Wanita Incaran Tuan Eldar

Wanita Incaran Tuan Eldar
Bagian 8


__ADS_3

Alisha memutuskan untuk ke rumah Monik. Dia ingin mengabarkan jika esok mulai berkerja. Selain untuk berterima kasih, Alisha akan bercerita soal Eldar yang ternyata berkuliah di tempatnya berkerja.


"Oh si handsome masih kuliah?" Tanya Monik antusias.


"Umurnya lebih tua dari kita. Tapi dia masih kuliah."


"Wah, jangan-jangan jodoh hehe." Gelak tawa keluar dari bibir Monik sementara Alisha tersenyum aneh menanggapinya. Dia tidak bercerita jika hari ini Eldar menyatakan perasaannya.


Aku rasa itu tidak penting. Dia akan pergi sebab aku sudah menolaknya..


"Memikirkan apa?" Tepuk Monik lembut.


"Ajari aku memasak Mon." Ucap Alisha tiba-tiba.


"Aku tidak bisa memasak. Kau bercanda berkata itu padaku atau ingin meledekku." Protes Monik yang memang hampir tidak pernah memasak. Suaminya selalu menyuruhnya beli, sebab menginginkan Monik segera hamil.


"Aku merasa di lema Mon." Alisha mulai menceritakan tentang kejadian tadi pagi. Ketika dia mengambil langkah yang berbeda, tentu saja Alisha tetap jadi tersangka.


"Serius!! Aku bosan mendengar eluhanmu itu Al. Sudah ku katakan jika suamimu itu gila! Apapun yang kau lakukan akan tetap salah di matanya jadi ku sarankan kau tidak perlu melakukan apapun. Biar saja dia cuci baju sendiri, mengurus dirinya sendiri sehingga kau tidak rugi waktu dan tenaga." Celetuk Monik kerapkali terlontar. Dia ingin membuka mata Alisha jika pernikahannya sangat tidak sehat.


"Jika aku melakukan itu, apa bedanya dia dengan aku?" Monik terdiam mendengar itu." Bukankah dia semakin akan mengumpat ku sejadi-jadinya. Aku sudah lelah jadi tersangka Mon. Aku hanya ingin jadi sesuai keinginannya meski aku tidak tahu bagaimana caranya memasak dengan enak." Imbuh Alisha mengutarakan keinginannya.


"Itu akan sama saja. Meskipun masakan mu enak dia akan tetap seperti itu."


"Paling tidak aku sudah berusaha. Ya sudah aku pulang dulu ya Mon." Alisha menyeruput sisa sirup di hadapannya.


"Nih untuk mengganti uang motor." Monik menyodorkan beberapa lembar uang sebab dia juga merasa ikut memakai motor tersebut.


"Tidak perlu Mon. Em semuanya sudah di bayar Eldar." Senyum Monik langsung mengembang lagi.


"Wah.. Itu baru laki-laki."


"Ah bicara apa sih. Aku pulang dulu. Sampai jumpa lain hari." Alisha beranjak dan menaiki motornya lalu melaju pergi.


"Setidaknya setelah ini kamu punya kesibukan Al. Tidak mengeluh kesepian terus." Monik menarik nafas panjang seraya membereskan nampan.


.


.


Setibanya di rumah, Alisha memarkir motornya dengan di fikiran tidak berarah akibat dari pernyataan cinta Eldar. Ingin rasanya dia melupakan itu namun entah kenapa Alisha terus memikirkan itu.


"Apa karena dia tampan? Ah apa yang ku bicarakan." Alisha melepas bajunya lalu mengganti nya dengan daster. Dia berniat memasak meski nantinya Tama tidak akan menyentuh masakannya.


Kulkas di buka. Hanya ada ikan tuna kesukaan Tama yang entah tersimpan berapa lama. Alisha mengambilnya lalu merendamnya dahulu untuk melunakkan daging ikan yang sudah membeku.


Selagi menunggu, dia menyiapkan bumbu seraya mengingat kejadian masa lalu yang membuat Alisha enggan bertanya resep pada Mama Rita, mertuanya.


Bumbu apa sih Ma, kok bisa enak?


Ya.. Bumbu pada umumnya!!


Mertua Alisha kerap kali berkata ketus ketika dia menanyakan apa saja resep bumbu tuna asam manis pedas kesukaan Suaminya. Tidak ada niat Alisha untuk merebut posisi mertuanya itu, meski beberapa kali mertuanya melontarkan kalimat tidak sedap padanya.


