanya mencintai mu dan ini pertama kalinya untukku."
"Itu sekarang, tidak tahu nanti."
"Kamu menuduhkan sesuatu yang bahkan belum ku lakukan." Protes Eldar tidak terima.
"Nanti akan kau lakukan dan aku kau tinggalkan." Alisha berpaling membuat Eldar terkekeh.
"Kita akan menua bersama." Ucap Eldar seraya menyelesaikan pembayaran. Tangannya bahkan masih memegang tubuh Alisha untuk menjaganya agar tidak jatuh." Kamu dengar? Kita akan menua bersama!!!" Ucap Eldar setengah berteriak dan membuat orang sekitar menatapnya.
"Gombalan yang bagus."
"Achh!! Hatiku sakit ketika kau mengatakan itu." Eldar menurunkan Alisha dari kursi tinggi itu dan mengiringinya keluar tanpa perduli dengan tatapan sekitar.
"Kau tidak malu berteriak seperti tadi." Protes Alisha menatap heran ke Eldar.
"Aku tidak melihat siapapun di sana." Ucapan yang sama sebab Eldar tidak pernah memperdulikan keadaan sekitar.
"Pemilik Toko."
"Hm dia akan jadi saksi perkataan ku tadi." Alisha tersenyum karena sedikit terhibur.
"Alisha..." Sapa Tama yang kebetulan tengah makan siang di luar bersama Lilis. Dia.. Semakin cantik...
"Maas Tama." Jawab Alisha terbata. Tatapan Lilis malah fokus pada Eldar yang terlihat gagah dan tampan.
"Apa kabar."
"Baik." Eldar meraih tangan Tama yang terulur sehingga membuat Alisha tersenyum dan mengangguk.
"Dia pacarmu?" Tama melepaskan genggaman tangannya.
"Bukan." Jawab Alisha lirih.
"Ini lelaki selingkuhan mu itu kan? Lihatlah Tam. Aku benar dan tidak mengada-ada. Dia itu lelaki yang sama." Eldar menghalangi tangan Lilis yang akan menunjuk Alisha.
"Kita pergi Babe. Kamu tidak ingin aku melakukan kekerasan bukan." Pinta Eldar lirih.
"Hm.. Aku permisi dulu." Alisha mengiring Eldar untuk pergi ke arah mobil.
"Oh jadi kau memilih lelaki yang lebih kaya?" Teriak Tama merasa sakit melihat kebersamaan keduanya. Sifatnya masih saja sama seperti dulu, tidak ingin di salahkan. Alisha tersenyum kemudian berbalik badan.
"Bukan yang lebih kaya Mas tapi yang lebih menerima. Jika yang lebih menerima ternyata lebih kaya, itu hanya sebuah bonus dari Tuhan karena kesabaran ku menghadapi tuduhan mu dulu." Ucapan itu meluncur begitu saja sebab Alisha tahu jika Tama sudah tidak memiliki kuasa atas dirinya." Nikmati pilihanmu. Tidak perlu lagi menyebutku macam-macam. Permisi." Eldar tersenyum tipis dan segera masuk ke dalam mobil meninggalkan Tama dengan kecemburuannya.
"Dasar wanita matre!!" Umpat Lilis.
"Lebih baik matre daripada penipu!!" Jawab Tama berjalan ke arah parkiran.
"Apa maksudmu berkata itu Tam?!" Tanya Lilis tidak terima.
"Kau tahu apa maksudku." Hati Tama terasa terbakar, melihat kenyataan jika Alisha mendapatkan seseorang yang bahkan jauh lebih baik darinya. Sementara dia sendiri harus terjebak dengan Lilis yang setiap hari terbuka keburukannya.
Kenapa Tama jadi seperti ini sih? Menyebalkan sekali..
β€οΈπ
Pengen juga dobel update tapi........
Aku lagi gag ada ideπ
Dari kemarin fikiran ngambang..
__ADS_1
Semoga suka β€οΈ maaf jika part nya aneh
Terimakasih π