
Alisha terjaga dari tidurnya dengan suasana hening. Dia terkejut saat kepalanya bertumpu pada lengan Eldar yang sudah terlelap di sampingnya.
Ahh Tuhan!! Aku lupa jika sudah menikah. Batin Alisha tanpa bergerak. Dia takut membangunkan Eldar yang mungkin kelelahan karena pesta semalam. Bagaimana mungkin aku bisa tidur seperti orang mati. Alisha berkata demikian saat melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tiga dini hari.
Alisha tidak berani menoleh dan hanya menatap fokus ke langit-langit kamar. Jantungnya berpacu hebat karena lelaki yang di rasa masih terlalu asing tengah tidur di sampingnya bahkan mendekapnya.
Apa aku bangun saja? Aku tidak akan bisa tidur lagi tapi.. Aku takut membuatnya bangun.. Beberapa menit Alisha berada di posisi yang sama, tidak bergerak sedikitpun hingga dia memutuskan untuk mengangkat kepalanya secara perlahan.
Grep!!!
Eldar menahannya, sehingga Alisha langsung menoleh dengan raut wajah panik.
"Mau kemana Babe?" Gumam Eldar masih menutup matanya." Aku baru saja tidur jadi jangan bangun dulu." Pintanya mengeratkan dekapannya.
"Aku sudah tidur cukup. Aku ingin bangun dan membersihkan sisa pesta kemarin." Eldar tersenyum tipis.
"Tidak ada yang perlu di bersihkan."
"Aku hanya terbiasa bangun pagi."
"Tapi tidak sepagi ini. Ouch, Babe. Biarkan aku tidur sebentar lagi saja." Alisha mengerutkan keningnya mendengar itu.
"Aku tidak menyuruh kamu bangun Mas."
"Buktinya aku bangun ketika kamu akan pergi." Jawab Eldar lirih. Alisha mengangguk-angguk dan ingin membiasakan diri untuk menuruti perkataan Eldar, Suaminya.
"Terus. Maunya seperti ini?" Tanya Alisha lembut membelai telinga Eldar.
"Aku akan bahagia mendengar suara lembut mu setiap hari."
"Menggombal lagi."
"Terserah jika kamu sebut aku menggombal. Bagaimana kepalamu? Apa masih pusing?" Perhatian kecil tapi mampu membuat Alisha memperlihatkan senyum indahnya.
Dia tidak membahas malam pertama dan malah menanyakan keadaan ku.
"Sudah tidak Mas. Mungkin kemarin kurang tidur apalagi beban di kepala terlalu berat."
"Hm iya." Eldar mengusap kening Alisha sejenak kemudian mengecupnya lembut." Kau tidak boleh bersedih setelah ini. Lupakan soal anak. Memasak dan segala sesuatu yang membuatmu bersedih." Deru nafas hangat membelai wajah Alisha dengan degup jantung yang pasti berdetak tidak beraturan.
"Apa ini strategi untuk mendapatkan malam pertamamu Mas." Eldar tersenyum dan beralih mencium kedua pipi Alisha.
"Ini sudah hampir pagi Babe. Jadi aku sedang mendapatkan pagi pertamaku." Alisha kembali tersenyum begitupun Eldar." Tunjukkan pengalaman mu padaku." Ucap Eldar lirih.
"Pengalaman apa?"
__ADS_1
"Bercinta. Bukankah kamu sudah berpengalaman." Terdengar dessahan lembut saat Eldar mengingat jika Tama pernah memiliki Alisha sebelumnya." Kenapa kau harus bertemu dengan lelaki itu lebih dulu!! Seharusnya Tuhan langsung mempertemukan kita agar kau tidak perlu di sakiti oleh lelaki sialan itu!!"
"Kamu juga lelaki Mas." Sahut Alisha cepat.
"Aku tidak akan melakukannya."
"Mana ku tahu."
"Aku benci mendengar keraguanmu." Eldar melummat bibir Alisha lembut." Aku tidak akan bertanya soal itu. Lupakan pengalaman mu bersamanya." Imbuhnya kembali Mellumat lagi dan lagi.
"Kamu yang bertanya Mas." Ledek Alisha.
Eldar tidak menjawab. Bibirnya membungkam bibir Alisha rapat tanpa sela. Hingga beberapa kali Alisha tersengal karena kesulitan bernafas.
Alisha tidak melawan, bahkan menikmati meski terbesit rasa ragu di hatinya.
Baginya Eldar sudah di anggap seseorang yang wajib di patuhi dan di penuhi keinginannya.
"Kamu keberatan aku melakukannya sekarang Babe." Tanya Eldar meminta izin. Menyingkirkan rambut panjang Alisha dari wajahnya dan memandangnya penuh cinta.
"Tidak Mas." Alisha hanya menjawab seperti itu, tanpa memulai hingga membuat Eldar bertanya-tanya.
Bukankah seharusnya dia lebih agresif dan berpengalaman? Tapi kenapa Alisha terlihat tidak seberapa berpengalaman.