Seharusnya kamu itu mikir, bagaimana caranya masakannya bisa enak dan membuat Suamimu betah di rumah. Kalau kamu minta resep sama Mama, bisa-bisa Tama yang lari dari Mama...


Alisha merahasiakan ucapan itu, sehingga Tama selalu saja menyalahkannya. Tama berfikir jika Alisha tidak mau belajar memasak pada Mamanya. Sementara Alisha sengaja tidak mengadu karena tidak ingin hubungan antara Mama dan anaknya merenggang.


"Sepertinya ada rasa jahenya tapi..." Alisha tidak yakin dengan bumbunya. Beberapa kali dia mengambil potongan bumbu dari blender lalu meletakkannya lagi." Semoga saja ini benar bumbunya." Alisha menuangkan air lalu mulai memblender nya.


Setelah bumbu siap, dia menyiapkan panci kecil untuk menumis bumbu halus. Tidak lupa dia menambahkan serai dan daun jeruk lalu menuangkannya air.


"Semoga saja Mas Tama suka." Gumamnya memasukan empat potong ikan ke dalam panci tumisan tersebut.


Sambil menunggu masakannya matang, Alisha mencuci semua baju kotor sebab esok dia sudah akan berkerja. Rambutnya di ikat sembarangan seraya mengucek baju kotor satu persatu.


"Tetap saja ada yang kurang." Eluhnya saat dia mencicipi masakan buatannya. Alisha menambahkan lagi penyedap namun masakannya terasa semakin aneh." Ah! Yang penting matang." Imbuhnya menutup panci dan melanjutkan perkerjaan mencuci.


.


.


Tepat saat baju terakhir di jemur, terdengar suara motor Tama datang. Alisha tidak percaya itu, sebab hari terlihat masih begitu terang.


Dengan langkah tergesa-gesa, dia menyambut kedatangan Tama yang sudah lama tidak pernah lagi pulang tepat waktu.


"Iya Mas sebentar.." Sahut Alisha setengah berteriak.


Cklek..


Pintu terbuka, wajah sumringah nya layu. Saat Tama menatapnya dengan geram.


"Kau belum mandi?" Protesnya ketus.


"Biasanya kamu belum pulang Mas jadi aku belum mandi." Perlahan, Alisha mengulurkan tangannya namun Tama tidak membalasnya dan masuk begitu saja.


Alisha sempat merapikan rambutnya sebelum mengunci rumahnya dan berjalan menghampiri Tama.


"Tumben pulang tepat waktu Mas." Tanya Alisha ingin tahu.


"Aku hanya mandi dan berangkat lagi."


"Mau kemana?" Tanya Alisha lirih. Kegembiraannya seketika luntur namun dia memperlihatkan wajah baik-baik saja.


"Ada undangan jadi Mama menyuruhku mengantarkannya, mungkin aku pulang malam." Alisha mengangguk-angguk meski hatinya kembali sakit.


"Hm sudah makan?'


"Masak apa kamu?"


"Ikan tuna. Kalau Mas mau, biar ku ambilkan." Salah satu keburukan Tama di tunjukkan saat ini. Dia akan berpura-pura baik ketika dia memiliki keinginan tertentu.


Pantas saja!! Tubuhnya berbau amis!! Apa dia tidak berkaca bagaimana penampilannya sekarang!!


"Kebetulan aku belum makan." Ucap Tama berpura-pura ingin makan untuk mengelabuhi kebohongannya.


"Hm biar ku ambilkan Mas." Tanpa rasa curiga, Alisha mengambilkan makanan untuk Tama lengkap dengan teh hangatnya.


Bau amis ikan menyeruak, membuat Tama merasa mual padahal makanan itu belum tersentuh olehnya.


Bagaimana bisa aku memakannya jika baunya saja seperti ini...


"Bukankah sebaiknya kau mandi dulu." Alisha mengurungkan niatnya untuk duduk menemani Tama makan.

__ADS_1


"Baiklah Mas." Setelah Alisha berjalan ke belakang cepat-cepat Tama beranjak lalu membuang makanan yang di sajikan Alisha. Niat busuknya terbaca, dia sengaja menyuruh Alisha mandi agar dia bisa membuang makanan tersebut tanpa ketahuan.


Untung tidak ketahuan.. Lapar sedikit tidak apa. Nanti juga aku makan bersama Lilis..


***************


Sementara di rumah Lilis, dia baru selesai mandi dan akan mengganti bajunya. Niat itu di urungkan ketika mendengar suara ponselnya bergetar.


"Cih!! Dia lagi!!" Umpatnya ketika mengetahui nama Toni tertera di layar. Toni adalah nama Suami Lilis yang tengah dinas keluar kota. Toni memiliki perawakan tinggi, hitam dan berparas buruk. Lilis bersyukur sebab Tomi di pindah tugaskan ke luar kota karena dia tidak berselera padanya. Niatnya menikah hanya karena gaji Tomi yang besar. Selebihnya dari itu, Lilis tidak pernah menganggapnya sebagai Suami.


"Ya halo Mas?


Lilis terpaksa mengangkat panggilan itu.


"Kemana saja kamu? Sejak kemarin ku telfon tidak kau angkat.


"Aku sibuk kerja Mas. Bukankah kamu tahu jika aku berkerja lagi. Ada apa sih?


Nada bicara Lilis terdengar kasar.


"Aku tidak bisa pulang bulan ini, mungkin bulan depan.


"Hm ya sudah?


"Kamu tidak merindukan ku Ma?


"Rindu juga percuma Mas.


"Sabar ya. Hanya tiga tahun. Setelah itu aku tinggal bersamamu lagi.


"Hm! Sudah dulu ya. Aku ada acara.


Lilis mengakhiri panggilannya lalu mematikan ponselnya. Dia tidak ingin acaranya dengan Tama terganggu. Dia bersenandung kecil, membuka lemari bajunya dan mengeluarkan baju seksi dari dalam sana.


"Kau akan ku jerat Tam, lihat saja."


*******************


"Tuan menyukainya." Tanya Abraham, menatap hangat Eldar yang sudah di anggapnya sebagai anak sendiri.


"Siapa?" Tanya Eldar berpura-pura tidak tahu.


"Gadis yang bersama Tuan tadi." Tatapan Eldar berubah tajam menusuk.


"Jangan ikut campur!! Itu urusanku!!" Abraham mengangguk-angguk. Dia tidak mempermasalahkan itu sebab Eldar memiliki hak penuh untuk memilih pasangan.


"Selesai kan hukuman baru Tuan bisa bebas mengejarnya. Ingat, jika sampai Tuan tidak lulus tahun ini, hukumannya akan bertambah berat."


"Aku tidak bodoh tua bangka!! Tidak perlu kau terlalu mengatur hidupku!!"


"Hm oke. Lakukan sesuka Tuan. Saya hanya menginginkan Tuan lulus agar sebelum saya meninggal, Tuan sudah siap mengelola perusahaan itu."


Tak!!!


Abraham melemparkan sebuah kunci mobil. Eldar menangkap kunci itu, menatap Abraham dengan ekspresi bertanya.


"Meskipun Tuan sedang di hukum. Pakai mobil itu agar Tuan terlihat baik di matanya." Eldar mengembalikan kunci mobil mewah yang ada di tangannya.


"Dia menolakku." Jawabnya lirih.


"Belum tentu begitu. Dia bukan wanita yang seperti itu."


"Apa yang harus saya lakukan untuk bisa memenuhi keinginan Tuan."


"Katamu aku sedang di hukum!! Kau lupa!!" Jawab Eldar kasar.


"Tapi saya tidak bisa menerima jika Tuan di tolak oleh wanita biasa seperti dia."


"Dia luar biasa dan ini urusanku!! Kalau sampai aku melihat kau ikut campur!! Akan ku bunuh mereka semua!!" Ucapan Eldar yang terlontar, di tujukan pada para ajudan yang senang tiasa mengawasi kegiatannya sehari-hari.


"Jika hukuman sudah selesai, Tuan bisa mendapatkannya dengan mudah."


"Sudah ku bilang jangan ikut campur?! Aku bukan bocah ingusan!! Aku akan mendapatkan dia dengan caraku sendiri." Eldar melangkah pergi dengan membawa buku laporan di tangannya.


"Aku melihat jiwa Ayahnya berada di sana." Gumam Abraham menatap kepergian Eldar.


*******************


Alisha membereskan piring Tama dengan senyuman. Dia sangat bahagia, melihat piring Tama bersih tidak tersisa.


Syukurlah dia suka masakannya..


Langkahnya terhenti ketika Alisha melihat dandanan Tama yang begitu mencuri perhatiannya. Dia mengingat terakhir kali keduanya keluar bersama enam bulan lalu. Suaminya tetap terlihat paling tampan meski tidak seberapa tinggi.


Cepat-cepat Alisha meletakkan piring kotor dan berjalan menghampiri Tama yang hampir selesai berdandan.


"Memangnya undangannya di mana sih Mas." Alisha duduk di pinggiran ranjang, menatap Tama dari pantulan cermin.