Alisha tidak pernah merasakan apa itu klimmaks! Itu sebabnya dia minim pengetahuan tentang bercinta meski statusnya janda sempat di sandang.
Tangan kanan Eldar menekan tengkuk Alisha dengan bibir yang masih bermain. Maniknya menatap sayu ke arah Alisha yang tengah memejamkan matanya.
Hasratnya kian membesar, ketika Alisha mulai mengeluarkan dessahan lembut. Tangan kirinya segera menyikap dress Alisha dan mengusap lembut apa yang ada di dalam.
"Egh Mas.." Eldar melepaskan lummatan nya untuk membuka kemeja yang di kenakan sekarang. Nafas Alisha memburu seraya menatap ke arah Eldar yang sudah bertelanjang dada.
Tegap sekali...
"Ach Mas!" Pekik Alisha ketika Eldar tiba-tiba mendudukkannya dan menaikkan dress-nya lalu membuangnya sembarangan.
"Aku tidak mengerti Babe."
"Me mengerti apa?" Alisha menyilakan kedua tangannya untuk menutupi dadanya.
"Kenapa kamu tidak memulai dan malah melihatku?" Eldar terkekeh sebab merasa konyol. Istri jandanya tidak ayal seperti seorang gadis yang tidak punya pengalaman bercinta.
"Kenapa malah tertawa begitu Mas." Alisha akan beranjak untuk mengambil dress-nya tapi Eldar meraih tubuhnya lembut dan membantingnya di ranjang.
"Aku merasa kamu tidak memiliki pengalaman seperti ini. Singkirkan tanganmu Babe." Tangan Eldar menyingkirkan kedua tangan Alisha lembut dan menelan salivanya kasar melihat gunung milik Alisha yang terlihat begitu segar.
__ADS_1
"Penga.. Ah.." Ucapan Alisha tertahan sebab Eldar langsung menindih tubuhnya dan mulai bermain bebas di lehernya.
Kamu indah sekali. Kenapa mantan Suamimu tega menduakanmu..
"Ach Mas sakit." Eluh Alisha ketika Eldar memberikan tanda pada lehernya.
"Tahan Babe. Kamu mengemaskan sekali." Alisha mengangguk, mengigit bibir bawahnya merasakan cumbuan Eldar yang mulai turun ke dua gundukan miliknya.
Eldar menghentikan kegiatannya ketika Alisha tidak mengeluarkan dessahan lagi.
"Kenapa diam?" Tanya Eldar konyol." Dessahkan namaku Babe." Imbuhnya menatap sayu Alisha yang masih mengatur nafasnya.
"Bukankah Mas menyuruhku menahannya."
"Astaga.." Eldar kembali terkekeh dan semakin yakin jika mantan Suami Alisha tidak pernah memuaskannya.
"Tahan rasa sakitnya Babe. Bukan menahan dessahan mu."
"Kenapa Mas selalu tertawa seperti itu? Apa aku terlihat konyol?"
Aku hanya tidak mengerti kenapa kamu sebodoh itu..
Eldar tidak menjawab dan melanjutkan pemanasan nya. Dia mulai bermain di dua gundukan milik Alisha. Sesekali gigitan lembut di berikan hingga membuat dessahan Alisha beberapa kali lolos.
"Ach Mas berhenti." Ucap Alisha merasakan sesuatu yang akan keluar dari miliknya yang ada di bawah.
"Kenapa berhenti?" Eldar terus saja menghisap milik Alisha secara bergantian meski Alisha memukul-mukul pundaknya.
"Mas aku akan buang air kecil. Berhenti sebentar!!!" Teriak Alisha keras.
"Serius Babe." Eldar menghentikan kegiatannya. Dia tersenyum menatap ke arah Alisha yang terlihat berantakan namun begitu cantik.
"Iya aku ingin buang air kecil tapi... Kenapa sekarang tidak ya." Eldar lagi lagi terkekeh seraya mencengkram kepalanya lembut.
Aku tidak ingin membahas masa lalunya tapi kekonyolannya membuatku ingin tahu..
"Ihhh Mas El.. Aku memang sudah bekas jadi jangan di tertawakan seperti itu!!" Alisha yang tidak tahu menahu soal itu. Dia malah menganggap jika Eldar tengah menertawakan bentuk tubuhnya yang mungkin sudah tidak bagus.
"No Babe. Aku tidak menertawakan itu. Sekarang katakan padaku. Apa kamu ingin buang air kecil sekarang?" Alisha menggelengkan kepalanya pelan dengan bibir mengerucut." Maaf. Maaf. Aku mencintaimu." Eldar kembali menindih dan ingin membuktikan sendiri tentang tebakannya.
Miliknya pasti masih sangat rapat..
~Bersambung
Secuil bayangan tentang malam pertama untuk kalian 🥰
__ADS_1
Semoga sehat selalu agar bisa selalu baca karya receh ku ini..
Terimakasih dukungannya 🥰😍