"Tidak tahu. Mama hanya bilang begitu saja." Jawab Tama dengan wajah gugup sebab dia bukan akan pergi bersama Mama Rita, melainkan Lilis.


Kapan Mas Tama akan mengajakku jalan-jalan..


"Aku berangkat ya." Meski ada rasa tidak rela, Alisha memegang tangan kanan Tama lalu menciumnya.


"Hati-hati ya Mas. Kira-kira pulang jam berapa?"


"Aku tidak tahu. Jika kamu mau berjalan-jalan bersama temanmu itu, lakukan saja."


Kenapa kamu malah menyuruhku Mas, bukankah seharusnya kamu tidak membiarkan aku berkeliaran di luar...


Alisha merindukan saat Tama mengaturnya seperti dulu. Selalu ada sedikit waktu untuk nya setiap akhir bulan meski hanya sekedar berbelanja kebutuhan rumah.


"Aku akan di rumah saja."


Itu bagus!!


"Pergi dulu ya." Tama melangkah keluar kamar di ikuti Alisha yang mengantar kepergiannya dari ambang pintu. Setelah Tama menghilang dari pandangannya, Alisha menutup pintu dengan tarikan nafas lembut.


"Aku sendiri lagi." Gumamnya berjalan masuk kamar dan mendapati ponselnya bergetar. Alisha mengambil ponselnya untuk menerima panggilan dari Mama Rita.


Tidak sabar sekali. Padahal Mas Tama sedang perjalanan ke sana.


"Halo Ma.

__ADS_1


"Kamu melarang Tama datang ke sini!! Kenapa dia tidak mampir!!!


Deg!!!!


Mata Alisha membulat mendengar itu, padahal Tama berpamitan padanya untuk mengantarkan Mamanya pergi ke kondangan.


"Bu bukannya Mas Tama ke sana?


"Kemana? Banyak alasan kamu! Bilang saja jika kamu tidak memperbolehkan Tama ke sini.


"Bukan begitu Ma.


"Masak sama Mama nya sendiri kamu cemburu!! Atur sikap buruk mu itu!! Atau selamanya kau tidak akan bisa mengandung!!!


Tut...Tut...Tut...


"Ya Tuhan.." Alisha menggenggam ponselnya erat. Mendengar umpatan dari mertuanya yang di rasa keterlaluan. Di tambah dengan keingintahuannya tentang Tama yang entah pergi kemana sekarang." Apa Mas Tama pergi bersama.. Lilis?." Tebakan itu tiba-tiba terlintas hingga sanggup membuat dada Alisha terasa sesak.


Itu hanya tebakan! Belum tentu begitu.. Ucapnya dalam hati. Mencoba menyakinkan hatinya jika Tama tidak mungkin melakukan itu.


Drrrrrtttt.... Drrrrrtttt... Drrrrrtttt....


Alisha kembali menatap layar ponselnya dan menerima panggilan dari Monik.


"Ya Mon.


"Mas Alan menyuruhku mengajakmu makan malam nanti.


"Kenapa begitu?


"Reservasi sudah di buat tapi dia malah tidak bisa pulang.


Monik lebih beruntung dariku.. Suaminya begitu baik memperlakukannya..


"Halo Al.


"Ya Mon.


"Aku pastikan tidak sampai jam delapan. Setengah tujuh aku jemput pakai taksi online ya. Mungkin saja Suami gilamu tidak percaya. Sayang Al, reservasi nya mahal sekali dan tidak bisa di batalkan. Yah ya please.


"Oke Mon. Aku jemput saja, tidak perlu taksi online.


"Lalu Suamimu?


"Nanti aku cerita. Aku siap-siap sekarang ya, biar tidak terlalu malam.


"Oke Al. Aku tunggu.


Baru saja ponsel di letakkan, sebuah pesan masuk sehingga Alisha kembali mengambilnya untuk melihat.


💌Aku yakin Tuhan memiliki rencana untuk pertemuan kita. Aku masih menunggu jawabanmu sebab aku masih tidak bisa melupakanmu.


Alisha menghapus pesan Eldar meski jantungnya kembali berpacu saat membaca kata manis tapi keras yang tertulis di pesan tersebut.


"Omong kosong. Kenapa aku bisa terlibat masalah seperti ini." Gumam Alisha meletakkan ponselnya lalu berjalan ke arah lemari.


Meski penolakan terlontar, namun kata-kata Eldar sungguh selalu Alisha ingat hingga dia memutuskan untuk mengambil blouse longgar yang lama tergantung di lemarinya.


"Di beri sedikit minyak wangi pasti hilang bau nya." Alisha menanggalkan bajunya lalu memakai celana panjang dan blouse longgar berwarna hitam. Kulit putihnya semakin terlihat terang dan semakin lengkap saat bibir merahnya di sapu lipstik murah miliknya." Begini sudah cukup." Ucap Alisha menatap dirinya dari pantulan cermin. Tidak ada senyum membingkai. Sebab hatinya di selimuti rasa cemburu." Ahh sudahlah, Monik sudah menungguku.


Alisha mengambil tas kecilnya dan mengalungkannya pada pundak. Langkahnya terhenti ketika melihat seonggok nasi lengkap dengan ikan yang di buang oleh Tama tadi. Hatinya semakin sakit, melihat kenyataan jika Tama membuang makanan darinya.


"Dia membuangnya?" Gumam Alisha dengan mata berkaca-kaca." Tentu saja! Apa yang ku harapkan." Alisha berjalan ke arah pintu lalu menguncinya dan menaiki motornya menuju ke rumah Monik dengan perasaan kalut.


.


.


"Kau mirip bidadari dari khayangan Al." Puji Monik melihat baju longgar yang Alisha kenakan.


"Aku tersanjung jika Mas Tama yang mengatakannya. Ayo naik." Monik naik dan motor langsung melaju.


"Kau memang cantik memakai baju longgar mu sebab gunung milikmu terlalu menggoda untuk di pertontonkan." Jawab Monik seraya terkekeh.


"Tidak lucu Mon."


"Aku merasa itu lucu."


"Terserah saja."


Setibanya di tempat, keduanya pun turun dan duduk di meja sesuai dengan yang di pesan.


"Kenapa lagi? Apa Suamimu tidak mengizinkamu keluar?" Tanya Monik menyadari wajah di tekuk Bella.


"Dia malah menyuruhku dan entah sekarang dia ada di mana." Alisha menyantap hidangan di hadapannya dengan tidak bersemangat. Fikirannya tertuju pada Lilis, wanita yang paling dia benci.


Kecurigaannya terbukti, saat Monik menepuk pundaknya lembut dan menyuruhnya untuk melihat ke arah pasangan yang baru saja masuk.


"Bukankah itu..." Belum sempat Monik menutup mulutnya, Alisha sudah berdiri lalu pergi lewat pintu samping." Tunggu Al." Teriak Monik mengikuti.


"Hiks.. Ternyata benar. Mas Tama rela membohongiku hanya untuk dia."


"Kenapa malah pergi!" Monik menarik lengan Alisha sedikit kasar." Ayo ku temani mencabut rambut wanita itu." Alisha terpaku dan berdiam, tidak merespon ajakan Monik.


"Aku tidak mau ada keributan Mon. Biar ku selesaikan di rumah, kita pulang. Jika kamu mau makan sendiri, aku akan pulang." Dengan cepat Alisha memasukkan kunci motornya dan naik.


"Bukankah sebaiknya kau menenangkan diri dulu."


"Aku baik. Cepat Mon." Monik segera naik meski dia tidak yakin dengan keadaan Alisha yang wajahnya penuh dengan air mata.


Bukankah kamu tahu jika aku membencinya Mas!! Kenapa kau malah tega membohongiku hanya untuk bersamanya!! Hingga aku harus di umpat oleh Mamamu sendiri seperti tadi..


Sesekali tangannya terlepas dari setir untuk menyeka air mata yang keluar. Sementara Monik merasa ketakutan karena laju motor yang tidak stabil.


"Pelan-pelan Al. Sebaiknya kita berhenti dulu!!" Teriak Monik masih sayang dengan nyawanya sendiri.


"Apa karena masakan saja hingga dia tega berbuat itu Mon!! Apa karena anak!!! Aku juga ingin punya anak tapi Tuhan belum memberikan hiks hiks hiks." Alisha kembali menyetir dengan satu tangan.


"Fikirkan itu nanti!! Kau harus fokus menyetir atau kita berhenti dulu!!!" Alisha tidak mendengarkan perkataan dari Monik dan terus saja melajukan motornya kencang." Awas Al mobil!!!!" Teriak Monik menunjuk ke arah mobil yang melaju ke arah mereka.


Ciiiiiiiiiiiittttttttttttt!!!!!!


"Aaaaaggghhhhhhhhhhh!!!" Teriak keduanya.

__ADS_1


~Bersambung


Terimakasih dukungannya 🥰


__ADS_2